Kamis, 18 September 2008 DI DEPAN Pasar Aur Kuning, di Jl. Bypass,
Bukittingi, Sumatera Barat. Deretan tenda panjang, mewadahi rimbunan
pedagang lauk-pauk, makanan perbukaan. Pukul 5 petang, Selasa 16
September 2008 itu, suasana penuh sesak. Mancaragam makanan; dendeng
tiga rupa; basah, kering, batokok. Gulai ikan warna-warni, kuning,
hijau - bertomat muda, bercabe rawit. Aroma lauk menusuk hidung. Bebek
hijau, kikil, otak, usus (tambunsu) berisi telur, gulai nangka olahan
Kapau, menggoyang lidah.

Seluruh makanan Padang, dari ragam dan jenis, memang tumplek di
jantung Ranah Minang itu. Penganan pembuka, mulai dari kolak, cendol -
- beras dan berbahan sagu - - es tebak (bercendol putih, tepung beras
tanpa pandan), es cincau, bubur kampiun, hingga kue bika tersedia.

Bika adalah kue tradisional berbahan tepung beras, bersantan berkelapa
parut, dimasak di atas cetakan setengah telapak tangan beralas daun
waru. Aroma waru dan adonan berbentuk putih itu menjadi khas. Biasanya
orang Padang, dulu, memasaknya di kuali tanah. Tutupya seng. Di atas
seng diletakkan bara batok kelapa. Bila bika matang, maka bagian
atasnya berona hitam, laksana dibakar.

Saya tak bisa menghidangkan jernih, macam apa aroma utuh di bawah
tenda itu, yang pasti meriah lah. Parfum merek termahal pun saya
pastikan kalah dengan aroma adonan beragam makan khas. Seluruh penjual
ibu-ibu atau gadis muda berjilbab.

Tatakan makanan di situ, ada yang dibiarkan alami; wajan-wajan yang
langsung diangkut dari penjarangan. Untuk harga, terbilang hampir sama
dengan di Jakarta. Ketika meminta membungkuskan lima dendeng kering
bercabe merah, dan lima dendeng basah bercabe hijau, sosok gadis
penjual, berjilbab hijau, mengatakan, "Sembilan puluh ribu." Itu
artinya Rp 9.000 perpotong hampir sama dengan di Jakarta, macam di
kedai-kedai warung Padang di pinggir jalan.

Saya melangkahkan kaki menjelang akhir tenda. Jalanan padat
berselingkitan. Bila di Jakarta, suasana, aroma dan atmosfir, agaknya,
mirip macam di , Jl. Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Bila Anda berasal
dari Minang dan penggemar masakannya memang ritual tahunan di depan
pasar Bendungan Hilir itu mengkopi suasana di Bukittingi. Cuma bedanya
di Jakarta udara panas, pengab. Di Bukittingi, sejuk, angin dingin
semilir membuat perut lapar mendesak sasar.

Tatapan mata saya kemudian tertuju kepada gulai kepala ikan kakap.
Makanan ini salah satu dari empat menu yang pernah saya buat dan jual
di depan rumah di bilangan rumah di Tebet Barat Dalam, Jakarta Selatan
pada 1995 lalu. Di saat itu usaha saya memproduksi serial fim animasi
gagal, saya bangkrut Di kala Ramadan tahun itu, dengan sedikit dana
yang masih ada di tangan, saya berbelanja ke Pasar Minggu, di subuh
pagi, memasak dibantu seorang pembantu, lalu menjualnya masakan di
petang hari.

Seingat saya sosok Almarhum Pranadjaja, soprano yang punya sekolah
musik itu beberapa kali memesan gulai kepala ikan saya. Dalam dua jam
saja berjualan empat jenis masakan, menjelang buka puasa itu, omset Rp
600 ribu. 

Kiat membuat gulai kepala ikan yang enak, sebenarnya sederhana. Pilih
bahan kepala ikan segar. cuannya mata ikan masih bersih bening, tidak
memutih atau memerah. Bumbu juga harus segar mulai dari jahe lengkuas,
bawang merah, bawang putih, serai, cabe merah, daun kunyit, sehelasi
daun jeruk, daun salam, dan ini: daun ruku-ruku. Ruku adalah tanaman
yang daunnya beraroma kemangi, tanaman semak berbatang keras. Setahu
saya, rukulah yang membedakan gulai kepala ikan Padang dengan daerah
lain. Juga penambahan asam kandis dan tomat muda.

Kini bila ingat usaha jualan makanan itu saya suka bertanya-tanya,
entah racun apa yang kemudian membaut saya tak meneruskan usaha
menjual makanan itu. padahal sejak kecil saya bercita-cita mempunyai
restoran Padang.

Belakangan saya mendapat jawab, capek tenaga rupanya. Seharusnya bila
semuanya tak dikerjakan sendiri, menjual makanan tidak terlalu
menguras tenaga. Apalagi bila pekerjaan itu memang bisa dinikmati,
terlebih hasil jualan bukan sebatas untuk mendapatkan uang, terlebih
memberi kepuasaan dan pengalaman kuliner, kepada pihak lain merwisata
lidah.

SUDAH lama saya tak ke Bukitttinggi. Pertama ke kota Jam gadang itu,
saya menjelang masuk SD, sekitar 1970. Berikutnya sering lewat bila
naik bis ke Pekanbaru, Riau, juga ada perjalanan jurnalistik pada
1980-an akhir. Selanjutnya, pada penghujung 1990, untuk keperluan
menulis buku. Baru kini lagi.

Tidak banyak berubah lansekapnya. Di perempatan Aur, saya menyimak
banyak sekali mobil-mobil dari luar kota berpelat BM, BH, BL. Dari
seoang kawan, Amruh Kumandang, yang baru setahun ini pulang ke
Bukitinggi dari merantau ke Jakarta, kini membuka toko buku dan alat
peraga sekolah, bertajuk Binagari, saya dapat gambaran bahwa di pasar
Aur itu kini menjadi pusat grosir untuk Sumatera.

Suasana sudah macam di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Keadaan pasar
dan transaksi yang hidup. Agaknya, karena hendak lebaran, keramaian
melonjak.

Ketika saya berdiri didekat sebuah ATM sebuah bank, di pojokan dua
mobil berpelat hitam, Panther dan Kijang parkir. Dua anak muda dan
seorang ibu-ibu berpakaian biru berjilbab memanggil, "Padang-Padang."
Padahal dari lokasi itu, jarak sepelemparan batu, sudah ada terminal
antar kota.

Sudah ada delapan penumpang yang naik di Panther. Hanya tinggal kursi
depan di sebelah supir, yang masih kosong. Panther pelat hitam
bergerak. Kijang di belakangnya maju. Sekitar enam meter dari mobil
pelat hitam yang mengambil penumpang umum itu, seorang Polwan dan
koleganya, pria lebih berumur, membiarkan saja adegan itu.

Lalu si ibu yang disapa Bundo oleh kenek mobil, saya perhatikan
bercakap-cakap dengan kedua polisi itu. Suara paraunya kembali
berteriak,"Padang-Padang," untuk mengisi penumpang mobil berpelat hitam.

Kini bis besar berpenumpang 40 orang sudah tak laku. Penumpang lebih
memilih bis kecil dengan belasan kursi, ber-AC. Penumpang cepat penuh,
mobil cepat berangkat. Tinggal satu dua saja bis besar yang jalan,
itupun sudah hoyong-hoyong.

DULU landmark Bukittingi kawasan Jam Gadang. Jam tua itu kini tetap
tegak berdiri, namun bagi saya sudah terasa tidak tinggi lagi. Waktu
mengubah saya dalam membandingkan tinggi. Panorama yang begitu
mempesona justeru kini lokasinya ada di kantor walikota.

Posisi Kantor Walikota Bukittinggi, seakan tanah "negeri di awan" di
dataran tinggi. Di sekelilingnya panorama Gunung Merapi dan Gunung
Singgalang, dikitari bukit di barisan Bukit Barisan. Menatap ke kiri,
kanan, ke sekeliling, pilihan menempatkan bangunan itu, lebih tepat
sebetulnya bagi pusat wisata dunia, pusat budaya Mingangkabau dengan
kemelimpahan konten melayani turis lokal dan manca negara.

Namun faktanya di tanah strategis itu, justeru cuma menjadi pilihan
kantor pejabat. Suasana bila ditatap dari jalan di arah bawah, persis
macam di era kerajaan jaman dahulu. Bangunan istana raja ada di lokasi
strategis.

Sementara rakyat jelata ada di bawahnya. Macam itulah posisi kantor
walikota duduknya. Dan keadaan demikian, bukan monopoli Bukitinggi,
hampir terjadi di tingkat Kabupaten dan Kota di Indonesia kini. 

Di banyak daerah, kantor-kantor pemerintah megah, dan tak mempedulikan
bahwa mereka semua yang bekerja di pemerintahan itu sesungguhnya abdi
masyarakat, yang seharusnya mendahulukan berbagai fasilitas untuk
kepentingan rakyat.

Tak terbantahkan, mereka yang bekerja di kantor walikota, saban hari
pasti merasa duduk di istana bergonjong, berpanorama indah, udara
sejuk. Mereka lupa kesemrawutan di perempatan Aur dan kemacetan di
Pasar Aur, yang terkadang mirip macam di jalan Sudirman Jakarta, di
petang hari.

Sayang sekali Bukittinggi. Di ranah sentra Mingakabau yang egaliter,
tetapi pembangunan kini sudah terpolusi aras birokrasi: feodal dan
tidak merakyat.

Karenanya, saran saya, bila Anda ke Bukittinggi, selain menikmati
Ngarai Sianok, terutama pergilah menggoyang lidah. Yang lain, entalah!

Iwan Piliang, presstalk.info

(Sumber: Superkoran Apakabar)



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke