Rezim Developmentalisme Demokratis 

 


Padang Ekspres, Jumat, 25 Juli 2008 


Oleh : Indra J Piliang, The Indonesian Institute, CSIS dan Alumnus SMA 2
Pariaman
Pertanyaan terpenting selama 10 tahun terakhir ini adalah apakah demokrasi
di Indonesia sudah tumbuh subur? Banyak yang menjawab sudah dengan begitu
banyaknya partai politik nasional, ditambah dengan parpol lokal di Aceh.
Calon perseorangan juga sudah maju dalam pilkada. Kalangan intelektual bisa
maju ke dunia politik, sebagaimana dicoba oleh almarhum Nurcholish Madjid
dalam pemilu 2004. Sementara, kalangan politikus juga berhasil menjadi
akademisi, seperti yang diraih oleh Akbar Tandjung. 

Demokrasi menempatkan Indonesia sebagai barometer baru dalam mengendalikan
sebuah negara yang dihuni oleh beragam jenis suku, agama, keyakinan, aliran
politik, sampai bentuk-bentuk pemikiran di bidang sosial, politik, ekonomi
dan budaya. Indonesia adalah negara yang memang membayar cukup mahal bagi
kehadiran demokrasi, seperti sejumlah konflik vertikal dan horizontal sejak
1998. Dalam kondisi tertatih itu, Indonesia mampu menyatukan salah satu
pihak yang paling trengginas dalam sejarah perlawanan, Gerakan Aceh Merdeka,
sekalipun juga atas nama referendum merelakan Timor Timur menjadi negara
Timor Leste. 

Tetapi, apa yang kurang dalam sepuluh tahun ini? Kesejahteraan. Satu kata
itu memang semakin sulit diraih. Demokrasi hanya menyenangkan batin dan
pikiran, sementara kebutuhan material menjadi semakin sulit diraih.
Kesejahteraan seakan menjauh, ketika demokrasi berdiri gagah dan perkasa.
Anak-anak muda kini dengan muka tegak mengiklankan diri untuk membawa
harapan baru bagi generasi baru. 

Mengapa kesejahteraan gagal diraih? Persoalannya adalah ketika demokrasi
sedang mengharu biru, pertumbuhan ekonomi sedang sulit. Banyak pemerintahan
yang berubah menjadi anti-demokrasi ketika masyarakat kesulitan pangan,
sebagaimana terjadi di negara-negara Afrika atau Asia Tengah. Ketergantungan
yang tinggi kepada pemerintah menyebabkan rakyat lebih mudah ditundukkan. 

Kita bersyukur, Indonesia tidak mengalami itu. Demokrasi mampu meniti buih
pada saat rakyat antri mendapatkan minyak tanah. 

Tentara tidak lagi berhadapan dengan kaum demonstran. Polisi juga semakin
kewalahan karena disoroti lampu kamera ketika mengeluarkan senjata atau
pentungan menghalau demonstran. Saya sungguh tidak bisa membayangkan apabila
demokrasi menjadi hilang, ketika krisis ekonomi melanda. Bisa-bisa negara
oleh dikuasai para bandit yang menggunakan seragam resmi. 

Karena kesejahteraan sedang jauh, maka upaya yang paling realistis adalah
bagaimana mengawinkan antara demokrasi dengan kesejahteraan. Rezim
developmentalisme adalah satu pilihan yang tersedia. Namun,
developmentalisme yang berbeda dengan era sebelumnya yang atas nama
developmentalisme melakukan represi atas warga negara dan membelenggu
kebebasan. Banyak kaum aktivis dan pemikir yang lahir, ketika rezim
developmentalisme represif ini begitu kuat. 

Developmentalisme demokratis ini adalah rezim yang membangun jembatan ketika
musyawarah di kalangan rakyat menghendaki jembatan. Developmentalisme
demokratis adalah rezim yang tidak menggadaikan diri kepada korporasi
internasional atau trans-nasional yang hanya mengejar kenaikan grafik atas
nilai investasi. 

Developmentalisme demokratis adalah rezim yang bernegosiasi dalam waktu lama
dan panjang guna kebutuhan-kebutuhan rakyat, ketimbang hanya tampil baik dan
santun demi kepentingan stabilitas semu semata. 

Karena kepentingan atas rezim developmentalisme demokratis ini, maka
kehadiran partai-partai politik dan pemilu menjadi bagian tidak terpisahkan.
Akar dan tulang punggung demokrasi Indonesia sudah digerakkan oleh
partai-partai politik. Menjadi aneh kalau semangat anti parpol hinggap dalam
diri kaum intelektual. 

Kalau sinisme dan apatisme terhadap parpol hadir di hati rakyat, sebagaimana
muncul dalam sejumlah jajak pendapat, hal itu semata-mata karena parpol
memang gagal dan gagap dalam menjelaskan makna kehadirannya. Tetapi juga
keliru kalau kesimpulannya adalah rakyat anti terhadap demokrasi. Survei
Indo Barometer menunjukkan bahwa rakyat siap menerima siapapun parpol yang
memenangkan pemilu. 

Semakin tipisnya konflik ideologis di kalangan parpol menunjukkan bahwa
masalah ideologi sudah hampir selesai. Bukan tidak ada, tetapi disimpan
untuk menghadapi momentum-momentum penting nanti, seperti amandemen
konstitusi. Karena itu pula, parpol punya kesempatan untuk menawarkan
alternatif kesejahteraan ketika demokrasi berlangsung. 

Gerakan revisionis terhadap kegagalan-kegagalan atas pembangunan yang
dijalankan selama ini memerlukan tempat yang serius. Sebagai revisi, tidak
perlu ada penggantian yang bersifat menyeluruh, tetapi hanya menggantikan
kebijakan atau pemikiran yang terbukti tidak sesuai dengan kebutuhan zaman. 

Dari sisi kepartaian, Partai Golkar berpengalaman dalam melakukan dan
menggerakkan rezim developmentalisme, sejak pemilu 1971. Hanya saja, partai
ini kelihatan lebih banyak menikmati pertarungan jangka pendek untuk merebut
kekuasaan semata. Partai lain, seperti PDI Perjuangan, terus mencoba untuk
menegaskan diri sebagai parpol oposisi, seolah oposisi adalah sebuah pilihan
ideologis. Padahal tidak. Baik memerintah atau menjadi oposisi hanyalah
bagian dari strategi dan taktik perjuangan politik, bukan substansi dari
perjuangan politik itu sendiri. 

Mumpung kampanye berlangsung lama, selayaknya debat substantif sudah dimulai
oleh para penggerak masing-masing parpol. Kampanye yang panjang adalah
bagian dari proses pendidikan politik. "Laga parlementer" harus benar-benar
terjadi, terutama lewat kampanye tertutup dan kampanye media yang sekarang
berjalan. Sangat amat disayangkan kalau yang ditayangkan hanyalah
slogan-slogan yang mengarah kepada upaya menepuk dada sendiri, tanpa lewat
penjabaran yang lebar dan dalam. 

Kegagalan pemerintahan hasil pemilu 2009 akan langsung terasa, ketika dalam
kampanye yang digelar sekarang tidak berhasil merumuskan dengan baik apa
yang akan dilakukan ketika memerintah. Era virtual di bidang politik
selayaknya dihadapi dengan cara semakin menggiatkan proses perumusan atas
kebijakan-kebijakan yang diambil nantinya itu dalam komunikasi antara parpol
dengan pemilih. 

Kalau tidak, lagi-lagi kita akan melihat demokrasi hanya sekadar prosedur,
bukan substansi yang serius untuk menggapai tujuan-tujuan berbangsa.
Kehadiran rezim developmentalisme demokratis adalah pencapaian yang penting
dalam mengambil yang baik di masa lalu, sembari memperkuat yang terbaik di
masa kini. *** 

 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke