Minangkabau Eksportir Senapan

Sedikit  orang  yang  tahu  bahwa  pada  abad ke-18, Minangkabau sudah
terkenal  sebagai  pembuat  senapan  dan  mengekspor  senapan  beserta
pelurunya  pada  bangsa  asing  seperti  Portugis maupun pada Kerajaan
Aceh.

Seorang  Belanda  yang  berkunjung  ke  Sumatera  Barat pada saat awal
Perang  Padri  menulis:  "Rakyat Minangkabau adalah orang yang berani,
terlatih  dalam  perang,  penembak  yang  jitu  dan  dalam  menghadapi
kesulitan  serta  pandai  menggunakan  keadaan alam sebagai keuntungan
dalam pertahanan".

Dia  juga  menulis bahwa Rakyat Minangkabau sudah mengenal senapan dan
bahkan  telah  mampu  memproduksinya  sendiri.  Senapan  - senapan itu
persis  dengan  yang  Belanda  miliki,  modelnya  pun hanya tertinggal
setahun dua tahun.

(Gambar  1.1  Beberapa  suku  cadang  senapan  minang "badie sitengga"
seperti yang digambar oleh P.J Veth tahun 1882)

Daerah  yang  terkenal sebagai produsen senapan adalah Sungai Yani dan
Sungai  Puar. Harga senapan kualitas satu berkisar antara 10-12 gulden
dan  naik  tajam  pada  saat perang Padri menjadi 20-30 gulden. Peluru
yang  dipakai  orang  Minang  pada  saat  itu  adalah peluru timah dan
biasanya dicampur dengan pecahan porselen, besi kecil dan beras.

Pembuatan  mesiu  dilakukan  oleh  para  wanita Minang dengan campuran
saltpeter  (diperoleh  dari  kotoran hewan meskipun terdapat saltpeter
alam  tetapi  orang-orang  Minang  tidak mengetahuinya), belerang yang
diperoleh  dari gunung berapi maupun sumber air panas dan arang. Semua
bahan-bahan  tersebut diramu dan dimasak diatas wajan besi diatas api.
Sebuah proses yang sederhana dan sangat berbahaya tetapi jarang sekali
terjadi kecelakaan.

Tidak  diketahui  secara  pasti  kapan pertama kali orang-orang Minang
mengenal  dan  belajar  membuat  senapan.  Ada  dua  kemungkinan  asal
transfer teknologi pembuatan senapan ini, yaitu:

Pertama  adalah dari kekaisaran Ming di Cina pada kisaran tahun 1390  
1527,  karena  pada  akhir  abad  ke 14 dan awal abad ke 15, teknologi
pembuatan mesiu dan senapan dari daratan Cina telah menyebar keseluruh
semenajung Malaka dan Sumatera yang menyebabkan ekspansi besar-besaran
kerajaan-kerajaan  didaerah  tersebut,  jauh sebelum orang-orang Eropa
datang memperkenalkan senapan mereka.

(Gambar  1.2  Tentara  Ming  dalam  formasi  tempur,  berbaju besi dan
bersenjata senapan laras tiga dibawah Jenderal Qi pada tahun 1640)

(Gambar 1.3 Senapan laras tiga peninggalan kekaisaran Ming)

Kedua  adalah  dari  kekaisaran Ottoman Turki. Invasi Portugis ke Laut
India  untuk  menguasai jalur perdagangan lada pada tahun 1498 memaksa
Kerajaan  Aceh  untuk  meminta  perlindungan  militer  pada Kekaisaran
Ottoman  Turki  dengan  membawa upeti dan sebuah surat pengakuan bahwa
Kerajaan Aceh vassal pada Kekaisaran Ottoman dan sebagai balasan tahun
1520,  Vezir  Sinan  Pasha  mengirim  ke  Aceh meriam-meriam Turki dan
Pedang.

Sultan  Suleiman  pada  tahun  1537 mengirim armada lautnya ke Gujarat
untuk  menghancurkan  angkatan  laut  Portugis dan pasukan ini tiba di
Aceh untuk membantu Aceh dalam perang melawan Batak dan Portugis.

Sebuah  surat  dari  Sultan  Awaluddin  pada  tahun  1567 yang meminta
bantuan  militer dan Sultan Selim II bukan saja hanya mengirim bantuan
militer tetapi juga beberapa ahli pembuat senapan dan meriam ke Aceh.

(Gambar  1.4  Dari  atas  kebawah  perbandingan  senapan buatan Turki,
Portugis  dan  Cina yang ditulis pada buku manual jenderal Qi Jiguang,
Ji Xiao Xin Shu tahun 1558)

Meriam-meriam  ini  akhirnya  juga  sampai  di Minangkabau dan dipakai
secara  aktif melawan Belanda dalam perang Padri. Sayangnya salah satu
penyebab   pudarnya  kekaisaran  Ottoman  ini  adalah  karena  menolak
mengadopsi teknologi terbaru kedalam senapannya.

Reference: 
Rusli Amrin, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Perang Saudara yang
ditunggangi   Belanda,  Orang  Padri  Sebagai  Pejuang,  halaman  399,
Penerbit Sinar Harapan.

Sun  Laicen, Military Technology Transfers from Ming China, Journal of
Southeast Asian Studies (2003), Cambridge University Press.

Xin Hua News, Ancient Gun from Ming Dinasty found in China, 7 February 2001.
Marsden, William, History of Sumatera, London 1783
John  and Anne Summerfield, Walk in Splendor: Ceremonial Dress and the
Minangkabau,  UCLA  Fowler  Museum of Cultural History Textile Series,
No. 4, 1999

Anthony Reid, The Ottoman in Southeast Asia, Asian Research Institute,
National University of Singapore, 2005.

Rashid  (Turkish  Foreign  Minister) to Musurus (Ambassador to Britain
and  the  Netherlands),  11  Aug.  1873,  Woltring  (ed.),  Bescheiden
Betreffende  de  Buitenlandse Politiek van Nederland, 2de Periode (The
Hague: Nijhoff, 1962.), 1, p.612.

Anthony  Reid, An Indonesian Frontier: Acehnese and other Histories of
Sumatra (Singapore: University of Singapore Press, 2004). Pp.74-78.

Reid,  An  Indonesian Frontier, pp.79-87. Also Anthony Reid, Southeast
Asia in the Age of Commerce Vol. II (New Haven: Yale University Press,
1993), pp. 146-7.

Gambar 1.2, 1.3, 1.4 berasal dari
http:// chinese-gun.freewebspace.com/index.html

source
http://www.pelaminanminang.com/tahukah/minangkabau_produsen_eksportir_senapan.html




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke