Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Rasanya prakarsa dan kreativitas merupakan ciri khas kaum muda, sehingga yang 
perlu kita lakukan sesungguhnya adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan 
tumbuh dan berkembangnya prakarsa dan kreativitas kaum muda itu.
Membaca berita di bawah ini, saya bertanya kepada diri saya sendiri: bisakah 
kita menciptakan kondisi lingkungan di Ranah yang bukan saja memberi peluang, 
tetapi juga mendorong tumbuh dan berkembangnya prakarsa dan kreativitas 
anak-anak muda kita? [Tak hanya pasif atau berkeluh kesah menunggu panggilan 
kerja].


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]


Helm untuk Charger HP...
Kompas, Rabu, 3 September 2008 | 03:00 WIB 
Gesit Ariyanto
Helm lebih dari sekadar pelindung kepala, setidaknya bagi Maria Eleonora, 
pelajar kelas II SMP Kristen 3 Petra, Surabaya, Jawa Timur. Dengan kreativitas 
dan modifikasi, saat berkendara pun dapat dilakukan sembari mengisi baterai 
telepon seluler atau HP. Lho?
Mulanya ide mengubah angin menjadi energi listrik. Kreativitas dan pengetahuan 
elektronika memungkinkan itu.
Lahirlah alat bernama helm charger, salah satu pemenang ajang National Youth 
Inventor Award-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (NYIA-LIPI) 2008. ”Masih 
perlu pengembangan,” kata Maria dengan seragam biru-putihnya.
Secara teknis, energi angin ditangkap lewat baling-baling kecil terhubung motor 
DC yang ditanam di seperangkat kecil rangkaian elektronik di atap helm..
Modifikasi itu menggerakkan motor listrik DC dan menimbulkan gaya gerak listrik 
yang akan diisikan ke baterai telepon genggam. Hasil uji coba menunjukkan, 
sepeda motor berkecepatan 60 kilometer per jam menghasilkan daya listrik 100 
mili Ampere (mA).
Pada kecepatan itu butuh 7 jam berkendara untuk mengisi penuh baterai telepon 
seluler. Pasalnya, baterai perlu 700 mA untuk penuh. Mencari cara menuju proses 
pengisian yang lebih cepat, itulah fokus pengembangannya.
Pembuatan helm charger tahap II itu menghabiskan dana Rp 60.000 di luar ongkos 
beli helm. Kreasi itu merupakan pengembangan program helm charger I, yang 
dibuat bersama kakak kelasnya ketika itu, Tommas Yoehono.
”Bedanya, yang sekarang ada protektornya,” kata Maria. Protektor mencegah 
kelebihan tegangan pada telepon seluler yang dapat merusak baterai.
Atas kreativitasnya itu, bersama lima pemenang lainnya, ia berhak mewakili 
Indonesia di ajang 5th International Exhibition for Young Inventors (IEYI) di 
Taiwan, September 2008.
Karya lain terkait helm adalah karya tiga pelajar SMA Unggulan BPPT Al Fattah, 
Lamongan, Jawa Timur (Jatim). Helm komunikator namanya.
Temuan itu memungkinkan pengendara sepeda motor yang berboncengan saling 
berbincang, tanpa risiko tabrakan. Cara kerja stetoskop (alat pendeteksi detak 
jantung yang biasa digunakan dokter) menjadi solusinya.
Sensitivitas stetoskop menghasilkan suara jernih, sekalipun di tengah 
kebisingan. Caranya, menyambung dua stetoskop dan menghubungkan kedua ujungnya 
ke dua helm.
Menurut Puguh Sasi, salah satu pengembang helm komunikator, beberapa uji coba 
gagal. ”Pernah pakai selang akuarium, tapi tetap bising,” kata dia. Dua 
stetoskop dibelinya Rp 50.000.
Persoalan keseharian
Beberapa finalis kompetisi tingkat SMP-SMA itu menjadikan persoalan keseharian 
sebagai ide pemicu kreasi. Olivia Marcelina Sugiharto (16), misalnya, yang 
mengembangkan alat katrol galon (trolon) air, mengadopsi prinsip kerja katrol.
”Papa saya pernah kecethit (gangguan saraf otot) ketika mengganti galon air di 
rumah,” kata dia.
Ia mencari cara membuat alat untuk memperingan beban ayahnya atau siapa pun 
ketika memasang air galon. Terciptalah trolon, terdiri atas rangka besi, katrol 
dan kawat yang terikat pada sebuah pemutar. Prinsip kerjanya, mengangkat, 
membalik, dan memasang air galon.
Trolon menghabiskan dana Rp 197.000 di luar ongkos tukang las. Dengan itu, 
seseorang yang mengangkat air galon tak perlu menahan berat puluhan kilogram 
dengan risiko urat pinggang tertarik.
Beberapa inovasi lain adalah alat hambat bau kakus memodifikasi leher angsa di 
saluran pembuangan. Alat itu menghambat bau keluar melewati kloset karena 
terhambat dinding ”atap bejana”.
Ada pula miniatur mercusuar, sabun cantik dari jelantah tahu, detektor tsunami 
sederhana, sistem keamanan berbasis gelombang ultra, modifikasi sepeda motor 
ambulans, es krim labu kuning, tempat sampah otomatis, closet oil control, dan 
lemari pengembang roti.
Inovasi lain ditampilkan oleh dua pelajar SMA Unggulan BPPT Al Fattah, Frida 
Fanani Rohma dan Nailul Islahiyah Alfi, yaitu mesin cuci tanpa listrik. Mesin 
cuci itu mirip sepeda statis layaknya di pusat kebugaran.
Bedanya, rantai yang berputar saat dikayuh memutar tabung cucian. ”Mencuci 
sambil olahraga,” kata Frida.
Ide muncul di tengah keterbatasan air, waktu, dan listrik di asrama mereka. 
Pembuatan satu alat dengan tabung kapasitas 10 potong pakaian menghabiskan dana 
Rp 600.000-an. Mesin cuci manual itu di luar enam besar ajang NYIA-LIPI, tetapi 
bermanfaat positif.
Kreatif, murah, dan bermanfaat menjadi kata sakti para juri menilai karya 
finalis. Ada lagi, yaitu, berpotensi diproduksi massal dan solutif. ”Tak 
terlalu berguna kalau ujung-ujungnya mahal,” kata Ketua Dewan Juri NYIA-LIPI 
Anung Kusnowo.
Budayakan inovasi
Menurut Sekretaris Utama LIPI Rochadi Abdulhadi, pencapaian finalis 
membanggakan di tengah sistem pendidikan yang lebih menekankan proses 
belajar-mengajar. Di sisi lain, justru lemah mengembangkan budaya inovasi.
Padahal, kreativitas dan inovasi itulah yang dibutuhkan, baik bagi individu 
maupun daya saing bangsa. Ia berharap NYIA-LIPI turut menumbuhkan semangat 
berkreasi dan berinovasi. Ujung-ujungnya, tumbuh bibit peneliti/penemu muda 
bagi regenerasi. Namun, harapan itu mensyaratkan keterlibatan banyak pihak agar 
ajang serupa dapat menarik perhatian luas.
Anung Kusnowo menegaskan pentingnya merealisasikan dukungan terhadap 
iptek—bukan hanya sebatas wacana. ”Selama terus berwacana seperti sekarang, 
Indonesia tak akan maju,” katanya.
Di tengah beranjak majunya beberapa negara tetangga dengan tambahan anggaran 
riset, Indonesia berhenti di tempat. Anggaran riset nasional hanya 0,1 persen 
dari APBN. Jumlah jauh dari ideal.
Dengan menggandeng sponsor, LIPI—dengan keterbatasan anggarannya—berupaya 
menumbuhkan semangat inovasi di kalangan pelajar. Tanpa itu, barangkali tak 
akan lahir dan berkembang berbagai inovasi seperti helm charger dan 
lain-lain....
 
 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke