Comment tentang Rizal,
nampaknyo pola Pak Rizal malaranggeng iko sarupo jo pola "urang bugih" lainnya yang ingin untuak bakuaso, dimanopun beliau barado beliau ingin manjadi rajo dengan modal 3 Ujuang (ujuang lidah, ujuang badik dan ujuang kelaki-lakiannyo)dimanopun beliau barado tamasuak di Sulawesi Tengah, Tenggara dll. Tapi paliang indak ambo maacuangkan jempol atas kenekatan Rizal Malaranggeng untuak jadi Presiden, ibarat kudo pacu nan biaso lapeh di jarak 1000 m ingin manjadi kudo Boko (lari 1600 m), minimal untuak marami-ramikan galanggang. Wassalam, Ramadhanil Pitopang Palu-Sulawesi Tengah --- On Thu, 7/24/08, benni_inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: benni_inayatullah <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [EMAIL PROTECTED] FYI: Surat buat Semua by Rizal Mallarangengt" > To: [email protected] > Date: Thursday, July 24, 2008, 1:17 PM > salah satu generasi muda yang memutuskan "running for > Presiden > > Surat buat Semua > > > Oleh: Rizal Mallarangeng > > Saya ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian dan > simpati Anda > semua, baik yang berada di tanah air maupun yang di luar > negri. Dalam > waktu singkat, lewat Facebook, milis-milis di internet, > maupun media > massa konvensional di tanah air, begitu banyak yang memberi > komentar, > salam persahabatan, dukungan, pertanyaan, keraguan, hingga > kritik > yang tajam terhadap saya. > > > Teknologi membuka berbagai kemungkinan baru, termasuk dalam > > menyatukan perhatian beragam komunitas dari berbagai > belahan dunia > untuk menyampaikan pendapat secara cepat dan personal. Hal > ini tentu > perlu disambut dengan tangan terbuka. > > Saya minta maaf sebab tidak mungkin membalas satu persatu > sapaan yang > datang kepada saya. > > Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa > alasan > utama bagi saya untuk tampil sekarang adalah untuk memberi > alternatif > baru dalam proses pemilihan kepemimpinan nasional. > Sebenarnya, soal > ini bukanlah soal saya sebagai pribadi, tetapi persoalan > sebuah > generasi dan sebuah bangsa yang harus terus bergerak maju. > > Sejak 10 tahun terakhir, pilihan-pilihan kepemimpinan > nasional tidak > banyak berubah. Gus Dur dan Amien Rais tampaknya masih > ingin ikut > pemilihan presiden tahun depan, mendampingi Presiden SBY > dan Wapres > Kalla serta Megawati. Begitu juga Jenderal (purn) Wiranto > dan Letjen > (purn) Probowo. Mungkin Sultan Hemengkubuwono X dan Letjen > (purn) > Sutiyoso juga akan turut serta. > > Saya menghormati tokoh-tokoh senior tersebut. Tapi apakah > pilihan > kepemimpinan nasional harus berkisar hanya di seputar > mereka, > sebagaimana yang terjadi setelah Soeharto lengser? Apakah > di > Indonesia terjadi stagnasi dalam sirkulasi kepemimpinan > nasional, > sehingga wajah-wajah baru tidak mungkin muncul sama sekali? > Jika di > Amerika Serikat muncul Obama (47 tahun) dan di Rusia ada > Medvedev (44 > tahun), mengapa kita tidak? Bukankah Republik Indonesia > sebenarnya > dipelopori oleh para tokoh yang saat itu berusia muda, > seperti dr. > Tjipto Mangunkusumo, HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, > Sjahrir? > > Somebody has to do something. Kita harus menunjukkan bahwa > Indonesia > adalah bangsa besar yang dinamis, berjalan mengikuti > perubahan zaman > dengan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan baru. > Kita harus > berkata kepada para senior tersebut, we respect you, Sir > and Madam. > But please give some space to our new generation. Sudah > saatnya > generasi baru kepemimpinan di Indonesia turut serta dalam > penentuan > kehidupan bersama pada level politik yang tertinggi. > > Pemikiran seperti itulah yang memberanikan saya untuk > tampil > sekarang. Dengan segala kelemahan yang ada, saya bersyukur > mendapat > kesempatan untuk melakukannya. Memang, kalau dipikir-pikir, > kata > beberapa kawan dekat saya, keputusan itu agak gila sedikit. > Lebih > banyak beraninya ketimbang pertimbangan yang dingin dan > rasional. > > Saya bukan menteri atau mantan menteri. Saya bukan ketua > umum partai, > bukan presiden atau mantan presiden, bukan jenderal > berbintang, bukan > anak proklamator, bukan pejabat tinggi, bukan bekas > panglima TNI, > bukan pula orang kaya raya atau anak orang kaya raya. > "Rizal," kata > kawan-kawan dekat saya itu, "you are a bit crazy. No, > damn crazy!" > > Bahkan, bukan hanya kawan-kawan saya saja, bekas guru besar > saya di > Columbus, AS, yang sangat saya sayangi pun, Prof. Bill > Liddle, > berkomentar lirih, "the time is not yours yet. My dear > Celli (nama > kecil saya), you don't have any chance > whatsoever." > > Terhadap semua itu, saya hanya bisa menjawab, "mungkin > anda benar." > Semboyan kampanye saya pun bunyinya rada mirip, If there is > a will, > there is a way. Pada tahap awal ini, yang ada hanyalah > kehendak, > kemauan, keberanian, and almost nothing else. Terhadap Bill > Liddle > saya sempat membalas emailnya dengan kalimat ini: Pak Bill, > the > "will" is here, and I am working out the > "way". > > Mungkin saya akan berhasil, mungkin pula tidak. But let me > say this: > soalnya bukanlah kalah dan menang, sukses atau tidak. > Bahkan > sebenarnya, seperti saya telah saya singgung tadi, soalnya > bukanlah > tentang Rizal Mallarangeng atau siapa pun. Soalnya adalah > soal sebuah > generasi dan sebuah negri yang kita cintai yang harus > bergerak maju, > membuka peluang dan kemungkinan-kemungkinan baru. > > If what I do will not fly anywhere, saya secara pribadi > sudah cukup > puas karena saya sudah mencoba menunjukkan bahwa Indonesia > tidak > membeku, stagnan dengan pilihan-pilihan yang itu-itu saja > selama > bertahun-tahun. > > Namun, kalau toh ada sedikit harapan yang bisa dikatakan > saat ini, > saya sebenarnya menangkap sebuah isyarat, bahwa dalam > masyarakat kita > ada sebuah kerinduan terhadap sesuatu yang baru dan segar. > But it is > much too early to bet on this. > > Untuk sementara, saya sudah merasa senang bahwa sekarang > sudah mulai > ada wacana yang memperbincangkan generasi baru sebagai > pilihan > kepemimpinan. Kita telah memecahkan glass-ceiling yang > membatasi kita > selama ini dalam membicarakan kemungkinan baru tersebut di > forum > publik. > > Dengan wacana akan pilihan baru tersebut, siapa pun > orangnya, kita > bisa mengatakan kepada dunia, bahkan kepada diri kita > sendiri, we are > a country on the move. Zaman berubah, Indonesia berubah. > Zaman > bergerak, Indonesia bergerak. > > Buat saya secara pribadi, tentu semua itu mengandung dua > sisi, > sebagaimana setiap hal yang kita lakukan dalam kehidupan > ini. This is > a serious business, but I am taking it easy. Memang, ada > beberapa hal > yang menuntut pengorbanan dalam berbagai hal, termasuk > kritik pedas > terhadap diri saya pribadi. Tapi, saya sengaja memulai > semua ini dari > Banda Neira, salah satunya dari bekas rumah pengasingan dr. > Tjipto > Mangunkusumo, sebagaimana yang terlihat dalam iklan dari > Sabang > sampai Merauke. > > Entah kenapa, saya tidak pernah berhenti kagum terhadap > tokoh > pergerakan kebangsaan yang satu ini, sejak masih mahasiswa > sampai > sekarang. Dia lahir tahun 1886 dan menjadi dokter generasi > pertama > hasil didikan Belanda. Sebagai dokter muda di tahun 1920an, > dia > sebenarnya bisa menduduki posisi sangat terhormat sebagai > pegawai > pemerintah jajahan, apalagi dia pernah mendapat penghargaan > tinggi > dari Belanda, Order van Oranye, karena keberhasilannya > membasmi wabah > pes di Malang. > > Tapi ternyata dia memilih jalan berbeda dan, bersama Douwes > Dekker > dan Ki Hajar Dewantara, meletakkan batu pertama perjuangan > politik > menuju Indonesia merdeka. Dan karena itu, dia diasingkan ke > Banda > Neira. Di pulau terpencil inilah, di rumah yang disediakan > Belanda, > ia melewati hari-harinya selama 12 tahun, 1927-1939. Ia > meninggal > sebelum sempat menyaksikan negri yang dicintainya berhasil > merebut > kemerdekaan. > > Bagi saya, dr. Tjipto Mangunkusumo adalah sebuah inspirasi, > sebuah > cerita kehidupan tentang kerelaan menanggung konsekuensi > dari sebuah > cita-cita. Dan setiap orang, setiap kali mengambil tindakan > penting, > pasti mengalami hal yang sama, dalam konteks yang > berbeda-beda. > > Dalam konteks saya, pengorbanan yang ada terlalu kecil > untuk menjadi > bahan cerita. Yang ada adalah rasa terima kasih kepada > banyak sahabat > yang telah mendorong dan memungkinkan langkah yang saya > tempuh. This > is a road less-traveled by, dan karenanya saya pun belum > bisa menerka > titik akhir dari perjalanan ini. Semuanya bergantung pada > dukungan > anda dan masyarkat umumnya. > > Sejauh ini, satu hal yang menyenangkan saya adalah begitu > banyaknya > perhatian dan tanggapan dari warga Indonesia yang sedang > belajar > maupun bekerja di luar negri-- Amerika Serikat, Jepang, > Inggris > hingga Bahrain. Dari Sabang Sampai Merauke yang saya > tampilkan di > Youtube dapat disaksikan dari seluruh belahan dunia, secara > serempak, > kapan saja, dan dalam situasi apa saja. > > Saya pernah sekolah, mengajar dan hidup 8 tahun di > Columbus, AS. Saat > itu belum ada Youtube, dan saya teringat betapa > menyenangkannya > mendapat kabar yang hangat dari tanah air. Tapi waktu itu > hanya ada > bacaan koran dan email. Dengan teknologi baru, apa yang > dilihat dan > didengar di Metro TV, SCTV, RCTI dan TVOne oleh warga kita > di Wamena, > Jayapura juga bisa disaksikan oleh mahasiswa kita di Tokyo, > > Washington DC., dan kota-kota lainnya di dunia. > > Hal tersebut patut disyukuri. Kerinduan begitu banyak warga > kita di > luar negri akan kehangatan berita di tanah air, serta > keterlibatan > dalam peristiwa atau isu yang sama, dapat terpuaskan. Hal > ini membawa > dampak positif, berupa ikatan kebangsaan yang makin > menebal, yang > melewati tapal batas negara. Perasaan memiliki tanah air > yang sama > dan semangat yang sama akan semakin kental, walaupun, atau > justru > ketika, derap globalisasi semakin intensif. > > Kalau saya boleh mengungkapkan kegembiraan, itulah yang > bisa saya > katakan sekarang. Saya sudah menyiapkan dua lagi iklan > susulan, yang > masing-masing akan dimuat selama 2 minggu di berbagai tv > nasional dan > lokal, hingga setelah 17 Agustus nanti. Ketiga seri iklan > inilah yang > saya sebut sebagai Trilogi Harapan Baru dan menjadi dasar > filosofis > dari awal kampanye saya. Mudah-mudahan sambutan terhadapnya > juga akan > sebaik yang ada saat ini. > > Kepada kawan-kawan yang masih belum puas pada jawaban > sementara ini, > saya mohon maaf. Selain buku saya yang sudah terbit > beberapa tahun > lalu (Mendobrak Sentralisme Ekonomi, Penerbit: Pustaka > Gramedia, > 2002), dan banyak tulisan-tulisan saya di berbagai media > massa (dapat > dilihat di www.freedom-institute.org), saya memang masih > butuh waktu > untuk merumuskan hal-hal yang lebih kongkret. > > Pada saatnya nanti, saya akan menjelaskan semua pemikiran > saya, yang > saya harapkan dapat sedikit menjawab begitu banyak > pertanyaan yang > ada. > > > Salam hangat. > > > > Jakarta, 22 Juli 2008 > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
