Pengalamanan Ramadan di Berbagai Negara (3): Kurma dari Sultan Mengawali Buka Puasa di Brunei
PadangKini.com | Selasa, 9/9/2008, 4:04 WIB SEBAGAI sebuah kesultanan yang mengamalkan ideologi "Melayu Islam Beraja" (MIB), umat Islam Brunei jumlahnya hanya sekitar 237.100 jiwa atau 66,3 persen dari jumlah total populasi Brunei, yaitu 357.800 jiwa. Meski kecil dari segi jumlah dibandingkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, umat Islam Brunei menjalankan ibadah Ramadan dengan berbagai kegiatan menarik. Pada bulan Syakban sebulan menjelang Ramadan, orang Brunei biasanya melakukan ziarah ke kuburan untuk membersihkan kubur sambil mengenang dan mendoakan arwah sanak keluarga dan kerabat handai taulan yang meninggal. Pada waktu itu, dibacakan surat Yaasin dan doa arwah dan siraman kubur dengan "aing asah-asah" yaitu air dalam cerek yang sudah diberi harum-haruman bunga mawar. Pada bulan ini pula, penduduk kampung mengadakan acara "doa arwah se-kampong" untuk mendoakan warga kampung yang sudah meninggal dunia. Acara ini biasanya dilakukan pada hari Jumat sesudah Zuhur di halaman mesjid yang dihadiri semua warga kampong (desa), baik laki-laki maupun perempuan dengan membaca Yaasin bersama-sama, doa arwah dan kemudian diakhiri "makan ujung tahun". Tentunya selain untuk keselamatan orang yang meninggal kegiatan ini juga dimaksudkan untuk bersilaturrahmi antar sesama warga sambil bermaaf-maafan sebelum memasuki bulan Ramadan. Kesempatan menjelang Ramadan ini digunakan pula oleh Sultan Haji Hassanal Bolkiah mengeratkan hubungan silaturrahminya dengan rakyat dengan membagikan secara gratis buah kurma untuk persiapan berbuka. "Kurma Kurnia Sultan" itu beratnya 300 gram per-orang yang dibagikan tidak hanya untuk warga Muslim Brunei tetapi juga warga asing yang beragama Islam. Kurma itu sengaja didatangkan dari Timur Tengah setiap tahun sebagai mengikut sunnah rasullah untuk mengawali buka puasa dengan buah kurma. Pada tahun ini jumlah kurma yang diimpor untuk keperluan tersebut adalah sebanyak 116,5 ton yaitu jenis "Mabroom" yang disuplai oleh Al-Madinah Al-Munawwarah Dates Company (TOMOOR) Saudi Arabia. Sebagai kesultanan yang menganut mazhab Syafei, penentuan awal Ramadan di Brunei dilakukan secara "ru'yat", yaitu melihat bulan secara langsung dengan indera bukan dengan "hisab". Pada tanggal 29 Syakban, Kepala Pengadilan Syariah menugaskan pegawainya melihat anak bulan dan kemudian mengumumkan hasilnya kepada masyarakat melalui radio dan televisi. Karena anak bulan tidak kelihatan pada tanggal tersebut maka sesuai dengan hukum syarak, bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari sehingga Umat Islam Brunei mulai berpuasa tanggal 2 September 2008. Sejak saat itu mulailah masyarakat berbodong-bondong memenuhi mesjid untuk salat tarawih. Beberapa tradisi menarik yang dilakukan umat Islam di sela-sela Ramadan antara lain mulai pukul 2 siang, yaitu saatnya kantor pemerintah tutup sampai datangnya waktu berbuka, Umat Islam sudah membanjiri "gerai ramadan" yaitu pasar kaget yang menjual makanan berbuka. Mobil-mobil tumpah ruah di sepanjang jalan menuju tempat tersebut. Para pedagang pun terkesan musiman karena banyak dari mereka berstatus pelajar ataupun anak muda yang "coba-coba berusaha". Gerai ini berupa tenda di lapangan terbuka yang menyediakan berbagai macam makanan Melayu seperti: "nasi ulam", "nasi beriyani", "ayam percik", rending daging, "sayur lodeh", "jantung pisang" dan "labu masak". Ada pula "roti", "martabak", "ambuyat" (makanan asli Brunei terbuat dari sagu). Tidak lupa makanan hangat siap saji "finger foods" ala India seperti: "kebab", "roti john" dan "roti jala". Sedangkan makanan pembuka seperti: bubur kacang merah, cendol, "pengat pisang" dan cendol buah-buahan. Terkadang pula gerai ini berlangsung sampai sahur khususnya bagi warga yang ingin menikmati sahur di luar. Waktu berbuka (sungkai) merupakan kesempatan yang sangat dinanti-nanti. Masyarakat Brunei banyak berbuka di restauran khususnya restauran besar yang menyediakan tempat salat. Sebagai makanan pembuka "appetizers" disediakan seperti: kurma, ulam-ulaman, jeruk, acar, rujak dan kurupuk udang. Sesudah berbuka dilanjutkan salat Magrib dan kemudian makan malam. Pada bulan Ramadan ini, restauran besar bersaing harga merebut hati pengunjung dengan menyediakan menu asing seperti masakan Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Bahkan ada pula menawarkan hadiah menarik seperti umrah gratis. Tidak seperti di Indonesia dimana menjelang Ramadan harga barang sudah mulai merangkak naik, di Brunei harga barang justru sebaliknya. Banyak toko dan supermarket membuat "grand sale" selama Ramadan sehingga harga barang relatif murah. Hal itu bisa terjadi karena seruan pemerintah kepada pengusaha untuk tidak memanfaatkan Ramadan sebagai kesempatan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Pasokan barang banyak didatangkan dari beberapa kota di Malaysia yang berbatasan dengan Brunei seperti Miri (Serawak) dan Limbang (Sabah) yang berpenduduk mayoritas non-Muslim (Cina dan asli). Begitu pula Pemerintah Brunei menyelenggarakan expo dagang internasional yang diikuti pedagang mancanegara. Meski permintaan naik tapi dengan berlimpahnya pasokan barang dari luar negeri maka berlakulah hukum ekonomi yang menyebabkan harga menjadi murah. Seperti umat Islam lainnya, mesjid-mesjid menyelengarakan tarawih sesudah Isya dengan 20 rakaat (10 kali salam) dan diakhiri dengan witir 3 rakaat (2 kali salam). Di mesjid negara "Sultan Haji Omar Ali Saifuddien" di Bandar Seri Begawan, setiap malam imam membaca satu juz Al Quran sehingga diharapkan selesai Ramadan berhasil mengkhatamkan 30 juz Al Quran. Sesudah tarawih dilanjutkan dengan "bertadarus" sampai pukul 10 malam. Jika berkunjung ke Brunei pada bulan Ramadan, masyarakat berkesempatan bertarawih dan bertadarus ke Istana Nurul Iman dengan 1.788 kamar tersebut. Sultan Haji Hassanal Bolkiah dan Kerabat Diraja melaksanakan tarawih dan bertadarus bersama masyarakat. Jamaah tidak hanya dapat melongok kemewahan istana seluas 120 hektar dengan arsitektur dan ornamen serba glamour tersebut tetapi juga dapat "ang paw" (duit dalam amplop) yang dibagikan sebelum pulang berisi B$20. Lumayan juga! Kesempatan ini dimanfaatan pula orang-orang tertentu untuk "menambang duit raya" sehingga tidak kurang dari 10.000 orang setiap malamnya mendatangi Istana Nurul Iman. (H. Efri Yoni Baikoeni dari Brunei) Catatan: Efri Yoni Baikoeni lahir 20 Agustus 1971 di Bukittinggi. Kini bekerja sebagai pegawai setempat KBRI Bandar Seri Begawan sejak 1999. Lulusan jurusan Sastra Inggris, Universitas Andalas Padang ini, kini juga tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana di Universitas Brunei Darussalam (UBD) untuk program Master of Art (MA). Selama bermastautin di Brunei Darussalam, turut aktif dalam Persatuan Masyarakat Indonesia (Permai) dan pernah diangkat sebagai sekretaris tahun 2001- 2005. Copyright (c) 2008 www.padangkini.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
<<inline: image001.jpg>>
