Pertama kali melihat di Majalah Prisma sekitar empatpuluh tahun silam
foto Syarir alias Ci'il, yang wafat dalam usia 63 tahun di RS Mount
Elizabeth, Singapura  Minggu pagi kemarin---di samping pemikirannya
ketika itu---adalah kemiripan wajahnya nya dengan Sutan Syahrir.
Tetapi kemiriapin lain, tepatnya kesamaan, sama=sama berdarah Minang
alias berasal dari Suamatera Barat, daerah  yang dikenal mengahsilkan
sejumlah negarawan besar bagi bangsa ini.

Para peserta aksi-aksi mahasiswa yang dikenal sebagai Angkatan 66,
termasuk saya (walaupun hanya aktif dari "garis belakang" :D) yang
tidak kenal dengan Ci'il, yang berasal dari IMADA, yang selain dikenal
sebagai organisasi mahasiswa kalangan elit, juga dikenal sebagai dekat
dengan  sosialismenya Sutan Syahrir.

Kontak pertama dengan Syahrir adalah, ketika saya yang ketika itu
merupakan salah seorang Pengurus SMFE  dan Mas Diyono yang ketika itu
menjabat sebagai Ketua SMFH, diminta Purek Bidang Kemasiswaan Pak
Khumarga [1] dan Ketua DM UNTAR Maryanto (mendiang) untuk mewakili DM
UNTAR dalam sebuah pertemuan pimpinan Dewan dan Ormas Mahasiswa se
Jakarta dalam tahun 1970 di Kampus IKIP Rawamangun.

Ketika itu ada kehawatiran bahwa sejumlah pimpinan dan aktivis
mahasasiswa sudah dijinakkan Suharto, antara lain melalui "BLT" :D
sebesar Rp 50 ribu per bulan, atau direkrut sebagai sarjana Wamil.
Saya masih ingat sekali Ketua DM UI Hariadi Darmawan hadir dengan
memakai celana hijau ABRI----dengan bahan berkualitas tinggi---lebih
banyak ketawa-ketiwi dengan teman-temannya dari pada aktif dalam
diskusi. Di antara yang hadir ketika itu adalah Ketua Umum dan Sekjen
PB HMI Akbar Tanjung dan Ridwan Saidi, keduanya tampak bersajakan
memakai baju dan celana putih. Dalam orasinya, Ci'il ketika itu masih
kurus  dan---seingat sya baru keluar dari tahanan juga memakai baju
dan celana putih, antara lain mengingatkan agar para (aktivis)
mahasiswa agar tidak saling mendidkreditkan satu sama lain.

Seperti kita ketahui bersama Ci'il kemudian terlibat, ditangkap dan
dipenjara dalam Peristiwa Malari, dan setelah bebas mekanjutnya studi
pasca-sarjana dan memperoleh gelar Doktor Ekonomi Politik dari Harvard
(CMIIW). Saya dan seorang rekan di Biro Konsultan sempat mengahdiri
diskusi terbatas yang diorganisir Ci'il dalam tahun 1983 di UI yang
antara lain dihadiri oleh Ketua Bepeka Anwar Nasuition, yang ketika
itu masih menjadi Staf Pengajar di FE-UI, dan Menperindak Mari
Pangestu yang sedang menyelesaikan Studi Doktornya di AS. Berbeda
dengan ketika jadi aktivis mahasiswa, tubuh Ci'il mulai subur dengan
lemak yang mulai bergelayu di dagunya serta berpaikaian rapi dan
modis. Pemikirannya---IMO---mulai bergerak    dari kiri ke tengah,
menerima kapitalisme dan ekonomi pasar. Bahwa Ci'il, seperti
dijelaskan salah seorang teman karibnya Theo Sambuaga dalam wawancara
dengan TV-One tadi pagi berpendapat bahwa pertumbuhan dan pemerataan
harus jalan, suatu pemikiran yang tidak terlalu unik tentu saja.   

Mungkin masih banyak di antara kita yang masih ingat polemik antara
kita Syharir+Arif Budiman dengan penggagas Ekonomi Pancasila Dr
Mubiyarto, yang---berbeda dengan Ci'il dan Arif---berpendapat bahwa
ilmu ekonomi tidak boleh bebas nilai dan harus berpihak.

Sebelum mendirikan Yayasan Padi dan Kapas, seingat saya dia pernah
bekerja di Indoconsult biri konsultan yang didirikan Prof Soemitro
Djojohadikusumo. Saya percaya baik ketika bekerja di Indoconsult dan
sesudahnya Ci'il serinf dapat assignment dari Pemerintah dengan fee 
yang dapat mencapai 10 digit.

Tetapi terlepas dari itu, Ci'il tetap menjaga jarak dengan Orba dan
berebeda dengan para seniornya, dia tidak pernah merapat ke Golkar.
Tulisan-tulisannya di berbagai media, tetap bernas dan kritis. 

Ci'il menikah dengan seseama aktivis Dr Kartini Panjaitan (Ker),
perempuan Batak yang sudah menjadi "orang awak" karena cukup lama
bermukim di Bukit Tinggi, dan dianugeradi 2 anak. Sebelum Pemilu 2004
yang lalu Ci'il mendirikan partai yang tidak sukses menjaring suara
dalam Pemilu. Juga untuk Pemilu 2009---seperti sudah mendapat
firasat---jabatan Ketua Partai dipegang oleh Ker.

Dalam satu dua tahun belakangan ini Ci'il hampir tidak pernah menulis
atau menemukakan opininya di depan publik. Hal itu tentu erat
hubungannya dengan jabatannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan
Presiden. Di Indonesia kadang-kadang sering terjadi hal yang aneh,
Menteri atau Pejabat lainnya sering mengomentari koleganya di depan
publik. Dalm perspektif ini jelas Ci'il mencontohkan sikap yang patut
ditiru.

Ci'il jelas tidak pernah mencapai level seperti Sutan Syahrir sang
Mahaputra, tetapi dia telah menunjukkan bahwa dia merupakan salah satu
putra terbaik bangsa ini yang dapat diteladani.

Selamat jalan Ci'il. Innalillahi wainailaihi radjiun

Semarang, 29 Juli 2008.
Darwin Bahar, dari berbagai sumber untuk Apakabar 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke