Subhanallah, Suatu pengalaman yang sangat didamba-dambakan banyak penduduk negeri ini. Hal ini bukan saja kebanggaan keluarga Irdhan semata, lebih dari itu adalah suatu kebanggaan Masyarakat Sumatera Barat.
Menyaksikan moment peringatan HUT Kemerdekaan di TV saja, sudah bangga rasanya, apalagi saat-saat melihat pasukan Paskibraka. Wassalam Tan Menan - Batam --- On Sun, 8/17/08, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [EMAIL PROTECTED] P A S K I B R A K A > To: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL > PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL > PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL > PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] > Cc: [EMAIL PROTECTED] > Date: Sunday, August 17, 2008, 10:11 PM > > P A S K I B R A K A > > > Oleh : Dr.H.K.Suheimi > > Hari ini, disini di tempat ini di Istana Negara ini. Saya > panjatkan puji Syukur ke hadirat illahi. Atas izin_Nya kami > suami istri di perkenankan mengikuti detik-detik proklamasi > 17 Agustus 1996.Kami bisa hadir di tempat ini adalah > berkat sepucuk surat undangan. Bunyi surat undangan > itu ringkas saja. _Presiden Republik Indonesia > Mengharapkan kehadiran Saudara Suami Istri, pada Upacara > Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan ke 51 Republik > Indonesia. Hari Sabtu tanggal 17 Agustus 1996 pukul > 10.00 WIB dihalaman Istana Merdeka". > > Berbekal surat undangan itulah kami suami istri menghadiri > saat- > saat yang bersejarah itu. Namun karena tinggalnya > jauh dari > Istana, kami terlambat tiba di bandingan dengan para > undangan > lain yang lebih dulu telah menempati tempat dimuka. Kami > kebagian > tempat yang agak di belakang. > > Saya berfikir bagaimana supaya dapat tempat di depan, > karena saya > ingin sekali menyaksikan anak saya IRDHAN yang hari ini > di per > caya mengibarkan bendera. Saya cari akal, dan dengan > berbekal > Handy Cam di tangan kanan dan tustel di tangan kiri saya > menyelu > sup kedalam rombongan wartawan, sehinga saya dapat > ke depan > bersama-sama dengan wartawan foto. Hari ini saya berlagak > seperti > "Mat kodak". Beruntung sekali saya dapat merekam > semua peristiwa > peringatan detik-detik proklamasi ini. > > Betapa terharunya hati ini sewaktu anggota Paski Braka > memasuki > lapangan dan melakukan tugasnya menggerek bendera. Melalui > kamera > handy cam saya intip Irdhan saya ikuti kemana langkahnya > dan saya > rekam setiap gerak geriknya. Disaat dia membentangkan > Bendera. > Namanya di sebut. SMU I di sebut, Padang di sebut dan > Sumatera > Barat di sebut, kemudian nama saya beserta istri di > sebut. Saat > itu pula kamera saya jadi kabur. Kabur karena setetes air > memba > sahinya. Basah karena air mata saya tumpah di kamera > itu. Saya > ngak tahan, tanpa saya sadari air mata ini menetes, > mengalir > membasahi kamera, tangan sayapun bergetar > memegang kamera, > sehingga hasil rekamannya bergetar dan bergoyang. > Getaran rasa > haru ini tak dapat saya tahan. Saya malu dengan > wartawan di > sekitar saya. Dengan sapu tangan saya usap mata ini > dan saya > bersihkan kamera. Namun mata saya tetap kabur karena air > mata itu > tak hendak berhenti. Gengengkah saya..?, entahlah, > tapi Aan, > panggilan irdhan telah mengoncangkan saya. Hati saya > tergetar, > mulut saya berbisik "Terima kasih Tuhan, air mata yang > tumpah ini > adalah ungkapan rasa syukur kami atas nikmat_Mu". > Tidak beranjak > saya dari tempat ini, walaupun tak dapat kursi saya tetap > berdiri > sampai acara usai. Saya abadikan setiap peristiwa. > Sebentar saya > bidikan tustel. Sebentar saya arahkan kamera handy cam. > Bermacam- > macam tingkah manusia yang dapat saya rekam. > > Seusai upacara, dengan setengah berlari kami berdua istri > mencari > Irdhan di Wisma Negara. Saya peluk dia, saya cium > pipinya yang > kiri dan pipinya yang kanan. Ingat ketika dia masih di TK > sebelum > berangkat ke sekolah. "Cium pipi yang kiri. cium pipi > yang kanan, > cium sekali lagi Irdhan menjadi senang". Dia hafal > banyak lagu. > Sering dia mengumandangkan "Oh Ibu dan Ayah selamat > pagi. Kupergi > sekolah sampaikan nanti". "Selamat belajar nak > penuh semangat, > rajinlah selalu tentu kau dapat". "Hormati gurumu > sayangi teman. > Itulah tandanya kau murid budiman". > > "Aan ingin jadi murid budiman" katanya suatu > hari. Hari ini saya > bisikkan ketelinganya "Aan engkau telah jadi > murid budiman, > engkau kebangaan papa nak, Engkau anak negara, engkau anak > indo > nesia". "Karena engkaulah, mama dan papamu > terundang ke Istana, > terima kasih anakku". Saya cium dia sekali > lagi. Dipangilnya > teman-temannya, satu persatu kami di kenalkannya. > Begitu juga > kepada pelatihnya. satu demi satu pelatih ini kami salami > dengan > mengaturkan ribuan terima kasih. Atas bimbingan mereka > Anak-anak > ini berhasil dan sukses. > > Di Istana ini saya merenung, terbayang ketika Aan SMP dia > menemui > saya. "Aan merasa rendah diri di tengah > teman-teman,pa. Karena > lidah Aan tak lurus menyebut huruf "R". Setiap > kali bicara Aan > merasa malu" katanya. Ketika itulah saya > memacu dan memberi > sugesti "Lihatlah" kata saya; sembari > mencontohkan ayah temannya > Ustadz Arwan kasri. Arwan Kasry juga tak lurus menyebut > "R" tapi > beliau ahli berpidato dan tak merasa rendah diri atas > kekurangan > ini. Justru kekurangan ini yang menjadi cambuk untuk lebih > maju". > "Bila kau berkata bisa, kau akan bisa, nak !. > Percayalah pada > dirimu sendiri" bisik saya di telinganya. Tiap > hari dilatihnya > dirinya mengucapkan huruf "R". Akhirnya dia > bisa, rasa rendah > dirinya pun hilang. Justru sekarang dia suka > berciloteh dan > "Malawak". Bekal itu pulalah yang agaknya > mendorong dia sehingga > melalui perjuangan yang berat. Sejak dari seleksi di SMU > 1 Pa > dang. Kemudian berkompetisi diantara siswa SMU se kota > Padang. > Lalu berlanjut ke tingkat SUMBAR. Alhamdulillah dia > lewat. Dan > dia lewat lagi ketika seleksi dari 27 Propinsi dia terpilih > masuk > barisan delapan dan dia mengembangkan dan mengibarkan > bendera di > Istana Keperesidenan. > > Sekali lagi saya persembahkan puji Syukur ke Hadirat_Nya. > Karena > hanya Dialah yang telah mengatur semua ini. Kita hanya > menjalan > kan saja. Dan kepada Aan pun saya suruh sujud syukur. > menyampai > kan rasa terima kasih karena do'anya setiap shalat > tahjud telah > di kabulkan Tuhan. > > Terima kasih Tuhan dan terima kasih semua. Pada PPI, > pada para > pelatih. pada guru-guru, pada jajaran dep. dikbud > dan semua > pihak yang tak dapat saya sebutkan namanya satu persatu. > > Untuk semua itu saya ingin sampaikan sebuah Firman Suci_Nya > dalam > Al_Qur'an surat AN NASR : > > __Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan > Dan Engkau melihat manusia masuk kedalam agama Allah > berbondong- > bondong. > Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah > kepa > da_Nya. Sesunguhnya Dia adalah penerima Tobat". > > Jakarta hari 17 bulan delapan tahun 1996 > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
