Assalamualaikum w.w. Sanak Arnoldison dan para sanak sa palanta,
Ambo heran juo mamikiakan baa mako jo sejarah Perang Paderi nan balangsuang 
cukuik seru salamo 17 tahun (kalau kito muloi dari 1821-1838) samo sakali indak 
ado bakehnyo, sahinggo urang kini indak tahu baa hebatnyo urang Minang dalam 
baparang. [Disangko urang awak ko hanyo pandai bapapatah patitih dan manggaleh 
sajo].
Sabagai urang gaek nan panah dalam dinas militer -- angkatan darat -- salamo 31 
tahun dan manyukoi sejarah, ambo raso pemerintah daerah paralu membangun baliak 
replika benteng-benteng paderi iko, bukan sekadar untuak kepentingan sejarah, 
tetapi juo untuak pembentukan citra dan watak anak-anak mudo kito. [Salain itu, 
mungkin juo ado gunonyo suatu saat nanti kok ado pulo parang baliak.[ Sabagai 
manfaat tambahan, bisa dijadikan sabagai tambahan lokasi pariwisata.
Ambo raso, indak ka banyak bana biaya mambangun baliak benteng-benteng Paderi 
nan tadiri dari ukik-bukik jo aua baduri tu. Bisa digotong-royongkan dek anak 
nagari. Kalau sekedar biaya mambali goreng pisang jo katan, mungkin angku Harry 
Ichlas katurunan Imam Bonjol bisa mambantu.
Baa pandapek sanak sa palanta ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]

--- On Fri, 8/1/08, Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Seni Berperang Minangkabau
To: [email protected]
Date: Friday, August 1, 2008, 9:40 AM

Seni Berperang Minangkabau

Sun Tzu adalah seorang ahli strategi militer terkenal bangsa Cina yang
menulis  buku  "The Art of War", sebuah buku mengenai strategi
militer
klasik  yang dapat diaplikasikan dalam banyak bidang mulai dari bisnis
hingga pemasaran.

Di Minangkabau juga terdapat sebuah buku tentang strategi militer yang
mengajarkan  kepada  pasukan  Belanda  cara berperang lebih baik dalam
melawan  orang-orang  Minang  yang  menjadi  buku  wajib  untuk dibaca
perwira-perwira Belanda yang ditugaskan ke Sumatera Barat.

Kapten   Hendriks   menulis  dalam  catatan-catatannya  yang  kemudian
diterbitkan dalam sebuah buku "Berperang di Sumatera" pada tahun
1881.
Buku   itu   merupakan   petunjuk-petunjuk   bagaimana   berperang  di
Minangkabau  berdasarkan banyak kekalahan dan pengalaman pahit Belanda
dimasa lalu.

Belanda  boleh  jadi  sangat  paham  dalam  berperang  di  Jawa  namun
karakteristik  orang  Jawa  dalam  berperang  sangatlah berbeda dengan
orang  Minangkabau  demikian  juga dalam pengetahuan tentang peralatan
perang.  Pasukan  Jawa lebih banyak mengandalkan mobilitas yang tinggi
dan besarnya pasukan sehingga perang-perang di tanah Jawa lebih banyak
dihabiskan Belanda untuk mengejar musuh.

Orang-orang  Minang  sangat  ahli  dalam  perang  benteng hingga lebih
senang  bertahan  dalam  benteng-benteng dan memanfaatkan keadaan alam
sebagai pertahanan. Orang-orang Minang jarang sekali menyerang pasukan
Belanda  dilapangan  terbuka,  mereka  biasanya menyerang saat pasukan
Belanda  sedang  dalam  barisan  dan  mereka juga biasa untuk bertahan
sampai mati walaupun memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Senjata  yang  biasa  dipakai  oleh rakyat Minangkabau adalah senapan,
keris,  kelewang,  tombak  dan sumpit (tidak pernah memakai anak panah
yang  beracun,  yang  dipakai adalah getah aren yang akan membuat luka
menjadi  sakit  seperti  terbakar).  Rakyat Minangkabau memakai ranjau
dari  bambu-bambu  yang  sangat  runcing  untuk  dipasang dijalan yang
diduga  akan  dilalui  musuh. Tetapi sistem pertahanan yang terpenting
adalah  pagar-pagar  yang  terdiri  dari  bambu  berduri  panjang yang
ditanam sangat rapat sehingga mereka dapat mengamati gerak musuh tanpa
terlihat.  Pohon bambu berduri ini bila sudah berumur empat tahun akan
menjadi  hutan  berduri  panjang yang mustahil untuk ditembus, namanya
adalah bambu aur.

Hendriks juga menulis agar pasukan Belanda jangan sekali-kali mengejar
musuh yang sedang melarikan diri dari Benteng mereka karena kebanyakan
ini  adalah  jebakan,  dimana sebuah pasukan yang lain telah disiapkan
menunggu dan bersembunyi dalam semak, bebatuan maupun perbukitan. Bila
sebuah  daerah  telah  kalah,  mereka  juga  jarang  menyerahkan diri,
biasanya  mereka  bertahan dihutan hingga berbulan-bulan dan menyerang
transportasi logistik pasukan Belanda dimalam hari.

Sebuah  catatan  yang  dimuat dalam "Berperang di Sumatera" ini
adalah
tentang  kehebatan  orang  -  orang  Padri  yang  hanya dengan pasukan
berkekuatan  30  orang  mampu  memukul  mundur  pasukan  Belanda  yang
berjumlah 2000 serdadu.


Pada   peperangan   dengan  Pauh  didiskripsikan  bahwa  kampung  Pauh
dikelilingi  benteng  dari  tembok  batu setebal 5 meter dengan tinggi
yang  bervariasi  antara  3  sampai  5  meter.  Seorang letnan Belanda
bernama  Boelhouwer  dalam  bukunya  "Kenang  -  kenangan  sewaktu  di
Sumatera  Barat  tahun  1831 - 1834" yang diterbitkan di Belanda tahun
1841 melukiskan pertahanan Bonjol sebagai berikut :

"Bonjol  terletak  diatas  bukit  berbentuk  segi  empat  panjang yang
dipisahkan  oleh  sebuah  sungai  dengan  aliran yang deras. Tiga sisi
Bonjol  dikelilingi  oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang
lebih 3 meter. Tembok luar terdiri dari batu-batu besar yang merupakan
tembok  benteng yang kokoh dengan teknik pembuatan hampir sama seperti
benteng-benteng  di  Eropa.  Diantara  kedua tembok benteng itu dibuat
parit  yang  dalam  dengan  lebar  4  meter. Diatas tembok benteng itu
ditanami  bambu berduri yang sudah hampir berupa hutan duri yang tidak
dapat  ditembus.  Orang-orang Padri menempatkan pengintai dan penembak
jitu  dibalik  bambu  berduri  ini  untuk  memantau pergerakan pasukan
Belanda.  Dibeberapa  tempat  terlihat  meriam-merian  kaliber  12 pon
dengan  pedati  beroda  kayu  tanpa  jari-jari untuk mengangkutnya dan
didekat  meriam tersebut terdapat batu bulat sebagai pengganti peluru.
Sungguh mengherankan bagaimana mereka dapat membawa meriam sebesar itu
keatas  bukit  sedangkan  kami (maksudnya Belanda) hanya mampu membawa
meriam  kaliber 3 pon, itupun harus dipereteli. Diluar Bonjol terdapat
mesjid  berbentuk  segi empat yang dibangun tanpa paku dan besi dengan
atap  terdiri  dari  5  lapis yang makin lama makin kecil dan tertutup
sirap,  bahan yang sama dengan yang dipakai untuk atap gereja - gereja
di  Eropa  dan  dapat  menampung  kurang  lebih  3000  orang. Bila ada
kemauan,  bangsa  Minang  ini  dapat  mencapai  kemajuan setara dengan
Eropa"

Dengan semua kelebihan dan kemampuan yang dimiliki seharusnya mustahil
Minangkabau  dapat  ditaklukkan  oleh Belanda. Bangsa Aceh dan tentara
kerajaan  Majapahitpun  gagal  untuk  menaklukkan  Minangkabau. Tetapi
sungguh disayangkan bahwa bangsa kita ini tidak pernah juga kekurangan
pengkhianat, orang yang berjuang untuk kepentingan pribadi dan sesaat.
Belanda  sangat  berhasil  memelihara  sifat  bangsa  kita yang bobrok
seperti gampang dibeli, mudah dihasut, senang dibodohi, senang disogok
dan  disuap.  Mereka  juga  cukup  berhasil  dalam memperalat adat dan
mengikis demokrasi di Minang dengan memperkenalkan budaya aristokrasi.

Sangat   disayangkan   juga  bahwa  belum  ada  satupun  buku  tentang
penjajahan  Belanda yang mendalam, bila ada akan segera terlihat bahwa
Belanda adalah bangsa yang hebat dalam membodohi bangsa lain dan suatu
tantangan  bagi  ahli  sejarah  untuk membuat buku seperti itu sebagai
cermin menghindari kesalahan - kesalahan dimasa lalu untuk kepentingan
dimasa depan.

Reference: 
Hendriks, Oorlogvoeren op Sumatera, Indische Militair Tijdschrift, 1881.
Rusli Amrin, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Penerbit Sinar Harapan.
Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, 1988, Cetakan Kedua, Penerbit CV. Yasaguna.

source
http://www.pelaminanminang.com/tahukah/seni_perang_minangkabau.html








      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke