*Dukuh Paruk; Cermin Pergolakan Politik 60-an*
MALAPETAKA politik 1965 telah memperkarakan sejatinya kemanusiaan atas kepentingan yang sama besarnya, kekuasaan. Atas nama kekuasaan, nilai kemanusiaan terhuyung ke kiri dan ke kanan. Malapetaka ini sampai pada batas negeri bernama Dukuh Paruk, sebuah *pedukuhan* (dusun) yang mendapat cap komunis. Rombongan ronggeng terkenal berasal dari tempat itu. Seniman ronggeng yang mementaskan seni, pembauran musik, kemolekan tubuh perempuan, erotisme dan birahi kelaki-lakian. Pementasan roenggeng adalah surga dunia yang nyata sehingga menjadi pusat parhatian ribuan mata. Karenanya, ia sangat efektif sebagai sarana pengumpulan massa. Srintil dan Rasus, dua manusia menjadi tokoh kunci dalam kisah ini. Keduanya hidup dalam kungkungan alam yang sederhana di Dukuh Paruk, sebuah pedukuhan dimana ronggeng dan segala macam kecabulan yang membirahikan terburai meriah, *pedukuhan* yang masih terisolir namun terendam dalam buayan alam yang bersahaja. Srintil ditakdirkan menjadi ronggeng, bahkan sebelum ia mendapat haid pertamanya. Takdirnya telah mendorong kehidupan benar-benar hidup di * pedukuhan* itu. Tak sedikit laki-laki yang ingin dekat dengan Srintil hanya untuk mereguk kenikmatan primitif, nafsu birahi. Ia tumbuh sebagai perempuan yang berada dalam dunia khayal Rasus, sahabat kecilnya. Khayal itu terus dibawa Rasus hingga, tercekat dalam kenyataan bahwa Srintil bukanlah angan nyata tentang seorang ibu kandung. Kenyataannya, Srintil adalah perempuan yang mampu menjangkiti pikiran mesum laki-laki. Sementara Srintil terus meronggeng, Rasus telah melarikan diri dari kehidupan Dukuh Paruk yang terbelakang. Ia tumbuh menjadi seorang tentara. Bertugas dalam kesatuan yang serba taat, mengembara dalam kehidupan lain yang jauh dari kenyataannya sebagai seorang yang berasal dari Dukuh Paruk. Pecahnya malapetaka politik dalam dekade 60-an telah memporak porandakan sebuah angan tentang kehidupan terbaik bagi Dukuh Paruk. *Pedukuhan* itu hangus terbakar bersama budaya pe-ronggeng-annya. Komunitas Dukuh Paruk terpuruk dalam kenistaan sebagai bagian dari gerakan komunis. Tidak ada lagi tempat bernaung bagi komunitas ini karena Indonesia telah berada pada tonggak sejarahnya yang baru. Tidak ada lagi ronggeng yang penuh dengan celotehan cabul, tidak ada lagi kenikmatan duniawi. Kondisi itu turut mencelakakan Srintil. Ia jatuh bangun untuk melahirkan dirinya kembali sebagai seorang perempuan, punya keluarga dan anak. Namun nasib berkata lain, keperempuanan Srintil digerogoti. Ia dilecehkan, pelecehan paling berat yang pernah ia rasaan sepanjang hidupnya ketika dijerumuskan kembali pada kenistaan nafsu birahi laki-laki. Walau selamat, Srintil tetap mengalami tekanan batin sedemikian hebatnya, hingga kegilaan merasuk dalam pikirannya. Adalah Rasus yang kemudian kembali kepangkuan Dukuh Paruk, entah untuk berbakti atau hanya sekedar mengenang Ibu kandungnya yang mati lantaran racun tempe bongkrek atau meratapi neneknya yang menjadi satu-satunya gambaran ibu dalam hidupnya. Tapi yang pasti, Rasus masih menyimpan sedikit rasa cinta pada pribadi Srintil. Ahmad Tohari tidak bercerita detail tentang malapetaka politik, ia hanya bergelut dengan Dukuh Paruk yang cabul dan terpencil dengan nilai-nilainya sendiri. Ia betul-betul *bertayub* dengan novelnya. Ia melang-lang dengan kegelisahan seorang penulis yang sarat dengan muatan budaya. Dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, Jantera Bianglala), Tohari telah mencapai puncak kekayaan sebuah mahakarya sastra. Ronggeng Dukuh Paruk diterbitkan pertama kali tahun 1982, menyusul Lintang Kemukus Dinihari tahun 1985 dan Jentera Bianglala tahun 1986. begitu banyak sanjungan atas karya Tohari ini. Bahkan, Ronggeng Dukuh Paruk telah menjadi bacaan wajib mahasiswa sastra di Asia Timur pada era itu. Tohari menguasai betul detail budaya ronggeng. Ia bercerita sedemikian unik hingga tercebur dan larut dalam intuisi karakter Srintil dan Rasus yang ditampilkannya. Bahkan, ia juga menyentil kehidupan terpendam dari budaya * gowok*, sebuah kebiasaan untuk mengajarkan laki-laki tentang tatacara berumah tangga sebelum ia betul-betul kawin, termasuk tatalaksana persetubuhan. Membaca Tohari seperti membaca kehidupan kebanyakan rakyat Indonesia dalam pergolakan ideologi yang rumit. Tohari muncul dengan sebuah kondisi dimana rakyat diperdaya oleh kekuasaan tanpa mampu menolak kericuhannya. Tapi Tohari tetap menjaga fokusnya pada sebuah *pedukuhan* kecil yang terpencil itu. Ia juga sangat piawai bicara tentang alam. Alam yang telah berkembang dengan pernak-perniknya, sehingga memperkaya pelajaran yang dapat dipetik oleh manusia. Ia begitu bersuka-cita bertutur tentang berbagai jenis burung, serangga bahkan pepohonan, benar-benar menakjubkan. Seorang Ahmad Tohari telah berhasil menjalin kata demi kata sedemikian sederhananya. Ia tak jarang menggunakan istilah lokal yang mudah dipahami, namun tajam menukik pada pemaknaan yang dalam. Novel ini jauh dari kesan vulgar,walau ia bercerita tentang kehidupan ronggeng yang erotis. Hari ini, hampir 43 tahun sudah malapetaka politik di Indonesia berlalu. Perdebatan masih saja berlangsung atas siapa memperdaya siapa, siapa menunggangi siapa. Sejarah yang kabur selama lebih dari 30 tahun sesudah malapetaka itu mulai terkuak. Namun sebagai anak bangsa, pelajaran apa yang mesti diambil? Apakah akan terus menerus berdebat tentang malapetaka itu? Atau keluar sebagai manusia-manusia bebas untuk pencapaian sebuah bangsa yang betul-betul merdeka? Tohari telah menggambarkan bagaimana perebutan kekuasaan telah menciderai hakikat kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan tidak lagi menjadi alat untuk sepenuhnya menopang kehidupan rakyat. Tapi kekuasaan telah bergeser pada satu ruang dimana yang menang akan menginjak dan memangsa yang kalah. Selamat membaca. RONGGENG DUKUH PARUK Ahmad Tohari Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, Februari 2003 Sources: http://syafrizaldi.multiply.com/reviews/item/9 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
