Republika, 2008-08-05 07:40:00

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/28

Tanggal 17 Agustus 2008, genaplah 63 tahun usia kemerdekaan bangsa,
sesuatu yang sangat wajib kita syukuri. Bersyukur bermakna menggunakan
seluruh pemberian Allah kepada kita untuk tujuan apa saja yang
diridhai-Nya, di samping membaca alhamdulillah. Janji Alquran:
''Sungguh jika kamu bersyukur, pasti [nikmat itu] akan Aku tambah
untuk kamu; dan jika kamu ingkar [nikmat], sesungguhnya azab-Ku
amatlah pedih.'' (Ibrahim: 7). Janji Allah ini berlaku untuk semua
zaman, di semua tempat, termasuk di Indonesia. Detik kemerdekaan
adalah momen turunnya nikmat yang luar biasa artinya bagi sebuah
bangsa terjajah yang penuh kehinaan. Dalam perspektif ini, jasa para
pejuang yang telah mengantarkan bangsa ke gerbang kemerdekaan tidak
terhingga, saking besarnya.

Sekalipun masih kecewa terhadap capaian janji-janji kemerdekaan, saya
berupaya untuk berpikir positif dalam arti plusnya lebih banyak
dibandingkan minusnya. Adalah karena kemerdekaan, sebagian anak-anak
pintar dari berbagai pelosok tersuruk telah mengenyam hasil
pendidikan, bahkan ada yang sampai ke puncak. Berasal dari orang tua
yang boleh jadi buta huruf, tidak mustahil anaknya telah melanglang
buana ke berbagai penjuru bumi untuk mencerahkan dan mencerdaskan
diri. Jumlah mereka dari hari ke hari semakin bertambah, bergantung
pada kesungguhan anak udik itu mengejar cita-cita pendidikan.

Yang sedikit mencengangkan adalah kenyataan bahwa sebagian otak desa
yang kurang gizi itu tidak kalah bersaing dengan mereka yang kelebihan
gizi di kota plus fasilitas yang lebih dari cukup. Karena kemerdekaan
bangsalah, anak-anak yang kurang gizi itu berhasil melibatkan diri
dalam gerak mobilitas sosial yang kencang, sekalipun kadang-kadang
terasa amatlah keras. Tanpa kemerdekaan, kita tidak dapat membayangkan
berlakunya mobilitas sosial itu. Pendidikanlah yang paling bertanggung
jawab untuk proses pencerdasan ini, sekalipun pada masa lampau yang
belum lama, posisi guru sungguh menyedihkan. Sekarang sudah semakin
meningkat seiring dengan meningkatnya harga keperluan hidup sehari-hari.

Itu sebuah plus dari sisi pendidikan tanpa membandingkannya dengan
negara lain yang jauh lebih maju. Plus yang lain terlihat dalam sarana
dan prasarana transportasi: jalan-jalan dan kendaraan. Saya tidak
punya data tentang pertambahan ruas jalan sejak kemerdekaan, tetapi
jelas panjangnya sudah berlipat-lipat. Jumlah kendaraan jangan ditanya
lagi. Daerah pedesaan yang di zaman penjajahan tidak pernah disentuh
kendaraan bermesin, kondisinya sudah berubah total secara dahsyat.
Saya masih ingat di tahun 1960-an di daerah Surakarta, misalnya,
pemilik sepeda motor amatlah terbatas. Sekarang jangankan di daerah
perkotaan, di pelosok-pelosok yang dulunya terpencil, sekarang sepeda
motor berkeliaran tak terhitung dengan segala polusi suara dan asap
yang dapat mengganggu kesehatan.

Plus berikutnya tampak pada dunia kesehatan. Pusat kesehatan
masyarakat (puskesmas) lengkap dengan dokternya telah lama memasuki
kawasan yang dulunya tak terjangkau. Banyak di antara puskesmas itu
yang mentereng, dibangun di tempat-tempat strategis, demi pelayanan
negara terhadap rakyat banyak. Terakhir, diluncurkan pula program
untuk menyantuni keluarga miskin (gakin) dengan pengobatan cuma-cuma.
Bukankah ini sebuah kemajuan yang patut disyukuri? Plus yang lain
masih banyak.

Sekarang di mana minusnya? Minus pertama terletak pada kenyataan
jumlah rakyat miskin masih sangat tinggi, hampir separuh penduduk
Indonesia yang sekarang sudah mencapai sekitar 240 juta, dibandingkan
dengan hanya 70 juta saat lonceng kemerdekaan dipukul nyaring, 63
tahun silam. Masalah kemiskinan ini jelas terkait secara organik
dengan ketidakmampuan negara melaksanakan UUD yang proorang miskin.
Dalam pelaksanaannya, yang terjadi adalah UUD disulap menjadi proorang
kaya. Maka, akibatnya berdirilah dengan amat nyata bangunan piramida
kaya-miskin dengan perbedaan yang tajam sekali. Di pucuk piramida,
bertahtalah segelintir manusia kaya dengan penghasilan 1-3 miliar per
bulan, sementara di posisi terbawah terbentanglah lautan kemiskinan
yang luas, tanpa penghasilan.

Minus berikutnya adalah semakin mengguritanya laku korupsi di kalangan
elite birokrasi dan perusahaan dari tingkat atas sampai tingkat bawah,
plus kerusakan lingkungan yang parah. Kondisinya sudah sangat
berbahaya, tetapi negara masih gagal menanggulanginya.Minus ketiga
terlihat di kancah politik yang sekarang sedang dijadikan  mata
pencarian, karena lapangan kerja masih sangat sempit. Anda bisa
memperkirakan dampak buruknya yang nyata saat politik telah menjadi
ajang rebutan mengais rezeki, persis seperti makhluk lain berebut
tulang. Minus yang lain, bisa Anda jejerkan sendiri. Semua minus ini
berhulu pada rapuhnya bangunan kultur kita. Tetapi, Indonesia adalah
negeri dan bangsa yang wajib kita bela.



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke