Wah, hebat Bung Indra. Tanpa tedeng aling-aling. Saya ingin mendengar visi, 
kebijakan, dan strategi dari orang-orang muda Minang lainnya yang telah, 
sedang, ingin, atau akan tampil sebagai pemimpin kita.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]


--- On Sat, 8/9/08, Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Indra Jaya Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] "Kalau Gagal di Golkar, Saya Jadi Petani Saja."
To: [email protected]
Date: Saturday, August 9, 2008, 7:49 AM








Rakyat Merdeka
Jumat, 08 Agustus 2008
 
Indra J Pilliang, Pengamat Politik CSIS: “Kalau Gagal di Golkar, Saya Jadi 
Petani Saja.” 

Pemuda kelahiran Pariaman, Sumatera Barat ini rela meninggalkan profesinya 
sebagai akademisi dan pengamat politik demi kursi di Senayan. Pengamat politik 
CSIS ini terdaftar sebagai caleg dari Partai Golkar yang dulu sering 
dikritisinya. 

BERKALI-KALI, Indra J Pilliang me­negaskan, menjadi anggota de­wan bukan suatu 
tujuan hidup­nya. Cita-citanya hanya ingin mem­bangun atmosfer politik yang 
sehat. 

Kepada Rakyat Merdeka, Indra mengatakan, dengan banting setir dari akademisi 
menjadi politisi me­merlukan banyak pengor­ba­nan. 

“Motivasi saya adalah mem­bangun ranah pengetahuan yang ba­ru di dunia partai 
politik. Arti­nya, membangun partai politik yang modern dan saya me­ngor­bankan 
diri saya dan penghasilan sa­ya untuk menjadi politisi,” ujar­nya. 

Indra juga mengungkapkan, dirinya terjun di parpol bukan hal yang baru. 
Sebelumnya, alumnus Universitas Indonesia (UI) ini pernah terlibat politik 
praktis bersama Partai Amanat Nasional (PAN). 

Mengapa memilih Golkar untuk comeback ke panggung politik? Apa saja 
bargaining-nya? berikut bincang-bincang Indra J Pilliang dengan Rakyat Merdeka, 
kemarin. 

Apa alasan Anda masuk po­litik praktis? 
Sebenarnya saya pernah di par­tai politik. Saya pernah berada di Partai Amanat 
Nasional (PAN) bahkan saya ikut mendirikan DPD PAN Kabupaten Tangerang bah­kan 
sempat menjadi Ketua Departemen Seni dan Budaya. Tapi, kemudian saya 
me­ngun­dur­kan diri. 

Saat ini, jelas kalau saya adalah bagian dari civil society. Karena itu, saya 
beranggapan jauh lebih efektif kalau masuk pada political so­ciety karena 
partai politik men­jadi tulang punggung de­mokrasi. 

Tak khawatir dianggap aji mumpung (karena ada yang lamar)? 
Nggak juga, saya justru nggak punya modal. Bahkan, partai-partai yang mendekati 
saya tidak meminta modal dari saya. Tapi apa yang saya lakukan selama 8 tahun 
ini mungkin melebihi apa yang dilakukan para Jenderal untuk mendapatkan 
pangkatnya dan masuk parpol. 

Apa yang Anda miliki? 
Saya hanya memiliki Curri­culum Vitae (CV). Artinya, apa yang saya kerjakan 
adalah modal dasar saya berupa intelektual dan memang itu yang telah saya capai 
hingga saat ini karena saya tidak bisa maju dengan popularitas seperti para 
artis. 

Kenapa Anda memilih Golkar? 
Saya sebenarnya sudah me­ngata­kan berkali-kali tapi nggak enak kepada parpol 
lainnya ka­rena saya tidak bermaksud men­diskre­ditkan parpol lain. Mi­sal­nya, 
saya masuk PDIP maka saya harus menjadi seorang Soe­kar­nois, padahal saya 
bukan Soe­karnois. Walaupun saya mem­pe­lajari paham-paham Soekarno, tapi saya 
juga mempelajari pe­mi­kir­an-pemikiran dari tokoh lain­nya. 

Ada Berapa partai yang me­minang Anda? 
Satu setengah tahun yang lalu PDIP, PMB, PAN, PPI, PBR dan yang lainnya adalah 
partai-partai baru. Ini artinya banyak teman-teman partai yang menginginkan 
saya. Saya pada saat itu merasa dalam posisi yang sedang di­ta­war.. 

Makanya, saya mencoba se­dikit untuk melakukan bar­gai­ning. 

Kenapa tidak kembali masuk ke PAN? 
Karena PAN itu selalu berubah dan tidak konsisten. Saya keluar dari sana 
penyebabnya adalah PAN tidak memiliki konsistensi yang tegas. Karena 
pemikirannya berubah-ubah. 

Menurut Anda, apakah par­tai-partai memilih Anda karena terlalu kritis? 
Ketika partai politik me­ng­alami proses demoralisasi karena dihantam dengan 
isu golput sehingga orang makin tidak percaya lagi dengan parpol, maka saya 
masuk ke dalam parpol dan saya rasa itu akan memberikan support yang positif 
bagi semua politisi dan parpol bukan hanya Golkar. 

Siapa yang meminta Anda masuk Golkar? 
Saya bisa sebut 2 orang yang paling gigih untuk meminta saya menjadi caleg 
adalah dari ka­la­ngan mudanya. Di an­taranya Ha­sanudin Ibrahim (Be­kas Ketua 
Umum PB HMI), Cholis Ma­lik dan lain se­ba­gainya. 

Itu karena mereka merasa saya bisa menjadi semacam pengaman bagi kepentingan 
dari kalangan muda. 

Anda merasa ajakan tersebut sebagai pembungkaman? 
Saya tidak melihat itu dan bisa jadi mereka tidak menghitung itu. Bahkan, saya 
sendiri tidak me­rasa terlalu kritis dan tulisan saya mengenai parpol sedikit 
kok. Saya lebih banyak bicara tentang sistem dan itu tersebar di berbagai media 
baik buku, makalah, dan sebagainya. 

Ada anggapan bahwa partai itu adalah sarang penyamun. Apakah Anda akan menjadi 
penyamun juga nantinya? 
Saya bisa pastikan bahwa saya tidak akan korupsi. Demi Allah, itu tidak akan 
saya lakukan, ka­rena saya bukan orang seperti itu. Kalau saya tidak suka maka 
saya akan bilang tidak suka. 

Apakah Anda akan ikut arus di Golkar? 
Justru nanti saya akan me­nga­tak­an, kalau Golkar me­nye­lewengkan kekuasaan 
maka saya siap mengungkapkan pi­kiran yang beda dengan Partai Golkar. Tapi 
kalau mengenai platform saya harus ikut partai. 

Komi­si mana yang akan Anda incar? 
Yang saya tahu saat ini ada komisi mata air dan komisi air mata. Kalau saya 
disuruh me­mi­lih maka saya akan pilih komisi air mata. 

Kenapa? 
Komisi ini betul-betul me­nga­rah pada sistem yang lebih baik buat negara kita 
terutama untuk mendorong otonomi dan de­mo­krasi. Saya kira itu lebih banyak 
ter­jadi konfrontasi antarpartai. Jadi kontribusi intelektual saya lebih banyak 
ketimbang saya berada di komisi mata air. 

Apakah dengan diterimanya Anda di Golkar, kekritisan Anda akan terbungkam? 
Tentu itu beda. Selama ini, saya bekerja menjadi seorang yang profesional. Ke 
depan, saya bu­kan akademisi lagi dan saya me­nyatakan mundur dari akademisi 
karena kini saya menjadi politisi. 

Ada anggapan Anda berkoar-koar karena punya tujuan jadi anggota dewan, apa 
benar? 
Saya tidak punya tujuan. Saya tidak memikirkan menjadi seo­rang pengamat, 
bahkan saya tidak pu­nya pikiran akan kuliah. Ka­rena saya dulu malah berpikir 
akan menjadi tukang sate. Sebab, saat ke sini (Jakarta) saya jualan sate dan 
karena kebetulan saja sa­ya diterima di CSIS. Padahal, cita-cita saat itu 
adalah menjadi seorang wartawan atau penulis. 

Perlu diketahui bahwa saya tidak melihat menjadi anggota dewan ini suatu 
tujuan. Teman-teman perlu tahu bahwa sebentar lagi banyak orang yang seperti 
saya yang diajukan parpol dan mengatakan hal yang sama se­perti apa yang saya 
lakukan. 

Jadi apa tujuan Anda yang sebenarnya? 
Saya tidak menjadikan par­lemen untuk menjadi tujuan. Tu­juan saya adalah 
menjadikan partai Golkar sebagai partai yang modern dan disegani serta tidak 
lagi bergantung pada yang lain. 

Motivasi Anda hanya sebatas itu? 
Motivasi saya adalah mem­ba­ngun ranah pengetahuan yang baru di dunia partai 
politik. Arti­nya, membangun partai politik yang moderen dan saya 
me­ngor­bankan diri saya dan penghasilan saya untuk menjadi politisi. 

Kabarnya Anda tidak izin ke CSIS, kenapa? 
Menurut saya ini adalah urusan dan pilihan pribadi. Saya tidak mau CSIS 
dilibatkan dalam proses ini dan tidak mau ada anggapan bahwa CSIS mengirim saya 
ke Partai Golkar. Sama se­perti keputusan saya untuk ga­bung ke CSIS dan ini 
adalah lang­kah pribadi saya. 

Saya melihat partai Golkar memberikan kebebasan kepada saya. Artinya, saya 
melihat Yud­dy Chrisnandi dan tidak ber­ubah. Persoalannya dia “ber­lari 
sen­diri­an” sehingga diberikan kartu kuning. Ini cuma masalah gaya personal 
saja. 

Jadi Golkar itu ibarat gelas, me­­ngikuti apa yang ada di da­lamnya. Maka 
Golkar, CSIS dan republik kita ini adalah hanya se­buah wadah. Apakah wadah itu 
harus kita hancurkan karena banyak koruptornya? Kan tidak. Karena itu, saya 
berjuang dari dalam untuk memperbaiki itu semua. 

Bagaimana hubungan Anda dengan kawan-kawan setelah menjadi politisi? 
Tentu akan terjadi hubungan simbiosis mutualisme. Saya yakin teman-teman LSM 
akan senang karena menghibahkan saya dengan agak mengancam partai agar saya 
mendapatkan no­mor bagus. Sebab, ini per­taruhan dari kawan-kawan LSM juga. 

Kalau pertaruhan ini gagal bagaimana? 
Kalau gagal, tentunya wajah mereka juga akan tercoreng begitu juga dengan 
partai Golkar. Karena Golkar merekrut orang baru yang tidak pernah 
ter-Gol­kar-kan. Kalau ini meng­han­curkan sistem internalnya, maka Golkar akan 
gagal. Jadi bakal ada dua kegagalan kalau saya tidak melaluinya dengan mulus. 

Jika saya gagal, tentunya saya tidak akan menjadi pengamat atau penulis lagi. 
Bahkan, saya akan menjadi petani di tanah kelahiran saya kecuali saya akan 
menulis sejarah kejatuhan saya sen­­diri sebagai pengamat ha..ha... EDY
 




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke