Assalamualaikum w.w. para sana sa palanta,
Saat ini pemimpin-pemimpin partai politik sudah menyampaikan daftar calonnya
kepada KPU. Hampir tanpa kecuali, proses penyusunannya disertai kericuhan..
Saya sama sekali tidak yakin bahwa kericuhan itu dipicu oleh hasrat mengabdi
yang berkobar-kobar untuk meringankan penderitaan rakyat. Lebih mungkin
motifnya adalah -- dalam istilah Bung Taufiq Ismail -- syahwat akan kekuasaan,
dan melalui kekuasaan: penghasilan bulanan, yang untuk tingkat DPR RI menurut
mantan anggota DPR RI Machfud M.D, yang sekarang menjadi Ketua Mahkamah
Konstitusi berjumlah Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) setiap bulan, atau
Rp. 1.200.000.000,- (satu milyar dua ratus juta) setiap tahunnya. Itu yang
rutin. Di luar penghasilan bulan yang sah itu jika mau terbuka peluang besar
untuk kongkalingkong model Al Amin Nasution. Dengan kata lain, dewasa ini
menjadi anggota DPR, DPD, dan DPRD sudah menjadi suatu mata pencaharian yang
menggiurkan: kerjanya sedikit tapi penghasilan dan
sabetannya besar.
Saya kutipkan berita Detik.com di bawah ini tentang apa yang terjadi di salah
satu partai besar yang akan mengusung seorang calon presiden.
Bagaimana pendapat sanak tentang kualitas DPR/DPD/DPRD yang akan dihasilkan
oleh Pemilu 2009 tahun depan ? Jangan lupakan merekalah yang akan membuat
peraturan perundang-undangan, menysun dan menetapkan APBN?APBD, dan menwasai
pemerintahan. Dan apakah yang perlu kita perbuat sebagai pemilih ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Detik.com Jumat, 26/09/2008 15:48 WIB
Kisruh Pencalegan di PDIP
Banyak Maling di Tingkat Rapimnas
Deden Gunawan - detikNews
Jakarta -
Sejumlah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kabarnya banyak
yang sakit hati. Alasannya, proses pencalegan penuh nepotisme. Bentuk nepotisme
tersebut misalnya, para fungsionaris DPP PDIP ternyata lebih memprioritaskan
anak, istri, dan familinya untuk duduk di deretan nomor urut jadi daftar caleg
PDIP.
Sementara para aktivis PDIP yang mengaku sudah berkeringat dan berdarah-darah
justru berada di nomor urut buncit atau tidak masuk hitungan.
Sumber detikcom di struktur pimpinan PDIP menyebutkan, elit DPP PDIP yang
menitipkan anaknya di nomor urut jadi antara lain, Adang Ruchiyatna, Jacob Nuwa
Wea, Theo Syafi'i, Sutjipto, Agnita Singadikane, Mangara Siahaan, dan Alexander
Litaay. Selebihnya para pengurus DPP memasukkan istri atau keponakan untuk
duduk di daftar nomor urut atas caleg dari PDIP.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDIP Agnita Singadikane mengakui kalau ada
keluarganya yang jadi caleg. Tapi ia membantah melakukan nepotisme. "Ada
memang, ia adalah ketua DPD PDIP. Tapi keluarga saya itu kan menjadi ketua
karena dipilih dan dia dirasa memenuhi ketentuan partai," kata Agnita yang
enggan menyebutkan identitas anggota keluarganya tersebut kepada detikcom.
Anak Agnita yang menjadi caleg bernama Ichsan Irsal Singadikane. Ia masuk
daftar caleg untuk daerah pemilihan Kepulauan Riau bersama Ketua DPP PDIP
Firman Jaya Daeli.
Tapi menurut Agnita, sangat subjektif jika menilai majunya keluarga atau
kerabat kader PDIP sebagai caleg dianggap nepotisme. Tata cara penjaringan,
penyaringan dan penetapan calon anggota legislatif PDIP untuk pemilu tahun 2009
sudah diatur dalam Surat Keputusan (SK) DPP nomor 210/KPTS/DPP/V/2008.
Dalam SK tersebut kedudukan kader di partai, prestasi, dan pengabdiannya
menjadi bahan pertimbangan untuk menjadi caleg. "Semua caleg sudah memenuhi SK
210. Itu berlapis-lapis loh seleksinya," tegas Agnita.
Namun salah seorang sumber di Badan Pemenangan Pemilu PDIP mengatakan, proses
pencalegan sesuai SK DPP Nomor 210 hanya di tingkat cabang dan DPD. Setelah itu
prosesnya seperti dagang sapi alias penuh negosiasi.
Menurut mekanisme pencalegan di PDIP, kata sumber itu, nama-nama bakal calon
legislatif sebelumnya digodok terlebih dahulu di tingkat cabang melalui
Rakercabsus. Setelah itu nama-nama itu naik ke tingkat DPD dan
dibahas melalui Rakerdasus. Di tingat ini, konvensi para caleg berjalan sesuai
aturan.
Tapi ketika nama-nama itu naik ke tingkat Rapimnas, prosesnya mulai tidak
sesuai alias lebih mengakomodasi pesanan para elit. "Saat penggodokan di
Rapimnas mulai banyak malingnya. Akhirnya kader-kader di tingkat DPD dan DPC
merasa kecolongan," jelas sumber tersebut.
Kenehan yang terjadi, imbuh sumber tersebut, dalam penetapan daftar caleg di
setiap dapil, ternyata yang bercokol di urutan tiga besar seragam. Urutannya,
1. diduduki fungsionaris partai, urutan 2 diduduki darah biru, dan urutan tiga
diduduki pemilik modal atau pengusaha.
Penyusunan daftar seperti itu membuat para aktivis partai yang tidak punya uang
atau hubungan darah dengan elit partai hanya bisa mengurut dada.
Namun kekhawatiran sejumlah kader tersebut ditepis Ketua Badan Pemenangan
Pemilu DPP PDIP Tjahyo Kumolo. Sebab meski dipasang di nomor urut jadi, tidak
otomatis akan menjadikan mereka sebagai anggota DPR periode 2009-2014. Sebab
masih ada ketentuan lain yang mengatur itu semua.
"Proses caleg walau ada nomor urut juga ada ketentuan UU 30 persen dari
bilangan pembagi pemilih (BPP) di samping nomor urut," jelas Tjahyo.
Menurut pria yang menjabat sebagai Ketua FPDIP DPR RI ini, mekanisme
penyaringan caleg sudah ditetapkan oleh partai. Jika masih terdapat kendala di
daerah, ditegaskannya kalau DPP akan terus memantaunya. "Soal ada yang belum
sempurna penerapan di daerah itu kasuistis yang oleh DPP partai dipantau,"
pungkasnya.(ddg/iy)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---