Home / Opini /
Merombak dan Menjebol Watak
Kompas, Sabtu, 19 Juli 2008 | 01:10 WIB
Oleh Mohamad Sobary
”Kewibawaan dan kredibilitas Kejaksaan Agung rontok,” kata Jaksa Agung
Hendarman Supandji dalam pertemuan dengan pemimpin redaksi media massa (Kompas,
9/7/2008).
Dari jarak jauh, tak mendengar langsung dan tak melihat wajahnya saat
menyatakan hal itu. Sulit bagi saya untuk menduga, Jaksa Agung mengeluh atau
memprotes rontoknya kewibawaan dan kredibilitas lembaga yang ia pimpin.
Kewibawaan dan kredibilitas adalah perkara penting. Tiap pejabat harus memiliki
kewibawaan dan kredibilitas. Tiap lembaga dibangun dengan harapan bisa memiliki
keduanya. Tetapi, setahu saya, sejak Orde Baru hingga hari ini, Kejaksaan Agung
tak pernah—mungkin belum—punya kewibawaan maupun kredibilitas. Jadi, apa yang
rontok dan kapan?
Trenyuh
Maka, bila Jaksa Agung mengeluh, apa yang dikeluhkan? Jika Jaksa Agung
memprotes, kepada siapa protes ditujukan? Saat Abdurrahman Saleh menjabat Jaksa
Agung, saya ke kantor itu ditemui sang jaksa agung dan sejumlah besar ”jagung”
muda, termasuk Hendarman sendiri.
Saat itu saya merasa trenyuh—campur aduk antara prihatin dan sedih—karena
mendengar sendiri keluhan memilukan dari seorang pejabat penegak hukum itu.
”Di mata publik, kami kini terpojok, serba buruk, salah terus, dan KPK yang
dipuja-puja,” katanya. Salah seorang memberi gambaran suasana psikologis di
kantor itu dengan mengatakan, setiap bertemu wartawan dalam shalat Jumat di
masjid kantor mereka, mereka amat berhati-hati agar bila ditanya, jawabannya
tidak simpang siur satu sama lain.
Mereka merasa Kejaksaan Agung dipojokkan? Langkah penting yang diambil, tak
didukung otoritas lebih tinggi. Tak ada pihak yang mendukung mereka. Media pun
cenderung ”menyerang”.
Saya prihatin dengan keruwetan ini. Apa kebutuhan mereka? Pembentukan citra
yang sehat? Mengubah citra negatif menjadi lebih baik dengan keterampilan di
bidang kehumasan yang meyakinkan, meniru kecanggihan komunikasi politik AS?
Atau meminta semua media memberitakan hal-hal positif lembaga itu dan sementara
melupakan yang negatif?
Semua ini mungkin dan bisa diwujudkan tanpa kelihatan terlalu melacurkan diri,
tanpa terkesan menipu pandangan dan kesadaran publik. Ahli komunikasi politik
yang canggih bisa melakukannya.
Namun, tunggu dulu. Problem pokok Kejaksaan Agung bukan sekadar kebutuhan citra
yang lebih bagus. Lagi pula, kita tahu, citra tak bisa dibuat—apalagi
dibuat-buat—dan bohong. Politik pencitraan harus memiliki landasan kebenaran.
Maka, bukan ahli komunikasi politik yang dibutuhkan. Seperti banyak lembaga
pemerintah lainnya—misalnya Mahkamah Agung—kebutuhan yang dianggap amat
mendesak terletak dalam kinerja dan kesungguhan komitmen pegawainya. Terutama
golongan elite dan para pemimpin yang sikap dan mentalitasnya sudah harus
”turun mesin”.
Diperlukan ahli ”bedah” untuk mengoperasi hampir seluruh organ dalamnya.
Bagian-bagian vital diamputasi dan diganti. Selebihnya, diperlukan suntikan
tenaga baru, muda, dan segar untuk mengganti apa yang sudah telanjur rusak dan
tak mungkin lagi diperbaiki.
Kaum tua, yang sudah mapan, makmur, dan tak mau diusik dari comfort zone-nya,
merupakan borok yang mengakibatkan pembusukan dari dalam. Semua harus dibuang.
Kaum tua
Apakah kita tidak menghormati orangtua? Hormat. Kita menghormati mereka. Namun,
di zaman yang sedang bergejolak ini kita—menurut Bung Karno—harus ”merombak dan
menjebol” semua penghalang. Kaum tua, maaf, bukan teman seperjuangan. Mereka
tak bisa lagi bersikap progresif-revolusioner sesuai tuntutan zaman.
Selama ini kaum tua di birokrasi pemerintahan hanya sibuk mengurus kenaikan
pangkat, perpanjangan jabatan, nebeng, dan menggerogoti fasilitas publik demi
kenikmatan pribadi. Mereka itu Kertanegara tua, Jaka Tingkir tua, dan
Sutawijaya tua, atau Destaratra, yang sibuk memelihara kepentingan pribadi
masing- masing. Apa boleh buat, kaum tua harus dianggap bagian dari sumber
masalah yang harus ”dirombak” dan ”dijebol”
Apakah dengan sendirinya kaum muda lebih revolusioner dan memiliki konsep lebih
jelas untuk mengubah keadaan?
Kaum muda yang makmur juga bukan kekuatan revolusioner untuk memelihara negara
yang ”tak putus dirundung malang” ini. Mereka lebih cepat membeku karena
pengaruh kemakmuran duniawi dan watak serakah yang lebih besar dari kaum tua?
Mereka membeku karena kemapanan ekonomi, sosial, dan politik.
Kaum muda yang pada masa Orde Baru terampil berlindung di sana-sini dan menjadi
onderbow kekuatan-kekuatan mapan jelas tak punya militansi. Bahkan, mereka yang
dulu memusuhi Orde Baru dengan sikap tak sabar dan ingin melakukan revolusi
”hari ini juga” kini menyusup ke tubuh partai, mencari keteduhan ekonomi yang
lebih pasti. Betapa memalukan! Pantas negeri kita tak bergerak maju.
Kaum muda yang berwatak tua lebih konvensional dari kaum tua. Mereka pun pemuja
kemapanan. Kemakmuran, atau aspirasi ingin makmur, membuat jiwa mereka tumpul
dan tidak sensitif terhadap kehancuran hidup bangsa. Watak ini harus dirombak
dan dijebol.
Sifat ”klik-klik”-an, ”geng-geng”-an, dan perkoncoan, atas dasar sentimen
daerah asal, dan etnisitas, kesamaan fakultas, dan fanatisme universitas ibarat
penyakit menular yang menjangkiti kaum muda dan berkembang di birokrasi
pemerintah maupun swasta. Watak ini harus dirombak.
Tua atau muda tidak menjadi masalah. Saya tak memusuhi generasi, orang, atau
pejabat. Musuh kita adalah keburukan watak, keserakahan, pemuja kemapanan, dan
kepentingan pribadi yang menghancurkan keagungan nilai bersama. Semua watak itu
harus—sekali lagi—dirombak dan dijebol hingga ke akar-akar serabutnya.
Mohamad Sobary Esais
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---