Sanak di Palanta,
         pamatang matang hari, sambia manunggu babuko..
(carito..di ambiak dari palanta rumah teduh)

wassallam
AZ DtRA (37+)/baliakpapan

_______________________

Kampung Hilang

Mei 14, 2008 oleh rumahteduh

cerpen Zelfeni Wimra

Saya heran. Hari raya masih lama. Ada sekitar tiga minggu. Persediaan
ternak pedaging sudah melebihi perkiraan kebutuhan masyarakat. Tapi,
ternyata masih kurang. Saya dan beberapa toke ternak yang lain
terpaksa menambah sembelihan.

“Kamu masih baru berdagang di sini. Wajar kamu tidak percaya. Kami
yang sudah lama berjualan di sini sudah biasa menghadapi ini. Tiap
tahunnya memang begini,” tuan Kadir, toke tua, yang amat kami segani
mengetahui keheranan saya.

Ia tarik lengan saya seraya membisikkan sesuatu: ”orang-orang Kampung
Hilang juga ikut membeli daging kita,”

“Kampung Hilang?”

“Iya. Tempatnya tidak jauh dari sini. Konon, berbatasan dengan ujung
kampung sebelah pasar ini. Tapi, tidak bisa dilihat dengan mata. Orang-
orang yang tidak sedarah dengan mereka tidak bisa masuk ke sana. Kalau
pun ada yang tersesat masuk ke sana, tidak akan sadar kalau sedang
berada di tempat itu. Hanya merasa seperti di tempat yang sudah
dikenal saja. Tapi, wajah-wajah mereka bisa ditandai, Dik Man,”

“Dengan cara apa?”

“Saya sendiri tidak bisa. Harus dengan kepandaian tertentu,”

“Saya jadi penasaran. Kira-kira di mana, ya, tempatnya?”

“Itulah, Dik Man. Saya juga cuma pernah mendengar cerita dari orang ke
orang. Katanya Kampung Hilang itu sebelah barat berbatasan dengan
Bonjol. Dik Man tahu Bonjol? Itu, tanah kelahiran Imam Bonjol. Sebelah
timur berbatasan dengan Koto Tangah. Sebelah utara dengan Bukit
Barisan di pinggir Batang Maek. Sebelah selatan dengan Pandam Gadang,
kampung Tan Malaka.

“Kabarnya, ada 16 jin yang dipesuruh untuk mengawal keempat titik itu.
Ini jelas pekerjaan yang tidak sembarangan. Memerlukan kesaktian yang
tinggi. Yang bisa melakukan cuma Datuak Julan Rajo Daulat Alam. Beliau
bisa memindah-mindahkan kesaktiannya ke alam luas ini hanya dengan
menuliskan rajah-rajah di daun sirih. Untuk menghilangkan kampung itu
dari pandangan orang lain, beliau menuliska rajahnya di dua belas
lembar daun sirih. Berarti tiga lembar di tiap titik. Sebelum
dikuburkan, daun-daun sirih itu disimpan rapat-rapat dalam botol,
hingga tidak sedikitpun angin bisa masuk.

“Khasiatannya bisa beragam, Dik man. Kalau botol itu ditanam di rumah,
rumah akan aman dari pencuri. Kalau pun pencuri itu bisa masuk dan
mengambil barang-barang di dalamnya, ia tidak akan bisa keluar lagi.
Kalau pun bisa keluar, pencuri itu tidak bisa buang air kecil sampai
mengaku telah mencuri kepada pemilik rumah…”

“Hebat, Ya, Tuan. Kalau diletakkan di kantor pemerintah, bisa
mempermudah penangkapan maling-maling di sana, ya?! Ha, ha, ha…!”
Madun, toke ternak juga, datang menyela. Ia dengan gaya santai duduk
di samping saya sambil mengaduk-aduk kopi pahit kesukaannya.

”Sekarang mana bisa. Karomah itu sudah tidak berlaku lagi di zaman
yang kumuh seperti sekarang. Coba dengar-dengar, mana ada lagi orang
keramat sekarang?” timpal Mak Oncu, pemilik kedai.

“Tan Malaka dikabarkan pernah berguru pada Datuak Julan. Tapi Tan
Malaka cuma diberi ilmu bayang-bayang dua belas. Cara menggunakan ilmu
itu dengan menulis rajah dengan lidah di telapak tangan, lalu usapkan
ke wajah. Dengan begitu, kita bisa menukar wajah kita dengan orang
lain, paling banyak dua belas wajah. Wajah Cina, Jepang, Inggris,
Arab, Jerman, atau Belanda. Wajar, Tan Malaka bisa menghilang dari
kejaran orang-orang yang ingin membunuhnya. Ilmu itu pula yang
digunakannya ketika akan bepergian ke luar negeri. Hebat, bukan?” Tuan
Kadir menyeruput teh telurnya.

“Orang-orang di kampung ini, sejak dahulunya, memang sering berlaku
aneh, Dik Man. Aneh sekaligus lucu. Dik Man pernah dengar cerita
minyak biriang?”

“Apa pula tu, Tuan?”

“Makanya, Dik Man, jangan terlalu suntuk dengan kerbau dan sapi-sapi
pedagingmu itu. Sesekali dengar-dengar juga cerita orang lama,” gurau
Mak Oncu.

“Minyak Biriang awalnya digunakan oleh para perempuan tukang pijat
yang tinggal di sekitar Kampung Hilang itu. Mereka terkenal pemberani
dan piawai merayu tentara-tentara Belanda hingga mereka mau saja
dipijat. Padahal di balik itu semua, ada muslihat yang tengah
dimainkan. Mereka memijat dengan mengoleskan minyak biriang itu.
Sebelum pergi, minyak itu pun diteteskan ke dalam sumur tempat mereka
mandi atau minum. Akibat terkena minyak biriang itu sungguh berbahaya,
Dik Man. Kulit bisa gatal-gatal. luar biasa gatal, hingga tak sadar
kalau kulit sudah terkelupas karena digaruk. Bahayanya lagi, belum
ditemukan obatnya.

“Hm, mana ada penjajah yang betah tinggal di kampung Hilang itu dulu.
Anehnya sekarang, minyak biriang digunakan di jalan yang keliru.
Dioleskan pada orang yang dibenci. Biadab!”

Seisi kedai tiba-tiba diam. Ada yang saling tatap. Kalimat Tuan Kadir
barusan ternyata sangat mengejutkan bagi orang-orang yang ada di situ.

“Itulah bagian lucunya, Dik Man. Menghadapi penjajah tidak harus
dengan perlawanan yang menelan banyak nyawa. Tukang cukur, misalnya.
Mereka pura-pura dekat dengan tentara-tentara itu, memberikan layanan
cukur gratis. Tak tahunya, ketika tntara-tentara itu sudah telentang
di atas kursi, saat akan mencukur jenggot mereka, diam-diam sebilah
pisau penyembelih keluar dari bawah kursi. Creet! darah menembak dari
lehernya!” Tuan kadir tercekik karena mencontohkan ceritanya dengan
mencekik leher sendiri. Ia buru-buru minum air putih. Setelah
bercerita lagi.

“Tukang pambangkik biso lain lagi kisahnya…”

”Pambangkik biso?”

“Itu, orang yang bisa menjinakkan binatang berbisa. Selain menjinakkan
dia juga bisa membuat binatang berbisa itu mengamuk. Sebut saja
binatang yang berbisa. Mulai dari semut api, laba-laba biring, lebah,
ulat bulu, ular, kalajengking, kelabang, dan sebagainya. Di perbatasan
Kampung Hilang, dekat sungai, ada tempat khusus para pambangkik biso
mengumpulkan seluruh binatang berbisa. Mereka selalu siaga di situ.
Kalau ada tentara Belanda menerobos ingin masuk, dia tinggal
membangunkan binatang-binatang berbisa peliharaan mereka. Ya, Belanda-
Belanda yang tidak sempat lari, mati di tempat!”

“Kalau Kampung Hilang itu sendiri, bagaimana cerita sebenarnya, Tuan?”

“Kampung Hilang, ya, hilang! Hilang dari pandangan orang lain. Awalnya
dimaksudkan untuk menghilangkannya dari pandangan penjajah. eh, sampai
sekarang malah hilang dari pandangan semua orang yang tidak sedarah
dengan penduduk yang tingal di sana!”

“Darah mereka apa, Tuan? Oli, ya?” olok Madun lagi sambil membayar
minumannya dan berlalu. Tuan Kadir agak tersudut, tapi ia tampak
berusaha biasa-biasa saja.

Di kedai kopi itu sekarang tinggal aku dan Tuan Kadir. Sesekali di
temani Mak Oncu. Sesudut pasar mulai lengang. Sebab sebentar lagi
matahari menghilang di balik bukit, pertanda senja segera berakhir.

“Penduduk Kampung Hilang itu, konon, keturunan raja-raja Mongol. Ada
pula yang bilang segaris nasabnya dengan Iskandar Zulkarnain.
Pemudanya gagah-gagah. Anak gadisnya cantik-cantik. Tanahnya subur.
Pemimpin-pemimpinnya adil dan bijaksana. Tetuanya banyak yang keramat.

“Tersebutlah Datuk Julan Rajo Daulat Alam yang keramat. Sehari-hari
beliau dikenal sebagai petani gula aren yang ulet. Sederhana. Lebih
banyak bekerja daripada berbicara. Kalau beliau ingin sesuatu dalam
kondisi terkejut, mendadak, atau darurat, beliau bisa saja melakukan
sesuatu yang di luar jangkauan akal sehat. Misalnya ketika beliau
merebus air nira untuk dijadikan gula merah, ia kehilangan sendok
pengaduk didihan nira. Spontan saja, beliau mengaduk air nira yang
sedang mendidih itu dengan tangannya. “Ayam kinantannya, si jago yang
tak terkalahkan di gelanggang, disambar elang. Beliau cuma membuat
gerakan melempar. Akibatnya, elang itu tiba-tiba jatuh, menggelepar di
tanah, dan mati.

“Suatu ketika, orang kampung mau membangun surau tempat belajar
mengaji dan ilmu bela diri anak-anak muda. Sepetak tanah di ujung
kampung menjadi pilihan mereka. Kebetulan di atas tanah itu tumbuh
sebatang durian yang rindang. Otomatis, durian itu harus ditebang dulu
sebelum surau dibangun. Memang sangat disayangkan. Durian itu sangat
rindang. Kalau sedang berbuah, orang sekampung bisa sampai muak
memakannya.

“Ketika durian akan ditebang, tiba-tiba, seorang tua datang mencak-
mencak. Dia mengaku pemilik durian itu. Kakek bapaknya yang menanam.
Orang-orang bersitegang. Pak tua itu tak mau mengalah. Dia rela
bertumpahan darah demi sebatang durian itu.

“Orang-orang hilang pendapat dan mengadu pada Datuak Julan Rajo Daulat
Alam. Malam harinya, tanpa sepengetahuan orang kampung, beliau
memindahkan batang durian itu ke halaman rumah pak tua tadi, tepat di
depan pintu rumahnya. Tidak bisa dibayangkan, apa yang terjadi dengan
atap rumah pak tua kalau durian itu berbuah. Begitulah cara Datuak
Julan rajo Daulat Alam mencari jalan penyelesaian sengketa di Kampung
Hilang itu.

“Waktu Belanda ingin menguasai kampung itu, mereka membujuk sejumlah
tetua kampung yang keramat untuk berkhianat. Tentunya dengan imbalan
yang tidak sedikit. Belanda sangat tergiur dengan kesuburan tanahnya.
Apalagi, penduduk kampung itu terkenal rajin bercocok tanam. Kopi,
pala, dan cengkeh tumbuh subur di sana.

“Datuak Julan Rajo Daulat Alam jelas tidak terima. Lalu rajah sakti
ditulis dan ditanamnya di empat sudut kampung. Walhasil, kampung itu
lenyap dari pandangan Belanda!”

“Seperti dongeng ya, Tuan,” sela saya.

“Ini bukan dongeng. Ini sebenarnya. Dik Man boleh buktikan sendiri.
Lihatlah ikan larangan yang sampai sekarang jadi tempat wisata itu.
Tidak seorang pun berani menangkap apalagi memakan ikan-ikan yang
hidup di sana, bukan?. Tempat itu juga di tanami rajah oleh Datuak
Julan Rajo Daulat Alam bersamaan dengan penanaman rajah untuk
menghilangkan kampungnya. Beliau keburu meninggal sebelum rajah-rajah
itu dicabut kembali,”

“Berarti kampung itu masih ada sampai sekarang?”

“Iya! Masih ada!””

“Yang benar saja, Tuan?!”

“Kalau Dik Man belum percaya juga, saya akan minta bantuan pada orang
pandai untuk bisa masuk ke sana. Besok, Dik Man boleh ikut dengan saya
jalan-jalan ke sana!” tuan Kadir setengah berbisik. Matanya memerah.
Saya merinding menatapnya. Jangan-jangan, tuan Kadir begitu
bersemangat bercerita karena ia juga salah seorang penduduk Kampung
Hilang itu.

*****

Selain masih penasaran, kebetulan saya juga bermaksud keliling-
keliling kampung, melihat-lihat kalau ada penduduk yang mau menjual
ternak. Karena itu, saya ikuti saja ajakan tuan Kadir yang katanya mau
mengajak saya jalan-jalan ke Kampung Hilang, kampung ajaib yang
dihilangkan dari pandangan mata telanjang.

Sampai di sebuah kampung yang amat saya kenal, tuan Kadir menghentikan
sepeda motornya. Saya pun mendadak menginjak pedal rem hingga
menimbulkan bunyi derit yang mengilukan gigi.

“Kita sudah sampai, Dik Man. Sekarang kita tengah berada tepat di
tengah-tengah Kampung Hilang itu!”

Bukannya bermaksud mengacuhkan seruan tuan Kadir itu, di saat yang
bersamaan, perhatian saya ditarik oleh seekor kerbau bujang yang
sedang berkubang di pinggir sawah dan pandangan saya sedang mencari-
cari pemiliknya. Mana tahu, ia mau menjualnya pada saya.

“Dik, Man, lihatlah, betapa mempesonanya kampung ini!” tuan Kadir
merentangkan kedua tangannya.

“Tuan Kadir. Bukankah kita sekarang tengah berada di Koto Tinggi?
Lihat, itu tugu PDRI bukan? Saya dulu SMP di sini, Tuan. Jadi, tahu
persis tempat ini!” Tanggap saya. Tuan Kadir tersenyum. Senyum yang
tak saya pahami apa artinya. Sementara, pandangan saya masih tertuju
pada kerbau bujang yang sedang berkubang di pinggir sawah dan berharap
pemiliknya segera datang untuk melakukan penawaran.

*****

Payakumbuh, September 2006



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke