Dari milis tetangga Penulis adalah Guru Besar TM ITB. Bangsa Yang Ramah Oleh: Widjajono Partowidagdo Dimana-mana USAID (United States Agency for International Development) melakukan studi untuk ekonomi, sosial dan lain-lain termasuk energi dan migas dengan biaya jutaan dollar. Tentu saja hasil studinya diserahkan ke Pemerintah negara dimana dia berada. Kalau hasil studi tersebut mengakomodasi kepentingan atau mirip dengan keadaan di Amerika Serikat bisa dimaklumi. Kalau kita memakai hasil studi mereka dan ternyata implementasi hasilnya tidak seperti yang kita harapkan maka alangkah naifnya bila kita lebih menyalahkan mereka daripada menyalahkan diri sendiri. Seperti seorang siswa yang meminjam pekerjaan rumah temannya lalu ternyata nilainya jelek, apakah adil kalau dia menyalahkan temannya?. Mohon disadari bahwa Undang-Undang Migas adalah hasil keputusan kita bersama (Eksekutif-Legislatif) jadi tidak perlu menyalahkan orang lain. Di Amerika Serikat berlaku sistem Konsesi (Royalty and Tax) dimana peranan negara dalam pengelolaan migas lebih sedikit daripada sistem PSC (Production Sharing Contract). Walaupun demikian Senat Amerika Serikat membatalkan kemenangan CNOOC (BUMN Cina) untuk mengakusisi Unocal demi National Security (keamanan nasional). Perlu dicatat, hal itu dilakukan sebelum kontrak ditandatangani. Senat tidak mengurusi kontrak-kontrak migas sehari hari, hanya kalau keadaan darurat dia bersidang. Seorang sahabat, Guru Besar Ekonomi di Kyoto University, pernah bertanya kepada penulis kenapa banyak peraturan-peraturan di Indonesia yang mirip dengan usulan-usulan World Bank, Asian Development Bank (ADB), International Monetary Fund (IMF), USAID dan lain-lain. Penulis jawab mungkin karena di Indonesia banyak birokrat yang orientasinya proyek bukan pada manfaat (input bukan outcomes), jadi kalau ada proyek membuat peraturanpun yang penting selesai. Sehingga mudahnya ambil saja yang sudah ada lalu rubah-rubah sedikit. Persis seperti budaya mahasiswa yang kalau mengerjakan PR lebih baik meminjam temannya lalu dirubah sedikit-sedikit. Di Jepang mahasiswanya tidak demikian. Kenapa Jepang maju? Mereka punya semangat Bushido. Inti semangat Bushido adalah budaya Malu. Itulah sebabnya seorang Samurai lebih baik Harakiri (mati) daripada Malu. Arti Samurai bukan ahli pedang, tetapi Mengabdi. Alasan utama Amerika Serikat menjatuhkan Bom Atom di Jepang adalah karena mereka belajar dari Iwo Jima dimana banyak sekali tentaranya gugur. Kalau mereka mendarat di Hokkaido, Hunsu atau Kyushu ( pulau-pulau utama Jepang) maka akan terjadi Perang Kuru Setra (Habis-habisan). Pada waktu pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Migas (Waktu itu Menterinya masih Pak Kuntoro), penulis sebagai akademisi diundang utuk memberikan pendapat. Walaupun demikian, mohon disadari bahwa dalam waktu 3 jam roundtable discussion dimana yang ikut sekitar 30 orang tersebut (sesudah diambil satu jam untuk pembukaan dan penjelasan tentang RUU tersebut) penulis tidak punya banyak waktu mengemukakan pendapat. Pada waktu tersebut penulis menanyakan: "Apakah kita harus membuat Undang-Undang baru. Apakah tidak sebaiknya membuat Peraturan dan Hal-hal lain yang membuat Kinerja Pertamina lebih baik?." Salah satu alasan pembuatan UU Migas tersebut adalah untuk memperbaiki kinerja Pertamina. Malaysia, yang meniru dari kita, lebih berhasil menjalankan PSC karena sitem pengelolaan dan birokratnya lebih baik. Pada waktu diundang presentasi di depan para Wartawan dengan tema Isu Pokok, Kebijakan dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Daya Migas yang diadakan di Wisma Bimasena, 8 Agustus 1997 oleh Pak Subroto dari Yayasan Institut Indonesia untuk Ekonomi Energi penulis menyatakan bahwa untuk menjadi Perusahaan Multinasional maka Pertamina harus memiliki sistem dan budaya yang berlaku di Perusahaan Multinasional dan Sumber Daya Manusia (SDM) serta gajinya pun harus mengacu pada SDM bertaraf Internasional. Disamping itu, kalau Pertamina tidak bisa mengumpulkan uang di pasar modal atau meminjam uang (seperti Perusahaan lain) dan keuangannya dikacaukan oleh urusan subsidi (katanya dibayar pakai Yen, kependekan dari Yen ono duite atau kalau ada uangnya) maka sulit Pertamina untuk maju. Ucapan penulis tersebut diterjemahkan "Pertamina Belum Layak sebagai Badan Usaha" oleh sebuah Surat Kabar Ibu Kota. Akibatnya, penulis "tidak disukai" oleh Pertamina pada waktu itu. Walaupun demikian, begitu Pak Martiono menjadi Direktur Utama Pertamina dan kami presentasi di Aula Barat ITB (Institut Teknologi Bandung), beliau menyatakan: "Benar yang dikatakan Dik Wid dulu, memang tidak mudah jadi Dirut Pertamina." Penulis tidak pernah menganjurkan adanya UU Migas yang baru. Walaupun demikian ketika diumumkan (sebagai Keputusan Politik) sebagai UU Migas nomor 22, 2001, penulis berharap bahwa Indonesia bisa mengikuti sistem perkawinan antara PSC dan sistem di Norwegia. Di Norwegia, Regulator dan Koordinator Kegiatan Perminyakan ada di Direktorat Jenderal Migas. Walaupun demikian Pemerintah bisa menggunakan Statoil (Badan Usaha Milik Negara) untuk mengimplementasikan misi Negara apabila swasta (kontraktor) tidak melakukan pekerjaan secara optimal. Walaupun memakai Kontrak Konsesi (Royalty and Tax) Statoil mempunyai saham cukup besar dalam setiap Konsesi Migas disana. Yang jelas, tidak mungkin USAID menganjurkan agar pada waktu eksplorasi dikenakan bea masuk dan pajak impor serta mereka pasti tidak mengharapkan adanya permasalahan-permasalahan desentralisasi, pembebasan tanah, tumpang tindih lahan dan lain-lain. Hal-hal tersebut adalah hasil kreativitas demokrasi dan desentralisasi di Indonesia. Kalau UU Migas tidak seperti yang kita harapkan kenapa tidak kita perbaiki saja secara baik-baik tanpa perlu menyatakan pembuatan UU Migas dibiayai Amerika Serikat. Berikutnya, kita sekarang ribut masalah LNG Tangguh. Keputusan penjualan LNG Tangguh adalah Keputusan Politik, karena kita ingin segera mendapatkan hasil dari penemuan gas disana. Kalau jualan LNG pada kurun 2000 sampai 2005 maka formulanya akan seperti Tangguh baik dari Darwin, Sakhalin, Qatar, Oman dan Yemen. Dewa sekalipun, kalau jualan LNG pada saat itu akan mendapat formula yang hampir sama. Yang jelas kontrak sudah ditandatangani dan harga bisa dinegosiasikan tiap empat tahun. Tidak ada bangsa lain yang marah-marah tentang penjualan LNGnya tahun 2000-2005. Kenapa kita tidak fokus pada negosiasi saja (energi positif), karena Indonesia dan Cina adalah sahabat, dari pada saling menyalahkan (energi negatif) Sesama Bangsa. Analoginya adalah masalah Cepu. Keputusan kerjasama Exxon Mobil dan Pertamina adalah Keputusan Politik karena Pemerintah tidak sabar ingin memproduksikannya segera mungkin. Kalau diambil Pertamina, karena kontraknya habis 2010, maka baru produksi sesudah 2012. Alasannya adalah bukan karena Pertamina tidak mampu. Penulis pernah diwawancara di depan Istana Negara mengenai hal tersebut dan mengatakan bahwa kemampuan Bangsa Indonesia mengelola migas tidak kalah dari Bangsa Lain. Rekaman tersebut tidak pernah disiarkan. Kontrak dengan Exxon Mobil dan Pertamina sudah ditandatangani, maka tugas kita adalah menggunakannya untuk Sebesar Besarnya Kemakmuran Rakyat. Told G. Buchholz dalam bukunya "New Ideas From Dead Economists" mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu memilih. Dia bukan memberitahu kita apa yang dipilih, tetapi menolong kita mengerti konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan kita. Perlu disadari bahwa manusia harus membuat pilihan-pilihan yang sulit. Kita tidak tinggal di surga, dimana susu dan madu mengalir. Dunia penuh keterbatasan, sehingga kita tidak dapat mendapatkan semua sekaligus. Sedangkan politik adalah proses yang menentukan pandangan-pandangan (values) siapa yang akan berlaku di masyarakat. Sehingga, politik adalah proses untuk menentukan pilihan kita. Politik ditentukan oleh Eksekutif – Legislatif. Sebagai ekonom atau pengamat, penulis hanya bisa memberikan saran dan tidak punya kuasa atas Keputusan Politik. Ketika penulis mengikuti roundtable discussion di Lembaga Ketahanan Nasional 18 September 2008, seorang Staf di Lemhanas menyatakan keprihatinannya kenapa Bangsa kita jadi mudah Marah dan menyalahkan Bangsa Lain dan Bangsa Sendiri. Penulis jawab bahwa penulis mempunyai keprihatinan yang sama. Kenapa Bangsa Kita jadi berubah dari Bangsa yang Ramah jadi Bangsa yang Marah (mudah marah2). Apakah kita tidak sadar bahwa peringkat Kemudahan Berbisnis di Indonesia (Menurut World Bank, Investor Daily, 11 September 2008) nomor 129, padahal Malaysia nomor 20. Tidak heran kalau produksi minyak Malaysia diperkirakan naik dari 0,82 juta barel per hari pada 2007 menjadi 1,32 juta barel per hari pada 2017 menurut CERA ( Cambridge Energy Research Associates, 2008). Bagaimana dengan kita?. Jangan sampai kita dianalogikan dengan pepatah: A hungry people are the angry ones. Bangsa yang lapar (sehingga kurang bisa berpikir) adalah pemarah. Selama ini Bangsa Indonesia dikenal sebagai Bangsa yang ramah, suka tersenyum dan suka menolong serta menghormati Tamu. Semoga semboyan Bangsa Kita Bhineka Tunggal Ika atau semboyan Bersama Kita Bisa dari Bapak SBY bukan hanya sekedar semboyan. Kalau kita ingin dihormati Bangsa Lain, jadilah Bangsa yang Mandiri, Peduli (atas nasib Sesama Bangsanya) dan Bersahabat (dengan Bangsa Lain). Penulis adalah Guru Besar TM ITB.
http://zkahara.wordpress.com/ Male - 50th kalau lurus jalan ke maninjau you must be in the wrong state.... --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
