Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya percaya kita para netters di RN ini benar-benar menikmati siraman rohani
dari Dinda Prof. K Suheimi melalui demikian banyak posting beliau yang demikian
manusiawi dan demikian lebut.
Kini, izinkan saya menampilkan seorang dokter lain, yang dengan caranya
sendiri bagaikan mengingatkan kita pada ajaran Islam, tentang "carilah duniamu
seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya, tapi carilah akhiratmu
seakan-akan engkau akan mati esok pagi". Saya benar-benar takjub dengan
kedalaman dan keluasan pandangan profesor muda UGM ini tentang hidup dan mati,
yang beliau sampaikan secara santun melalui wawancara dengan harian Kompas
minggu.
Bersamaan dengan terus 'berminang-minang' sesuai dengan missi RN ini,
saya mengajak kita semua untuk mendengar kearifan seorang pakar tentang Manusia
(dengan M besar) dan tentang Alam Raya.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
Etty Indriati Merenda Kesementaraan Hidup
Kompas, Minggu, 3 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Maria Hartiningsih
Begitu seringnya menyaksikan kematian, yang telah terurai dari yang sehari
sampai jutaan tahun, membuat Prof drg Etty Indriati PhD (44) semakin menghayati
bagaimana alam bekerja melalui kehidupan dan kematian dan seluruh fenomena di
antaranya.
Ilmu yang dikuasai guru besar Antropologi Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada ini termasuk langka. Polisi dan dokter forensik sering membutuhkan
keahliannya untuk menyempurnakan temuan identifikasi forensik mereka.
”Kalau tulang biasanya diberikan ke laboratorium kami. Polisi di Polda Jawa
Tengah dapat memisahkan mana yang perlu dikerjakan antropolog forensik, mana
yang dikerjakan dokter forensik,” ujar Etty.
Ketika pesawat Boeing 737- 400 terbakar di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, Rabu
pagi 7 Maret 2007, Etty bersama kolega forensik dan dokter gigi bekerja keras
mengidentifikasi 22 jenazah.
”Di tengah puluhan jenazah, serasa banyak tangan yang menggapai-dan suara-suara
’tolong saya, tolong saya’. Bersama ahli identifikasi korban bencana, kami
terus bekerja sampai dini hari, pagi-pagi sudah ada di lapangan lagi mencari
jenazah karena ada ketidakcocokan jumlah,” ia mengenang.
Peristiwa kematian selalu menyisakan aroma yang khas, yang hanya bisa ditangkap
mereka yang terlatih kepekaan inderawinya.
”Orang yang telah meninggal proteinnya terurai menimbulkan bau khas putrid,”
jelas Etty.
”Kalau indera kita terlatih, kita bisa membauinya dalam jarak, juga dapat
menangkap apa yang tak ditangkap banyak orang. Ketajaman inderawi ini juga
terdapat pada mata burung elang atau penciuman anjing. Jadi, manusia bukan the
best of the best di antara makhluk hidup. Tiap makhluk hidup memiliki kelebihan
yang berbeda dari lainnya dan saling mengisi kekurangannya untuk hidup di muka
Bumi.”
Identifikasi korban kecelakaan pesawat Garuda terbilang cepat. Seperti
diungkapkan Etty, ”Kami melakukan klasifikasi, mana ras Kaukasid (warga
Australia), mana ras Mongoloid (Indonesia), mana laki-laki, mana perempuan.
Lalu kita kumpulkan data sebelum meninggal, ante-mortem, kita masukkan ke file.
Data setelah meninggal, post-mortem, juga dimasukkan ke file sendiri. Kemudian
kita bandingkan di ruang rekonsiliasi file siapa cocok dengan file siapa.”
Begitu seringnya bersentuhan dengan kematian membuat insting Etty terasah.
Dengan itu pula ia menemukan jenazah Prof Kusnadi Hardjasumantri.
Kembali menjadi debu
Banyak orang bertanya mengapa Etty tidak takut memegang tulang manusia yang
sudah mati. ”Saya justru merasakan Tuhan menghadirkan diri-Nya, tak hanya
ketika memegang tulang dari korban mutilasi, bencana, kecelakaan, tetapi juga
dalam fosil. Itulah prasasti yang dipahatkan Tuhan di alam. Di situ misteri
alam disingkap sedikit demi sedikit,” ujarnya.
Apa artinya kematian?
Dengan kematian, manusia memberikan kembali ke alam apa yang sudah dia ambil
dari alam; mengembalikan tubuh ke bumi. Raga kita mengucurkan air ke Bumi dan
alam menyikluskannya. Jadi, siklus air dikembalikan.
Maksudnya?
Komposisi air dalam tubuh manusia 75 persen, persis seperti di Bumi, 75
persennya adalah lautan. Air tawar di Bumi sangat terbatas. Kalaupun teknologi
bisa mengubah air laut dalam jumlah besar menjadi air tawar, keseimbangan akan
terganggu, dan membahayakan kehidupan.
Tubuh manusia terbuat dari bahan-bahan yang terdapat di alam semesta. Di dalam
tubuh kita juga ada kumpulan makhluk hidup. Ada bakteri E-coli di usus, ada
mikroba Streptococcus mutans di rongga mulut. Mikro-organisme dan manusia
saling membutuhkan. Yang harus dijaga keseimbangannya. Kalau jumlahnya terlalu
banyak, kita infeksi.
Jadi, semua di alam ini harus seimbang, homeostasis. Kematian adalah
keseimbangan, termodinamika, dinamika panas atau energi; hangat tubuh kita
dikembalikan ke Bumi ketika kita mati.
