Sanak Suryadi dan dan para sanak sa palanta,
Saya kira memang ada betulnya juga perkiraan demikian. Belum seluruh lapisan di 
negara kita masuk dalam sektor modern ekonomi, sehingga juga belum seluruh 
pendapatannya tercantum dalam GNP. Di NTT, misalnya, rakyatnya biasa hidup 
dalam gubuk yang berlantai tanah -- sehingga secara formal akan termasuk 
kategori 'keluarga miskin' -- tapi ternaknya puluhan atau ratusan. 
Ada kalanya keadaan itu ada manfaatnya. Pengalaman dalam krisis moneter tahun 
1997 menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai 'sektor informal ' tersebut 
ternyata menjadi 'penyelamat ekonomi Indonesia'.
Hanya, berita tentang demikian banyaknya kemiskinan dan semakin seringnya orang 
bunuh diri amat merisaukan kita.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]





----- Original Message ----
From: Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, October 3, 2008 7:55:47 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Balasan: [EMAIL PROTECTED] Re: Keterangan Plt Menko 
Eku/Menteri Keuangan Sri Mulyani tentang Dampak Krisis Finansial AS


Pak Saaf yang baik dan sanak di palanta,

Soal ekonomi Indonesia, saya pernah maota2 dengan seorang ekonom. Katanya 
begini: dampak ekonomi global itu terhadap ekonomi Indonesia kadang2 sulit 
diprediksi. Masalahnya, orang Indonesia hanya sebagian kecil saja yang 
berurusan dengan bank. Banyak orang Indonesia manyimpan ameh atau benda 
berharga lainnya di rumah. Ini berbeda dengan di negara maju, katakanlah 
Belanda. Di sana hampir semua transaksi lewat bank. Orang tidak menanam 
kapitalanya dalam bentuk barang atau tanah (ambo liek jarang urang kayo di 
Belanda ko nan punyo oto labiah dari ciek, bahkan ndak ado nan sampai 5-6 
bantuak di Indonesia). Jadi, kapital mereka dalam bentuk pitih (pun dengan 
pajak tinggi) yang sewaktu2 kalau berubah nilainya langsung taraso efeknya 
kepada si pemilik tabungan. Bahkan untuk bayar makan sepiring di kantin 
universitas lewat kartu chip. Jadi, kaya-miskin sebagian besar orang Indonesia 
itu sulit dilacak oleh negara. Dicaliak inyo biaso2 sajo, tanyato di bawah
 lamarinyo di rumah ameh babungkah2.Iko acok dipraktekkan dek induak2. Oleh 
sebab itu selama krisis ekonomi (katanya begitu) di negara ini mobil yang 
terjual tetap banyak, orang di kampung tetap bisa makan.
Entahlah....apa benar analis ini entah tidak, saya tak tahu. Sebab saya bukan 
ahli ekonomi, apo lai indak pernah manyimpan ameh babungkah di bawah tampek 
tidua.

Salam lebaran,
Suryadi
====

"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Betul juga, Riri. Artinya ada gap antara dunia akademik yang menganalisa trends 
apa adanya, dengan para politicians yang selain berwenang mengambil keputusan, 
juga punya kepentingan sendiri.
Trims.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]





----- Original Message ----
From: Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, October 3, 2008 3:19:11 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Keterangan Plt Menko Eku/Menteri Keuangan Sri 
Mulyani tentang Dampak Krisis Finansial AS





2008/10/3 Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>

Menjadi pertanyaan bagi saya: mengada jika sudah ada indikasi melemahnya dollar 
kok tidak ada upaya dari institusi yang berwenang di AS untuk mengantisipasi 
krisis seperti sekarang. Apa ilmu ekonomi belum mempunyai kemampuan prediksi 
yang diperlukan ?  

Sudah ada yang memperingati sebelumnya, antara lain JE Stiglitz (maaf, 
spellingnyo mungkin salah), ekonom pemenang Nobel. Sejak (mungkin) 5-6 tahun 
yll dia sudah mengingatkan bahaya karena terlalu besarnya pengalokasian dana ke 
bisnis properti.

Nah, kalau dilihat, ini kan bukan cerita baru di dunia, pengalokasian dana yang 
terlalu besar ke suatu sektor ... Tapi, mungkin pemerintah atau sektor 
perbankan di AS punya pertimbangan lain.

Memang kadang2 ada saja hal-hal yang secara teori begini, tapi regulator atau 
praktisi maunya beda. Kadang belakangan baru kita lihat, lha, kan ini teorinya 
sederhana banget, kok jadinya lain? Sebelumnya kita lihat kasus Enron, itu kan 
teorinya sederhana, tapi kok kejadian. Saya pernah ikut training, diceritakan 
suatu kasus fraud besar di AS, ZZZZ Best, seorang "anak kecil" yang bisa 
mengelabui pemerintah, bank dll.. Caranya? Kalau kita lihat sederhana sekali, 
jauh lebih sederhana dibanding kasus2 fraud/ korupsi di Indonesia.

Riri
Bekasi, L 46

________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai! 
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke