From: Malik Abdullah <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Saiful the Tabuit Maker To: "MinangUSA" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wednesday, July 23, 2008, 8:29 PM
Assalamu Alaikum WW, Setelah mendengar "kabar yang sedih" mengenai Saiful sebelum ini, alangkah gembiranya kami mendengar berita baik bahwa Saiful masih berada di Pariaman dalam keadaan sehat walafiat. Malahan pada musim tabuit tahun yang lalu, Saiful memimpin pembangunan tabuit subarang. Bagi warga MinangUSA yang belum kenal dengan Saiful: beliaulah yang datang ke Washington, DC tahun 2006 membuat tabuit untuk di "oyak-oyak" di Cherry Blossom Festival. Dalam pertemuan kami di Pariaman dengan Saiful beberapa minggu yang lalu, banyak kesan-kesan yang dia peroleh selama dia di Washington, DC. Yang paling berkesan adalah kerahmahan orang-orang Amerika bersilaturahmi dengan orang-orang yang mereka tidak kenal. Satu pagi, sambil minum kopi dan bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaan membangun tabuit, Saiful berdiri dimuka KBRI. Tiba-tiba beberapa orang "bule" liwat didepan KBRI dan langsung menyapa Saiful, "Good Morning, How are you?" Kata Saiful dalam hatinya, "Ondeh, inyo ndak tau jo awak tapi inyo masih mau manyapo awak. Dikampuang, urang liwet dimuko awak, sepatahpun indak kalua dari muncuangnyo." Pengalaman manis lain waktu tiba di Dulles Airport. Dia mencari-cari Mak Uncu Duta tapi Mak Uncu tidak kelihatan. Seorang "bule" melihat wajah Saiful yang makin cemas. Dia menghampiri Saiful sambil bertanya dalam bahasa Inggris. Tidak tahu apa yang akan dia jawab, Saiful hanya memberikan nomor telepon Mak Uncu kepada si "bule." Saiful takjub melihat si "bule" memakai hpnya dan menghubungi Mak Uncu memakai nomor yang diberikan oleh Saiful. Langsung hp diserahkan kepada Saiful dan berbicara dengan Mak Uncu. "Apakah ini mungkin terjadi di tanah air?" tanya Saiful dalam hatinya. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, Saiful mengumpulkan banyak ide-ide yang dia peroleh dari pengalaman dia selama 1 bulan di AS. Dia siap untuk "melapor" ke pimpinan pemerintah daerah. Tiba di Pariaman kekecewaan timbul karena pemimpin daerah meremehkan Saiful si tukang tabuit dan Saiful tidak sempat menyampaikan ide-idenya. Kapan ya pemimpin kita mau mendengar suara si rakyat kecil seperti Saiful si tukang tabuit? Wassalam, Malik Abdullah --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
