Patut di acungkan jempol. Sia dibelakngnyo? Nan bisa membiayai
iklan iklannyo. Babeda ju adiaknyo nan masih sibuk "maangkek talua"
bosnyo sajo.

ajoduta

2008/7/24 benni_inayatullah <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> salah satu tokoh muda yang memutuskan "running for Presiden"
> selamat membaca
>
> salam
>
> Ben
> ********
>
> Surat buat Semua
>
>
> Oleh: Rizal Mallarangeng
>
> Saya ingin mengucapkan terima kasih atas perhatian dan simpati Anda
> semua, baik yang berada di tanah air maupun yang di luar negri. Dalam
> waktu singkat, lewat Facebook, milis-milis di internet, maupun media
> massa konvensional di tanah air, begitu banyak yang memberi komentar,
> salam persahabatan, dukungan, pertanyaan, keraguan, hingga kritik
> yang tajam terhadap saya.
>
>
> Teknologi membuka berbagai kemungkinan baru, termasuk dalam
> menyatukan perhatian beragam komunitas dari berbagai belahan dunia
> untuk menyampaikan pendapat secara cepat dan personal. Hal ini tentu
> perlu disambut dengan tangan terbuka.
>
> Saya minta maaf sebab tidak mungkin membalas satu persatu sapaan yang
> datang kepada saya.
>
> Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa alasan
> utama bagi saya untuk tampil sekarang adalah untuk memberi alternatif
> baru dalam proses pemilihan kepemimpinan nasional. Sebenarnya, soal
> ini bukanlah soal saya sebagai pribadi, tetapi persoalan sebuah
> generasi dan sebuah bangsa yang harus terus bergerak maju.
>
> Sejak 10 tahun terakhir, pilihan-pilihan kepemimpinan nasional tidak
> banyak berubah. Gus Dur dan Amien Rais tampaknya masih ingin ikut
> pemilihan presiden tahun depan, mendampingi Presiden SBY dan Wapres
> Kalla serta Megawati. Begitu juga Jenderal (purn) Wiranto dan Letjen
> (purn) Probowo. Mungkin Sultan Hemengkubuwono X dan Letjen (purn)
> Sutiyoso juga akan turut serta.
>
> Saya menghormati tokoh-tokoh senior tersebut. Tapi apakah pilihan
> kepemimpinan nasional harus berkisar hanya di seputar mereka,
> sebagaimana yang terjadi setelah Soeharto lengser? Apakah di
> Indonesia terjadi stagnasi dalam sirkulasi kepemimpinan nasional,
> sehingga wajah-wajah baru tidak mungkin muncul sama sekali? Jika di
> Amerika Serikat muncul Obama (47 tahun) dan di Rusia ada Medvedev (44
> tahun), mengapa kita tidak? Bukankah Republik Indonesia sebenarnya
> dipelopori oleh para tokoh yang saat itu berusia muda, seperti dr.
> Tjipto Mangunkusumo, HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Sjahrir?
>
> Somebody has to do something. Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia
> adalah bangsa besar yang dinamis, berjalan mengikuti perubahan zaman
> dengan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan baru. Kita harus
> berkata kepada para senior tersebut, we respect you, Sir and Madam.
> But please give some space to our new generation. Sudah saatnya
> generasi baru kepemimpinan di Indonesia turut serta dalam penentuan
> kehidupan bersama pada level politik yang tertinggi.
>
> Pemikiran seperti itulah yang memberanikan saya untuk tampil
> sekarang. Dengan segala kelemahan yang ada, saya bersyukur mendapat
> kesempatan untuk melakukannya. Memang, kalau dipikir-pikir, kata
> beberapa kawan dekat saya, keputusan itu agak gila sedikit. Lebih
> banyak beraninya ketimbang pertimbangan yang dingin dan rasional.
>
> Saya bukan menteri atau mantan menteri. Saya bukan ketua umum partai,
> bukan presiden atau mantan presiden, bukan jenderal berbintang, bukan
> anak proklamator, bukan pejabat tinggi, bukan bekas panglima TNI,
> bukan pula orang kaya raya atau anak orang kaya raya. "Rizal," kata
> kawan-kawan dekat saya itu, "you are a bit crazy. No, damn crazy!"
