Selasa, 05 Agustus 2008         

Oleh : Gusti Asnan, Sejarawan, Dosen Fakultas Sastra Unand 

Harian Kompas tanggal 17 Juli 2008 yang lalu menurunkan tulisan Asvi Warman
Adam (selanjutnya AWA) yang berjudul "Natsir Pahlawan Nasional?". Intisari
dari tulisan tersebut adalah ketidaksetujuan AWA jika Moh Natsir diangkat
menjadi pahlawan nasional. Alasannya Moh Natsir terlibat dalam PRRI dan RPI.


Kompas nampaknya memberi apresiasi yang tinggi kepada tulisan itu.
Penempatan artikel tersebut pada posisi teratas pada halaman 6 membuktikan
adanya penghargaan yang tinggi dari harian terbesar dan paling berpengaruh
di Indonesia tersebut terhadap gagasan AWA. Sebelumnya, jarang sekali, atau
hampir tidak pernah tulisan AWA ditempatkan pada posisi seperti itu. 

Namun terlepas dari fenomena di atas, tulisan AWA tersebut menarik untuk
dicermati. Pertama, tulisan itu diturunkan pada saat puncak perayaan 100
Tahun Moh Natsir. Kedua, tulisan itu terbit pada saat hampir semua orang
mengungkapkan pengabdian, kebesaran, keluhuran, ketulusan, kerendahhatian,
serta semua sikap dan perilaku positif Moh Natsir. 

Ketiga, tulisan dilontarkan pada saat Moh Natsir (kembali) diusulkan untuk
menerima anugerah gelar pahlawan nasional. Keempat, tulisan itu dibuat oleh
seorang sejarawan yang berasal dari Minangkabau, daerah asal Moh Natsir.
Kelima, hampir tidak ada argumen bantahan dari penulis lain (terutama urang
awak) terhadap pendapat AWA. 

Urang awak akhir-akhir ini kurang atau tidak begitu memberikan apresiasi
yang tinggi pada Moh Natsir. Hanya segelintir urang awak yang serius dan
dengan hati yang tulus-ikhlas menghargai sosok, yang ketokohannya diakui
tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di dunia internasional. Urang awak
yang dimaksud di sini mencakup berbagai unsur masyarakat, terutama kaum
cerdik-pandai daerah dan para pejabat atau petinggi (eksekutif dan
legislatif) daerah. 

AWA yang urang awak, sebagai salah seorang sejarawan terkemuka di Indonesia
akhir-akhir ini dengan tegas mengatakan ketidaksetujuannya pada
penganugerahan gelar pahlawan kepada Moh Natsir. Keterlibatan Moh Natsir
dalam PRRI dan RPI dijadikannya nila untuk "menghambat" penghargaan yang
selayaknya diterima Moh Natsir. 

Sayangnya, hampir tidak ada kaum cerdik-cendekia daerah
(Minangkabau/Sumatera Barat) yang mengemukakan caunter argumen terhadap
pernyataan AWA di atas. Sehingga dapat dikatakan bahwa hampir semua
cerdik-cendekia daerah  setuju dengan pendapat AWA di atas. 

Warga daerah dan pemerintah daerah juga kurang mendukung kegiatan
"Peringatan 100 Tahun Moh Natsir". Buktinya terlihat dari pengalaman
"panitia lokal" di Alahan Panjang, negeri kelahiran Moh Natsir yang telah
dua kali menunda kegiatan "Peringatan 100 Tahun Moh Natsir (17 Juli dan 31
Juli)" di negeri itu karena kekurangan atau ketiadaan dana. Panitia tidak
mendapatkan bantuan dana yang cukup dari para donatur, termasuk dari
pemerintah daerah. Padahal dana yang dianggarkan untuk acara itu tidak
begitu besar bila dibandingkan dengan sejumlah acara yang diadakan di
hotel-hotel berbintang di kota Padang atau Bukittinggi dengan para pembicara
dari luar daerah. 

Acara yang akan digelar panitia lokal tersebut sebetulnya sangat menarik.
Menarik karena panitia mengagendakan acara pemaparan ketokohan Moh Natsir
yang bisa dijadikan sebagai sumber insiprasi dan suri-teladan bagi pelajar,
generasi muda, dan bahan yang akan disampaikan para guru kepada para murid,
serta diisi dengan diskusi mengenai berbagai persoalan yang hadir dalam
perjalanan hidup Moh Natsir (termasuk keterlibatannya dalam PRRI dan RPI
yang oleh sebagian kalangan, termasuk AWA dikatakan sebagai tindakan
pemberontakan). Menarik karena akan diikuti oleh para pelajar (SLTP dan
SLTA), generasi muda, serta para guru dari daerah Alahan Panjang dan
sekitarnya. Singkat kata, acara yang digagas panitia lokal tersebut
sebetulnya sangat strategis dan tepat sasaran. 

Strategis dan tepat sasaran., maksudnya, lebih ditujukan kepada peserta yang
"mau mendengar" dan "akan menjadi orang" di masa depan. Tidak seperti
kebanyakan acara yang diadakan di hotel berbintang di Kota Padang atau
Bukittinggi, yang para pesertanya telah menjadi "orang", yang lebih suka
didengar pembicaraannya daripada mendengarkan pembicaraan orang lain. 

Sebetulnya, kurangnya dukungan urang awak bukan hanya untuk Moh Natsir dan
acara "Peringatan 100 Tahun Moh Natsir" saja. Hampir semua acara seperti itu
yang diadakan di daerah ini mengalami hal yang sama. Banyak sekali panitia
yang menggagas acara seperti itu yang pontang-panting dan panik menghadapi
sikap urang awak yang sangat rendah apresiasinya terhadap acara seperti itu.
Kalaupun acara tersebut terlaksana, maka pelaksanaannya tidak maksimal. 

Kiranya "tamparan" yang dilakukan AWA dalam harian Kompas 17 Juli di atas
dapat menjadi bahan koreksian bagi urang awak untuk lebih menghargai "harta
pusaka" miliknya. Moh Natsir adalah berlian milik urang awak yang tidak
terkira nilainya. Namun anehnya, orang lain menghargai mutu manikam
tersebut, tetapi urang awak kini malah menyepelekannya. 

Sudah saatnya penghargaan terhadap tokoh-tokoh yang jaya di masa lampau
diungkapkan dalam sikap dan perilaku yang nyata dari urang awak masa kini
(termasuk mendukung peringatan terhadap para tokoh tersebut), tidak hanya
dalam kata-kata semata. Hargailah mereka dan jadikanlah mereka sebagai
sumber insiprasi dan teladan, terutama pada saat negeri dan bangsa, serta
masyarakat kita sekarang kekurangan sosok-sosok yang pantas diteladani. 

Bila penghargaan itu tidak kita berikan, maka bersiap-siaplah menunggu
hujatan dan pelecehan orang mengenai tokoh-tokoh milik kita. Tempo hari
Tuanku Imam Bonjol yang dihujat oleh Mudi Situmorang, dan sekarang Moh
Natsir oleh AWA. Esok hari akan disusul oleh. dan hari berikutnya akan
disusul lagi oleh.Wallahu'alam bissawab. (***) 

 
http://www.padangekspres.co.id/content/view/14522/55/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke