Assalammualaikum WR WB bung IJP. Ini ada saran dari PR 3 UNAND yang berasal
dari sungai tanang agam, beliau jg ketua yayasan pembangunan sungai tanang.
Mohon maaf kalau tidak berkenan. Wass. Hanifah
----- Original Message -----
Subject: Re: [banuanet] Fw: [EMAIL PROTECTED] Sepuluh Hari Jadi Politisi
Date: Mon, 18 Aug 2008 9:51:58
From: Badrul Mustafa <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Ipah,
Walau ini utk Si Mamak Mufni, saya ikut komentar, ya?
Bagi saya, apapun yang dilakukan Indra J Piliang tsb, kalau ia muslim yang
taat, maka apakah ia sudah mengamalkan apa yang pernah/sering ia ucapkan dalam
shalat (doa iftitah): INNA SHALAATI WA NUSUKI WA MAHYAAYAA WA MAMAATI LILLAAHI
RABBIL 'AALAMIIN. (Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanya
utk mencari -keridhaan- Allah). Kalau ia kelak ditanya Allah, kenapa masuk ke
Partai Anu? Apakah Partai Anu tersebut berisi orang-orang yang bersih? Apakah
Partai Anu tersebut punya misi untuk mengajak orang-orang ke jalan Allah?
Apakah si Indra sendiri sudah dan akan berjuang untuk meneruskan perjuangan
Rasul dan para Sahabat? Apakah Partai Anu itu peduli terhadap masyarakat yang
semakin hedonis? Apakah Partai Anu tersebut bersih dari orang-orang yang gemar
bermaksiat, jauh dari Allah? dll....? Kalau ia dapat menjawab pertanyaan Allah
itu, artinya ia sadar dengan apa yang dipilihnya, sesuai dengan yang sering
dibaca waktu shalatnya itu,
ya ndak usah ragu-ragu. Tapi kalau tidak yakin, maka lebih baik undur diri
aja.
Wassalam.
Badrul --- On Fri, 8/15/08, hanifah daman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: hanifah daman <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [banuanet] Fw: [EMAIL
PROTECTED] Sepuluh Hari Jadi Politisi To: [EMAIL PROTECTED] com Date: Friday,
August 15, 2008, 2:25 PM
Mamak Mufni. Bacalah rintihan sang pengamat yang beralih propesi jadi
politikus. Apa komentar mamak Mufni ??? Hanifah tunggu ya Salam Hanifah
Damanhuri --- On Fri, 8/15/08, Indra Jaya Piliang <indrapiliang@ csis.or.id>
wrote:
From: Indra Jaya Piliang <indrapiliang@ csis.or.id> Subject: [EMAIL PROTECTED]
To: "Indra Jaya Piliang" <indrapiliang@ csis.or.id> Date: Friday, August 15,
2008, 2:07 PM
Sepuluh Hari Jadi Politisi
Sudah sepuluh hari saya menyatakan diri sebagai politisi. Apakah ada yang
berubah? Banyak yang berubah, namun banyak juga yang tetap seperti semula.
Susunan buku-buku masih rapi, ada beberapa buku baru, baik hadiah atau saya
beli. Pulang ke rumah masih tetap larut malam, sekalipun juga sesekali mengatur
waktu untuk dinner bersama keluarga. Pergi ke kantor juga tetap pagi, seusai
mengajak kedua anak bermain dan berbicara.
Yang berubah?
Pertama, tentu saya tidak bisa lagi tampil di layar televisi sebagai pengamat.
Ada dua stasiun TV sebetulnya yang meminta atau mengijon saya sebagai pengamat
tetap. Beberapa pekerjaan sebagai public speaker untuk kegiatan voters
education, baik yang diadakan oleh pemerintah atau pihak non-pemerintah, juga
harus dibatalkan. Perubahan drastis terjadi pada saldo pemasukan dalam
rekening. Siapa bilang ini bukan pengorbanan yang berat?
Kedua, semakin banyak telepon dari kampung halaman, daerah pemilihan saya. Ada
kegiatan lomba layang-layang, liga bola antar kampung, pengajian rutin,
pembangunan pesantren, dan lain-lain. Ibu sayapun terpaksa mengambil tabungan
hari tuanya, guna membantu biaya sosialisasi anaknya. Politik memang
membutuhkan dana. Aneh, kalau politik tanpa dana. Idealisme betapa politik
cukup dengan ide atau gagasan, tertanggalkan.
Ketiga, ada banyak sms yang masuk, begitu juga email. Minggu lalu handphone
saya sampai hang. Terpaksa diservis dan 4000-an nomor telepon hilang. Tapi
karena punya back up di laptop, kembali hanya tersisa 3000-an nomor telepon.
Kemaren saya hapus lebih dari 300 nomor telepon. Sepuluh hari lalu saya masih
menganggap sebagai nomor-nomor penting, sekarang tidak perlu lagi dijaga. Namun
bukan berarti kalau ada teman yang sms atau menelepon, lalu saya bertanya
:”Maaf, ini siapa? Handphone saya rusak dan semua nomor hilang,” barangkali
masuk kategori nomor yang hilang, bukan sengaja saya hilangkan.
Keempat, undangan keluar kota terpaksa saya batalkan. Ke Aceh, Manado dan
Ambon yang sudah pasti tidak bisa. Biasanya, saya senang untuk pergi keluar
kota, membebaskan diri dari belenggu Jakarta. Menghirup udara segar dan energi
alam. Saya betul-betul berhitung atas waktu, kesempatan dan kegiatan. Tapi saya
tetap punya jadwal ke Mataram, Bali dan Yogya bulan depan. Barangkali juga ke
kota-kota lain. Sebagian adalah sisa dari persetujuan yang sudah saya berikan
sebelumnya.
Kelima, saya makin paham dengan struktur, sistem dan jaringan internal Partai
Golkar. Ada beberapa kegiatan yang saya hadiri. Dalam tiga minggu, saya bertemu
Jusuf Kalla tiga kali. Bertemu dengan pimpinan yang lain juga berkali-kali.
Bahkan mulai dipanggungkan oleh Partai Golkar, sebagai debater, dalam kegiatan
kepartaian. Saya sudah memiliki dua jaket, satu dibeli sendiri oleh sekretaris
saya di Slipi, satu lagi diberikan oleh pimpinan MKGR.
Keenam, saya mulai mengumpulkan orang di lingkaran terdekat, termasuk di
kawasan tempat saya tinggal. Istri saya mengatakan, muncul isu bahwa satu mobil
yang kami punya adalah pemberian Partai Golkar. Juga permintaan, “Apa yang
Golkar bisa berikan?” Satu partai politik mengirimkan ambulans buat kebutuhan
warga. Kalau sepuluh hari lalu orang tidak peduli dengan warna dan pilihan baju
yang saya pakai, maka sekarang apapun baju yang saya gunakan, pastilah itu baju
Partai Golkar. Baju merah sekalipun pasti dianggap kuning.
Ketujuh, saya merasa “merdeka” dari status pengamat. Tiga telepon dari luar
negeri: Singapura, Jerman dan Australia, yang meminta komentar saya soal-soal
politik, dengan sigap saya katakan: “Saya bulan lagi analis politik.” Ya, ada
keterkejutan, tetapi juga ada “Congratulation!” Sampai kinipun saya tidak
begitu paham kenapa orang terkejut dengan perubahan status itu. Selama ini saya
melayani wartawan dengan baik, semampu saya. Sekarang, saya tidak tahu apa yang
mereka pikirkan dan katakan. Apakah mereka juga mencibirkan, lantas mengatakan
dalam wajah sumringah: “Nah, Indra sekarang sudah berperut buncit!” Saya juga
tahu dan sadari, beberapa wartawan, sebagian dari lapisan muda usia, dengan
wajah tirus dan terenyuh menyatakan dalam hatinya: “Bang, kami membantumu. Tapi
tolong pahami posisi kami.”
Kedelapan, saya sudah pasti kehilangan banyak teman, tetapi belum tentu dapat
teman baru. Politik lebih banyak menyiptakan kesendirian, daripada kehangatan
persahabatan. Tentu saya juga menguji sejumlah nilai “pertemanan”,
“persahabatan” , serta kata-kata apapun yang selama ini ada dan terpelihara.
Apakah itu benar-benar ada? Ketika seorang politikus meminta bantuan kepada
teman dan sahabatnya, apakah itu benar-benar dimaknai sebagai permintaan yang
tulus atau imbal jual-beli? Selama ini, saya tidak banyak “menghitung”
soal-soal seperti ini, tetapi sekarang saya pantas mengujinya.
Kesembilan, ada semangat baru di kalangan orang yang mengenal saya, terutama
dari pihak keluarga dekat. Datuk saya menangis ketika saya telepon, lalu
setelah itu mengatakan dengan bersemangat bahwa dia sudah membuat sejumlah
posko untuk pemenangan saya. “Apa saya harus melepas jabatan datuk ini dan
memberikan kepadamu?” Saya menolaknya. Sejak dulu saya menolak jabatan datuk.
Beberapa paman saya dari luar Sumbar pulang ke kampung halaman, mengikuti jejak
saya pulang, lantas berkeliling. Guru-guru sekolah dasar dan menengah saya juga
ikut berbisik ke orang-orang. Sejumlah teman, yang benar-benar teman, terutama
teman SD, SMP dan SMA saya, dengan nada kecut mengatakan keterkejutan, tetapi
ada juga yang dengan sepenuh hati mengirimkan semangat yang paling murni dari
perkawanan paling abadi: persahabatan masa kanak-kanak, ketika
kami dulu bahkan sering berkelahi.
Kesepuluh, ada beberapa nomor telepon yang selama ini rajin berteleponan tidak
lagi bisa ditelepon. Politikus mungkin sejenis anjing kurap, siapapun yang
mengenalinya akan terkena virus menular. Mungkin saya terlalu sentimentil,
tetapi memang itu yang saya rasakan. Berbahagialah politikus yang merasa
dirinya dewa, pengatur kehidupan manusia, namun tidak diketahui rakyat tentang
apa yang dia kerjakan atau pikirkan.
Ya, cukup sepuluh itu saja dulu. Sebagai catatan selama sepuluh hari ini. Saya
tidak tahu, apakah catatan ini pantas dikirimkan ke koran-koran. Catatan
seorang politikus pemula, di tengah kerumunan pikiran dan permasalahan orang
banyak. Dari 20.000 lebih calon anggota DPR-RI, saya hanya satu di antaranya.
Bayangkan kalau catatan 20.000 politisi itu hadir di koran-koran, masihkah kita
membutuhkan kalangan penulis lain. Biar blog ini memberikan pelepasan, dari
beban pikiran seorang politikus. Jalan masih panjang, hadangan terus membayang.
Jakarta, 16 Agustus 2008.
Indra Jaya Piliang, Msi
Pergi ke Rantau untuk Belajar, Kembali ke Ranah Menuju Akar.
http://indrapiliang .com/2008/ 08/15/sepuluh- hari-jadi- politisi/
--~--~------ ---~--~-- --~------ ------~-- -----~--~ ----~ ============
========= ========= ========= ========= ========= ====== UNTUK DIPERHATIKAN: -
Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups. google.com/ group/RantauNet/ web/peraturan- rantaunet - Tulis
Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email
attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi -
Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan
menggunakan reply utk topik/subjek baru ============ ========= =========
========= ========= ========= ====== Berhenti,
kirim email kosong ke: rantaunet-unsubscri [EMAIL PROTECTED] com Daftarkan
email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www. google.com/
accounts/ NewAccount? hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups. google.com/ group/RantauNet/ subscribe ============ =========
========= ========= ========= ========= ====== -~---------- ~----~--- -~----~--
----~---- ~------~- -~---
__._,_.___
Messages in this topic ( 2 )
Reply (via web post)
|
Start a new topic
Messages
| Files
| Photos
| Links
| Database
| Polls
| Calendar
*****************Mailing List BANUA ******************
Untuak subscribe, kirim email kosong ka:
[EMAIL PROTECTED]
Untuak unsubscribe, kirim email kosong ka:
[EMAIL PROTECTED]
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
format to Traditional
Visit Your Group
|
Yahoo! Groups Terms of Use |
Unsubscribe
Visit Your Group
Search Ads
Get new customers.
List your web site
in Yahoo! Search.
Healthy Living
Learn to live life
to the fullest
on Yahoo! Groups.
Y! Messenger
Instant smiles
Share photos while
you IM friends.
.
__,_._,___
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---