Friday, August 15, 2008


Anggota Dewan (Memang) Sontoloyo!



Oleh:  Yayat R. Cipasang, Direktur Eksekutif Institute for Press and Cultural 
Studies (IPCS), Depok, Jawa Barat.



Judul Buku: Parlemen Undercover (Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri 
Indosiasat)
Penulis: Abu Semar
Penyunting dan Kata Pengantar: Akmal Nasery Basral 
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: Pertama, Agustus 2008
Tebal: xvii+251 halaman

 
ANDA
masih ingat kasus anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Max Moein yang
diduga terlibat mesum dengan sekretaris pribadinya, Desi Fridiyanti.

Belakangan
Desi yang mengaku sudah tidak perawan lagi ini dipecat Max. Desi
melalui LBH pembela kaum perempuan meminta pertanggungjawaban anggota
DPR yang sebelumnya lebih dikenal berkarier dalam dunia periklanan ini.

Foto
Max juga beredar di internet tengah memeluk seorang perempuan tanpa
baju. Dalam foto lain, Max tengah tidur pulas "kelelahan" dan di
sampingnya seorang perempuan telentang sambil berpaling ke arah Max.

Untuk
menguji dua foto tersebut, Badan Kehormatan (BK) DPR dengan tujuan
mencari "kebenaran" meminta pendapat ahli telematika Roy Suryo dan
kedua foto panas tersebut diuji di Laboratorium Institut Teknologi
Bandung (ITB).

Hasilnya? Hanya anggota BK DPR yang tahu.

Tapi
daripada Anda meminta anggota BK untuk segera mengumumkan keputusan
final atas perilaku anggota Dewan yang memang masuk kategori brengsek
tersebut, saya sarankan Anda mendingan membaca buku kumpulan cerita
atau sketsa berjudul Parlemen Undercover (Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat 
Negeri Indosiasat).
 
Buku
ini ditulis Abu Semar, sebuah nama yang memang tidak wajar. Anda pasti
sudah menebak bahwa nama tersebut adalah tiruan, palsu alias nama
samaran. 

Memang benar, kendati dalam buku tersebut tidak secara eksplisit disebutkan 
identitasnya.

Kabarnya, penulis buku ini sejatinya adalah anggota DPR dari Fraksi Partai 
Keadilan Sejahtera (PKS). Kebenarannya, wallahu alam bishawab! Hanya penerbit 
buku ini yang tahu.

Membaca buku inside story setebal 251 halaman ini Anda akan disuguhi 33 
perilaku sontoloyo anggota DPR, termasuk urusan syahwat dan berahi anggota 
Dewan.

Dalam tulisan berjudul "Sekretaris Selembar Benang" pembaca akan paham empat 
kriteria sekretaris yang dipilih anggota DPR.

Pertama, sekretaris senior. Sekretaris ini memiliki profesionalitas dan 
memiliki jam terbang yang tinggi.

Kedua, sekretaris atas hasil persaudaraan (KKN). Sang sekretaris berasal dari 
keluarga atau kerabat. Ketiga, sekretaris junior. 

Sekretaris kategori ini pengalaman tidak diutamakan yang penting kegesitannya.

Nah yang keempat,
adalah sekretaris gitar spanyol atau apalah namanya. Sekretaris inilah
yang melahirkan korban-korban seperti kasus yang menimpa Desi. 

Apalagi
anggota Dewan ini memiliki kewenangan untuk mengangkat dan
memberhentikan sekretaris pribadi kapanpun dan sesukanya. Bila sang
sekretaris kinerjanya buruk atau tidak memuaskan dalam arti positif dan
negatif, maka anggota Dewan dengan sangat mudah dapat memecatnya. Easy come, 
easy go!

Masih dalam tulisan berjudul "Sekretaris Selembar Benang" diceritakan pula 
seorang office boy
(OB) bernama Yoben—tentu nama samaran—menemukan karet yang lengket
menempel dalam tong sampah seorang anggota Dewan. Karet tersebut
ternyata sebuah kondom bekas pakai!
 
Selain masalah syahwat,
bagian cerita yang lucu juga dikemas sangat menggelitik. Dalam tulisan
berjudul "Toilet Kafir" diceritakan perilaku lucu sekaligus menggelikan
seorang anggota DPR bernama Kiai Badruzzaman dari pemilihan Jawa Timur
(kemungkinan kuat dari PKB) dan anggota Komisi Energi.
 
Sang
kiai digambarkan dari kampung, ceplas-ceplos, lugu dan tentu saja doyan
humor khas kiai NU. Suatu hari digelar rapat informal dengan lembaga
migas di Hotel Muliana (Hotel Mulia).

Di tengah-tengah rapat, kiai tersebut kebelet kencing karena AC (air 
conditioner) yang sangat dingin. Ia pun menuju rest room. Resleting pun segera 
dibuka karena urine sudah numpuk hingga ke ujung alat vitalnya.

Namun
setelah kencing, sang kiai kesulitan mencari air pembasuh "burung"-nya.
Ia kemudian bergeser ke toilet sebelahnya untuk berikhtiar mencari air
dengan menekan apapun yang menonjol. Tetap saja air tak ada yang
keluar. Begitu terus berulang dan bergeser hingga ke toliet yang paling
ujung, tetap nihil.

Saking kesalnya sang kiai berteriak sangat keras. "Dasar toilet kafir!" sambil 
memasukkan burungnya ke dalam celana.

Tentu saja teriakan sang kiai tersebut membuat kaget orang lain yang berada di 
rest room. Mereka akhirnya paham apa yang menjadi sumber kejengkelan sang kiai 
udik tersebut.

Rupanya
sang kiai tersebut tidak tahu bahwa toilet di hotel berbintang itu
bekerja dengan sistem sensor. Artinya, toilet baru mengeluarkan air
setelah pemakainya menjauh.

Dan benar saja, saat kiai tersebut
menjauh, toilet menggelontorkan air dengan suara gemuruh. Pak kiai
menolah dan kembali berteriak kesal, "Masya Allah, ana udah dia baru
kerluar, bener-bener kafir!"
Tentu saja gerutuan sang kiai tersebut membuat orang-orang di sekitarnya 
tersenyum simpul.

Beberapa
isu dalam buku ini kebanyakan sudah menjadi konsumsi publik dan menjadi
laporan utama di media massa. Tulisan berjudul "Peneliti Kebal"
misalnya menceritakan tentang Laboratorium Namru di Jalan Percetakan
Negara, Jakarta Pusat, yang mengundang kontroversi.

Namun Namru
dalam buku ini diplesetkan menjadi Maritime and Navigation Research
Unit (Manru). Sebuah lembaga riset milik Angkatan Laut Amerika Serikat
yang penelitinya memiliki kekebalan diplomatik dan tak bisa dijamah.

Cerita
lain di balik isu mutakhir yang menjadi konsumsi publik tetapi tidak
terungkap di media massa juga muncul secara segar dalam tulisan "Calon
Independen", "Interpelasi", "Sim Salabim Air Jadilah Minyak", "Era
Keterbukaan (Dan Buka-bukaan)" serta "Nuklir No, Jalan-jalan Yes". 
Menariknya,
sang pengarang buku tidak hanya menyamarkan nama-nama pelaku tetapi
juga dengan cerdas dan menggelitik memplesetkan nama-nama lembaga dan
produk hukum di DPR.

Misalnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
diplesetkan menjadi Badan Pembasmi Suap Menyuap (BPSM), RUU Anti
Pornografi dan Pornoaksi menjadi Rencana Undang-undang Anti Pembeberan
Aurat dan Pembeberan Syahwat (RUU APAPS), Kementerian Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) menjadi Badan Bisnis Negara Indosiasat (BBNI), atau Badan
Kehormatan DPR menjadi Majelis Pertimbangan Martabat.

Sebuah
buku yang enak dibaca, lancar, mengalir dan tentu saja renyah. Saya
jamin Anda akan tertawa sendiri saat membaca buku ini.

Penyunting Akmal Nasery Basral yang juga wartawan majalah Tempo sangat besar 
"jasanya" sehingga tulisan ini menjadi "enak dibaca dan perlu" (seperti tag 
line Tempo), termasuk kecerdikannya mencari istilah-itilah asosiatif untuk 
lembaga-lembaga resmi pemerintah dan DPR.

Buku
yang layak dibaca oleh anggota DPR untuk berkaca dan menertawakan diri
sendiri. Layak dicermati anggota LSM dan pengamat kebijakan publik
untuk menilai dan mengevalusi kinerja Dewan. Juga, patut dibaca warga
masyarakat untuk hati-hati dalam memilih wakilnya di Parlemen menjelang
Pemilu 2009.

Penerbitan buku ini sangat aktual dan tepat di saat
anggota DPR diterpa badai krisis moral mulai dari masalah pelecehan
seksual, makelar kasus (markus), suap dana aliran BI Rp 31,5 miliar dan
suap pengalihan hutan lindung di Kabupaten Bintan.[]

 

--- On Wed, 8/20/08, ET Hadi Saputra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ET Hadi Saputra <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Tambah Anggota RN Ciek
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 20, 2008, 11:46 AM




 
 






Alhamdulillah, batambah banyak urang awak nan masih diberi
kesempatan memperjuangkan aspirasi masyarakat pada umumnya dan masyarakat
minang pada khususnya. 

Selamat berjuang, doa sukses. 

Wassalam 

ET Hadi Saputra Katik Sati 35-8 

Di komplek Kompas Ciputat   

   



From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of J.R Wantania,S.Sos

Sent: 18 Agustus 2008 9:21

To: [email protected]

Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Tambah Anggota RN Ciek 



   



Kalo boleh saya tebak HARRIS
JUMADI anggota DPR Pekanbaru dari Fraksi PKS ya..

wah lagi cari jalan untuk menuju DPD ya... 



Pada 17 Agustus 2008 09:54, Madahar (madahar) <[EMAIL PROTECTED]> menulis: 



Assalamu'alaikum ww,

Tamudo, mintak tolong ciek ditambahan adiak wak di anggota milis RN

yaitu HARRIS JUMADI dengan id : [EMAIL PROTECTED]



Tarimo kasi Tamudo / Rang Dapua ateh bantuannyo.



Wassalamu'alaikum ww,

Batuduang Ameh (40)

"4 Rancak 5 Lamak Bana"



 










 






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke