Waalaikum salam ibu HIFNI. Menjadi wanita minang di rantau jadi terasa berat. Karena anak2 hanya orang tua yang mengawasi. Apalagi kalau berada dilingkungan yang buruk atau heterogen dengan agama yang berbeda. Kalau tidak awas sejak mereka masih kecil bisa berabe setekah mereka besar. Kadang kita iri melihat suku lain yang bersama sama mengurus keluarga terutama anak tidak peduli sang suami adalah pejabat. Merekapun tidak membedakan pendidikan untuk anak lelaki dengan perempuan. Pernah kami bertamu ke rumah dekan, lalu yang menating minum adalah putranya yang masih SD. Kenapa suku minang kalah ulet dari yang lain kali karna manja di rumah. Wass. Hanifah
HIFNI HFD wrote: > Assalamualaikum wr.wb. > > Ambo ikuik bergabung menanggapi subjek email iko, yang ditanggapi secara > aktif oleh kaum bapak-bapak mulai berdasarkan pengalaman masa > kecil dan keberhasilan sang bundanya mendidik dan mengentaskan anak-anaknya " > menjadi urang ". > > Beda dulu - beda sekarang. Tidak mudah untuk menjadi perempuan Minang dalam > pembentukan kepribadian anak-anak minang kabau dimasa depan. Antara lain > disebabkan : > - gangguan terhadap etika dan moral yang sulit dikendalikan sementara arus > globalisasi mengalir deras ke Indonesia pada umumnya dan ranah minang pada > khususnya, baik secara langsung maupun tidak langsung > > - tuntutan materialistik untuk membiayai pendidikan anak, turut menghantui > keluarga yang mesti harus bisa ditangani. Tidak ada pendidikan gratis saat > ini. > > - Sebagai bundokanduang didalam keluarga, ia harus menjadi limpapeh rumah > nan gadang, sehingga ia harus menjaga keutuhan dan harmoni keluarga besar > dengan dibekali dan bermodalkan harta pusaka agar ia dapat melaksanakan tugas > dan fungsi sosial yang didambakan adat istiadat.Sementara itu banyak > diantaranya masyarakat yang tidak memahami kegunaan dan tujuan penggunaan > harta itu. > Saat ini, Ada sebagian kaum pria minang yang menghendaki pembagian harta > pusaka secara islam, karena mereka sudah tidak paham lagi dengan adat dan > budaya minang yang ditinggalkan karena pergi merantau. > > - Bagi wanita minang yang memiliki karir, maka ia dikenal dengan wanita yang > berperan ganda , namun disini tidak ada kaum pria yang sudi disebut sebagai > pria yang berperan ganda. Akibatnya, bagi sebagian kaum pria itu (Maaf > mudah-mudahan tidak sanak dipalanta awang-wang ini....) menempatkan dirinya > sebagai si " Sutan Diateh " ( suatu istilah yang ambo dapatkan dari orang > pariaman.. maaf yo sanak). > > - Saking berganda-gandanya peran padusi minang ini, ia digambarkan bagaikan > dewa dewi yang bertangan banyak, lima ditangan kiri dan lima ditangan kanan. > Untunglah urang minang tidak memiliki kepercayaan akan dewa dewi itu. > > Sungguhpun demikian kondisi yang diuraikan diatas, sesungguhnya " Padusi > Minang " adalah wanita yang berbahagia didunia ini. Mengapa...?? > > - Ia didampingi oleh para kaum pria, yaitu di tangan kanannya ada sang suami > yang mengarahkan dirinya, karena ia adalah tulang rusuk bagi kaum pria " > tidak dikepala sang pria untuk dijadikan atasan, tidak pula dikaki untuk > dijadikan bawahan". Sedangkan dilengan kirinya terdapat saudara laki-lakinya > tempat ia mengajak berunding - bagaimana membimbing anak-anaknya . Bukankah > falsafah Minang menyatakan ; Anak dipangku oleh ayahnya dan dibimbing oleh > pamannya. > > Jadi ...., pembentukan kepribadian anak-anak minang kabau tidak dapat > dibebankan kepada padusi minang semata, melainkan ia terbentuk didalam > keluarga dengan ibu/ayah dan masyarakat sebagai nara sumber. > > Mudah-mudahan pendapat ini dapat diterima, ditengah sedikitnya padusi minang > yang menanggapi judul email ini. > Wassalam > Ibu dari tiga orang putera dan 1 orang puteri > > 3vy niz > http://hyvny.blogspot.com http://bundokanduang.wordpress.com > Kawasan Puspiptek- Serpong, Tangerang > --- On Thu, 7/10/08, deded chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: deded chandra <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: > BAGAIMANA MENINGKATKAN PERANAN PEREMPUAN MINANG DALAM PEMBENTUKAN PRIBADI ? > To: [email protected] Date: Thursday, July 10, 2008, 6:05 AM > Assalamualaikum wr.wb. > Bpk Saaf yth. Kami ingin ikuik berbagi saketek,.. gunting--------------- > Dr.Saafroedin BAHAR wrote: >> Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, >> Saya kirimkan karangan Prof Rahmiana Zein di bawah ini sebagai tanda > setuju penuh dengan pendapat beliau tentang besarnya peranan perempuan > [baca:ibu] dalam mendidik anak-anak. Pendapat beliau selaras sepenuhnya dengan > ajaran islam bahwa surga ada di bawa telapak kaki Ibu. gunting ---------- > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
