Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Saya 'forward' artikel bagus dari Siswono Yudo Husodo dalam harian Kompas Senin
18 Agustus 2008 ini sebagai bahan renungan untuk kita semua. Indonesia adalah
'perahu besar' kita semua. Pengangguran dan gizi buruk yang ditengarai beliau
juga terdapat di Sumatera Barat, kampung halaman kita. Marilah kita bersama
ikut menangani kekurangannya, sambil memanfaatkan kemajuan yang sudah dicapai
selama 63 tahun merdeka.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
Refleksi 63 Tahun Merdeka
Kompas, Senin, 18 Agustus 2008 | 00:25 WIB
Siswono Yudo Husodo
Tanggal 17 Agustus 2008, genap 63 tahun usia negara RI yang amat kita cintai
ini. Bertambahnya usia sebuah negara lazimnya diikuti dengan kemajuan
masyarakatnya.
Perekonomian kita terkesan maju. Tahun 2008, perekonomian kita tumbuh sekitar 6
persen. Petani kebun gembira karena karet, sawit, kopi, dan cokelat harganya
naik. Saya terharu dan bahagia karena banyak di antara mereka yang mengundang
sanak saudaranya dari Pulau Jawa untuk ikut bekerja atau disekolahkan, padahal
dahulu mereka adalah buruh tani, petani tanpa lahan yang nyaris tak punya
apa-apa.
Namun, mengapa statistik menggambarkan jumlah rakyat miskin tidak bergerak dari
sekitar 16 persen (setara 34 juta orang) dan pengangguran terbuka masih sekitar
9 persen (setara 10 juta orang)? Mengapa masih terdapat jutaan anak balita
bergizi buruk, bahkan busung lapar, di berbagai daerah di Tanah Air kita?
Jawabnya sederhana: sifat pertumbuhan ekonomi kita tidak terlalu banyak
menyerap tenaga kerja serta ada sektor-sektor yang terpuruk oleh meningkatnya
harga BBM dan pangan. Kemiskinan mendera nelayan yang sudah tak bisa lagi
melaut dengan harga solar yang tinggi dan harga hasil tangkapan yang tidak
bergerak naik; serta buruh yang UMR-nya tidak mampu mengatasi peningkatan biaya
hidup yang luar biasa akhir-akhir ini. Struktur ketenagakerjaan menunjukkan
pekerja sektor informal 69 persen dan hanya 31 persen yang bekerja di sektor
formal.
Semangat hidup rakyat kita sungguh mengagumkan. Saya sangat menghargai jutaan
TKI/ TKW yang dengan menghadapi risiko, seperti yang dialami Ceriyati dan
Nirmala Bonat, bekerja di luar negeri karena kurangnya lapangan kerja di dalam
negeri. Manusia memang memuliakan dirinya dengan bekerja dan adalah tugas
negara memperluas lapangan kerja agar warganya dapat memuliakan dirinya.
Perjalanan negara kita sudah cukup panjang dan seharusnya sudah ada tanda-tanda
akan tibanya kesejahteraan rakyat di seluruh Tanah Air; sebuah harapan yang tak
muluk bagi rakyat sebuah negeri yang kaya dengan sumber daya alam seperti
Indonesia.
Utang LN membebani
Presiden Yudhoyono-Wakil Presiden Jusuf Kalla juga telah bekerja keras untuk
membuat keadaan menjadi lebih baik, tetapi sayangnya kondisi tidak mendukung,
berupa banyaknya gempa dan musibah serta meningkatnya harga minyak dan pangan
di pasar dunia. Ironisnya, sebagai negara produsen minyak dengan pengalaman
lebih dari 100 tahun dan negara agraris, tak bisa menikmati kondisi tingginya
harga minyak dan pangan di pasar dunia, tetapi sebaliknya menjadi tertekan.
Sepuluh tahun terakhir, utang luar negeri negara kita melonjak drastis. Jika
akumulasi utang pada 21 tahun era Bung Karno 1945- 1966 adalah 2,5 miliar
dollar AS. Pada 32 tahun era Pak Harto 1966-1998 utang meningkat, menjadi 54
miliar dollar AS; Indonesia memiliki pertumbuhan ekonomi sekitar tujuh persen
per tahun selama puluhan tahun, dan salah satu macan Asia; sayangnya pada akhir
pemerintahannya, KKN membawa Indonesia pada krisis ekonomi. Posisi utang saat
ini meningkat tiga kali lipat, menjadi 155,29 miliar dollar AS, jumlah yang
sangat mengkhawatirkan.
Pemerintah mengalami tekanan amat berat karena tahun ini harus mengalokasikan
dana subsidi lebih dari Rp 300 triliun serta membayar bunga dan angsuran utang
lebih dari Rp 200 triliun, yang membuat negara menjadi kurang mampu
mengembangkan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang menjadi tugas
utamanya.
Penggerogotan kekayaan negara berupa penjualan aset negara/BUMN dengan harga
murah kepada pihak asing membenarkan sinyalemen John Perkins dalam bukunya The
Confession of an Economic Hit Man. Pengelolaan perekonomian negara kita terlalu
banyak diwarnai kepentingan negara lain.
Sungguh tragis, ketika utang luar negeri meningkat drastis, SDA terkuras, BUMN
dijual, rakyat miskin relatif tak berkurang, dan jumlah penganggur justru
meningkat. Bangsa yang miskin yang utangnya banyak pada dasarnya tidak merdeka.
Kondisi menjadi lebih sulit karena merosotnya wibawa lembaga-lembaga negara
oleh maraknya korupsi dan penyuapan di pemerintahan, legislatif (DPR), dan
aparat penegak hukum di pusat maupun di daerah.
Belajar dari negara lain
Pemerintah memiliki program yang sangat bagus, Triple Track Strategy yang
berisi Pro-poor, Pro-job dan Pro-growth.
Namun, di mana Pro-job-nya kalau untuk memenuhi kebutuhan daging, setiap tahun
diimpor 600.000 sapi oleh pengusaha besar? Sebaiknya langsung impor 1 juta sapi
betina yang dikreditkan kepada para petani/peternak agar dua tahun kemudian
kita tak perlu impor lagi.
Di mana Pro-poor-nya jika kontrak karya migas tidak mensyaratkan kewajiban
memasok gas pada pabrik pupuk di tempat asal gas itu sehingga Aceh Fertilizer,
Iskandar Muda, dan Pupuk Kaltim tak bisa memproduksi pupuk bersubsidi karena
mahalnya gas?
Dimana Pro-growth yang bersifat berkelanjutan kalau daya beli rakyat terus
menurun?
Kita perlu meniru India dalam kebijakan Pro-poor-nya; meniru China dalam
Pro-growth-nya, dan Thailand dalam Pro-job- nya.
Aparatur negara sebagai regulator juga banyak yang ceroboh, antara lain
membiarkan beroperasinya perusahaan penerbangan yang berturut-turut mengalami
kecelakaan dan berakibat seluruh pesawat terbang yang teregistrasi di Indonesia
dilarang terbang ke Eropa, sesuatu yang memalukan dan merendahkan harkat kita
sebagai suatu negara bangsa.
Bangsa ini memerlukan pendekatan pembangunan baru. Pemberantasan korupsi,
pengangguran, kemiskinan, dan peningkatan kualitas kerja aparatur negara sudah
tak bisa diatasi dengan cara konvensional.
Indonesia memiliki segala hal yang diperlukan untuk menjadi negara besar yang
sejahtera, maju, mandiri, dan bersatu. Kita juga telah sukses melakukan
demokratisasi walau ada beberapa ekses berupa money politics dalam banyak
proses politik. Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu semakin nyata walau
tercoreng oleh jaksa yang menerima suap.
Pada era modern ini, waktu yang dibutuhkan bagi suatu negara bangsa untuk
mencapai kesejahteraan yang tinggi tidak perlu terlalu lama.
Jepang, yang hancur lebur pada tahun 1945, Korea Selatan pascaperang Korea
1950-1953, Taiwan yang baru menjadi negara tahun 1949, Malaysia yang merdeka
tahun 1957 dan Singapura tahun 1965, serta RRC yang baru mengubah dirinya tahun
1978 telah membuktikannya, menjadi maju dan sejahtera hanya dalam waktu 30-35
tahun.
Tak terbantahkan, banyak sekali hal yang harus dilakukan untuk mencapai
Indonesia yang maju, sejahtera, dan bersatu dengan daya saing tinggi. Dengan
perencanaan yang tepat, yang dilaksanakan dengan kesungguhan, dan kerja keras
yang cerdas berkelanjutan di bawah kepemimpinan nasional yang visioner, kita
akan mampu mencapainya. Semoga!
Siswono Yudo Husodo Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---