Pamit sebagai Akademisi, Pulang sebagai Politisi 
Oleh
Indra Jaya Piliang, SS, MSi 

Assalamu’alaikum Wr Wb
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera
Untuk memulai pidato ini, saya mengutip MOHAMMAD HATTA yang pada tanggal 11 
Juni 1957 menegaskan:

"Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan 
kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita 
sosialnya.... Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan 
yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka 
perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral 
dalam segala tindakannya. 

Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. 
Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. 
Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya 
berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada 
perbaikan nasib."  

Keadaan yang kita hadapi sekarang kurang-lebih sama dengan yang dikatakan oleh 
Hatta, lebih dari 50 tahun yang lalu itu. Perbedaannya, demokrasi kini 
merupakan salah satu keajaiban yang dialami oleh rakyat Indonesia. Sepuluh 
tahun lalu, kita tidak pernah membayangkan bahwa demokrasi akan hadir sederas 
sekarang. Sementara hidup masyarakat semakin susah, sekalipun kesempatan juga 
terbuka luas untuk mewujudkan mimpi apapun, selama ada ikhtiar dan kerja keras. 

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkanlah saya menyampaikan pokok-pokok 
pikiran kenapa saya berubah haluan, dari seorang pengamat politik menjadi 
pelaku politik atau politisi. Sekaligus, ijinkanlah saya pamit sebagai analis 
politik dan perubahan sosial, termasuk juga dalam mengamati persoalan-persoalan 
otonomi daerah, resolusi konflik, juga perkembangan masyarakat sipil. Ini 
adalah pidato pertama dan terakhir saya sebagai pengamat politik yang sedang 
melakukan transformasi di bidang politik. 

Demokrasi yang berbasiskan partai politik hampir berusia sepuluh tahun. Banyak 
pihak yang secara sinis menyebut sebagai keadaan yang jauh lebih buruk daripada 
zaman sebelumnya. Kehidupan tanpa partai politik yang bergemuruh barangkali 
memberikan kenyamanan struktural kelompok penguasa formal, juga kesenangan 
kultural penguasa tradisional. Partai politik dianggap sebagai benalu bagi 
kehidupan, serta bahkan penghambat bagi pencapaian keadilan dan kesejahteraan 
sosial. 

Pola pikir semacam itu adalah sisa dari zaman lalu yang ikut terseret ke zaman 
sekarang, sehingga selalu terdapat para penentang demokrasi, bahkan di kalangan 
kelompok intelektual sekalipun. 

Masyarakat belum sepenuhnya percaya kepada demokrasi. Orang-orang cerdas 
berpendidikan tinggi menunjukkan data-data statistik tentang perilaku buruk 
orang-orang yang ada dalam partai politik, tetapi tidak membedakan bahwa 
perilaku buruk itu dipupuk oleh ketidak-pahaman tentang demokrasi secara 
mendalam. Sebagai suku bangsa yang terlalu  lama mengalami kolonialisme, 
ditambah dengan praktek kekuasaan yang rakus dan korup, masyarakat Indonesia 
seakan terus memelihara pemikiran tentang keberadaan raja yang baik. Padahal, 
kenyataannya tidaklah semudah dan sesederhana itu. 

Karena itulah saya menggeluti bidang pekerjaan yang tidak terbayangkan 
sebelumnya, yakni mengamati peristiwa, perilaku, aktor, sistem sampai 
gejala-gejala politik yang ada di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. 
Dunia politik praktis bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Sekalipun tidak 
langsung terlibat sebagai politikus, fase-fase kehidupan saya sudah melewati 
dunia politik, baik teoritis, empiris, maupun praktis. 

Fase pertama kehidupan politik formal yang saya tempuh adalah menjadi 
fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) yang saya lakoni selama hampir dua 
tahun, yakni sejak tahun 1998 ketika PAN didirikan. Setelah mengundurkan diri 
dari fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat PAN pada tanggal 21 Januari 2001, saya 
konsentrasi sebagai penulis, analis, narasumber atau pembicara dalam banyak 
seminar. 

Saya juga aktif dalam beragam aktivitas kelompok masyarakat sipil dan apa yang 
dikenal sebagai kelompok pro-demokrasi. Saya memiliki banyak sekali kawan, 
termasuk dari beragam partai politik. Bisa dikatakan keseharian saya adalah 
politik. Peristiwa-peristiwa politik besar dan kecil ditanyakan dengan rajin 
oleh para jurnalis. Tentu, ada kelelahan dan kebosanan, terutama akibat apa 
yang kita tulis atau katakan tidak sesuai dengan realitas yang diinginkan. 
Namun saya tetap setia menggeluti profesi ini. 

Untuk menghindari kesalahpahaman orang atas gelar kesarjanaan saya, maka mulai 
tahun 2006 saya memutuskan untuk kuliah Magister atau Pasca Sarjana Bidang 
Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia. Sebelumnya, saya menamatkan 
kuliah di jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI pada tahun 1997. Kegiatan 
perkuliahan ini tidak menghentikan rutinitas kehidupan sebagai analis politik 
dan perubahan sosial. Saya tetap menyempatkan diri menulis, terutama pada media 
massa yang rajin menelepon saya untuk menganalisis peristiwa, regulasi, hasil 
survei, ataupun tokoh-tokoh politik tertentu. Saya juga berbicara pada media 
televisi dan radio. 

Tetapi, dari hari-ke-hari, beragam jajak pendapat dan hasil pemilihan langsung 
kepala daerah menunjukkan antipati masyarakat terhadap partai politik dan 
politisi. Bagi saya, keadaan ini mencemaskan, bahkan menakutkan. Demokrasi yang 
diraih hari ini adalah buah perjuangan banyak pihak, terutama mahasiswa, dengan 
mengorbankan nyawa sekalipun. Sebagai aktivis mahasiswa 1990-an, termasuk 
terlibat dan berada di Gedung MPR-DPR pada malam tanggal 19-20 Mei 1998, saya 
merasakan bagaimana sulitnya mengungkapkan pendapat pada masa lalu itu. (Saya 
ingat bagaimana kami harus lari dari Samarinda ke Balikpapan, setelah hasil 
Pertemuan SMPT se-Indonesia meminta agar Soeharto tidak dipilih lagi). Minimnya 
kepercayaan publik terhadap partai politik dan politisi memberikan sinyal 
bahaya bahwa suatu hari masyarakat kembali merindukan masa-masa kelam 
otoritarianisme.

Mengapa?

Memasuki tahun 2008, saya menyatakan tidak lagi ingin bicara di atas mimbar 
dengan duduk, melainkan berdiri dan memberikan orasi. Saya lebih memilih gaya 
orasi, ketimbang diskusi santai, untuk memberikan tekanan kepada 
kalimat-kalimat yang saya rangkai dan ucapkan, disertai dengan bahasa tubuh. 
Saya juga mengubah tampilan blog saya di friendster. Yang lebih penting lagi, 
saya membuka penyebutan nama dalam tulisan-tulisan di media massa, tidak lagi 
menyebut INDRA J PILIANG, melainkan INDRA JAYA PILIANG. Perubahan cara menulis 
nama ini mempunyai arti besar, tidak hanya sekadar menghindari kesalahan 
penulisan. Tetapi lagi-lagi itu saja tidak cukup. Masyarakat terus memberikan 
pernyataan betapa buruknya wajah partai politik dan politisi kita lewat beragam 
survei. 

Saya berpikir, apakah akan meneruskan apa yang sudah saya kerjakan selama 
hampir sewindu terakhir ini sebagai analis politik? Saya sudah sangat akrab 
dengan siaran malam di radio dan televisi, ataupun pagi-pagi buta. Berangkat 
sebelum azan subuh, atau sampai di bandara menjelang tengah malam, juga bagian 
dari pekerjaan ini.  Pekerjaan ini sudah menjadi rutinitas. Ataukah saya harus 
menyelesaikan studi doktoral, bukan di dalam negeri, melainkan di luar negeri, 
mengikuti jejak puluhan orang teman-teman terdekat saya? Barangkali tersedia 
juga peluang untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang konsultansi 
dan komunikasi politik, lalu mendapatkan kemelimpahan finansial, sebagaimana 
dilakukan oleh kawan-kawan saya yang lain? 

Rupa-rupanya, pilihan itu segera tersedia. Ketika saya pulang kampung sebelum 
ujian tesis, saya bertemu dengan kedua orang-tua saya, memintakan doa restu 
agar nilai saya bagus. Persis ketika berada di teras rumah di tengah-tengah 
sawah itu beragam telepon datang. Tawaran itu jelas, menjadi calon anggota 
legislatif pada Partai Golkar. Saya langsung bertanya kepada ayah saya, 
saudara, teman-teman, serta para tokoh yang saya hormati dengan menelepon dari 
tengah sawah, dalam aura dan energi yang terhisap dari kampung saya. Pilihan 
menjadi politisi adalah pilihan yang sulit, apalagi menjadi politisi Partai 
Golkar. Pro dan kontra terjadi, tetapi sebagian besar memberikan dukungan. Ayah 
saya dulu juga berusaha memenangkan Golkar, sebagai Pegawai Negeri Sipil, 
tetapi tidak mau mengubah kemenangan PPP di tempat ia menjadi Ketua KPPS, 
sehingga harus berhadapan dengan pistol seorang anggota Koramil yang diletakkan 
di atas meja di kantor Camat.  

Karena desakan itu tidak berhenti setelah saya dinyatakan lulus, saya langsung 
memutuskan: inilah saatnya. To be or not to be. Partai Golkar menurut saya 
benar-benar sedang membutuhkan pikiran-pikiran saya, sekecil atau 
setidak-berarti apapun, terutama bagi kepentingan masyarakat. Hanya dengan 
menjadi pengamat tidak akan bisa mengubah keadaan, sekalipun penuh dengan 
idealisme yang meluap. Pengamat hanya berada pada posisi pressure groups, 
tetapi bukan pengambil kebijakan. Sejak konstitusi diubah, partai politik telah 
menempati posisi sentral, sehingga harus benar-benar diisi oleh politikus yang 
berkarakter. 

Secara tidak langsung, dorongan menjadi politisi juga berjalan seiring dengan 
perubahan sikap masyarakat sipil atas dunia politik. Suasananya tidak lagi 
saling berhadap-hadapan, tetapi membangun kerjasama yang sinergis. Karena 
wacana kepemimpinan muda sedang berlangsung secara hangat, pilihan politik 
seseorang menjadi penting. Apalagi pada tanggal 21 April 2008, harian terbesar 
dan disegani, Kompas, memuat nama saya pada urutan keenam sebagai calon 
Presiden Republik Indonesia versi Lembaga Swadaya Masyarakat. Itu adalah sebuah 
kehormatan, sekaligus “pengusiran” bahwa saya sebaiknya tidak lagi berkiprah di 
dunia LSM, melainkan melompat ke dunia politik murni. Langkah pensiun sebagai 
aktivis LSM dan pengamat sedang saya siapkan. 

Filosofi Hidup

Dengan mengucapkan Bismillah, saya melangkahkah kaki ke dunia politik praktis. 
Saya sudah mengurangi dengan keras memberikan analisa-analisa politik, 
sekalipun terkadang melanggarnya karena khawatir dianggap aneh oleh para 
jurnalis yang bertanya. Kerja-kerja politikpun dilakukan, yakni dengan mengecek 
kebenaran tentang pencarian politisi baru di dalam tubuh Partai Golkar. Karena 
memiliki banyak kenalan di jajaran petinggi partai, saya mengetahui bahwa 
Partai Golkar tidak main-main alias serius. 

(Secara tidak sengaja saya bertemu dengan Priyo Budi Santoso ketika pengambilan 
gambar program talkshow AN-TV. Priyo secara terus terang mengungkapkan bahwa 
sejak tiga minggu sebelumnya sudah meminta kepada salah seorang teman baik 
saya, apakah saya bersedia masuk Partai Golkar. Bahkan dalam acara itupun Priyo 
mengucapkan di depan publik bahwa Partai Golkar membutuhkan orang seperti saya.)

Di tengah semakin banyak undangan untuk menulis, berbicara, dan menjadi 
konsultan paro waktu, mengingat kalender pemilu sudah berjalan, saya menyusun 
kembali Daftar Riwayat Hidup. Dalam riwayat itu terlihat sekali bahwa saya 
memang hidup dalam dunia politik. Daftar itu lebih dari 50 halaman, sekalipun 
tidak berhasil dicatat seluruhnya. Selama ini, saya tidak begitu peduli dengan 
daftar itu. Saya toh menggunakan motto: MENGALIR BERSAMA OMBAK. Kehidupan yang 
saya jalani tidak saya rencanakan dengan matang. Yang perlu hanyalah insting 
saya yang selalu mewaspadai akibat-akibat buruk atas diri saya, keluarga dan 
orang lain, kalau saya memasuki suatu kehidupan yang bertentangan dengan 
kepentingan masyarakat luas. Tetapi, bukan berarti saya mudah larut, 
sebagaimana air, karena motto hidup saya bukan MENGALIR BERSAMA AIR. Ombak 
adalah buah dari badai, angin, topan, atau tsunami, sehingga saya harus 
betul-betul mampu bertahan, sekuat apapun ombak itu. 

Belakangan, motto itu saya ganti menjadi MENGALIR MENITI OMBAK. Sebagai anak 
yang dilahirkan di Kampung Balacan, Kota Pariaman, saya adalah anak pesisir. 
Sekalipun begitu, karena ayah saya berasal dari Air Angat, Kecamatan X Koto 
Kabupaten Tanah Datar, saya juga melewati sekolah dasar sampai SMP di sana, 
tepatnya SD 1 dan SDN 2 Air Angat dan SMP Koto Lawas. Air Angat terletak di 
kaki Gunung Merapi. Hantu si Bunian, mitos Harimau dan letusan gunung adalah 
bagian yang akrab dalam keseharian. Karena itu, saya adalah anak yang hidup di 
pesisir dan pegunungan, sehingga udara hangat yang membakar dan dingin yang 
menusuk tulang selalu datang bergantian. Saya terbiasa dengan perubahan iklim, 
tetapi saya merasa tidak mudah diubah oleh iklim itu. 

Bermodalkan itu, saya merasa inilah saat yang tepat untuk menjadi politikus. 
Saya tidak berubah dan tidak berharap untuk berubah. Yang saya lakukan hanyalah 
perpindahan tempat, dari analis, pengamat atau peneliti, menjadi praktisi, 
pelaku atau politisi. Perbedaannya adalah ketika saya menjadi analis atau 
peneliti, saya bekerja untuk masyarakat, termasuk ilmu pengetahuan, secara 
individual. Paling banter saya bekerja dalam tim kecil, seperti Pokja Papua 
atau Tim Depdagri untuk Revisi UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. 
Sekarang, saya tetap bekerja untuk masyarakat atau lebih tepat rakyat, terutama 
di daerah pemilihan saya, tetapi lewat jalur kolektif, yakni Partai Golkar. 

Karena dilahirkan di Pariaman, dibesarkan di Kepulauan Mentawai, Tanah Datar, 
Padang Pariaman, Pariaman, dan Sawah Lunto Sijunjung, saya merasa akan sangat 
durhaka apabila tidak memperhatikan kepentingan masyarakat di sana. Saya bukan 
Malin Kundang yang harus dikutuk menjadi batu. Saya jelas tidak punya bakat 
menjadi seorang saudagar, sekalipun ketika pertama kali ke Jakarta saya 
berjualan Sate Padang – sampai kini – bersama dengan saudara-saudara saya. 
Selama 19 tahun saya tidak pernah meninggalkan Sumatera Barat. Bahkan, saya 
tidak pernah ke Jakarta ataupun ke Pekanbaru. Saya diwajibkan sekolah oleh 
kakak-kakak saya yang mengirimkan uang lewat wesel pos. Ketika di Jakarta, saya 
juga tidak boleh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kakak-kakak saya, seperti 
menjadi kernet bis kota atau jualan sate. Saya hanya membantu, tetapi tidak 
melakukan pekerjaan-pekerjaan pokok. Tugas saya jelas, kuliah,kuliah dan kuliah.

Atas dasar itu juga saya memilih untuk dicalonkan di Daerah Pemilihan Sumatera 
Barat II yang meliputi Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, 
Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman 
dan Kabupaten Pasaman Barat. Ada tiga gunung yang menjadi wilayah 
geografis-politik saya, yakni Merapi, Singgalang dan Tandikat, serta ada Danau 
Maninjau yang indah. Juga ada Pantai Gondoriyah dan Pantai Arta yang menawarkan 
kesejukan hati. Memang, Kabupaten Tanah Datar, tempat saya menamatkan Sekolah 
Dasar tidak masuk dalam Dapil Sumbar II, tetapi saya merasa Partai Golkar tentu 
mempunyai perhatian yang besar kesana. Dengan memilih kampung ibu, bukan 
kampung ayah, saya merasa lebih mampu untuk membina hubungan dengan banyak 
kalangan, baik dalam lingkungan keluarga besar saya sendiri, teman-teman 
sekolah, sampai para ninik-mamak, cerdik-pandai, alim-ulama, bundo kanduang dan 
seluruh pemangku agama Islam dan adat di Ranah
 Minang. 

Menjadi Politisi

Lalu, datanglah hari ini. Saya menyatakan sebagai politikus Partai Golkar. 
Sebagai langkah awal, saya memilih daerah pemilihan Sumatera Barat 2 itu. Bisa 
saja Partai Golkar menempatkan saya di DKI Jakarta, Banten atau Jawa Barat, 
terutama karena saya pernah tinggal di Banten dan sekarang berdomisili di DKI 
Jakarta, atau saya beristrikan Faridhah Thulhotimah yang memiliki kampung di 
Bogor. Tetapi, saya merasa harus memulai di tempat yang tepat, yakni kampung 
halaman sendiri. 

Dulu, saya diberangkatkan ke rantau sebagai akademisi, kini saya pulang ke 
ranah sebagai politisi. Rantau dan ranah harus terus disambung dengan 
menggunakan hati. Inilah perbedaan yang saya buat dengan Agus Salim yang kini 
berubah menjadi nama stadion sepak bola, Muhammad Hatta yang berubah menjadi 
universitas dan perpustakaan, Tan Malaka yang hinggap dalam grafiti anak-anak 
muda Minang, atau HAMKA dan Natsir yang ada dalam buku-buku pelajaran agama dan 
etika. Kalau mereka menjadi politisi di rantau, saya tidak mengulangi itu lagi 
dengan cara menjadi politisi di ranah. 

Saya bukanlah anak muda pelajang bukit yang harus berurusan dengan zaman 
saisuak. Tidak perlu saya ikut menangisi kenapa di pentas nasional tidak banyak 
lagi politisi Minang yang menonjol. Pentas nasional hanyalah pentas, sementara 
kebutuhan yang paling real ada di desa-desa, dusun-dusun, nagari, parak, atau 
di tengah sawah, yakni manusia yang tersebar di banyak titik hidup. Manusia 
yang hidup dalam penderitaan zaman ini. Biarlah saya mencoba menganyam filosofi 
manusia Minang:

Panakiak pisau sirauik,
Ambiak galah batang lintabuang, 
Salodang ambiak ka nyiru
Satitiak Jadikan Lauik (Setitik Jadikan Laut)
Sakapa jadikan gunuang (Sekepal jadikan gunung)
Alam terkembang jadikan guru. 

Kini, saya sedang mempersiapkan kembali ke kampung halaman, tidak hanya datang 
dan pergi, sebagaimana selama ini, kadang hanya semalam. Tagline dalam website 
saya selama ini (www.indrapiliang.com) dan nada tunggu pada handphone saya 
berbunyi: “Kembalikan, Kampung Halamanku”. Untuk persiapan ini, saya menulis 
artikel “Rezim Developmentalisme Demokratis” yang saya kirim ke harian Padang 
Ekspres.  Kampung saya membutuhkan pembangunan yang humanis, selain tentu 
demokrasi. Bukan hanya kampung saya, barangkali, yang membutuhkan pembangunan, 
tetapi juga kampung orang lain. Biarlah puluhan ribu politisi dari 34 partai 
politik ikut mengubah kampung halaman masing-masing untuk tugas berat ini. 

Tentu saya tidak tiba-tiba datang dan masuk Partai Golkar, sekalipun prosesnya 
berlangsung mendadak dan tiba-tiba. Orang Minang tidak bisa melakukan serangan 
cepat, selalu mengulur waktu, tetapi membutuhkan perdebatan keras dalam kancah 
musyawarah di rumah gadang. Orang Minang selain sinis dan skeptis kepada orang 
lain, juga lebih sinis dan skeptis kepada diri sendiri. Sudah sejak pemilu 2004 
saya mulai mengenali para petinggi Partai Golkar, ketika mengamati dari dekat 
Konvensi Nasional Partai Golkar. Saya juga terus berkomunikasi dengan Prof Dr 
Djohermansyah Djohan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden 
RI, untuk mengetahui pikiran-pikiran Pak Jusuf Kalla. Prof Djo adalah Ketua 
Dewan Pendiri Yayasan Harkat Bangsa Indonesia yang menempatkan saya sebagai 
Ketua Dewan Pengurus. Belakangan saya juga tahu, Prof Dr Azzumardi Azra juga 
melobi kalangan Partai Golkar untuk saya, barangkali setelah membaca di 
internet tentang keputusan saya untuk
 menjadi politikus. 

Dalam komunikasi dan advokasi penyusunan undang-undang, saya banyak bergaul 
dengan politisi Partai Golkar, seperti Agun Gunandjar dan Ferry Mursidan 
Baldan. Saya juga perlu sebutkan Nurul Arifin, salah satu donatur kegiatan ini, 
sebagai tokoh yang gigih yang bekerja sebagai aktivis Anti-HIV dan 
terus-menerus belajar sebagai politikus yang tidak kehilangan integritas 
dirinya. Nurul bagi saya adalah seorang senior sebagai politikus, karena ia 
tidak lantas kecewa atas kegagalan menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, 
sekalipun mendapatkan suara terbanyak di daerah pemilihannya. Nurul tentu 
berbeda dengan artis lain yang menyeberang ke ranah politik praktis yang juga 
sebagian adalah teman-teman saya. 

Dalam banyak perdebatan yang saya ikuti dan sorongkan ke publik, Partai Golkar 
termasuk yang paling akomodatif atas ide-ide yang saya tulis, selain PAN. Tanpa 
Partai Golkar, ide-ide otonomi daerah akan mengalami kemacetan dan kemandegan. 
Pemekaran wilayah juga bagian dari cara Partai Golkar untuk mendekatkan 
pemerintahan kepada publik, sekalipun daerah-daerah pemekaran itu kini direbut 
sebagian oleh PDIP. Proses perdamaian di Aceh dimana saya terkadang menitikkan 
air mata ketika menulis kolom, didukung dengan baik oleh Partai Golkar. Peranan 
aktif dari Jusuf Kalla dalam perdamaian itu memberikan semangat bagi saya untuk 
menyerang kelompok-kelompok ultra-nasionalis dalam perdebatan di ruang publik. 

Saya tentu merasa kehilangan dengan PAN. Untuk itu secara terbuka saya 
mengajukan permohonan maaf kepada PAN karena tidak memilih untuk kembali, 
setelah masa jeda saya sebagai politisi. Hidup adalah perubahan dan pilihan. 
Saya tidak mungkin kembali kepada titik yang sama, serta pilihan yang sama, 
ketika sudah terlalu banyak yang berubah dalam hidup saya dan PAN. PAN bagi 
saya tetaplah partai politik yang penuh dengan kader-kader berbakat. Begitu 
juga kepada PDIP, PKS, Partai Matahari Bangsa dan Partai Pemuda Indonesia, saya 
menyatakan siap untuk menjadi sparing partner dalam setiap perdebatan politik 
nantinya. Pernyataan yang sama juga saya berikan kepada teman-teman baik saya 
di PKB, PPP, Partai Demokrat, PBB, PBR, PDS, Partai Demokrasi Pembaruan, Partai 
Hanura, Partai Gerindra dan partai-partai politik lain. Biarlah kita bersaing 
secara lugas dan sehat. 

Dulu, rezim Orde Baru adalah rezim developmentalisme represif dengan keberadaan 
birokrasi dan militernya. Dibandingkan dengan partai politik yang lain, Partai 
Golkar dihuni oleh kaum demokrat, terutama dari kalangan sipil. Pilihan untuk 
bergabung ke Partai Golkar juga semakin dikuatkan oleh keluarnya sejumlah 
petinggi yang berlatar-belakang militer, seperti Wiranto dan Prabowo Subianto. 
Saya tidak tahu alasan-alasan dari para tokoh itu keluar dari Partai Golkar dan 
mendirikan partai baru, tetapi saya merasa lebih nyaman melihat “pertarungan” 
sesama elite sipil dalam tubuh Partai Golkar dalam perebutan pimpinan nantinya. 
Kompetisi di Partai Golkar berlangsung secara baik. Seseorang yang dikalahkan 
akan tidak memiliki kekuasaan turunan, dibandingkan dengan ketika ia menjabat. 
Seseorang yang baru aktif akan diberikan tempat baik, apabila memiliki 
prestasi. 

Tentu pertanyaan penting yang bakal diajukan adalah perilaku korupsi, baik yang 
sudah terbukti atau yang baru dugaan, yang menimpa politisi Partai Golkar. 
Kalangan pers atau Indonesian Corruption Watch (ICW) yang membeberkan data-data 
korupsi itu menunjukkan keterlibatan semua partai politik, baik di tingkat 
nasional, maupun lokal. Ada yang belum sama sekali disentuh, karena membutuhkan 
kinerja aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang lebih baik dengan 
bukti-bukti yang kuat. Korupsi di Republik Indonesia lebih merupakan persoalan 
mentalitas individual, ketimbang melihat itu sebagai perilaku organisasi, agama 
atau ideologi seseorang.  

Saya akan bekerja dengan serius. Keluarga juga secepatnya menetap di Sumatera 
Barat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai politisi, saya akan bekerja 
mendapatkan suara, berapapun nomor urut yang diberikan oleh Partai Golkar. Saya 
akan berbicara dalam bahasa ibu, bahasa Minang, kepada setiap orang yang 
bertemu di Sumbar 2 dengan modal sebatang rokok, setampuk pinang, serta 
secangkir kopi yang ditemani penganan khas Minang lain. 

(Perlu saya sampaikan juga bahwa sejak saya mengumumkan menjadi politikus, 
sejumlah orang tua, niniak mamak, cerdik pandai, dalam mailing list Rantau.Net 
sudah dan akan menyumbangkan biaya kampanye kapada saya, mulai dari Rp. 
25.000,-, Rp. 50.000,-, dan seterusnya. Saya sungguh terharu dan tidak bisa 
tidur atas sumbangan materi itu).
Kalau sebelum ini saya bekerja secara individual untuk mengejar karier akademis 
dan intelektual, maka sekarang membutuhkan dan melibatkan kerja orang banyak, 
rakyat banyak, untuk menuju Senayan. Karena itu saya akan datang dalam ota di 
lapau (obrolan warung) dan kaji di surau, sebagai bentuk tradisional dari 
politikus Minang: bergelanggang mata orang banyak, bersuluh matahari. 
Transparansi dalam bahasa moderen. Karena anggota parlemen adalah wakil rakyat, 
maka rakyat jualah yang mengantarkan ke Senayan. Tanpa dukungan rakyat, 
politisi bukanlah apa-apa dan siapa-siapa. 
Seandainya masuk parlemen atas dukungan rakyat di Ranah Minang, maka saya akan 
mengerjakan komitmen sebagai berikut:

Pertama, konsentrasi kepada daerah pemilihan saya. Konsentrasi itu berupa 
perhatian yang lebih atas masalah-masalah utama di bidang kemasyarakatan dan 
pemerintahan yang berkenaan dengan daerah pemilihan saya. Saya akan menaruh di 
dalam ruangan kerja saya PETA DAERAH PEMILIHAN saya, lengkap dengan 
perkembangan data-data statistiknya. 

Kedua, mencoba mendorong lahirnya Undang-Undang tentang Otonomi Khusus Provinsi 
Minangkabau yang berbasiskan konsep ADAT BASANDI SYARA, SYARA BASANDI 
KITABULLAH. Sekalipun ide ini masih menuai kontroversi, saya merasa sistem 
pemerintahan ala UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku di 
ranah Minang sekarang belum begitu cocok dengan kultur masyarakat Minang. 
Bersama teman-teman seide, sebuah lembaga think tank lokal diperlukan guna 
mendorong konsep ini. 
Ketiga, bertempat tinggal di daerah pemilihan saya, sekalipun tetap 
berkedudukan di Ibu Kota Negara sebagaimana kewajiban undang-undang. Kalaupun 
saya harus ke Jakarta selama masa kampanye ini, atau ke daerah lain, itu berupa 
penugasan Partai Golkar atau kegiatan lain, misalnya memenuhi undangan kalangan 
jurnalis atau lembaga-lembaga lain. Saya tentu tidak akan berhenti memberikan 
seminar, pelatihan, menulis dan lain-lain, tetapi dengan label yang berbeda. 

Keempat, menerbitkan jurnal atau laporan berkala, bisa harian, mingguan atau 
bulanan. Website www.indrapiliang.com akan tetap saya pertahankan.  Baik 
penugasan oleh partai, komisi, fraksi atau kegiatan lainnya sebagai anggota 
parlemen, akan saya sampaikan kepada publik sebagai bentuk pertanggung-jawaban 
saya. 

Kelima, bertugas sampai akhir masa jabatan di parlemen. Saya tidak akan tergoda 
menjadi calon gubernur, bupati, walikota, duta besar atau menteri dan bahkan 
presiden dan wakil presiden sekalipun. Bagi saya, pilihan menjadi anggota 
parlemen adalah pilihan terhormat. Saya harus hormati pilihan rakyat dan tidak 
akan mengubah pilihan itu sampai akhir masa jabatan. Seorang Barrack Obama, 
dalam konteks kini, atau singa-singa podium semacam Agus Salim, Natsir, 
Muhammad Yamin, HAMKA dan Syahrir dalam konteks dulu, tidak akan lahir tanpa 
diasah lewat perdebatan sengit di parlemen.
Di tingkat Partai Golkar, saya menyediakan diri untuk membentuk semacam lembaga 
think tank internal, sebut saja The Golkar Institute. Sudah lama ide ini saya 
dorong dilakukan oleh partai politik, tetapi sampai sekarang belum banyak yang 
menerapkannya. Partai politik moderen selayaknya memiliki institusi-institusi 
pengkaderan dan pengetahuan yang baik, kalau perlu mengembangkan semacam 
kampus-kampus kecil, guna memajukan pemikiran dan ideologi politiknya. Tentu, 
saya masih memiliki sejumlah agenda lain. Tetapi kurang elok kalau disampaikan 
semua dalam kesempatan ini. Loyalitas, konsistensi, komitmen dan integritas 
menurut saya jauh lebih penting, ketimbang hanya sekadar kekuasaan. Menjadi 
presiden sekalipun tetap tidak akan terhormat, kalau rakyat ditinggalkan dalam 
keadaan papa dan menderita. 

Terima Kasih

Tentu, saya berterima kasih kepada teman-teman partai politik lain yang juga 
mengundang saya bergabung. Saya tidak merasa malu untuk mengatakan permohonan 
maaf saya. Secara terbuka saya perlu katakan juga bahwa saya tidak sedang 
mengkhianati Anda dan partai Anda. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah 
perubahan. Saya harus memilih. Tidak mungkin saya berpoligami dalam kehidupan 
politik. Kehadiran teman-teman partai lain dalam forum ini menunjukkan bahwa 
saya tidak sedang mencari musuh, melainkan mencari teman sebanyak-banyaknya, 
dalam lapangan politik praktis. 

Saya juga berterima kasih atas sambutan yang hangat dari teman-teman, adik, 
kakak, abang, saudara, saudari, serta orang-orang tua di Partai Golkar. Sungguh 
saya merasa terkejut ketika menyadari bahwa Partai Golkar tidak menaruh dendam 
atas kehidupan profesional saya selama ini. Bahwa saya berbeda pendapat dengan 
Partai Golkar, misalnya dalam soal pemenang Pilkada Maluku Utara atau Kenaikan 
Harga Bahan Bakar Minyak atau Sistem Proporsional Terbuka Tanpa Nomor Urut, 
sehingga merugikan citra Partai Golkar, adalah bagian dari kehidupan 
profesional saya selama ini. Bahwa sekarang ini saya akan bekerja membesarkan 
partai ini adalah kehidupan profesional berikutnya di bidang politik. Saya 
ingin profesional di dunia politik, seprofesional saya sebagai analis, 
peneliti, pembicara dan kolomnis. 

Kepada kalangan jurnalis, saya mengucapkan terima kasih. Kalian adalah teman 
yang paling setia, tidak lelah menelepon atau bertanya kepada saya. Saya tidak 
pamitan, karena sebagai politikus saya tentu membutuhkan kerjasama berikutnya. 
Saya hanya minta ijin agar teman-teman tidak lagi bertanya tentang pandangan 
saya atas partai politik lain. Sebagai profesional di bidang politik, saya akan 
melihat dari sisi program kerja partai-partai lain yang sama atau berbeda 
dengan program kerja partai saya. Jangan tanya saya lagi bagaimana peluang kubu 
Yenny Wahid dan Muhaimin Iskandar dalam “perseteruan” berikutnya di PKB, 
misalnya. Tapi juga jangan tanya rahasia-rahasia dapur Partai Golkar kepada 
saya, karena itu akan mengurangi nilai kelezatannya ketika dicicipi nanti. 
Kepada teman-teman, sahabat-sahabat, serta kolega saya yang bahu-membahu 
menjadi pengamat sosial, politik, hukum, agama, dan lain-lainnya, serta 
kalangan aktivis masyarakat sipil, saya meminta ijin untuk dijadikan sebagai 
kelinci percobaan nanti dalam analisa kalian. 

Jangan kampanye positif untuk saya, kalau apa yang saya lakukan memang tidak 
berbuah kepada kebaikan buat orang banyak. Kritiklah saya setajam mungkin, 
kalau perlu dengan mencari sembilu pada pohon bambu di kampung saya nanti. Buat 
mata saya perih, hati saya tersayat, serta harga-diri saya luka, ketika kalian 
menulis tentang program yang saya tawarkan yang tidak sesuai dengan pikiran 
hati kalian. 

Kalau di politik terkenal adagium tiada musuh yang abadi, justru saya minta 
agar dijadikan sebagai musuh abadi Anda, maka saya tetap menawarkan 
persahabatan sejati kepada Anda. Dan jangan lupa untuk menyumbang ke rekening 
khusus yang saya buka, sebagai dana kampanye nanti. Jelas saya tidak punya uang 
yang cukup dari honor menulis, berbicara atau menjadi konsultan, sebagai modal 
masuk ke dunia politik. Saya tidak memiliki modal material, tetapi saya punya 
modal sosial dan modal ilmu pengetahuan. 

Padi Menguning di Rengas Dengklok.
Kapas Mengelupas Jatuh ke Perigi.
Pusaka Dibawa Para Saudagar.
Jaketku Kuning di Kampus Depok.
Samalah Nian dengan di Slipi. 
Padi dan kapas akan berkibar.

Wabillahi Taufik Walhidayah
Wassalamu’alaikum Wr Wb. 



      

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke