Menjadi Gila Di Indonesia

 

FENOMENA
gila merambah negeri.  Coba perhatikan
pemberitaan media akhir-akhir ini, mulai kasus Ryan sampai yang terakhir Yuli
Nursanto.  Berbagai media masa mengupas
kasus ini secara gamblang dan penuh sensasi.

 

Cobalah
tengok kasus Ryan.  Pria itu membunuh 11
korbannya.  Terbongkarnya pembunuhan
berantai yang ia lakukan telah menyita perhatian publik.  Majalah Tempo bahkan 
mengupas secara mendalam
pada edisi 23 Juli - 8 Agustus 2008.

 

Sementara,
pemberitaan Media Indonesia menempatkan kasus Yuli pada ranah editorial pagi
ini (10/8).  Yuli merupakan calon Bupati
Ponorogo yang kalah dalam Pilkada.  Perlu
dicatat, Editorial Media Indonesia jarang sekali mengupas soal seseorang,
kebanyakan soal sekelompok orang, lembaga publik atau realitas Indonesia
termutakhir lainnya.

 

Satu
sisi, gila yang diperankan Ryan bermotif merebut harta.  Sementara di sisi 
lain, gilanya Yudi lantaran
kehilangan harta.  Dua hal yang sama
dalam dua kasus berbeda ini adalah harta. 
Harta telah membuat orang gila, namanya gila harta.

 

Ada banyak kejadian di dunia yang mengisahkan kegilaan
lantaran harta.  Tapi banyak cerita juga
yang tidak tersampaikan, misalnya soal korupsi.

 

Para koruptor
di negeri ini barangkali dapat dikategorikan gila.  Betapa tidak, korupsi yang 
mereka lakukan
sungguh luar biasa jumlahnya.  Mulai
ratusan ribu hingga trilyunan.  Korupsi
menciderai harkat bangsa dan melukai rakyat. 
Banyak korban berjatuhan karena ulah para koruptor ini, sementara mereka
terkesan 'enjoy aja'.

 

Ingat
kasus Edi Tansil? kini pria itu sudah tidak terlacak.  Ingat kasus dana yayasan 
milik mantan
presiden Soeharto? entah bagaimana kelanjutannya sekarang.  Masih segar hari 
ini, kasus suap Bank Indonesia
kepada DPRRI. Itu hanya kasus-kasus besar.

 

Kasus
kecil terjadi di Pariaman, Sumatera Barat. 
Seorang pegawai dinas Peternakan dilempar kursi oleh Kepala Dinasnya
pada Ramadhan 2 tahun yang lalu. 
Kepalanya berdarah dan harus mendapat perawatan.  Semua hanya karena si bawahan 
tidak mau
menanda tangani dokumen proyek fiktif si Kepala Dinas.

 

Apa yang
terjadi kemudian? Hampir satu setengah tahun kasus ini mengendap.  Baru mulai 
disidangkan awal 2008 yang
lalu.  Juli 2008, Si Kepala Dinas divonis
bebas.  Hakim beranggapan, Si Kepala
Dinas hanya membela diri. Gila.., gila.

 

Beberapa orang di Medan
tiba-tiba ditanyai apa yang terbayang dipikiran mereka bila disebut kata
'gila'.  Keduanya mengasosiasikan gila
dengan sakit, lucu, tidak waras, hilang ingatan, hilang rasa malu.

 

Bagaimana
mungkin? Itulah wujud kegilaan.  Semua
orang telah terjangkit wabah gila. 
Banyak jenis gila, selain harta, ada gila hormat, gila kuasa, gila  wanita, 
gila kerja dan sebagainya.

 

Gila
atawa gangguan jiwa menjadi alasan pamungkas bagi orang-orang tidak tahan
dengan cobaan duniawi.  Ia telah pula menjadi
akibat bagi orang-orang yang tidak mampu tapi bernafsu besar.  Pun, ia menjadi 
penyebab banyak orang
menderita.

 

Penjelasan
tentang gila telah banyak dikupas, terutama kupasan medis dan sosiologi.  Ada
juga pandangan secara Islam, pernah ditulis oleh Prof.DR.H.Mahmud Yunus,
1984.  Ia menyebutkan, bila manusia tuli
dan buta pikirannya maka tidak ada harapan bagi mereka untuk menerima
kebenaran.

 

Pertanyaannya,
apakah betul mereka yang gila sudah tertutup pikirannya? pikiran itu tertutup
sendirinya atau ditutup dengan sengaja? 
Apa yang terjadi dengan Ryan, Yuli dan para koruptor?  Apakah betul mereka 
gila? atau berlagak gila
saja?

 

Agaknya,
menjadi gila sudah mulai menjadi tren pada negeri bertajuk Indonesia
ini.  Tren yang terkesan baru tapi
sebenarnya telah ada sejak negeri ini diciptakan.  Apa yang terjadi hari ini 
tidak lebih dari
sebuah pengulangan sejarah.  Tapi sayang,
kabar tentang gila dimasa lalu tidak begitu mengemuka.

 

Bila tren ini merambah
seantero jagad, jangan-jangan nanti dapat pula menjadi bagian dari hak
asasi.  Siapa tahu?  Pada saat itu, Rumah
Sakit Jiwa tidaklah terlalu penting artinya. 
Penjara tidak dubutuhkan lagi.

 

Dapatkah kita berkhayal, suatu saat
hal itu terjadi? bgaimana kira-kira keadaannya? 
Barangkali kita sudah mati, tapi bagaimana dengan anak cucu? 

 

Resources: 
http://syafrizaldi.multiply.com/journal/item/35/Menjadi_Gila_Di_Indonesia

 


_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke