Yuang Apuak
  
/ Kompas Images
Karya Herman Jusuf  
Kompas, Minggu, 28 September 2008 | 03:00 WIB 

Darman Moenir
 
Arwah Yuang Apuak serta-merta melesat ke langit tinggi dan terkaing di lapis 
ketiga. Arwah itu meregang dan lepas dari tubuh Yuang Apuak di bilik kumuh 
kontrakan. Sejenak mengiringi sampai di pusara, dari liang lahat arwah itu pun 
leluasa menembus lapis langit pertama yang punya kejauhan dan keluasan tak 
terukur.. Jarak menjadi nisbi. Begitu pula ke lapis berikut, ke lapis berapa 
pun.
Orang-orang yang mengantar, mengiring, dan menguburkan jenazah, termasuk istri 
mutakhir dan dua orang putra Yuang Apuak, belum lagi sampai di rumah mereka. 
Tetapi jasad tambun Yuang Apuak yang baru dimasukkan, dibaringkan di lahat 
serta-merta dikerubungi ulat-ulat putih, seputih tiga lapis kafan yang 
diinfakkan oleh orang yang pernah dihinadinakan Yuang Apuak. Entah dari mana 
ulat-ulat itu datang, tetapi semua liang dan lubang menjadi penuh. Bibir, 
gigi-geligi, lidah dan jari-jemari ulat-ulat itu menggerogoti kulit, 
lamat-lamat menarik dan menelan daging, darah, nanah, urat-urat dan kotoran 
Yuang Apuak yang, biar sudah mayat, masih segar.
Lubang telinga, biji mata, otot-otot pangkal lengan dan paha, pusar, buah zakar 
Yuang Apuak dikerubungi, dipintir, dijilat, dan dimamah habis. Ulat-ulat itu 
berbuat ligat seolah tak mengenal kenyang. Mereka, ulat-ulat itu, juga tak 
mengenal batas. Mereka menembus tanah timbunan dan kain kafan. Mereka dengan 
lahap mengeroyok tubuh sehingga, sebelum malam, daging-daging dan nyaris semua 
isi kerangka tubuh Yuang Apuak habis. Terbaring, terbungkus, yang tertinggal 
tulang-belulang, rangka. Tengkorak kepala seolah menggeleng, dan tungkai kaki 
bagaikan hendak mengurak langkah seribu, ingin lari dari alam tak berpinggir. 
Kain kafan itu sendiri menjadi tak beraturan.
Apa yang terjadi pada tubuh Yuang Apuak bukan tak diketahui arwahnya yang 
terkaing-kaing nun di angkasa jauh, amat jauh. Arwah Yuang Apuak merasakan 
pedih gigitan ulat-ulat putih yang berjumlah alangkah banyak. Arwah mengetahui, 
bahwa anggota tubuh itu sesungguhnya minta diperhatikan, minta pengertian, 
minta belas kasihan dan minta pertanggungjawaban. Tetapi kini semua serba tak 
bisa. Tak ada lagi kamus tolong-menolong ketika arwah dan jasad berpisah. 
Betapa lagi arwah Yuang Apuak terkaing-kaing, entah mengapa tiba-tiba tak boleh 
melesat ke lapis langit berikut.
Ulat-ulat putih apa yang menyesap bangkai Yuang Apuak? Dan dari mana ulat-ulat 
itu rubung? Apakah itu barangkali merupakan wujud konkret orang-orang yang 
selama ini menjadi permainan patgulipat dan kongkalengkongpengkong Yuang Apuak 
dalam pelbagai peluang dan kesempatan? Orang-orang itu lalu mengambil kembali 
darah, nanah, dan hak mereka yang selama ini disesap Yuang Apuak ketika masih 
hidup dengan pelbagai tipu muslihat?
Di masa kanak-kanak Yuang Apuak termasuk lebe1 dengan ingus sering meleleh, tak 
terseka. Namun semasa SD, Yuang Apuak belajar menilep dan tak membayar jajan di 
kantin sekolah. Kalaupun membayar, itu selalu tak sama dengan jumlah kue 
onde-onde, sebagai contoh, yang dia makan. Yuang Apuak memakan tiga, tetapi 
yang dia bayar cuma satu. Dia tak melakukan mark up, tetapi mark down apa yang 
dia makan. Bila pemilik kantin pica2, Yuang Apuak tak takut untuk tak bayar. 
Kelakuan itu, kemudian, sambil ngakak diceritakan Yuang Apuak kepada 
teman-temannya. Lidah, gigi, geraham, dan kerongkongan Yuang Apuak membenarkan, 
bahwa jajan itu tak dibayar utuh. Kepada arwah, di langit tinggi, ke sanalah 
pembenaran disampaikan. Apa pun yang dilakukan Yuang Apuak di masa kanak-kanak, 
dan semasa hidup, mendapat konfirmasi sahih sesahih-sahihnya. Dan itu 
memedihkan arwah. Rasa pedih itu sungguh-sungguh pedih sepedih-pedihnya.
Setamat sekolah menengah, Yuang Apuak tak melanjutkan ke perguruan tinggi. 
Secara klasikal, keadaan keuangan orangtua tak memadai, menjadi alasan yang 
masuk akal bagi Yuang Apuak untuk tak kuliah. Ayah Yuang Apuak kuli angkat dan 
angkut di terminal bus antarkota, lalu lama menjadi tukang dobi. Ibu Yuang 
Apuak hanya di rumah, setelah tak kuat mencuci pakaian untuk mendapatkan upah. 
Tak aneh bagi Yuang Apuak sebelum sekolah tak menerima uang jajan. Juga tak 
aneh bila Yuang Apuak pernah mencuri uang dalam tas teman-temannya. Yuang Apuak 
tak meraih beasiswa biarpun selama di SMP dan SMA dia menggeluti dunia 
kesenian. Dari dunia itu pula, melalui beberapa kali lomba, Yuang Apuak 
dinobatkan menjadi pembaca puisi terbaik. Yuang Apuak pun dianggap aktor teater 
andal dan kelak, siapa tahu, bisa menjadi sehebat WS Rendra.
”Untuk apa aku sekolah tinggi-tinggi?” Yuang Apuak merenung.
Dari ubun-ubun sampai ke empu kaki Yuang Apuak mengalir pengakuan, bahwa 
orangtua Yuang Apuak miskin. Dan itu tidak keliru. Di sekolah Yuang Apuak 
termasuk campin dalam mata ajaran seni-budaya. Seperti anak randai3, Yuang 
Apuak berbakat besar bermain drama. Pembenaran-pembenaran itu tak 
dilebih-lebihkan dan tak dikurang-kurangkan.
Pernah, dalam renungan malam, di masa remaja, berkali-kali Yuang Apuak 
memikirkan lawan jenis—termasuk seorang perempuan imut berhidung bangir yang 
dia kenal sejak kecil. Setelah balig, Yuang Apuak menelanjangi dan 
menggerayangi tubuh perempuan bertubuh mungil itu. Biarpun kemudian menjadi 
istri Yuang Apuak dan memberinya tiga orang anak, tetapi dia tak membawa 
perempuan itu meninggalkan Kota P. Merantau dan pindah ke Kota J, Yuang Apuak 
memperoleh kesempatan berkelana dan berkenalan dengan, dan menyanggamai, banyak 
perempuan.
Kelamin Yuang Apuak mengakui, bahwa vagina perempuan-perempuan itu robek bagai 
di-suntih4, setelah diterkam harimau lapar menemukan mangsa. Mangsa itu seolah 
kijang-kijang kehilangan rimba. Kepada arwah diakui, belasan perempuan 
dibinasakan Yuang Apuak dengan pelbagai rayuan, kelicikan, kecurangan sehingga, 
kemudian, perempuan-perempuan itu menjadi orang-orang nestapa sepanjang usia. 
Bagi Yuang Apuak kejantanan merupakan senjata. Dengan kejantanan itu pula Yuang 
Apuak tak berpikir ulang untuk, kalau perlu, melakukan perang total terhadap 
betina-betina yang tak mau jinak.
Dari satu ke lain malam, di J Yuang Apuak bertualang. Siang dia benar-benar 
memeluk dinding-dinding beton tinggi untuk menggapai, memangsa apa dan siapa 
pun. Dia lantas jadi mahir, campin, galir, dan licik menggoda para pedagang 
seetnik untuk bersatu padu dalam organisasi rumah makan. Dengan itu Yuang Apuak 
mengutip iuran dari juragan rumah makan tiap bulan. Tak besar pungutan itu, 
tetapi karena jumlah rumah makan padang banyak, maka uang yang terkumpul 
berjumlah lumayan. Mulia, sumbangan dikatakan akan dimanfaatkan demi kampung 
halaman, membaikkan masjid dan juga untuk diberikan kepada fakir miskin.
Yuang Apuak pun menggoda sentimen orang-orang beruang, pensiunan pegawai negeri 
sipil dan militer, urang awak5 dan siapa pun perantau untuk mewujudkan impian 
mulia, mengembalikan harga diri setelah remuk sebagai akibat pergolakan daerah. 
Yuang Apuak mendengar bisik-bisik bagaimana pergolakan daerah 
menghancurleburkan harga diri dan itu harus dipulihkan, dikembalikan ke aras 
semula. Pengalaman kecil Yuang Apuak membuat proposal ketika sekolah berubah 
jadi keahlian dan itu semua dia manfaatkan untuk meyakinkan orang-orang 
terpandang dan para donatur. Dia menekan bel satu dan lain rumah, masuk dari 
satu ke lain pintu kantor bertingkat-tingkat, duduk di kursi empuk dan 
berbicara dengan gerak tubuh yang meyakinkan.
Yuang Apuak memang tak tanggung-tanggung. Dia menerbitkan sebuah majalah 
bulanan. Dia merekrut anak-anak muda potensial untuk membantu. Dia meminta 
penulis-penulis andal mengirim tulisan. Isi utama majalah itu tak lain tak 
bukan adalah upaya mengembalikan martabat etnik yang hilang. Dan itu dilengkapi 
dengan foto-foto artistik, statistik akurat, dengan penataan wajah semenawan 
mungkin.
Majalah memang terbit, dan sempat dipasarkan, juga ke kampung halaman. Tapi 
uang yang terkumpul, terutama dalam bentuk sumbangan, tak dikirimkan ke alamat. 
Tak pernah! Biarpun atas nama perusahaan, semua masuk ke rekening bank Yuang 
Apuak. Dan itu berlangsung selama beberapa bulan, bahkan memakai bilangan tahun.
Seusai mengeksploitasi sentimen kampung halaman, Yuang Apuak bersengaja 
menyelenggarakan lomba baca puisi heroik— persis seperti yang pernah dia ikuti 
ketika di sekolah, untuk mengenang jasa proklamator dan para pahlawan. Untuk 
itu Yuang Apuak mengajukan proposal permohonan dana kepada anak-anak, 
cucu-cucu, kerabat proklamator dan pahlawan itu. Yuang Apuak pun minta bantuan 
ke gubernur, wali kota, dan beberapa kepala dinas. Uang pendaftaran peserta, 
dalam jumlah yang tak sedikit, pun dipungut. Tetapi, celaka, di akhir lomba, 
sama sekali tak ada informasi bahwa anak proklamator ikut menyumbang. Juga tak 
ada penjelasan berapa uang terkumpul. Hanya ada komplain seorang anggota Dewan 
Juri, honorarium tak memadai. Hadiah yang diberikan kepada pemenang tak layak 
dan ada yang tak dikirim. Biarpun sempat disurati beberapa kali oleh yang 
berhak, tetapi Yuang Apuak diam.
Uban dan semua bulu yang tumbuh subur di sekujur tubuh Yuang Apuak bersaksi dan 
membenarkan, bahwa sebagian besar uang sumbangan dan hasil jual majalah 
digunakan Yuang Apuak untuk menghidupi dirinya sendiri, berfoya-foya dengan 
perempuan-perempuan yang dia rayu di sembarangan tempat. Semua anggota tubuh 
Yuang Apuak bersaksi, bahwa dana yang terkumpul untuk kegiatan lomba baca puisi 
digunakan tak semata untuk lomba itu. Bahkan sampai akhir hayat Yuang Apuak, 
sesungguhnya masih ada pemenang yang belum menerima hadiah.
Lubuk hati Yuang Apuak paling dalam, bernama nurani—paling hebat, juga 
bersaksi, sewaktu pulang ke kampung halaman, Yuang Apuak sempat menyedekahkan 
beberapa ratus ribu rupiah uang itu untuk memperbaiki bangunan surau dan untuk 
belanja anak yatim.. Yuang Apuak pun tebar janji, bahwa di masa depan dia 
benar-benar ingin memerhatikan keperluan surau, termasuk untuk garin6.
Namun, dengan alasan apa pun, arwah Yuang Apuak masih tergantung di lapis 
ketiga. Dan keterkaingan itu tak bisa diselamatkan oleh pengakuan-pengakuan 
jujur dan benar semua anggota tubuh Yuang Apuak yang berbuat curang selama 
menyatu dengan arwah. Tak bisa! Tidak!
Sekilas keterkaingan arwah Yuang Apuak terpanah ke jantung seorang putra Yuang 
Apuak dari istrinya yang pertama—gadis imut yang pernah dia tinggalkan begitu 
saja di kampung halaman. Putra Yuang Apuak tak muda lagi, tetapi sempat 
mengenyam surau untuk mengaji. Sang putra sama sekali tak mengetahui kalau 
arwah ayahandanya terhalang, terkaing-kaing, dan menanggung pedih perih, dalam 
pelesatan ke alam abadi. Tetapi mengetahui ayahnya wafat, si putra merasa wajib 
melantunkan doa khusyuk, berkali-kali, setiap pagi—siang-malam, setiap hari, 
semoga arwah ayahandanya, dalam kata-kata klise, selamat sejahtera sampai ke 
alam akhir.
 
Padang, 17 Agustus 2008
 
1 lebe = acuh tak acuh
2 pica = abai
3 anak randai = pemain teater tradisional Minangkabau
4 suntih = robek (dengan cakar dan gigi)
5 urang awak = sebutan untuk orang (dari etnik) Minangkabau
6 garin = penjaga surau, masjid


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke