Suasana hening sekali setelah mendengar perkataan yang luar biasa dalam itu,
terdengar hanyalah kicauan burung dan matahari yang mulai merangkak naik ke
langit. Semua orang terdiam dan berusaha meresapi kata-kata yang begitu
dalam artinya yang baru saja mereka dengar dari mulut sang tabib, tidak
terkecuali Datuak Marindiang. Sebagai orang yang sudah banyak makan asam
asin dunia, dan bertualang ke tempat-tempat asing, baru sekali ini dia
terpesona mendengar perkataan itu keluar dari seorang dara yang masih muda
usianya. Karena selama ini perkataan semacam ini pada umumnya
diperbincangkan oleh orang-orang yang sudah lanjut usianya atau seorang
pertapa, tapi ini keluar dari mulut seorang dara belia. Timbul rasa hormat
yang tulus dari dalam hati orang tua ini kepada dara cucu dari Tabib Mato
Tigo, ternyata benarlah semua pujian yang diberikan oleh sang kakek kepada
cucunya. Selain ilmu pengobatannya yang luar biasa, dara ini memiliki juga
ilmu silat yang handal ditambah lagi dengan ilmu batiniah yang sudah cukup
dalam. Benar-benar dara pilihan yang sudah jarang sekali ditemui di jaman
sekarang ini, sekarang dia sudah tidak penasaran lagi akan wajah sang dara
yang dia yakin sekali pasti cantik jelita, jadi dia menunggu saja untuk
melihat sampai sang dara berkenan untuk memperlihatkan wajahnya.

Pandeka Konek yang memang orangnya penasaran dan tidak mau mengalah, setelah
mendengar perkataan dara tersebut malah menjadi tambah penasaran. Dia tidak
bisa menerima perkataan tabib itu dengan pandangan luas dan hati terbuka,
dia merasa seolah-olah dia digurui oleh angkatan lebih muda darinya yang
menurutnya belum banyak pengalaman seperti yang dialaminya. Jadi dia ingin
sekali memperdebatkan perkataan tabib tersebut, saat dia hendak buka mulut
membantah dara itu, seperti Lukman, dia merasakan punggungnya ditimpuk.
Dengan mata melotot dia melihat ke arah Datuak Marindiang, dia melihat sang
Datuak meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan dia untuk diam.
Kesal sekali Pandeka Konek melihat gaya Datuak Marindiang, tapi dia tahu dia
kalah dengan orang ini baik dari silat maupun pengalaman walaupun usia
mereka tidak berbeda jauh. Dia melihat Datuak Marindiang berjalan ke arah
mereka sambil tersenyum lucu dan memandang sang tabib dengan siratan mata
yang jenaka seolah ada hal lucu yang sedang dipikirkannya.

Melihat hal ini Pandeka Konek cepat mengalihkan matanya ke arah sang tabib,
terlihat sang tabib sudah selesai membasuh dirinya dan sedang bersiap-siap
untuk berdiri.

"Bening, kemarilah! Aku ingin mengelap wajahku agar bisa terlihat bersih dan
sopan oleh para tamu kita."

Dan kuda hebat itu seperti mengerti apa yang dikatakan majikannya, berjalan
ke arah tuannya dan memposisikan berdiri menyamping sehingga tuannya bisa
meraih apapun yang ada di punggungnya tanpa harus merubah posisi berdirinya
yang tetap membelakangi rombongan yang ada di belakangnya. Akhirnya
berdirilah sang tabib, terlihat sesosok tubuh gadis yang tinggi ramping
berambut panjang bergelombang hitam sehat sampai mencapai pantat sang
pemilik. Begitu berdiri, tangan sang tabib meraih kantong yang ada
tergantung di punggung kudanya dan mengeluarkan selembar kain biru tebal dan
menyekakan kain itu ke wajah dan tangannya untuk mengeringkan tetesan air.

Sementara itu semua orang yang hadir di tempat itu terdiam menunggu sang
tabib selesai melakukan pekerjaannya.

"Hmmm. Bening, terasa segar sekali setelah menikmati air sejuk ini dan
membersihkan diri, kamu memang kuda pintar yang bisa memilih tempat indah
seperti ini."

Tangannya kembali bergerak memasukan kain tersebut ke dalam buntalan dan
mengeluarkan sehelai kain  berwarna ungu lembayung yang kecil panjang, dan
mengikatkan kain itu ke rambutnya dengan erat.

Datuak Marinding melihat gadis itu sepertinya sudah hampir selesai merapikan
dirinya, dia berkata," Nona Siti, maafkanlah kami jika kami mengganggu
ketentraman hati nona. Bukan maksud kami seperti itu, tapi kami ini hanyalah
manusia biasa yang tidak mudah melepaskan diri dari segala nafsu dan emosi .
Jadi sebagai seorang gadis yang bijaksana dan kebanggaan dari kakekmu Tabib
Mato Tiga, kami harapkan pengertianmu untuk memaklumi rasa penasaran yang
bercokol dalam diri kami terhadap nona. Aku sebagai orang yang pernah
ditolong kakekmu dan juga sahabatnya meminta agar kau mau menerima kami
sebegai teman bukan sebagai pengganggu yang harus dihindari terus. Mungkin
setelah kita semua menjadi temanmu, kami bisa lebih memahami dan menerima
segala keunikan yang ada dalam diri nona sehingga kami bisa pulang dengan
hati tentram karena mendapat teman yang seistimewa diri nona."

Sungguh pandai Datuak Marindiang merangkai kata sehingga bagi  yang dituju
merasa tidak enak hati tapi tidak tersinggung mendengar teguran yang begitu
halusnya atas semua sikapnya selama ini kepada mereka. Sedang bagi yang
lain, memandang takjub kepada orang ini, tak terpikir oleh mereka untuk
berkata seperti itu sebuah teguran halus yang terkemas dengan sangat
indahnya sehingga tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Pandeka
Konek yang mendengar perkataan  Datuak Marindiang menjadi termangu-mangu,
sungguh dia kalah jauh dari beliau, memang pantaslah selama ini dia kalah
dari beliau. Dia benar-benar orang yang hebat dalam segala segi baik ilmu
silat maupun ilmu sastra bahkan tutur bahasanya begitu sopan dan mengena
sekali.

Kahar yang ada di atas pohon melihat dan mendengarkan saja percakapan yang
terjadi dengan perasaan kagum kepada dara cantik dan orang setengah baya
itu. Permainan kata yang begitu dalam siratan maknanya, dan Kahar menjadi
penasaran ingin mendengar jawaban dari dara cantik itu. Perasaannya kepada
dara itu semakin mendalam dan sekarang ditambah lagi dengan perasaan hormat
setelah mendengar dara itu berbicara tadi. Dan satu hal lagi dicatat dalam
hatinya, dara cantik ini bernama Siti, sebuah nama sederhana tapi indah
disebutkan.



Bersambung....


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke