Ini adalah sebuah cerita tentang sebuah negeri terpencil di sebuah tempat di 
sumatera tengah.  Nagari ini nyaris terisolasi dari daerah luar.  Jalan 
satu-satunya yang bisa dilewati mobil hanyalah jalan tanah selebar dua meter. 
Itu pun ketika musim kering, sebab jalan ini melewati sebuah sungai kecil yang 
belum berjembatan.   Penduduknya juga tidak terlalu banyak, sekitar 1100 orang. 
 Bagi mereka, sekolah adalah sebuah kesia-siaan.  Mereka pernah kecewa pada 
sebuah konsep yang mereka kenal dengan sekolah.  Di tahun 1980-an, banyak 
bujang dan gadih desa ini bersekolah ke kota kabupaten sampai tingkat SMA.  
Tiga orang diantaranya hamil sebelum menikah.  Hanya satu yang meneruskan ke 
perguruan tinggi, masuk IKIP di Padang jurusan PMP.  Dua lulusan SPG ada yang 
diangkat menjadi guru PNS, mengabdikan diri mengajar di kampung.  Yang lain 
masih menjadi honorer, dengan janji pada 2009 sudah diangkat menjadi PNS.  
Sisanya yang bersekolah di STM dan SMA, kembali ke
 kampung menekuni profesi leluhur mereka bertani.  Akhirnya di alam bawah sadar 
masyarakat nagari ini, merasa sekolah menjadi tidak penting.  Toh semuanya 
berujung menjadi petani juga.  Hasil panen orang bersekolah juga tidak lebih 
besar daripada petani lulusan SD belaka.  Yang penting bisa menulis dan 
membaca.  O..iya, mengaji juga.

Isolasi negeri ini sudah diketahui oleh hampir seluruh masyarakat sumatera 
tengah.  Nagari ini sudah berubah menjadi sebuah bahan baku sebuah industri 
pencitraan.  Pada rangkaian pemilu orde baru, menjadi daerah favorit sebuah 
partai untuk menyampaikan janji-janjinya.  Lima tahun sekali, pasti akan 
terulang janji untuk membangun jembatan. Awalnya masyarakat berharap banyak.  
Namun lama-lama mereka sadar, ini hanyalah sekadar pembaruan janji.  Setiap 
pejabat yang baru menjabat, biasanya akan berkunjung ke nagari ini.  Mulai dari 
acara bakaua, panen besar atau pelantikan kepala desa.  Lalu wartawan akan 
jepret sana, jepret sini.  Pejabat akan dibilang peduli masyarakat kecil.  Mau 
menyingsingkan kaki celana ketika melewati sungai kecil, tempat jembatan tak 
pernah berdiri.

Di era reformasi juga sama saja.  Janji masih selalu diperbarui.  Nagari ini 
menjadi semakin penting sebagai sebuah bahan baku utama industri pencitraan.  
Akhirnya masyarakat menjadi sadar, berharap memiliki posisi tawar penting 
hanyalah mimpi.  Mereka tidak punya perantau dan orang gede yang mempu bertanya 
ke Bupati dan Gubernur tentang jembatan di kampung mereka.  Berharap pada 
hitung-hitungan kotak suara, jelas salah.  Di tengah kapitalisasi voters saat 
ini, apalah artinya 600 suara sah dari nagari ini.  Sadar-sesadarnya mereka 
berubah.  Mereka berjanji akan menjadi bahan baku yang baik bagi sebuah 
industri pencitraan.  Total dan all out dalam mepersiapkan diri menjadi bahan 
baku representasi wong cilik.  Semua tokoh partai mereka terima.  Calon anggota 
DPD juga.  Atau hanya sekadar orang yang ingin popular belaka.  Semua mereka 
sediakan.  Mulai dari yel-yel puja-puji pda seorang tokoh.  Sampai tangisan 
berderai air mata, cerita tentang kemiskinan dan
 keterisolasian mereka. Cerita dan janji jembatan sudah mereka kubur jauh-jauh. 
 Yang tertinggal hanyalah selipan amplop di akhir acara.  Ditambah sesekali 
makan bajamba, selepas sapi dan kambing sumbangan dibantai bersama-sama.


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke