BUKA BERSAMA PUTRI DAN PANGERAN RAJA BRUNEI DI
MASJIDIL HARAM
Oleh: K Suheimi
Saya tak menyangka dapat berbuka bersama dengan putra putrid Raja
Brunei Darussalam
Justru berbuka bukan disembarang tempat, tetapi ditempat yang
dimuliakan Allah SWT.
Didepan Ka’bah Baitullah Masjidil Haram.
Seusai tawaf sunat ba’da sholat zhuhur, saya dan isteri
menunaikan tawaf sunat dalam teriknya matahari dengan temperature 47C kami
larut dalam rombongan hamba NYA yang basah bibirnya memanjatkan do’a
setelah mengelilingi ka’bah sampai tujuh kali kami sampai di multazam
didepan pintu ka’bah. airmata saya jatuh berderai dan isteri saya terisak
tangisnya tertahan digenggamnya jemari saya, kami larut dalam do’a.
Dada saya berguncang jantung saya bergetar :ENGKAU perkenankan
hamba Mu yang daif ini berkunjung kepintu rumah MU ini Allah, aku ketuk pintu
rumah MU ini dengan linangan airmata kupanjatkan do’a dan kumohon ampunan
MU ujung semua do’a saya tutup “YAallah berilah hamba ini setiap
detik waktu menjadi detik-detik yang bermamfaat untukku dan untuk orang lain.
Airmata ini pun terurai kembali sewaktu di maqam Ibrahim kami
sholat. Entah kenapa hati tidak bisa ditahan dan airmata berlinang mengantung
dikelopak mata berbaur dengan keringat yang menetes dari kening. Hijir Ismail
dapat kami masuki, saya tertunduk ingat perjuangannya dan ketabahannya Ismail.
“ Laksanakanlah apa yang diperintah ALLAH itu, Ayah..bisik
Ismail kepada ayahnya setelah beberapa hari dia menimbang permintaan ayahnya
untuk menyembelih Ismail seperti yang diperintahkan Allah.
Dialah yang menguatkan hati ayahnya sewaktu digoda iblis,
dilemparinya iblis Jumratul Ula, Wustha dan Aqaba. Keikhlasan Ismail lah yang
mendorong kesuksesan ayahnya: keikhlasannya berkorban menyerahkan lehernya
dengan pasrah.
Ismail hanya mohon 3hal dari ayahnya sebelum pengurbanan itu
terlaksana.
Ayahku, aku mohon 3 hal padamu “Katakanlah anakku kata
Ibrahim sambil berbisik
1) Tolong ayah asah pisau itu setajam
tajamnya agar peristiwa penyemblihan itu berlangsung dengan cepat
2) Tolong ayah ikat kaki dan tanganku
agar ayah tidak melihat aku menggelepar sewaktu pengurbanan itu.
3) Selesai penyembelihan itu tentu
bajuku ini berlumuran darah, tolong berikan baju yang berlumuran darah ini
kepada ibuku, agar ibu tahu anaknya telah berbakti kepada orang tuanya.
Baik anakku kata Ibrahim, sambil menggenggam jemari dan membimbing
anaknya.
Namun sebagai sebagai ayah, ternyata Ibrahim tidak tega. Sewaktu
pisau yang tajam itu menempel dileher anaknya, Ibrahim melengos..saat itulah
ALLAH mengganti Ismail dengan kibas. Cukup Ibrahim..pengorbana nmu diterima
“bukan darahnya bukan dagingnya dan bukan bulunya yang sampai kepada
Allah tetapi adalah nilai Taqwanya nabi Ismail yang membantu ayahnya Ibrahim
mendirikan Ka’bah .
Bukan hanya itu dikalangkannya lehernya dan dibiarkannya dirinya
yang akan dikorbankan.
Peristiwa itu membayang lagi, makanya dada ini bergoncang lagi
ketika akan sholat di hijir Ismail dan airmatapun mengalir saya terisak menahan
sendu.
Saputangan basah oleh airmata dan bajupun basah oleh keringat, baru
terasa bahwa matahari sungguh terik. Kami mencari perlindungan dan tempat yang
dingin saya antar isteri ke tempat perempuan dan saya mencari-cari luangan lain
untuk tempat duduk dan melepas lelah.
Saya terhampar kesebuah tempat yang ada Al Qur’an dan justru
Qur’an terjemahan bahasa Indonesia yang dicetak dan diwakafkan oleh
almarhum Raja Fahd dari percetakan Mushaf Al Karim Malik Fahd di Madinah Al
Munawarah. Sungguh berkualitas dengan kertas yang sangat bagus dengan tulisan
yang sangat jelas. Kita tak akan bisa mencari Qur’an ini di pasar-pasar.
Asyik saya membacanya karena bagus sekali bacaan dan sangat
dibutuhkan, sehingga tanpa saya sadari disekililing saya banyak orang
berpakaian melayu.
Ternyata orang-orang disekitar tempat itu dipindahkan oleh petugas
keamanan mesjid.
Baru saya tahu ketika semua berdiri tapi petugas disana mengatakan
kalau bapak mau duduk silahkan nggak apa-apa mereka tak mau mengganggu orang
yang sedang membaca Alqur’an.
Saya dibiarkan saja tetap duduk disitu tidak disuruhnya hengkang
dari sana .
Masuklah putri dan pangeran beserta rombongan. Ketika semua duduk
saya diapit oleh yang tertua disebelah kiri saya pak Jakfaruddin ketua
rombongan dari Kerajaan Brunei Darussalam dan disebelah kanan saya pak
Jabaruddin duta besar Brunei Darussalam di Saudi Arabia .
Kedua beliau ini baik dan ramah sambil berkata “ Brunei itu
makmur dan banyak rezeki karena penduduknya menjalankan agama dengan
baik”
Memang saya saksikan raja mengirim anak-anaknya dibulan Ramadhan
ini untuk mendalami dan mengamalkan syariat Islam.
Benar kata saya dalam hati, bila hamba NYA menjalankan perintah NYA
dengan benar ALLAH akan datangkan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga.
Saya perhatikan semua anak raja itu sederhana sekali, namun
kulitnya bersih seperti orang Indonesia .
Saya tetap saya asyik membaca AlQur’an karena inilah waktu yang saya yang
terbaik di Masjidil Haram untuk memahami. Detik-detik sebelum berbuka puasa
saya dengar suara halus dibelakang tabir mengucapkan
“Assalamua’laikum” kali yang kedua baru bisa saya jawab
“Alaikumsalam” pak ini perbukaan silahkan dimakan katanya.
Betapa terkejutnya saya, putri raja yang peduli dengan lingkungan.
Saya terima pemberiannya sambil mengucapkan terima k asih ,
rupanya ada rezeki saya ditangan sang putri. Dengan menyebut nama NYA dan
bersyukur “ALLAHUMMA LAKASHAUMTU WA BIKA IMANTU WA ALA RIZKIKA
AFTARTU” kue yang saya makan hari itu sangat lezatnya. Terimak asih ya ALLAH
terima k asih
sang putri saya nikmati penganan itu dan saya bagi-bagi dan setengahnya saya
bungkus saya berikan untuk isteri saya. Rupanya ada rezeki kita ditangan sang
putri.
Ketika mereka meninggalkan tempat saya, saya sampaikan hormat dan
terima k asih , dibalasnya dengan
senyum, senyum yang ikhlas, senyumnya Masjidil Haram.
Terima k asih raja Brunei , anda
telah berikan contoh dan suri tauladan yang sangat baik.
Izinkan saya saya untuk mencontoh bahwa mendidik anak kirim mereka
kesini ke masjidil haram.
Itulah saat saya merasa lapang dan bahagia sekali
Biasanya sholat di Masjidil Haram berdesakan dan berimpit2an. Baru
kali ini saya merasa lega dan nyaman sekali didekat pak Jabaruddin. Terima k
asih ya Allah terima k asih
sang putri raja.
Masjidil Haram 23 September 2008.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---