Sanak ET Hadi Saputra dan dunsanak di Palanta RN,

sato ambo saketek,
sangajo ambo copy stek ...dibawah, ....nan iko sajo ka kito cubo
maotakanyo.

satahu ambo politikus ko adolah rang lapau palanta ko
karano kito bisa bapikia bebas, dari berbagai sudut pandang, tantunyo
sasuai alua jo patuik.
tabuti kini kito bisa jadi nyiak walijorong, nyiak wali nagari., nyiak
walikota..nyiakGbr
anggota DPD,  kito rang awam buliah mancalon,...asa lai
boneh....mungkin.kito bisa maapuangkan "namo" di palantako,  supayo
kampuang batambah maju, ekonomi kito capek barubah, maupun caro
bapolitik..batambah rancak..

wassallam
AZ Dt RjAlam (37+)
di Balikpapan

______________
NB:
Guru saya pernah bilang: "Orang awam perlu belajar ekonomi - supaya
nggak gampang ditipu sama orang yang ngaku-ngaku ngerti ekonomi..."

Repotnya, biasanya orang seperti itu adalah para politikus.
_______________





ET Hadi Saputra
View profile
         More options Aug 1, 1:06 pm
From: "ET Hadi Saputra" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 1 Aug 2008 13:06:14 +0700
Local: Fri, Aug 1 2008 1:06 pm
Subject: FW: Ekonomi untuk orang awam
Reply | Reply to
 author | Forward | Print | Individual message | Show original |
Report this message | Find messages by this author

Dari seorang kawan.

At 10:58 AM 8/1/2008, you wrote:

>Enak banget ya kalo ngomong ekonomi makro dan indikator sehatnya.
>Kata Andrea Hirata mah sangat Keynesian alias berbau rezim moneter.
>So, ke mana ya bahasan/analisis ekonomi riilnya untuk sang capres?

Yang pertama kali menggunakan istilah "ekonomi makro" memang John
Maynard Keynes (itu sebabnya alirannya disebut Keynesian). Tetapi
sekarang ini ilmu ekonomi makro nggak melulu Keynesian. Ada banyak
aliran. Andrea Hirata sendiri menurutnya adalah pengikut aliran
Neo-Classical. Kalau saya sih lebih ke condong ke aliran Austrian,
Monetaris, dan Neo-Classical.

>Padahal sang makro itu bebannya ada di riil, artinya masyarakat
>sendiri obyek penderitanya ketika ada niat menyelamatkan sektor keuangan.

Sebenarnya ini nggak benar.

Ekonomi makro itu menyangkut tingkat harga, tingkat output ekonomi,
serta upah dan pengangguran. Idealnya, aspek ekonomi makro itu bisa
menjelaskan SELURUH ekonomi (disebut sebagai ekonomi riil), sehingga
bisa diambil langkah untuk merencanakan dan mengimplementasikan
kebijakan ekonomi ("you can control what you understand and you can
understand what you know")

Masalahnya, ekonomi riil Indonesia itu kebanyakan bersifat tidak
tercatat / informal. Mungkin sekitar 40% ekonomi Indonesia berada
pada aktor-aktor informal, mulai dari pengusaha besar yang nggak
bayar pajak, sampai ke dokter, industri rumahan, pedagang kaki lima,
pelacur, dan pencopet. Semua yang ada di daerah abu-abu karena tidak
masuk dalam catatan ekonomi resmi. Nah, bagaimana bisa direncanakan
dan dikendalikan kalau tidak tercatat?

Bagaimana supaya sektor informal ini bisa berkurang dan lebih bisa
tercatat -- itu adalah tugas maha berat - tapi harus dijalankan.

>Saya jadi ingat perdebatan Bambang Wuryanto (PDIP) dan Erlangga
>(Golkar) di salah satu TV soal reason kenaikan BBM. Eh, Erlangga
>terjebak pertanyaan Wuryanto, tentang untuk siapa kenaikan BBM.
>Catat ya, untuk menyelamatkan sektor moneter/keuangan. Jadi, kumaha
>tah ekonomi riil yang seharusnya mendapat kucuran modal dari sektor
>keuangan karena perbankanlah yang harus menjalankan fungsi
>intermediasi/menyalurkan modal untuk sektor riil? Ekonom siapa ya
>yang sudah balance dan penuh pencerahan antara moneter dan riil?

Ini juga salah kaprah secara ekonomi. Awut-awutan. Khas politisi
kalau menjelaskan ekonomi.

1. Harga BBM perlu naik supaya konsumsi bisa berkurang atau
setidaknya melambat.
2. Pertumbuhan konsumsi BBM perlu diperlambat karena BBM disubsidi
(harga jual < harga pasar)
3. Subsidi BBM adalah bagian dari pengeluaran pemerintah.
4. Defisit (pengeluaran > pendapatan) harus ditutup dengan mencetak
uang.
5. Bila uang dicetak terlalu banyak --- maka setiap nilai uang bisa
turun (dengan kata lain inflasi naik)
6. Kalau inflasi naik - maka daya beli turun, tingkat suku bunga
naik, dan kredit macet berpotensi naik.
7. Kalau kredit macet naik - maka volume kredit perbankan harus
diturunkan.
8. Kalau volume kredit perbankan turun -- maka ekonomi akan bergerak
lebih lambat lagi.

Jadi menaikkan harga BBM itu memang pilihan sulit - karena pasti akan
membuat ekonomi melambat dan daya beli menurun. TETAPI bila harga
BBM tidak dinaikkan -- maka ekonomi ambrol - karena inflasi
meroket - dan daya beli bisa hancur. Inflasi yang sangat tinggi
bisa membawa masyarakat kembali ke jaman barter, yang berarti
inefisiensi sangat tinggi dan kesengsaraan lebih lanjut.

Itu sebabnya mengapa saya bilang bahwa ekonomi nasional itu selalu
terkait atas pilihan-pilihan sulit. Selalu sulit. Buah simalakama
di mana-mana....

NB:
Guru saya pernah bilang: "Orang awam perlu belajar ekonomi - supaya
nggak gampang ditipu sama orang yang ngaku-ngaku ngerti ekonomi..."

Repotnya, biasanya orang seperti itu adalah para politikus.

__._,_.___
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke