http://jupardi.multiply.com
--- On Sun, 7/13/08, jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [alumni-ppsp] NOMOR 13 PKB (Versi Editan Kirim ke Media/Koran)
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, July 13, 2008, 3:21 AM
NOMOR 13 PKB
Oleh: Ir. Jupardi, Karyawan swasta sebuah perusahaan industri kehutanan di
Riau
Apa yang pernah saya renungkan tentang
dunia politik Indonesia nampaknya sedikit banyak menjadi kenyataan: nyanyian
“wajib”
yang harus dikumandangkan setiap hari adalah lagu Vina Panduwinata “Cinta
(politik) tak mengenal logika”.
Hal itu terefleksi dari kekisruhan dalam
tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Fakta hukum berbicara: sesuai hasil
keputusan pengadilan, yang berhak mengikuti Pemilu 2009 adalah PKB di bawah
pimpinan Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Tapi dunia politik kita, seperti lirik
dalam lagu Vina di atas, memang jauh dari logika akal sehat. Kubu Gus Dur
melalui anaknya, Yenny Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, yang menjabat
sebagai Sekjen DPP PKB, menolak menerima keputusan yang berkuatan hukum atas
disahkannya Kubu PKB di bawah ketuanya Cak Imin terdaftar untuk Pemilu 2009.
Kedua belah pihak yang berseteru itu
saling “ngotot”. Masing-masing merasa berhak dan sah mengikuti Pemilu
2009 dengan mengajukan dalih-dalih masing-masing, baik menurut nalar akal sehat
maupun logika berdemokrasi, bahkan menurut cara berpikir orang awam yang paling
sederhana sekalipun, tidak bisa diterima. Kedua belah pihak kelihatannya
memilih langkah ‘maju terus pantang mundur membela kebenaran’ (menurut elite
PKB tentunya).
Bukan hanya di dunia politik saja
lagu Vina di atas ‘dinyanyikan’. Tampaknya dunia politik juga menyajikan
panggung hiburan penuh tawa seperti Srimulat.
Jika disimak dari berbagai aspek, kedua
panggung “ha..ha..hi.. hi” PKB ini jelas sangat bertolak belakang dengan
panggung ketawa Srimulat. Jika Srimulat dengan para ‘elitenya’ seperti Tarzan,
Gogon, Nunung, Kadir, Basuki (almarhum), dan Tessy, melakukan aksi panggung
yang makin bertele-tele dan di luar logika, maka hal itu malah semakin
mengundang tawa penontonnya. Itu berarti sebuah hiburan segar. Dengan tontonan
lucu itu, paling tidak sedikit banyak masyarakat dapat melupakan beban hidup
yang semakin lama semakin berat dan tidak menentu ini.
Sebaliknya, ketika para elit dan petinggi
PKB semakin ‘lucu’ dan bertele-tele memainkan panggung ‘lawakan’
mereka—kusut- masai, dan carut-marut sehingga berada di luar nalar dan logika
akal sehat dalam berdemokrasi— maka hasilnya: usai mereka ‘mentas’, penonton
akan
‘tertawa’ sinis dan mencibir.
Jika boleh beranalogi: apabila demokrasi
diibaratkan sebagai sebuah pohon, maka inilah buah busuknya. Bahkan di media
ada yang berani mengatakan ‘mereka telah melakukan sebuah kejahatan politik’.
Coba simak panggung politik nasional pada
tanggal 9 Juli yang berlansung di kantor Komisi Pemilihan Umum KPU) Jakarta,
pada saat
34 para elit dan petinggi partai berkumpul dalam sebuah tajuk acara yang
berjudul “Pengundian Nomor Urut Partai”.
Dalam acara itu telah ‘dipertontonkan’ salah
satu ‘hiburan’ akhir pekan yang cukup hangat dibicarakan segenap lapisan
masyarakat di tanah air, yaitu lakon ‘dagelan politik’ dengan bintang
utamanya pimpinan dua kubu PKB yang berseteru: Muhaimin Iskandar, Ketua PKB
Muktamar Parung, dan Sekjen PKB, Yenny Wahid, anak dari pendiri partai ini Gus
Dur.
Saat KPU mempersilahkan wakil Partai PKB
maju ke sebuah meja untuk mengambil nomor partai yang telah ditentukan melalui
sistim pengundian, serentak Yenny dan Cak Imin maju ke depan. Tanpa basa basi
masing-masing segera meraih satu amplop di meja yang telah disediakan KPU.
Jelas ini menyalahi peraturan: seharusnya satu partai hanya mendapat satu nomor
undian.
Yenny melakukan langkah agresif dengan
langsung merobek amplop tersebut, ingin tahu segera nomor urut PKB, sebelum Cak
Imin lebih dahulu merobeknya. Tindakan Yenny ini diprotes oleh KPU. Cak Imin
dan Yenny dipanggil KPU dan menjelaskan kepada mereka bahwa hanya satu amplop
yang disediakan untuk satu partai.
Akhirnya disepakati pengambilan nomor urut
diulang kembali: Yenny dan Cak Imin maju ke depan, lalu mereka masing-masing
memegang ujung dari sebuah amplop yang berisikan nomor urut yang
nantinya akan digunakan PKB dalam Pemilu 2009.
Rupanya ‘dagelan politik’ itu semakin
seru: Cak Imin yang tidak mau kecolongan lagi dengan sebuah sentakan ringan
berhasil merebut amplop undian dari tangan Yenny, lalu segera membawanya
ke mejanya. Di sana telah menunggu para petinggi partai PKB yang berpihak
padanya. Cak
Imin tentunya ingin menunjukan bahwa dialah yang paling berhak atas amplop itu.
Yenny tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menyaksikan tindakan Cak
Imin itu dengan raut wajah melongo penuh kekecewaan.
Ibarat satu permen yang diperebutkan dua
orang anak kecil, bagi Cak Imin dan Yenny permen itu tidak layak dibagi dua,
tapi harus dimiliki utuh. ‘Anak’ yang tidak dapat silahkan menangis dan
meraung sejadi-jadinya sambil duduk di tanah lalu kedua kaki diselonjorkan
dengan gerakan seperti mengayuh sepeda.
Aksi Cak Imin itu disaksikan Ketua KPU
beserta jajarannya, juga elite dan petinggi 34 partai yang hadir. Tentu saja
aksi itu juga tidak luput dari pandangan mata ‘penonton di luar garis’, yaitu
rakyat Indonesia dari berbagai lapisan sosial.
Ketika cak Imin merobek amplop tersebut
dan membuka isinya, hasilnya: untuk Pemilu 2009 PKB tenryata mendapat nomor
urut 13! (tigabelas). Seluruh hadirin yang menyaksikan adegan itu, baik
yang di dalam panggung maupun yang di luar panggung, tersenyum dengan berbagai
mimik, malah ada pula yang bertepuk tangan dan bersorak dengan wajah yang
memperlihatkan berbagai ekspresi.
Sebagai contoh penonton di warung
kopi berkata: ‘Akhirnya keributan mereka ditunjukkan oleh kekuatan yang
jauh dari logika’. Partai PKB mendapatkan ‘nomor sial’
yang (secara psikologis) justru dihindari semua partai, yaitu nomor 13.
Ada berbagai stigma terhadap angka 13 ini dalam masyarakat, mulai dari
nomor yang tidak membawa keberuntungan, angka celaka, jauh dari hoki, dan lain
sebagainya. Begitulah faktanya, walau harus diakui bahwa bukan nomor yang
menentukan kalah menang dalam pemilu nanti.
‘Dagelan politik’ PKB itu ternyata tidak
usai di kantor KPU saja. Besoknya suasana kembali semakin seru dan
mengundang tawa para ‘penonton’. Gus Dur kembali menghangatkan suasana
‘dagelan’ itu dengan mengeluarkan pernyataan yang lagi-lagi menyebut-nyebut
angka 13.
Dalam sebuah acara Gus Dur berkata bahwa
dia mau islah (rujuk) dengan Muhaimin Iskandar dengan syarat Muhaimin sebagai
ketua PKB harus mempertanggungjawab kan uang partai sebesar Rp 13 milyar
(tigabelas
milyar rupiah).
Entahlah. Aneh! Tapi begitulah
adanya. Bisa jadi ini sekedar tambahan ‘lelucon’ dari Gus Dur, biar dia tidak
terlalu ‘repot’. Seandainya angka nominal uang tersebut 12 koma
sekian milyar, misalnya, ya…sudah, sekalian
dibulatkan menjadi Rp 13 milyar saja, toh sesuai dengan nomor partai PKB. ‘Gitu
aja kok repot’.
Terlepas dari stigma angka 13 dan segala
kekisruhan internal yang terjadi tubuh PKB tersebut, selayaknya, menurut logika
dan nalar akal sehat, kubu-kubu yang bertikai dalam partai ini bisa menyimak
apa yang disampaikan Sekjen DPP PKB, Lukman Eddy, bahwa nomor 13 itu juga
bermakna ‘Asmaul Husna al-Baari' yang berarti merencanakan segala sesuatu
sebelum terjadi. Ia mengatakan bahwa mungkin dengan nomor 13 itu, Allah SWT
ingin merencanakan sesuatu yang kita belum tahu, sekaligus peringatan terhadap
konflik internal yang terus terjadi di tubuh PKB (Detikcom,11-7-2008).
Semoga para elit dan petinggi partai PKB
yang bernapaskan Islam itu dapat memperhatikan, mengintrospeksi diri, dan
merenungkan ‘Asmaul Husna ke 13’ itu, sehingga mereka sadar bahwa ada yang
lebih penting lagi, yaitu peringatan dari Allah SWT, agar
berperilaku lebih mulia dalam berpolitik dan berdemokrasi, baik di
sisiNya maupun di mata rakyat, khususnya (calon) pemilih PKB sendiri. ***
*** jp/13/7/08
http://jupardi. multiply. com
__._,_.___
Messages in this topic (1)
Reply (via web post)
|
Start a new topic
Messages
| Files
| Photos
| Links
| Database
| Polls
| Members
| Calendar
MARKETPLACE
You rock! Blockbuster wants to give you a complimentary trial of -
Blockbuster Total Access.
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional
Visit Your Group
|
Yahoo! Groups Terms of Use |
Unsubscribe
Visit Your Group
Y! Messenger
PC-to-PC calls
Call your friends
worldwide - free!
Cat Zone
on Yahoo! Groups
Join a Group
all about cats.
Yahoo! Groups
Real Food Group
Share recipes
and favorite meals.
.
__,_._,___
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---