Ahmad Syafii Maarif

Republika, 2008-09-30 06:05:00

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/28

Dalam upaya mengkritik diri sejujur-jujurnya, saya ingin mengatakan
bahwa saya belum yakin apakah posisi takwa sebagai tujuan yang hendak
diraih dalam puasa dan ibadah lainnya telah menjadi milik saya setelah
berpuasa selama hampir 70 tahun. Dalam surat Albaqarah ayat 183,
Alquran memang menggunakan ungkapan la'allakum tattaqun (semoga kamu
berhasil meraih posisi takwa) dengan menjalankan puasa itu.

Istilah takwa merupakan salah satu konsep kunci dalam Alquran di
samping iman dan Islam. Tidak kurang dari 242 kali konsep itu dalam
berbagai bentuk dapat dilacak dalam kitab suci ini. Dengan demikian,
fungsinya sangat sentral. Dari segi akar kata, takwa berasal dari tiga
huruf w-q-y yang bermakna menjaga diri, baik dari kehancuran moral
maupun dari kemurkaan Allah akibat penyimpangan perilaku seseorang
dari jalan lurus.

Takwa adalah salah satu buah iman yang tulus. Iman yang tidak tulus
adalah sebuah sandiwara, tidak punya bekas yang positif dalam
mengarahkan perilaku kita ke jalan yang diridhai. Sebab itu, pemaknaan
takwa dengan takut (kepada Allah) tidaklah terlalu tepat. Sebab, rasa
takut akan menjauhkan seseorang dari yang ditakuti. Sementara itu,
takwa kepada Allah justru sebaliknya, kita rindu untuk senantiasa
mendekat kepada-Nya. Dalam perjalanan hidup, saya rasa rindu kepada
Allah hanya datang kadang-kadang. Artinya, kualitas iman saya ternyata
belum memadai.

Apa indikator takwa itu? Berbagai ayat Alquran telah menjelaskannya.
Kita ambil yang paling sering dibaca pada bulan Ramadhan: ayat 133-136
surat Ali Imran yang artinya, "Dan, cepat-cepatlah kamu menuju ampunan
dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi,
disediakan bagi mereka yang telah berhasil meraih posisi takwa.

[Yaitu] orang-orang yang memberikan infak, baik di saat lapang maupun
di saat sempit, dan orang-orang yang mampu mengendalikan marah serta
bersedia memaafkan [kesalahan] orang lain. Dan, Allah mencintai
orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan [juga], mereka yang apabila
melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri [segera]
mengingat Allah dan mohon ampun atas segala dosanya. Dan, siapakah
yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan, mereka tidak
meneruskan perbuatan dosa itu, padahal mereka mengetahui. Balasan bagi
mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan, [itulah]
sebaik-baik balasan bagi orang yang beramal."

Cobalah simak baik-baik beberapa indikator takwa dalam ayat 34-35 di
atas. Rasanya, saya sendiri belum pernah memiliki indikator itu secara
utuh dan sempurna. Bolong dan kendalanya banyak sekali. Tentu, karena
tingkat ketakwaan saya masih saja rendah. Padahal, usia sudah 73
tahun, liang kubur sudah sangat dekat. Inilah yang mencemaskan, inilah
yang merisaukan. Dalam beribadah dan beramal, saya rasanya hanyalah
seorang minimalis, Allah-lah yang Mahatahu akan segala kelemahan dan
kekurangan diri saya.

Kadang-kadang, muncul pertanyaan ini, apakah hidup saya ini bernilai
di sisi Allah? Jika jawabannya negatif, tentu berarti sebuah
kegagalan, sesuatu yang sangat menakutkan. Tetapi, tentu saja kita
tidak boleh berputus harap akan ampunan Allah atas segala dosa,
kekurangan, dan kelemahan yang mengitari diri. Di sinilah barangkali
fungsi doa yang harus terus-menerus kita sampaikan kepada Maha
Pencinta hidup dan mati. Dalam masalah doa, memang saya tidak pernah
lupa, sekalipun tidak selalu disertai hati yang khusuk, bening, dan
rindu. Kadang-kadang, doa hanya asal dibaca, tidak sungguh-sungguh,
sedangkan rahmat Allah kepada saya sekeluarga telah turun berjibun,
tidak henti-hentinya, datang dari berbagai penjuru.

Hentakan Alquran adalah ini, "Belumkah datang saatnya bagi orang-orang
yang beriman untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi
kebenaran yang telah diwahyukan? Dan, janganlah mereka jadi seperti
orang-orang yang telah diberi kitab sebelumnya. Kemudian, mereka
melalui masa yang panjang, lantas hati mereka menjadi keras, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik/durhaka." (Alhadid:
16). "Ya Allah, bimbinglah aku ke jalan yang lempang agar terhindar
dari jurang kedurhakaan. Amin!"

Semua yang ditulis ini adalah pengalaman hidup yang saya lalui, tidak
dibuat-buat, karena itulah kenyataannya. Dengan harapan, agar para
pembaca akan jauh lebih manis dari apa yang saya rasakan. Posisi takwa
bagi saya ternyata masih terlalu mahal untuk diraih, sekalipun telah
berpuasa puluhan tahun.
(-)



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke