Assalamu'alaikum wr.wb.

Wacana saketek :
Manuruik survai Bank Dunia, tahun 2030 Indonesia akan menjadi salah
satu negara yang punya perekonomian kuat di dunia. Seiring dengan itu,
embel-embel pasar global dimana membuat orang asing juga bebas bekerja
dan berusaha di Indonesia.
Kalau kita membayangkan tahun 2030, tentu kita senang mendengar
Indonesia akan menjadi salah satu macan ekonomi di dunia. Tapi kalau
kita lihat kebelakang, dengan mahalnya pendidikan, banyaknya
pengangguran, dan berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini, sudah
siapkah Indonesia dengan SDA nya yang kaya dan SDM nya yang banyak
menjadi tuan di negara sendiri pada tahun 2030 tersebut?
Jangan-jangan tahun 2030 Indonesia memang menjadi salah satu negara
yang perekonomian nya kuat, tapi semua lini dikuasai dan dikelola oleh
orang asing.
SDM Indonesia hanya bisa menjadi buruh di negaranya sendiri.
Karenanya hentikan ketergantungan pada investor asing atau PMA.
Kejarlah investor pribumi..jangan salah..di Sumbar yang menguasai
perekonomian di semua bidang adalah etnis mata sipit. Contoh
real...keripik balado yang dibanggakan jadi oleh-oleh dari ranah
Minang yang merajai adalah etnis mata sipit.
Belum lagi pasar eksport untuk rempah-rempah seperti kayu manis, pala, dll.
Idealnya kita perantau berinisiatif misal : ada beberapa orang
perantau dari suatu nagari...membuat suatu bendera perusahaan minimal
berbentuk CV di nagarinya. Lalu dengan CV tersebut, dirintis bisnis
perdagangan dan investasi sesuai dengan potensi yang bisa dikembangkan
di nagarinya tersebut. Untuk pasar optimalkan jaringan perantau yang
lain..bisa juga dengan membuat rumah dagang potensi nagarinya di
tempat mereka merantau yang menjadi jembatan dengan pasar/pembeli.
Bisa juga dengan membuat website yang interaktif, sehingga pembeli
bisa juga belanja online.
Kalau kita bicara PMA, yang ada orang asing menanamkan modal di suatu
negara, tujuannya untuk mencari untung sebesar-besarnya.
Beberapa barometer yang dipakai PMA untuk mau berinvestasi adalah :
1. Kepastian politik
2. Kesiapan infrastruktur
3. Kepastian hukum
4. Tenaga kerja murah
5. Kemudahan birokrasi
Disamping itu dengan adanya PMA-PMA di suatu daerah, yang ada adalah
bom waktu yang menunggu meledak. Karena PMA juga akan gampang
memindahkan investasinya kalau dilihat sudah tidak kondusif atau tidak
menguntungkan lagi.
Ciek lai yang harus kito waspadai :

Cara Kapitalis Merampas Negara

Oleh A. Jafar M. Sidik

Jakarta (ANTARA News) - "Siapa pun yang ingin mengetahui apa yang
sesungguhnya terjadi di dunia, mesti segera membaca buku ini."

Itulah komentar majalah Rolling Stone tentang buku "The Shock
Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism" karangan wartawati Kanada,
Naomi Klein, yang diterbitkan Penguin Books, London, Inggris (2007).

Buku setebal 558 halaman yang struktur kisahnya rapi dan dinilai koran
"The Observer" sebagai buah dari riset mahasempurna ini menyingkap
muslihat kaum kapitalis yang secara menyeramkan menggasak aset negara,
tak peduli jutaan orang mati dan jatuh melarat karenanya.

Para kapitalis ini mengarsiteki sekaligus mensponsori kudeta-kudeta
berdarah di seluruh dunia, swastanisasi aset dan sistem pelayanan
publik, krisis moneter, merger dan akuisisi perusahaan pasca krisis,
liberalisasi perdagangan, invasi Irak, bahkan gerakan demokratisasi.

Selain mewujud dalam perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs),
mereka mengotaki Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia,
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), bahkan organisasi-organisasi
bantuan internasional seperti Badan Bantuan Pembangunan Internasional
AS (USAID).

Mereka melekat pada lembaga-lembaga "think tank" terkenal seperti
American Enterprise Institute, Heritage Foundation dan Cato Institute,
sementara ruhnya bersemayam dalam sejumlah universitas Barat yang
menjadi tempat berkuliah para teknokrat negara berkembang yang belajar
karena biaya asing.

Kaum kapitalis ini tak peduli sebuah rezim zalim atau tidak,
demokratis atau tidak, korup atau tidak, yang penting menguntungkan
mereka, persis pepatah mantan pemimpin RRC Deng Xioping, "Tak penting
kucing itu putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus."

Kaum yang disebut Naomi neoliberal ini sangat anti kepemilikan publik
dan berupaya membuat pemerintahan di banyak negara lumpuh sehingga
merekalah yang sesungguhnya berkuasa atas negara dan sistem transaksi
sosial, ekonomi dan politik antar-bangsa.

"Saya ingin postur pemerintah dikerdilkan sampai saya bisa menyeretnya
ke kamar mandi untuk kemudian membenamkannya dalam bak mandi," kata
Grover Norquist, pelobi kepentingan bisnis MNCs terkenal di AS
sekaligus pembela fanatik neoliberal.

Untuk mengerdilkan pemerintah, mereka mempunyai modus, yaitu
mengacaubalaukan negara dengan menciptakan situasi krisis sampai
kesadaran nasional negara itu hilang, terutama berkaitan dengan konsep
dasar pengelolaan ekonominya.

Negara itu lalu dipaksa menelan resep ekonomi propasar dalam dosis
tinggi nan beruntun, tak peduli rakyatnya bakal sengsara. Hal
terpenting, negara itu menjadi amat tergantung pada modal
asing(kapitalis) sehingga setiap saat bisa dieksploitasi oleh kaum
kapitalis itu.

Metode membuat syok nasional sehingga negara tak sadar telah dikuasai
kapitalis ini disebut Naomi Klein sebagai "Shock Doctrine."

Naomi menganalogikan terapi syok ekonomi ini dengan doktrin militer AS
"kejutkan dan takutkan" (shock and awe) dan metode cuci otak ala dinas
intelijen AS (CIA), "kubark counter intelligence interrogation."

Lewat "kubark", CIA membunuh karakter manusia dengan teknik interogasi
mengerikan sehingga memori manusia hilang untuk kemudian diganti
karakter baru jadi-jadian, seperti dalam kisah trilogi "Bourne" yang
dibintangi aktor Hollywood, Matt Damon.

Dalam format berbeda, para ekonom neoliberal mengaplikasikan metode
dekarakterisasi ala CIA ini ke tingkat negara dengan membuat negara
berada dalam suasana krisis, sehingga gampang dipaksa untuk menelan
resep kebijakan ekonomi prokapitalis yang formula dasarnya adalah
liberalisasi pasar, penghapusan subsidi, dan swastanisasi aset publik.

Penggagas terapi syok itu adalah ekonom Universitas Chicago, Milton
Friedman, seorang penentang intervensi negara dalam pengelolaan
ekonomi yang dulu disarankan ekonom besar pasca-Perang Dunia II, John
Maynard Keynes.

Friedman percaya bahwa perekonomian harus diserahkan sepenuhnya pada
pasar dan ia ingin dunia mempraktikannya tanpa kecuali.

Terinspirasi sukses Mafia Berkeley di Indonesia akhir 1960-an dan
junta militer Brazil pimpinan Castello Branco yang mengakhiri ekonomi
kerakyatannya, Presiden Joao Gullart pada 1964, Friedman membidik
Chile sebagai kelinci percobaan pertamanya.

Chile awal 1970-an diperintah Salvador Allende yang mengusung sistem
ekonomi sosialis yang tak mengharamkan kepemilikan swasta, namun
mengharuskan negara melindungi kepentingan publik. Ekonomi sosialis
Chile berbeda dari komunisme, seperti diklaim AS, bahkan mirip azas
demokrasi ekonominya Mohammad Hatta di Indonesia.

Karena ingin menasionalisasi perusahaan asing, maka sosialisme Allende
itu lalu dipandang korporasi-korporasi multinasional asal AS sebagai
ancaman. Salah satu yang terancam, American Telephone & Telegraph
(AT&T), mendesak pemerintah AS untuk mencungkil Allende dari
kekuasaannya.

Sebelum mendongkel Allende, AS mendidik mahasiswa-mahasiswa Chile di
Universitas Chicago di bawah asuhan Milton Friedman dengan tujuan
mengimbangi popularitas para ekonom sosialis pimpinan Pedro Vuskovic
Bravo yang menjadi arsitek kebijakan ekonomi Allende.

Untuk mengaburkan intervensi, pemerintah AS bersembunyi dibalik Ford
Foundation, yang juga mensponsori para mahasiswa Indonesia berkuliah
di Universitas California, Berkeley, pada 1956 hingga menjadi
teknokrat Orde Baru.

Para mahasiswa Chile yang dibiasakan mempelajari ekonomi neoliberal
ini disiapkan sebagai teknokrat pasca Allende.

Pada 1973, Allende akhirnya digulingkan oleh Jenderal Augusto Pinochet
dukungan CIA.

Selagi Pinochet menebarkan teror hingga rakyat Chile syok dalam
ketakutan, para ekonom Friedmanis menyuntikan resep
propasar(prokapitalis) dalam dosis tinggi hingga Chile terperangkap
utang dan kekuasaan asing.

Paparan Chile ini adalah awal cerita horor pasar bebas yang menjadi
isi utama buku yang disebut Dow Jones sebagai salah satu literatur
ekonomi terbaik abad 21 ini.

Horor berlangsung hingga era pemerintahan George Bush yang disebut
sebagai puncak kebrutalan pasar bebas hingga dunia pun muak
sampai-sampai Amerika Latin alergi dengan apa pun yang berbau
Friedmanis seperti IMF.

"Tuan-tuan, kami ini berdaulat. Kami ingin melunasi utang kami, tapi
maaf-maaf saja jika kami harus membuat kesepakatan lagi dengan IMF,"
kata Presiden Argentina, Nestor Kirchner.

Sambil membopong diktator dan rezim sokongannya, kaum kapitalis
mensponsori para ekonom didikan kampus-kampus neoliberal untuk
menyiapkan karpet merah bagi kapitalisme dengan menyusun kebijakan
ekonomi reformis propasar, satu eufemisme dari kebijakan prokapitalis.

Afrika Selatan pasca-Nelson Mandela, Rusia di bawah Boris Yeltsin, dan
Polandia pasca-komunis adalah beberapa contoh.

Negara-negara yang semula khidmat mendengarkan rekomendasi para ekonom
reformis bimbingan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) itu
kemudian sadar telah dibohongi para ekonom dan birokrat bimbingan
Barat yang ternyata para calo swastanisasi negara.

Para penyusun kebijakan reformasi ekonomi tersebut memang kerap
berperan menjadi mulut korporasi asing, bahkan konsep kebijakan
swastanisasi Bolivia semasa Presiden Gonzalo Sanchez de Lozada disusun
para analis keuangan perusahaan asing, seperti Salomon Brothers dan
ExxonMobil.

Nelson Mandela adalah salah satu yang kecewa karena cita-cita
memakmurkan warga kulit hitam, seperti dipesankan Piagam Perdamaian
tak tercapai, justru karena orang dekatnya, Tabo Mbeki, menyusun
kebijakan pro-kapitalis sehingga mayoritas rakyat Afsel terpinggirkan.

Polandia juga menyesal mematuhi nasihat pialang George Soros dan
ekonom Jeffrey Sachs, seorang Friedmanis dari Universitas Harvard,
sehingga aset-aset strategis Polandia jatuh ke tangan asing, justru
ketika Partai Solidaritas memerintah negeri itu.

Demikian pula Rusia, yang kehilangan aset-aset strategisnya setelah
ekonom reformis Yegor Gaidar, seorang Friedmanis di bawah bimbingan
IMF, mempromosikan kebijakan propasar. Vladimir Putin kemudian
mengoreksi kesalahan itu, dan mengakhiri hubungan mesra Rusia dengan
IMF.

Buku tersebut juga menyebut krisis moneter Asia 1997 sebagai hasil
desain kaum kapitalis karena mereka ingin menguasai aset-aset
strategis di kawasan itu, mencaplok aset-aset perusahaan nasional Asia
yang tumbuh meraksasa, dan hendak menggulingkan rezim-rezim yang
berubah kritis, seperti Soeharto di Indonesia.

Menurut Naomi, di masa tuanya, Soeharto yang pro-Barat itu bosan
diperah korporasi asing, sehingga ia "berkhianat" dengan membagikan
aset nasional kepada kroninya yang berakibat korporasi asing itu
berang, lalu merancang pembalasan dengan membesarkan skala krisis
moneter Asia.

Ketika Indonesia dan Asia akhirnya lunglai karena krisis moneter, IMF
datang menawarkan obat dengan syarat liberalisasi pasar, sebuah
formula klasik ala Friedman. Semua Asia menerima resep itu, hanya
Malaysia yang menampik formula rente itu.

Hanya dalam 20 bulan, perusahaan-perusahaan multinasional asing
berhasil menguasai perekonomian Indonesia, Thailand, Korea Selatan,
Filipina dan juga Malaysia lewat 186 merger dana kuisisi
perusahaan-perusahaan besar di negara-negara ini.

"Ini adalah pengalihan aset dari domestik ke asing terbesar dalam
limapuluh tahun terakhir," kata ekonom Robert Wade.

Tak puas di situ, para kapitalis merancang serangan ke Irak setelah
Presiden Saddam Hussein memberi keleluasaan pada Rusia menambang
minyak di Irak.

Perusahaan-perusahaan minyak seperti Shell, Halliburton, BP dan
ExxonMobil lalu mengipasi pemerintah AS dan Inggris untuk mencaplok
Irak.

Namun, saat Irak sulit digenggam karena masalah terlalu kompleks,
negeri itu disulap menjadi lahan bisnis keamanan sehingga para
pedagang senjata, konsultan keamanan perusahaan di wilayah krisis,
tentara bayaran dan para spesialis teknologi keamanan mendadak
bergelimang uang.

Kemudian, saat kaum kapitalis itu membutuhkan relaksasi setelah penat
berburu laba, maka sejumlah lokasi dibidik menjadi situs wisata
eksotis, diantaranya Srilangka.

Namun, para nelayan miskin yang mendiami pantai-pantai indah Srilangka
tak mau hengkang sampai tsunami menghantam Asia bagian Selatan pada
2004.

Bertopengkan bantuan rekonstruksi pascabencana dan bergerak dalam
kerudung USAID, para kapitalis menyandera pemerintah Srilangka, agar
"menukarkan" pantai indah Srilangka dengan bantuan tsunami. Situasi
serupa berlaku di Thailand dan New Orleans pasca-badai Katrina.

Intinya, kaum kapitalis telah membisniskan perang, teror, anarki,
situasi krisis dan bencana alam. Naomi Klein menyebutnya, "kapitalisme
bencana". (*)

source
http://www.antara.co.id/arc/2008/8/6/cara-kapitalis-merampas-negara/


Hormat saya

Muhammad Syahreza

HP : 0811 193 646 / 0817 169 015

E-mail : [EMAIL PROTECTED]

Blog bisnis : http://ohiofreshyoghurt.multiply.com
Yoghurt segar rasa buah serasa es krim

Blog pribadi : http://muhammadsyahreza.wordpress.com

Setiap warga negara memiliki hak & kewajiban utk bela negara, jangan
tanya apa yg Indonesia sdh berikan pd kita, tapi tanya apa yg kita sdh
lakukan utk membuat Indonesia lebih baik?

Setiap pengusaha
sekecil apapun kita
semuda apapun kita
dapat membuat Indonesia menjadi lebih baik!

Mulailah dari diri kita sendiri, jika setiap kita menjadi lebih baik,
maka Indonesia pasti menjadi lebih baik!

Kunjungi Sumbar online di :

www.west-sumatra.com
www.mentawaiislands.com
www.newsikuaiisland.com
www.visitminangkabau.com
www.aloitaresort.com/diving
www.cimbuak.net

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke