Komunis-Minang Berhubungan Mesra? 

 

Minggu, 21 September 2008 

PADANG - Mungkinkah komunis punya hubungan mesra dengan masyarakat
Minangkabau? Entahlah, tetapi ada fakta menunjukkan, lantaran tidak
memiliki kekuatan penyokong saat berada di bawah jajahan Belanda,
masyarakat Minang selalu dengan senang hati menerima uluran tangan
antek-antek komunis. Bagi orang Minang, bantuan yang diberikan komunis
merupakan kesempatan untuk bisa membebaskan diri dari cengkeraman
Belanda. Hingga jadilah Belanda musuh bersama, pada waktu itu.
Diterimanya antek komunis di tengah masyarakat Minang yang religius,
disebabkan oleh belumnya jelasnya faham yang dibawanya pada waktu itu.

"Komunis belum memperlihatkan dirinya anti Tuhan, sehingga bisa diterima
dengan baik. Bahkan yang masuk pertama kali di zaman kolonial itu,
adalah kaum muda Islam Tawalib. Mereka menerbitkan media yang isinya
menghimbau agar tidak bekerjasama dengan Belanda. Sehingga lahirlah
media yang bernama Jago-Jago, Dunia Akhirat dan lannya," kata Pengamat
Sejarah dan juga Ketua Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu-ilmu Sosial (FIS),
Universitas Negeri Padang (UNP). Hendra Naldi, SS, M.Hum.

Dikatakan, tokoh-tokoh yang mengambil faham komunis pada waktu itu
antaranya Datuk Batuah, Tan Malaka dan sebagainya. Tapi sekali lagi,
mereka ini pengikut paham komunis di masa awal yang masih mengakui
adanya Tuhan. Salah satu perlawanan di zaman kolonial itu, adalah
munculnya pemberontakkan Silungkang.

Faham inti komunis baru memperlihatkan jati dirinya, setelah zaman
kemerdekaan. Waktu itu, Partai Komunis Indonesia (PKI) telah berdiri dan
memperoklamirkan dirinya sebagai anti Tuhan. Tokoh Minang yang merasa
tidak terima dengan kenyataan itu, segera mendirikan partai sendiri
dengan nama Murba. Partai ini didirikan eks pemberontak Silungkang yang
pada akhirnya dihentikan eksistensinya oleh Soekarno.

"Sejak saat itu, PKI mendapat penolakan di Sumatra Barat dan anggotanya
yang terdahulu berupaya mencari jalan lain," tambahnya.

Untuk zaman sekarang, faham komunisme merupakan bahan yang sudah usang.
Dari banyak negara yang dulunya komunis, sekarang sudha berganti menjadi
negara dengan paham lain. Sementara yang masih setia hanya segelintir
saja, seperti Monggolia, Korea Utara dan Kuba.

Paham komunis tidak akan diterima lagi oleh masyarakat, jika mereka
telah sejahtera secara ekonomi dan merdeka dalam bersikap. Komunis akan
kembali merasuk, jika terjadi banyak ketimpangan sosial dalam
masyarakat. Karena itu, bahaya komunis tidak perlu lagi dicemaskan, tapi
kewaspadaan tetap perlu dijaga. Jangan sampai ada pula, orang Minang
yang tidak memiliki tuhan.

Tak berbahaya

Secara ideologi, bahaya komunisme tidak ada lagi di Indonesia, begitu
pula di beberapa negara, seperti Uni Sovyiet, di sana kekuatan komunis
sudah runtuh. Hanya saja Kuba dan Monggolia yang masih menganut paham
komunis.

Kendati begitu, bila tingkat ekonomi Indonesia terus merosot, tidak
tertutup kemungkinan bahaya latin komunis muncul lagi. Mungkin namanya
saja yang tidak lagi komunis, tapi ideologi sudah sama dengan komunisme,
kata pengamat sejarah Universitas Andalas (Unand) Padang Gusti Anan.

Menurut dia, komunisme akan tumbuh subur di daerah tingkat perekonomian
yang rendah, karena itulah makanan empuknya, pada saat ini. Untuk itu
sudah saatnya lah pemerintahan Indonesia melakukan perbaikan secara
radikal, baik di bidang sosial maupun ekonomi, karena ekspansi dan
pengaruh kapitalisme barat sangat kuat terhadap bangsa kita.

Menurut Gusti, bahaya laten komunis itu sebenarnya sudah kelihatan sejak
tahun 1960, begitu pula pada masa PRRI. Ketika itu mereka menyusupkan
personilnya untuk membasmi PRRI yang dipimpin Achmad Hosein.

Di Ranah Minang, mereka membentuk OPR, di sana kekuatan pemuda
dikerahkan untuk meneror masyarakat dan alim ulama. Mantan-mantan PRRI
dijemput malam, dan dibunuh dengan kejam. Walaupun ketika itu belum
tercium bahaya komunisnya, tapi tindakan dan kekecaman yang dilakukannya
sudah tak manusiawi. Namun, lama-kelamaan, jati diri OPR itu kelihatan
juga, bahwa ia penganut paham komunis.

Berbicara soal jejak komunis di Sumbar, salah seorang ulama Sumbar, H.
Mas'oed Abidin menyatakan, kehadiran mereka tidak bisa dilepaskan dari
peran penguasa yang memanfaatkan kehadiran mereka. "Saya rasa dulu itu
dimanfaatkan pihak-pihak yang berkuasa kala itu. Seperti PRRI dan OPR
lainnya. Para penguasa kala itu mementingkan kepentingan dan politik
balas dendam, tekan-menekan serta adu domba dan fitnah terhadap
organisasi politik umat lainnya seperti Masyumi, Pemusi dan lainnya,"
katanya.

Di Sumbar ini, kata Buya Mas'oed, kekejaman yang pernah dilakukan
komunis tidak separah atau sekejam yang dilakukan pihak-pihak komunis di
Jawa.

Melepaskan diri

Agaknya, kehadiran gerakan paham komunis di Sumbar hanya sekedar melepas
diri dari penjajahan Belanda. Secara utuh generesi muda 1920 an tidak
tertarik secara mendalam konsep ajaran yang diterapkan komunis di Jawa
maupun daerah Indonesia lainya.

"Memang dulu ajaran komunis menjadi daya tarik kalangan terpelajar,
karena mereka selalu mendapat penindasan dari kum penjajah. Maka mereka
tak lebih menganut paham ini sebagai anti penindasan kepada kaum pribumi
yang hidup di tanah leluhurnya," kata pengamat sejarah IAIN Imam Bonjol
Padang Rusdi Ramli.

Ia menyebutkan, pada era penjajahan dulu masyarakat Minangkabau banyak
ditindas oleh Belanda sehingg generasi muda tidak ada pilihan selain
melawan dengan konsep dokrin pemikiran membela harga diri anak bangsa.
Bahkan generasi muda pada saat itu sangat menentang teori meterialisme
yang dipisahkan kalangan elit.

"Maka pada saat itu generasi muda mencoba menanamkan satu rasa dalam
kebersamaan dan tidan ada penindasan. Maka sangat wajar generasi muda
pada era tersebut lebih tertarik dengan ajaran komunis yang lebih
memperhatikan antar sesama," kata dosen sejarah Fakultas Sastra dan
Budaya IAIN Imam Bonjol ini.

Lebih lanjut Rusdi menyebutkan, dalam penelitian yang dilakukan pihaknya
belum ada ditemukan kekejaman ajaran komunis yang dilakukan seperti
daerah Jawa. Masyarakat Minangkabau sangat menentang kekerasan antar
sesama, karena hanya melawan ketindasan yang dilakukan penjajah Belanda.


Dalam sejarah ditemukan, pergerakan komunis malah menjadi-jadi pada
1924. Saat itu Sekolah Rakyat didirikan di Padang Panjang, meniru model
sekolah Tan Malaka di Semarang. Organisasi pemuda Sarikat Rakyat,
Barisan Muda, menyebar ke seluruh Sumatera Barat. Dua pusat gerakan
komunis lain adalah Silungkang dan Padang. Bila di Padangpanjang gerakan
berakar dari sekolah-sekolah di Silungkang pendukung komunis berasal
dari kalangan saudagar dan buruh tambang.

Ia menjelaskan, tokoh kumunis ternama di Sumbar Sulaiman Labai, seorang
saudagar, mendirikan cabang Sarekat Islam di Silungkang pada 1915. Pada
1924 cabang ini diubah menjadi Sarekat Rakyat. Selain itu berdiri juga
cabang organisasi pemuda komunis, IPO.

Sedangkan basis komunis di Padang, kata Rusli, berasal dari saudagar
besar pribumi. Salah satu pendiri PKI cabang Padang adalah Sutan Said
Ali, yang sebelumnya menjadi pengurus Sarikat Usaha Padang. "Di bawah
kepemimpinannya mulai tahun 1923 komunis seksi Padang meningkat
anggotanya dari hanya 20 orang menjadi 200 orang pada akhir 1925.

Pertumbuhan gerakan komunisme terhenti setelah pemberontakan di
Silungkang 1927. Para aktivis komunis ditangkap, baik yang terlibat
pemberontakan ataupun tidak. Bahkan banyak di antaranya yang dibuang ke
Digul," jelasnya. 

Meskipun komunisme menjadi sangat populer pada dasawarsa 1920-an kaum
agama yang tak setuju dengan ideologi baru itu pun tetap berkembang.
Awal tahun 1920 berdiri PGAI (Persatuan Guru Agama Islam) dengan tujuan
mengumpulkan ulama-ulama di Sumatera Barat. "Atas prakarsa H. Abdullah
Ahmad, pada1924 berdirilah sekolah Normal Islam di Padang. Sekolah ini
dimaksudkan sebagai sekolah lanjutan, lebih tinggi daripada Sumatera
Thawalib yang merupakan sekolah rendah," paparnya.

Setelah melawat ke Jawa tahun 1925 dan bertemu pemimpin-pemimpin
Muhammadiyah di sana Haji Rasul turut mendirikan cabang Muhammadiyah.
Pertama di Sungai Batang dan kemudian di Padang Panjang. Organisasi ini
dengan cepat menjalar ke seluruh Sumatera Barat.oHendri
Nova/Guspayendri/Dede Amri/Aswandi

http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view
&id=3372&Itemid=289:testset


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke