Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta.
Agak termenung saya membaca artikel di Harian 'Kompas' Minggu pagi ini. Sejak 
tahun 1998 kita semua memberikan harapan besar kepada para politisi 
[baca:politisi sipil], bukan hanya untuk mengoreksi kesalahan 'Orde Baru', 
tetapi juga untuk meletakkan landasan dari suatu Indonesia yang lebih baik 
[Minangkabau ada di dalamnya sebagai bagian menyeluruh].
      Namun kita semua sudah tahu apa yang terjadi selama sepuluh tahun ini. 
"Kemajuan' ada di tingkat suprastruktur politik [baca: lembaga-lembaga negara], 
tetapi hampir tak menyentuh infrastruktur politik [baca: rakyat banyak]. 
      Delapan bulan lagi kita kembali akan mengikuti pemilihan umum secagai 
acara rutin demokrasi. Ada 34 partai politik yang akan menampilkan diri, dengan 
entah berapa ribu calon yang rekam jejaknya tidak kita ketahui. Semua, baik 
partai maupun para calon, akan berusaha tampil 'lebih indah dari warna 
aslinya', seperti disampaikan oleh iklan film. Untuk itu mereka semua akan 
'digembleng' oleh pakar-pakar iklan yang selain memang profesional juga 
ternyata mampu menampilkan citra yang baik.
     Yang mengganggu nurani saya adalah bahwa para calon tersebut sudah jadi 
'produk komersial' yang ditampilkan dalam bungkus baru. Tak jauh bedanya dari 
mobil bekas tabrakan yang sudah di-'ketok magic'.  Demikianlah, 
yang sehari-hari senyumnya sinis sudah tampil memikat, dan karena itu terpilih, 
tanpa kita tahu kualitas`dan kompetensinya untuk memimpin.
     Syukurnya, rakyat kita sudah mulai bisa membeda mana yang emas dan mana 
yang loyang. Masalah besar akan timbul jika rakyat dan kita-kita ini salah 
pilih. Jika hal itu terjadi, lima tahun lagi kita akan 'dipimpin' oleh 
orang-orang yang tak layak memimpin, yang telah 'dipoles' oleh para ahli 
'make-up' politik.
      
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]

Iklan Kecap Politik di Sekitar Kita
Kompas, Minggu, 20 Juli 2008 | 01:08 WIB 
 
Mengapa iklan politik di televisi lebih banyak menggambarkan kehidupan orang 
desa dan masyarakat kelas bawah? Jangan-jangan ini menunjukkan bahwa politikus 
kita masih terkungkung pendekatan patron-klien yang bersifat vertikal..
Iklan politik Wiranto, misalnya, menyoroti kehidupan masyarakat desa yang 
miskin sampai-sampai harus makan nasi aking (nasi bekas yang dicuci dan 
dikeringkan).
Mungkin agar terkesan bahwa dia ikut merasakan penderitaan rakyat, Wiranto ikut 
mencicipi nasi aking.
Iklan politik Prabowo Subianto mengingatkan bahwa Indonesia dulu adalah Macan 
Asia. Sekarang, bangsa ini terpuruk, hutan gundul, dan rakyat terbelit 
kemiskinan.
Pengadeganan kedua iklan itu nyaris sama. Pertama-tama, muncul gambar-gambar 
yang memperlihatkan kehidupan rakyat kecil. Kemudian, politikus muncul 
menghampiri, menyalami, atau merangkul rakyat. Di penghujung iklan, mereka 
mengajak semua komponen bangsa untuk mengatasi masalah-masalah itu bersama-sama.
Dengan penggambaran seperti itu, kedua iklan tersebut terkesan menempatkan 
politikus sebagai bapak yang selalu mengayomi dan mencarikan jalan keluar bagi 
kesulitan anaknya (rakyat)—father knows best. Padahal, Tuan-tuan, kesulitan 
rakyat sebagian besar muncul akibat tindak-tanduk para politikus juga, kan....
Iklan-iklan politik lainnya lebih kurang menggunakan tema dan pendekatan yang 
sama. Hanya iklan Soetrisno Bachir dan Rizal Mallarangeng yang temanya agak 
beda, yakni soal perlunya generasi muda tampil memimpin.
Kebanyakan politikus dalam iklan berusaha menonjolkan citra sebagai orang yang 
berintegritas baik secara moral, agama, pendidikan, maupun pengalaman. Untuk 
menunjukkan bahwa mereka taat beragama, sebagian politisi muncul dengan peci, 
baju koko, bahkan sorban.
Untuk menunjukkan bahwa mereka terdidik, ada beberapa politisi yang tidak 
segan-segan menyebut dirinya lulusan perguruan tinggi tertentu. Untuk 
menunjukkan bahwa mereka bisa memimpin, sebagian politisi menuturkan pengalaman 
kerja atau berorganisasi.
Politikus yang malu-malu biasanya menggunakan kesaksian orang untuk menjelaskan 
bahwa dia taat beragama, moralnya terjaga, pintar, dan memiliki kemampuan untuk 
memimpin. Iklan politik dengan gaya seperti itu mengingatkan kita pada iklan 
obat kuat.
Tidak terkesan
Apakah pesan-pesan iklan politik itu bisa membuat rakyat terkesan? Dosen 
Universitas Parahyangan, Bandung, Bambang Sugiharto, mengatakan, sebagian 
masyarakat kita sudah berubah. Sekarang sebagian besar orang tidak lagi 
terkesima pada citra konvensional-tradisional pemimpin informal. Sekarang, kata 
Bambang, orang cenderung berpikir pragmatis. Mereka memilih figur yang dianggap 
bisa bertindak konkret tidak peduli siapa dia.
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Saiful Mujanimenambahkan, rakyat 
kita semakin otonom. Struktur hierakis-vertikal juga sudah kehilangan 
kepercayaan dan hubungan patron-klien sudah lewat.
Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif mengatakan, pesan-pesan iklan 
politik kebanyakan dangkal, serba artifisial, dan tidak otentik. Komunikasi 
politik yang dijalankan juga kosong dan tidak nyambung dengan kebatinan rakyat.
Bagaimana iklan semacam itu bisa menyentuh kelompok-kelompok masyarakat yang 
kritis, berpikir lebih merdeka, dan alergi dengan pendekatan vertikal, seperti 
komunitas underground, Slankers (komunitas penggemar Slank), dan Oi (komunitas 
penggemar Iwan Fals).
Wakil Ketua Slankers Indonesia Aldo Sianturi mengatakan, dia belum bisa 
menangkap konsep dan filosofi kepemimpinan yang ditawarkan para politikus 
melalui iklannya di televisi. Mereka juga tidak tahu bagaimana pemosisian para 
politikus itu dalam percaturan politik ke depan.
”Semua menimbulkan pertanyaan, seperti bagaimana kalau mereka kelak memimpin,” 
katanya.
Aldo mengatakan, meski Slankers dianggap sebagai sekumpulan orang slengekan, 
tetapi mereka bukan kelompok apolitis. Karena itu, mereka memiliki kriteria 
pemimpin tersendiri.
”Dia harus punya leadership, memiliki kekuatan pada nilai yang lebih standar, 
memiliki kelebihan dibanding pemimpin sebelumnya, peka menggali 
kekuatan-kekuatan industri, dan harus bisa mendorong masyarakat untuk 
berproduksi bukan mengonsumsi terus,” papar Aldo.
Ketua Badan Pengurus Pusat Oi Dudi Zulkifli ragu apakah dalam kehidupan 
sehari-hari para politikus itu seideal yang dicitrakan dalam iklan di media 
massa. ”Kalau tidak benar, ini bisa jadi bumerang bagi mereka sendiri,” katanya.
Karena itu, lanjut Dudi, Oi tidak mengidamkan sosok pemimpin yang muluk-muluk. 
”Yang penting dia bisa memenuhi kebutuhan dasar rakyat, menghormati HAM, dan 
tidak suka bohong,” ujarnya.
Syarat tidak suka bohong? Wah ini yang berat. (bsw/IAM/DHF)

Top of Form


Bottom of Form
 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke