Saya terharu membaca bahwa ada willingness dari Saudara IJP untuk ikut
pertarungan kursi DPR dari daerah pemilihan Sumatera Barat. Berpositif
thinking, IJP memilih dapil sumbar bukan karena ia jago kandang. Lebih karena
kecintaan yang bersangkutan pada kampung halaman. Pada sebuah tulisan Sudjiwo
Tejo, pernah saya membaca bahwa IJP ingin punya saung di kampungnya. Tempat ia
beristirahat dan merenung, sehabis mengembara kemana-mana. Mengutip Budiarto
Shambazy kemarin pagi di sebuah radio, soal pengamat yang seolah bertindak
sebagai seorang Osama dengan ujug-ujug muncul menjadi kandidat pemimpin
alternatif nan muda. Upaya IJP ini perlu kita acungi jempol. Osama muncul
lewat proses, ia menjadi komite komunitas dulu di Chicago, lalu berangkat ke
representasi yang lebih besar. Setelah merasa matang, barulah Obama berani
mencalonkan diri menjadi presiden. IJP sudah memulai proses itu. Bukan sebuah
proses ujug-ujug dari pengamat dan komentator politik
menjadi presiden.
Mari kita berhitung-hitung peluang IJP maju menjadi caleg di sumatera barat.
Asumsi-asumsi dasar mengenai jumlah pemilih, daerah pemilihan dan sebagainya
saya menggunakan data pemilu DPR RI tahun 2004. Berdasarkan ini, diramalkan
IJP akan maju dari daerah pemilihan II yang meliputi Agam, Bukittinggi, Padang
Pariaman, Kota Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, 50 Kota dan Payakumbuh.
Pemilu lalu total suara sah adalah 867.994, jumlah utusan 6 orang. Bilangan
Pembagi Pemilih (BPP) 144 ribuan. Partai yang melewati BPP hanyalah Golkar
(hampir dua BPP). Lima besar peraih suara di wilayah ini adalah Golkar, PPP,
PAN, PKS dan PBB. Enam orang anggota DPR untuk daerah ini juga berasal dari 5
partai ini, dimana Golkar meloloskan 2 orang.
Jika memang IJP ingin maju menjadi anggota DPR dari Sumbar, jalan sangat berat
yang harus ditempuh. Berkaca dari pemilu sebelumnya, saya meramalkan partai
yang mampu meraih kursi akan sama yaitu 5 partai. Bahkan bisa jadi jumlahnya
berkurang menjadi hanya 3-4 partai. Pada kondisi ini, IJP harus memastikan
dirinya berada di berada di partai peringkat 5 besar. Jangan sampai salah.
Lalu IJP harus mampu meraih suara 30% BPP, agar bisa langsung otomatis lolos.
Menggunakan asumsi BPP 2004, sarat 30% IJP butuh 43.000 suara sah. Ini
pekerjaan maha berat, apalagi di tengah jumlah partai yang lebih banyak lagi,
dimana tentunya jumlah kandidat yang bertarung juga bertambah. Kue akan
diperebutkan oleh banyak orang.
Mari kita hitung potential aset yang bisa diraih oleh IJP. Sebagai putra
pariaman, bagaimanapun ia akan sangat dikenal di kampung halamannya. Tahun
2004, kabupaten Pdg/Pariaman dimenangkan oleh Golkar. Dimana PPP cukup
significant di wilayah ini. Suara PPP dipanen dari pemilih tradisional kaum
santrinya minangkabau. Rasanya di tahun 2004, angka ini tidak berubah. Mereka
akan tetap loyal pada partai Ka'bah ini. Berikutnya adalah PAN, dipanen dari
pemilih berbasis Muhammadiyah. Loyalitas kalangan ini cukup moderat. Mereka
bisa berpindah pilihan sepanjang pilihan baru bisa meyakinkan mereka. IJP
punya kans disini. Untuk mengamankan posisi, IJP harus mampu meraih sekitar 30
- 35 ribu suara dari wilayah Kota dan Kabupaten Pariaman. Jumlah suara sah di
dua daerah ini pada tahun 2004 adalah 180 ribuan orang. Berarti IJP harus bisa
meraih 20% dari wilayah ini. Sisanya bisa ia harapkan dari wilayah Pasaman dan
Pasaman Barat. IJP harus melepas
Kabupaten Agam dan Lima Puluh Kota. Bukan apa-apa, ia butuh effort lebih
untuk memperkenalkan diri disana. Saingan di daerah sana cukup kuat. PAN dan
Golkar pasti akan mengirimkan jagoannya untuk Kabupaten Agam. Begitu juga di
Lima Puluh Kota. Di daerah kota (Bukittinggi dan Payakumbuh), ia masih
memungkinkan meraih suara. Bagaimanapun, orang kota sedikit lebih terbuka. Di
Bukittinggi dan Payakumbuh, Golkar dan PPP tidak menang besar. Suaranya bisa
disaingi oleh PKS dan PAN.
Walaupun butuh perjuangan berat, IJP masih punya peluang meraih kursi DPR dari
daerah pemilihan Sumbar II. Ia harus benar memilih partai. Mulai
memperkenalkan diri di wilayah di luar Pariaman, walaupun tetap harus
memaintain posisinya di Pariaman. Jangan sampai market sharenya dicolong oleh
yang lain. Selanjutnya memaksimalkan jejaring yang ia punya. Mulai dari
kalangan akademisi, LSM, pareman, tukang baruak, pedagang kelapa, dan jaringan
penjual sate. Untuk yang terakhir ini, Pariaman cukup kuat. Konon katanya
pedagang sate yang terkenal di darek adalah orang piaman juga. Walaupun
satenya sudah tidak pakai kacang. Satu harapan saya kepada Saudara IJP, untuk
tidak ikut-ikutan mengumbar spanduk bertempel foto saudara di labuah-labuah
kampung kita. Saya yakin sebagai seorang Master di bidang komunikasi, pasti IJP
punya cara kampanye lain yang lebih baik.
Piss Yo...
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---