>
> Bahkan, bukan hanya kawan-kawan saya saja, bekas guru besar saya di
> Columbus, AS, yang sangat saya sayangi pun, Prof. Bill Liddle,
> berkomentar lirih, "the time is not yours yet. My dear Celli (nama
> kecil saya), you don't have any chance whatsoever."
>
> Terhadap semua itu, saya hanya bisa menjawab, "mungkin anda benar."
> Semboyan kampanye saya pun bunyinya rada mirip, If there is a will,
> there is a way. Pada tahap awal ini, yang ada hanyalah kehendak,
> kemauan, keberanian, and almost nothing else. Terhadap Bill Liddle
> saya sempat membalas emailnya dengan kalimat ini: Pak Bill, the
> "will" is here, and I am working out the "way".
>
> Mungkin saya akan berhasil, mungkin pula tidak. But let me say this:
> soalnya bukanlah kalah dan menang, sukses atau tidak. Bahkan
> sebenarnya, seperti saya telah saya singgung tadi, soalnya bukanlah
> tentang Rizal Mallarangeng atau siapa pun. Soalnya adalah soal sebuah
> generasi dan sebuah negri yang kita cintai yang harus bergerak maju,
> membuka peluang dan kemungkinan-kemungkinan baru.
>
> If what I do will not fly anywhere, saya secara pribadi sudah cukup
> puas karena saya sudah mencoba menunjukkan bahwa Indonesia tidak
> membeku, stagnan dengan pilihan-pilihan yang itu-itu saja selama
> bertahun-tahun.
>
> Namun, kalau toh ada sedikit harapan yang bisa dikatakan saat ini,
> saya sebenarnya menangkap sebuah isyarat, bahwa dalam masyarakat kita
> ada sebuah kerinduan terhadap sesuatu yang baru dan segar. But it is
> much too early to bet on this.
>
> Untuk sementara, saya sudah merasa senang bahwa sekarang sudah mulai
> ada wacana yang memperbincangkan generasi baru sebagai pilihan
> kepemimpinan. Kita telah memecahkan glass-ceiling yang membatasi kita
> selama ini dalam membicarakan kemungkinan baru tersebut di forum
> publik.
>
> Dengan wacana akan pilihan baru tersebut, siapa pun orangnya, kita
> bisa mengatakan kepada dunia, bahkan kepada diri kita sendiri, we are
> a country on the move. Zaman berubah, Indonesia berubah. Zaman
> bergerak, Indonesia bergerak.
>
> Buat saya secara pribadi, tentu semua itu mengandung dua sisi,
> sebagaimana setiap hal yang kita lakukan dalam kehidupan ini. This is
> a serious business, but I am taking it easy. Memang, ada beberapa hal
> yang menuntut pengorbanan dalam berbagai hal, termasuk kritik pedas
> terhadap diri saya pribadi. Tapi, saya sengaja memulai semua ini dari
> Banda Neira, salah satunya dari bekas rumah pengasingan dr. Tjipto
> Mangunkusumo, sebagaimana yang terlihat dalam iklan dari Sabang
> sampai Merauke.
>
> Entah kenapa, saya tidak pernah berhenti kagum terhadap tokoh
> pergerakan kebangsaan yang satu ini, sejak masih mahasiswa sampai
> sekarang. Dia lahir tahun 1886 dan menjadi dokter generasi pertama
> hasil didikan Belanda. Sebagai dokter muda di tahun 1920an, dia
> sebenarnya bisa menduduki posisi sangat terhormat sebagai pegawai
> pemerintah jajahan, apalagi dia pernah mendapat penghargaan tinggi
> dari Belanda, Order van Oranye, karena keberhasilannya membasmi wabah
> pes di Malang.
>
> Tapi ternyata dia memilih jalan berbeda dan, bersama Douwes Dekker
> dan Ki Hajar Dewantara, meletakkan batu pertama perjuangan politik
> menuju Indonesia merdeka. Dan karena itu, dia diasingkan ke Banda
> Neira. Di pulau terpencil inilah, di rumah yang disediakan Belanda,
> ia melewati hari-harinya selama 12 tahun, 1927-1939. Ia meninggal
> sebelum sempat menyaksikan negri yang dicintainya berhasil merebut
> kemerdekaan.
>
> Bagi saya, dr. Tjipto Mangunkusumo adalah sebuah inspirasi, sebuah
> cerita kehidupan tentang kerelaan menanggung konsekuensi dari sebuah
> cita-cita. Dan setiap orang, setiap kali mengambil tindakan penting,
> pasti mengalami hal yang sama, dalam konteks yang berbeda-beda.
>
> Dalam konteks saya, pengorbanan yang ada terlalu kecil untuk menjadi
> bahan cerita. Yang ada adalah rasa terima kasih kepada banyak sahabat
> yang telah mendorong dan memungkinkan langkah yang saya tempuh. This
> is a road less-traveled by, dan karenanya saya pun belum bisa menerka
> titik akhir dari perjalanan ini. Semuanya bergantung pada dukungan
> anda dan masyarkat umumnya.
>
> Sejauh ini, satu hal yang menyenangkan saya adalah begitu banyaknya
> perhatian dan tanggapan dari warga Indonesia yang sedang belajar
> maupun bekerja di luar negri-- Amerika Serikat, Jepang, Inggris
> hingga Bahrain. Dari Sabang Sampai Merauke yang saya tampilkan di
> Youtube dapat disaksikan dari seluruh belahan dunia, secara serempak,
> kapan saja, dan dalam situasi apa saja.
>
> Saya pernah sekolah, mengajar dan hidup 8 tahun di Columbus, AS. Saat
> itu belum ada Youtube, dan saya teringat betapa menyenangkannya
> mendapat kabar yang hangat dari tanah air. Tapi waktu itu hanya ada
> bacaan koran dan email. Dengan teknologi baru, apa yang dilihat dan
> didengar di Metro TV, SCTV, RCTI dan TVOne oleh warga kita di Wamena,
> Jayapura juga bisa disaksikan oleh mahasiswa kita di Tokyo,
> Washington DC., dan kota-kota lainnya di dunia.
>
> Hal tersebut patut disyukuri. Kerinduan begitu banyak warga kita di
> luar negri akan kehangatan berita di tanah air, serta keterlibatan
> dalam peristiwa atau isu yang sama, dapat terpuaskan. Hal ini membawa
> dampak positif, berupa ikatan kebangsaan yang makin menebal, yang
> melewati tapal batas negara. Perasaan memiliki tanah air yang sama
> dan semangat yang sama akan semakin kental, walaupun, atau justru
> ketika, derap globalisasi semakin intensif.
>
> Kalau saya boleh mengungkapkan kegembiraan, itulah yang bisa saya
> katakan sekarang. Saya sudah menyiapkan dua lagi iklan susulan, yang
> masing-masing akan dimuat selama 2 minggu di berbagai tv nasional dan
> lokal, hingga setelah 17 Agustus nanti. Ketiga seri iklan inilah yang
> saya sebut sebagai Trilogi Harapan Baru dan menjadi dasar filosofis
> dari awal kampanye saya. Mudah-mudahan sambutan terhadapnya juga akan
> sebaik yang ada saat ini.
>
> Kepada kawan-kawan yang masih belum puas pada jawaban sementara ini,
> saya mohon maaf. Selain buku saya yang sudah terbit beberapa tahun
> lalu (Mendobrak Sentralisme Ekonomi, Penerbit: Pustaka Gramedia,
> 2002), dan banyak tulisan-tulisan saya di berbagai media massa (dapat
> dilihat di www.freedom-institute.org), saya memang masih butuh waktu
> untuk merumuskan hal-hal yang lebih kongkret.
>
> Pada saatnya nanti, saya akan menjelaskan semua pemikiran saya, yang
> saya harapkan dapat sedikit menjawab begitu banyak pertanyaan yang
> ada.
>
>
> Salam hangat.
>
>
>
> Jakarta, 22 Juli 2008
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke