Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Dari perspektif politik, sesungguhnya adalah wajar-wajar saja jika SBY dan JK
mengangkat kasus LNG Tangguh di Papua ini. Bukan saja karena harga jualnya
begitu menyolok murahnya dibandingkan dengan harga pasar dunia sehingga
berpotensi merugikan Negara, tetapi juga karena keterlibatan pribadi TK --
suami Presiden Megawati, seorang swasta yang bukan pejabat negara -- dalam
'deal-deal' dengan China. Lagi pula, menjelang Pemilu dan Pilpres kan
wajar-wajar saja kalau kompetitor mengangkat kelemahan lawannya. Megawati
sendiri kan juga sudah melancarkan serangan demikian kepada SBY dan JK. Kalau
tak mau dikritik lawan politik, jangan berpolitik. bak kata pepatah: "kalau
takut dilamun ombak, jangan berumah di tepi pantai.".
Secara pribadi saya berpendapat bahwa 'saling telanjang menelanjangi'
di antara para politisi ada manfaatnya bagi Rakyat banyak. Kan itu yang
merupakan dobrakan KPK sehingga kita tahu persis betapa busuknya 'Mafia
Senayan' selama ini.
Yang 'missing' dari semua wacana ini adalah tenggang rasa terhadap hati
masyarakat Papua. Lapangan Tangguh itu letaknya di Papua, seperti juga PT
Freeport. Sesuai dengan UU Nomor 21/2001 mereka telah diberi otonomi khusus,
seperti juga dengan Acheh. Mengapa tidak tampil hal itu dalam pembicaraan
masalah LNG Tangguh ini ? Mengapa mereka tak diajak bicara ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
Detik.com, Senin, 01/09/2008 08:15 WIB
PDIP Jangan Kebakaran Jenggot Soal Isu LNG Tangguh
Laurencius Simanjuntak - detikNews
Jakarta - PDIP menganggap isu lemahnya kontrak LNG tangguh saat era
kepemimpinan Megawati adalah cara lawan-lawan politiknya untuk mendeskreditkan
putri proklamator RI tersebut. Namun demikian, PDIP diminta jangan dulu
kebakaran jenggot karena masalah tersebut.
"Harus dijelaskan dulu dong, kenapa dianggap mendiskreditkan, jangan kebakaran
jenggot dulu," ungkap pengamat politik Arbi Sanit saat dihubungi detikcom,
Senin (1/9/2008).
Menurut Arbi, PDIP seharusnya tidak terlalu khawatir isu tersebut dimanfaatkan
oleh lawan-lawan politik Mega.
"Tidak perlu khawatir dianggap merugikan rakyat, SBY juga telah merugikan
rakyat dengan kebijakan kenaikan harga BBM-nya. Jadi jangan menganggap lebih
baik dari yang lain," ungkap politisi yang kerap menguncir rambutnya ini.
Dosen UI ini juga meminta permasalahan ini tidak dijadikan bola liar oleh
partai-partai politik menjelang Pemilu 2009.
"Hendaknya ini dikembalikan pada kepentingan rakyat, apa yang harus dilakukan
untuk kepentingan rakyat," tutur Arbi.
"Harus ditunjukan sikap negarawan, jangan jadi 1000 persen politisi (untuk
kepentingan politik) terus," tandasnya.(lrn/ndr)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---