Ketika kematian menjemput, raga kita secara gradual terurai kembali, dari
individu, organ, jaringan, sel, molekul, atom, ke zarah sub atom. Jadi, kulit,
otot, tulang, semua terurai menjadi tak kasatmata, menjadi fosfor, fosfat,
natrium, kalsium hidrogen, sulfur, yang menyuburkan alam sekitar, dan jutaan
atom yang melayang di udara ini dihirup lagi oleh segala yang hidup.
Tetap misteri
Menurut Etty, raga yang terurai ini dapat terhampiri oleh ilmu pengetahuan,
tetapi jiwa atau roh tetap menjadi misteri sepanjang masa.
Perubahan wujud sisa hayat manusia tertangkap indera penglihatan dalam situs
arkeologi. Kadang kita menemukan sisa rangka manusia, ada pula yang rangkanya
telah membubuk seperti bedak tabur.
”Dalam situs paleoantropologis, sisa hayat manusia membatu karena proses
fosilisasi di mana zat organik terisi anorganik. Sisa hayat berbagai rupa ini
menunjukkan betapa manusia memerlukan makhluk hayati lain, tak hanya semasa
hidup, tetapi juga setelah mati, untuk mencapai wujud atau energi yang lain,”
jelas Etty.
Ia melanjutkan, ”Manusia makan ketika hidup, tetapi jasadnya dimakan mikroba
dan insekta ketika meninggal. Ini menyiratkan betapa kehidupan di dalam semesta
ini saling terkait satu sama lain seperti jaring-jaring raksasa.”
Lebih jauh ia menjelaskan, ”Planet Bumi, alam semesta raya, merupakan satu
rumah bagi semua, manusia, hewan, tumbuhan, air, tanah, udara. Hukum
telekinetik membuat perubahan di belahan dunia yang satu akan memengaruhi
belahan dunia yang lain. Limbah merkuri perusahaan yang jauh dari Alaska dapat
meracuni tubuh bayi yang minum ASI tercemar dari konsumsi salmon pada orang
Inuit di Alaska.”
Apa yang hendak Anda katakan?
Planet Bumi dan segala isinya adalah rumah bersama kita semua. Kehidupan semua
makhluk hayati bergantung pada sinar matahari dan erat berhubungan satu sama
lain dalam rantai makanan. Tetapi, dalam sistem hayat di Planet Bumi, manusia
adalah satu-satunya spesies yang tega membunuh sesama spesiesnya demi harta dan
kekuasaan.
Manusia tega mengambil hak bertahan hidup manusia lainnya, tega membuang limbah
yang meracuni kehidupan di wilayah tetangga, tega merusak alam demi uang
sebanyak-banyaknya. Kalau sumber daya alam habis dan lingkungan alam rusak,
kita tak bisa makan uang.
Pelajaran apa dari sejarah peradaban kalau manusia menghancurkan alam?
Kolaps. Peradaban manusia di berbagai belahan dunia pernah sangat maju dan
kompleks. Bangunan kuno monumental di ketinggian hutan tropis di Tikal,
Guamatemala, kini tinggal puing-puing. Lalu ke mana lenyapnya kejayaan suku
Maya? Juga bangunan batu Kalasasaya yang mahaluas di ketinggian 4.000 meter di
atas permukaan laut di Tiwanaku, Bolivia. Tiwanaku kolaps karena perubahan
iklim makro yang menyebabkan kekeringan sekitar 1100 tahun Sesudah Masehi..
Berbagai studi menyimpulkan, kolapsnya peradaban terutama terkait dengan
degradasi sistem sosial-politik karena hancurnya sumber daya alam, ledakan
jumlah penduduk, penyakit zoonotik endemik karena habitat hewan dipakai untuk
hunian manusia.
Manusia adalah pemakan segala: hewan, tanaman, ia juga pengguna energi alam,
listrik, gas dan bensin, yang merupakan transformasi dari fosil pyhtoplankton
di perut Bumi. Kalau sumber daya alam habis dan lingkungannya hancur, mudah
terjadi disintegrasi sosial politik, komunikasi vertikal dan horizontal putus,
perang, kelaparan.
Jumlah penduduk Bumi yang telah melebihi kapasitas Bumi mengolah siklus dan
memberi energi terbukti dari deforestasi dan overfishing. Penting bagi
Indonesia mengendalikan jumlah penduduknya karena tiap insan perlu makan,
ruang, dan energi alam untuk menyangga hidupnya. Kalau tidak hati-hati, Bumi
mereduksi jumlah manusia dengan timbulnya bencana kelaparan, konflik perebutan
sumber daya, dan penyakit.
Dengan seluruh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, menurut Anda, hidup
ini apa?
Yang sangat terasa dalam hidup ini adalah kesementaraannya. Kita di sini
sebentar sekali. Umur kita berapa sih? Umur Bumi 4,5 miliar tahun menurut
tafsiran geologis. Yang sebentar itu kita mau kita apakan? Apa mau mengeruk
energi alam sebanyak-banyaknya untuk keluarga sendiri, kelompok sendiri, atau
mau ikut memberikan kesadaran kepada sebanyak-banyaknya orang bahwa kita tak
boleh serakah dan mau merawat produsen ini, yang kita makan, flora, fauna.
Jika kita mati, kita cuma membawa raga, bukan sertifikat, uang, atau pangkat.
Orang bilang, kita harus tahu artinya cukup, tetapi itu relatif juga. Namun,
kalau kita benar-benar memahami kesementaraan, kita tak akan menumpuk
sedemikian rupa.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---