Pengalaman Ramadan di Berbagai Negara (5): Berpuasa di Jepang Lebih Berat pada Musim Dingin
PadangKini.com | Kamis, 11/9/2008, 16:04 WIB PUASA di Jepang sebenarnya sama saja dengan puasa di Indonesia, sama-sama menahan haus dan lapar, serta godaan-godaan lainnya. Cuma bedanya kalau puasa di Indonesia dilalui setiap tahun dengan musim dan iklim nyaris sama. Kalau di Jepang kita bisa melalui dalam musim yang berbeda. Jadilah puasa dilalui dalam empat episode, yaitu episode musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi. Musim panas pada Juni-Agustus, musin gugur September-November, musim dingin Desember-Februari, dan musim semi Maret-Mei. Tingkat keletihannya juga berbeda-beda di setiap musim. Kalau saat musim panas keimanan betul-betul diuji. Selain memakan waktu yang panjang karena sahurnya cepat dan berbuka lambat sekali, karena siangnya sangat panjang saat musim panas, diiringi terik matahari yang menyengat. Musim dingin puasanya singkat, tapi tingkat perasaan lapar lebih tinggi karena diiringi dengan suhu yang sangat dingin. Terkadang bisa di bawah nol. Sedangkan musim gugur dan musim semi, ya, suasananya hampir mirip dengan di Indonesia. Kini awal musim gugur, tapi suasana musim panas masih terasa. Suhu masih 32 derajat. Jika musim panas suhu bisa di atas 35, bahkan 39 derajat. Berbeda dengan di Indonesia, kelembaban di Jepang lebih tinggi, sehingga terasa lebih panas. Kalau tidak salah, Ramadan pertama di Tokyo lebih 5 tahun lalu, saya lewati pada musim dingin yang bersalju. Perut sangat lapar menahan dingin, sekaligus menahan haus karena suhu yang kering. Namun tidak pernah melepaskan puasa. Saya mendapatkan jadwal berpuasa atau imsakiyah dari The Kobe Muslim Mosqoe yang dikirimkan melalui email. Dari sinilah saya mengetahui jadwal imsak dan berbuka. Setiap hari jamnya berbeda. Rabu ini imsak pukul 04.04 dan berbuka 18.15 waktu Jepang. Namun makin hari imsak semakin lama dan berbuka semakin cepat, jadi puasa pasti akan lebih singkat pada 30 September nanti. Ketika berbuka, saat ini matahari masih ada sedikit biasnya. Namun kalau musim dingin, matahari tak terlihat sama sekali. Orang Jepang Ikut Puasa Meski puasa di Jepang dijalankan pemeluk agama minoritas, orang Jepang tetap punya toleran yang tinggi terhadap kaum muslim. Mereka sangat menghargai perbedaan. Bahkan kadang-kadang ada beberapa teman saya di kampus yang orang Jepang ikut pula berpuasa, meskipun mereka bukan muslim. Katanya, itu sebagai bentuk penghargaan mereka sebagai teman dan membina tali silaturahmi dengan orang lain. Yang ikutan puasa berpikir secara logika, kalau ikut berpuasa pula apa mereka mampu. Maka mereka ikut. Tentu ini hanya sekali-sekali. Nah, yang menariknya justru teman-teman muslim sendiri ada yang lupa kalau sedang bulan Ramadan dan harus berpuasa. Maklum suasana berpuasa sama sekali tak terasa di Tokyo. Meski di Tokyo ada sejumlah mesjid dan di kampus saya ada sebuah mushala berkapasitas lebih 0 orang, namun sekitar 70 persen mereka memilih salat taraweh di rumah. Itu karena jadwal kuliah atau kerja masing-masing orang berbeda dan tentu tak bisa ditinggalkan. Misalnya ada yang bekerja di laboratorium pulangnya tak beraturan. Ada yang bekerja di kantor, seringkali lembur. Akhirnya terpaksa salat taraweh di rumah masing-masing. Tiap muslim yang berpuasa memiliki cara beragam menjalani hari-hari puasa, tentu selain bekerja dan kuliah atau ke laboratorium seperti saya. Tapi saya memiliki pengalaman lucu. Sore-sore sekitar pukul 4 atau 5, teman-teman sesama muslim dari Turki, India, dan lainnya (termasuk teman Jepang yang tak puasa) sudah menunggu di lapangan tenis dekat labor. Entah mendapat energi dari mana, kami asyik main tenis sampai berbuka. Itulah anugerah dari Tuhan barangkali. Jika di kampus sesuai jadwal saya di laboratorium, saya berbuka di kantin, makan shokudo. Kadang juga kami berbuka bersama di kantin itu dengan sesama mahasiswa muslim. Hanya saya yang Indonesia, lainnya Turki, India, Malaysia, dan ada juga orang Jepang yang muslim. Jika sedang di kampus saya sering salat di musala kampus yang kecil itu. Mesjid jauh dari tempat saya, yaitu di daerah Kansai. Yang salat di musala dari bekas rumah itu adalah orang Turki dan India. Menu favorit saya berbuka dan sahur adalah udon, sejenis mie jepang pakai kuah panas. Enak. Selain itu juga ada sushi dan onigiri. Onigiri adalah nasi yang dibungkus pakai nori (rumput laut). Sushi saya beli di kantin, sedangkan onigiri kadang-kadang saya buat sendiri jika sedang di apartemen. Orang Jepang bebas beragama dan sangat menghormati orang lain. Tidak ada gossip, tidak banyak bicara, namun baik-baik. Tapi jika sedang jadwal kuliah atau bekerja, kalau tiba waktunya berbuka, kita terpaksa permisi keluar dan melepaskan puasa. Masuk lagi. Sampai di rumah baru makan. Ya, begitulah di Jepang: Time is money and time is study. Jika sedang bekerja atau belajar, ya harus serius. Kita harus pandai-pandai untuk permisi keluar sebentar untuk berbuka. Kangen Kampung, Juga dengan Lilin Malam 27 Setiap Ramadan di Negeri Sakura membuat kerianduan saya akan kampung halaman semakin mendera. Saat puasa di Jepang semakin home sick. Dibandingkan bulan-bulan lainnya di Jepang kerinduan akan kampung halaman begitu kuat saat bulan puasa ini. Seperti kata pepatah Minang, "Sarancak rancak kampuang urang, rancak juo kampuang awak". Karena saya sangat mencintai Ranah Minang tempat saya dilahirkan dan tempat menggores kenangan yang teramat manis yang sulit dilupakan. Meskipun sebenarnya Indonesia dan Jepang itu sama-sama rancak. Mungkin ada beberapa faktor yang membuat kerinduan saya semakin mendera saat bulan puasa. Rindu akan suasana kampung yang tak bisa didapatkan di sini, misalnya makanan-makanan kampung yang saya sukai. Seperti kolak, sanok, sala lauak, lapek kue koci, dan lain-lain. (Warning! Pembaca dilarang keras membayangkannya, takut tulisan saya ini membuat batal puasa, he... he.... kecuali waktu membaca ini jam berbuka). Di saat bulan puasa terbersit kerinduan yang amat sangat untuk berkumpul bersama keluarga. Rindu akan suasa sahur dan buka bersama. Kerinduan itu juga muncul buat buat teman-teman semasa di kampung halaman, 'asmara subuh' ke pantai, dan jalan jalan pulang taraweh, he... he.... Saya juga rindu akan suasana malam 27, membakar lilin dan kembang api, tapi paling anti sama petasan. Juga mengenang beli baju lebaran hukumnya wajib. Tapi kalau di Jepang sunat aja barangkali ya.... Tapi yang paling penting dari semua itu, setiap bulan puasa saya merasa tambah bersyukur pada Tuhan. Puasa sering membuat saya tersadar untuk lebih mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Saya sering berpikir, kita cuma menahan haus dan lapar sebulan, itu pun cuma beberapa jam. Di belahan bumi dan tempat lain orang-orang miskin menahan kelaparan setiap hari, bahkan tak ada limit sampai kapan mereka bisa hidup layak. Jika Idul Fitri tiba, saya salat di musala kecil kampus itu dengan sekitar 10 orang teman tadi. Dulu saya pernah ikut acara perkumpulan muslim di daerah Kansai. Pergi bersama teman-teman dan di sana ada acara masak bersama dan silaturahmi, cerita-cerita. Saat itu saya tidak bertemu dengan orang Minang lainnya, ada dari Indonesia, yaitu Yogya dan Jakarta. Masih suasana lebaran, biasanya ada perkumpulan masyarakat Indonesia menyewa gedung untuk ancara silaturahmi. Saya juga sering ikut. Ada lebih 100 orang yang hadir, 'maota-ota' dan makan. Kadang juga terselip masakan padang, randang. Lumayan, pengobat rindu ke kampung halaman. Demikianlah pengalaman saya menjalankan puasa di Tokyo, Jepang untuk pembaca PadangKini.com. (Elfira, orang Pariaman yang sedang mengambil S2 di salah satu universitas di Tokyo, Jepang). Copyright (c) 2008 www.padangkini.com All Rights Reserved. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
<<inline: image001.jpg>>
