Warga Vila Cinere Mas yang budiman.
Tulisan di bawah ini saya kopi dari harian "Sinar Harapan"
tanggal 23 Agustus 2008.
Suatu kebanggaan tersendiri, karena Benny Mamoto adalah
anak didik saya, di Akabri Bagian Kepolisian di Sukabumi.
Benny, baik nama maupun tampang, sah Manado-nya!
Tapi jangan ajak dia bicara bahasa Manado, mendingan ajak
dia bicara bahasa Jawa halus.
Benny kelahiran Ngadiredjo Magelang.
Bapak Manado, ibu Jawa.
Meninggalkan Magelang, ya karena masuk Akabri Pol.
Kami sekeluarga akrab dengan keluarga Benny.
Selamat membaca. Wass, Jacky M.
Promosi Doktor Kombes Benny Mamoto
Ungkap Jaringan Teroris Lewat Budaya
Jakarta - Pendekatan kekerasan baik fisik maupun psikis
terhadap para pelaku tindak pidana terorisme ternyata
bisa menjadi kontraproduktif dan tidak efektif dalam
upaya mengungkap jaringan pelaku tindak pidana terorisme.
Kekuatan komunikasi melalui budaya, diyakini sangat
berperan penting mambantu Polri dalam membangun kerjasama
dengan para pelaku terorisme (yang sudah ditangkap) agar
mau membuka jaring pergerakan bawah tanah organisasi teror.
Demikianlah pokok dari sidang promosi doktor, dengan promo-
vendus Komisaris Besar Polisi Benny Jozua Mamoto, dengan
judul desertasi “Penanganan Polri terhadap Organ Teror
dalam Al Jamaah Al Islamiyah”, di Gedung Balai Sidang,
Kampus UI Depok, Sabtu (23/8) pagi ini.
“Mereka (anggota teroris) yang pada awalnya menutup diri
akhirnya mau membantu penyelidikan pengungkapan kasus-kasus
yang kita tangani,” kata Benny Mamoto dihadapan penguji yang
terdiri dari Prof. Dr.Awaloedin Djamin, Prof.Drs.Koesparmo
Irsan, SH,MM,MBA., Prof.Dr.Burhan Magenda, Prof. Dr.Indriyanto
Seno Adji,SH,MH.,
dengan promotor Prof.Dr.Tubagus Ronny Nitibaskara, dan copromotor
Prof.Mardjono Reksodiputro,SH,MA., dan Prof.Dr.Sarlito W.Sarwono.
Terungkap dalam pertanyaan dan jawab antara penguji dan Benny
Mamoto, yang dinyatakan secara sah memperoleh gelar doktor dengan
hasil memuaskan, bahwa teori dalam memburu dan mengungkap
jaringan terorisme di Indonesia saat ini lebih mengedepankan upaya
pendekatan budaya maupun kekeluargaan.
Tidak seperti penanganan terorisme sebelumnya yang mentargetkan
Nurdin M.Top dan Dr.Azhari sebagai buronan utama, Polri mengubah
polanya dengan memburu Nurdin sebagai target, namun menjaring
siapa pun yang terlibat dalam gerakan bawah tanah terorisme dengan
mengadakan pendekatan kekeluargaan dan sosial budaya.
“Pendekatan kemasyarakatan,
jamaah bersama para pelaku teroris
ternyata sedikit demi sedikit membantu kinerja Polri
mengungkap jaringan terorisme.
Jangan sekali-sekali memeriksa pelaku teroris dengan menghina
keyakinannya,” jelas Benny, terhadap pertanyaan para penguji.
Pada kesempatan itu, dia mengungkap dan mengakui bahwa gerakan
terorisme memang masih diyakini mengadakan gerakan-gerakan di
wilayah Indonesia.
Saat ini, kondisi pengamatan intelijen terhadap gerakan-gerakan
tersebut sulit dilakukan mengingat rekrutmen yang dilakukan oleh
organisasi-organisasi teror tersebut sangat ketat, sehingga
sangat sulit menyusupkan agen ke dalamnya.
Kesadaran inilah menurut Benny yang membuat Polri mengembangkan
pendekatan kekeluargaan dan sosial budaya terhadap para
pelaku teroris.
Benny Mamoto yang terlibat langsung dalam setiap tahapan
penanganan kasus-kasus terorisme di Indonesia yang juga mempunyai
pengalaman melakukan interogasi terhadap pelaku terorisme
di beberapa negara memiliki penilaian atas teknis-teknis
penanganan yang dijabarkan dalam disertasinya.
Dari kerjasama dengan beberapa negara dalam melakukan interogasi
terhadap pelaku-pelaku terorisme, selain Indonesia, Malaysia dinilai
memiliki pendekatan yang cukup baik dalam menginterogasi dan
mengungkap jaringan-jaringan terorisme khususnya yang bergerak
di wilayah asia tenggara.
Dalam satu kesempatan kunjungannya di pusat rehabilitasi
pelaku-pelaku terorisme di Kemunting, Malaysia Utara,
Benny mengaku memiliki pengalaman bahwa pendekatan budaya melayu
serta konsultasi pada pakar-pakar agama yang diterapkan di pusat
rehabilitasi tersebut mampu membantu kinerja pemerintah dalam
mengelimitir gerakan-gerakan terorisme di negaranya.
Lain halnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh Afganistan
dalam menginterogasi pelaku-pelaku terorisme dengan cara meutup mata,
yang dinilai tidak efektif.
“Dengan menutup mata, bahasa tubuh, gerak gerik mata, maka akan
mempersulit mengetahui mereka jujur atau tidak,” ujarnya.
(rafael sebayang)
Copyright © Sinar Harapan 2008
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---