Assalamu'alaikum wr wb;
 Alahmdulillah ambo lai pai pulo 'umroh ramadhan kapatangko.Ambo maambiek
sapuleh hari tarakhir.Sambie baimok piti ,ambo jo induek bareh i'tikaf dari
tanggal 21 Sept.Bacari nan ado AC.Manganai toleransi,alhamdulillah kapalo
ambo lai babarapo kali dipacik dan ditakan sahinggo kawan nan mancaliek
bakomentar:"kok di Jakarta dilakukan urang macam itu iyo lakek tangan"Tapi
karano ambo lah tahu bahaso kalau kapalo dipacik disinsan indak baa doh asal
jaan bokong.Manganai toleransi nan ambo alami,memang lain antaro Ramadhan jo
musim haji.Dalam bulan Ramadhan urang cenderung untuk babuek baiek jo
sasamo,tapi kalau musim haji urang agak egois.Dan memang i'tikaf sapulueh
hari tarakhir lain pulo suasananyo,dan dek kami managieh,walaupaun basasak
sasak.Kalau nio baimok,indak usah manyewo hotel,tas dipataruehkan kakawan
nan di hotel.Barangkali untuk urang minang mungkin sasuai jo kebiasaan :
makan dilapau (warung ) lalok disurau ( mesjidil Haram).
Kalau nio mancubo taun datang bulieh kontak jo ambo,bamupakaik wak.

Wassalam;

hilman mahyuddin.

Pada 4 Oktober 2008 19:12, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> Sanak syafrinal syarien
>
> Memang saya ada dengar seperti yg sanak sampaikan
> Tapi yg baru saya alami adalah seperti yg saya tuliskan
> Yang saya lihat betapa orang berusaha berbagi  lebih-lebih dalam bulan
> puasa  ini
> Ada yg bawa susu di termos  ada yg bawa makanan, ada yg bawa teh hitam dan
> teh hijau dari afrika
> Ada yg bawa  juice mangga  dan mereka berdiri atau berjalan
> membagi-bagikannya
> Kebetulan saya kecipratan dapat  yg seperti itu
> Waktu berebut ber udhuk ketika kita menolong orang  langsung pula kita di
> tolong. Tolong menolong dan lapang melapangkan ditempat yg sangat ramai dan
> sempit itu   ternyata melapangkan hati , tempat dan perasaan
> Mudahkanlah,  kita akan di mudahkan
> Kebetulan pelaksanaan Umrah  yg baru kali ini kami kerjakan
> alhamdulillah   banyak kemudahan dan ke lapangan
> Seperti sanak syafrinal  saya sependapat tentang  Hajar aswad  itu
>
> salam teriring do'a
>
> K Suheimi
>
> ----- Original Message ----
> From: Syafrinal Syarien <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Saturday, October 4, 2008 2:54:29 PM
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: TOLERANSI MASJIDIL HARAM
>
>
> Syukurlah Pak Dokter masih melihat sikap toleran di Masjidil Haram. Tapi
> dari kisah ini, sikap toleran lebih banyak ditunjukkan oleh jemaah dari Asia
> Tenggara. Jarang kita temukan sikap yang sama dari jemaah lain terutama yang
> berasal dari anak benua India.
>
> Pengalaman saya beberapa kali umrah, yang saya temukan lebih banyak sikap
> egois, saling berdesakan, sikut sana sikut sini. Apalagi untuk urusan
> mencium hajar aswad. Batu hitam yang diduga sebagai meteorid yang jatuh di
> tanah Arab namun diyakini sebagai batu dari surga. Agaknya dengan mencium
> hajar aswad, paling tidak sudah serasa mencium aroma surgawi. Hajar aswad
> memang wangi karena saya melihat sendiri acara pengolesan minyak wangi pada
> batu hitam itu.
>
> Desak-desakan dan sikut-menyikut ketika mencium hajar aswad ini menciptakan
> peluang bisnis baru. Saya pernah ditawari pengawalan oleh orang Madura
> (barangkali mereka pendatang haram di tanah haram). Dengan membayar 100
> riyal, 3 orang madura itu akan menjadi bodyguard saya untuk bisa mencium
> hajar aswad. Urusan sikut-menyikut dan bentrokan fisik lainnya serahkan pada
> mereka. Uang 100 riyal bisa melindungi Anda dari tindihan dan dorongan yang
> menyesakkan dada di tengah terik matahari kota Makkah.
>
> Tawaran bisnis dari orang Madura ini saya tolak. Bukan karena saya pelit
> mengeluarkan uang 100 riyal, tapi sesungguhnya saya tidak terlalu berminat
> untuk mencium aroma surgawi hajar aswad. Saya ngeri membayangkan sekian ribu
> mulut orang dari berbagai penjuru dunia telah menempel di batu hitam itu.
> Hanya Allah yang tahu entah bakteri jenis apa yang sudah melekat di batu itu
> hasil transfer dari mulut ke mulut. Barangkali Pak Dokter setuju dengan saya
> soal ke-higenis-an ini.
>
> Mungkin juga Pak Dokter mengamati "toleransi" yang ditunjukkan jemaah asal
> Indonesia terhadap rombongan tawaf 'buldozer' yang biasanya berasal dari
> Turki. Kelompok ini membentuk rombongan yang bak buldozer menghondoh semua
> yang ada di depannya. "Tabalintang patah, tabujua lalu!" begitulah kira-kira
> semboyan mereka. Buldozer ini dibentuk dengan menempatkan pria kuat-kuat di
> bagian depan dan pinggir, dan di tengah buldozer ditempatkan kaum wanita dan
> lansia. Tujuannya mulia: melindungi kaum lemah dan menyatukan rombongan
> supaya tidak bercerai-berai ketika tawaf. Tapi tujuan mulia ini dicemari
> dengan sikap menghondoh semua jamaah yang ada di depannya. "Toleransi"
> seperti inikah yang direnungkan Pak Dokter?
>
> Ka'bah adalah bangunan suci. Seyogyanya kegiatan di sana penuh dengan
> kesucian dan jauh dari kemungkaran. Tapi barangkali saat tengah khusuk
> berdoa, Pak Dokter pernah dihampiri orang dari India, Pakistan, Bangladesh,
> Sri Lanka, dan kawan-kawannya. Di depan Ka'bah yang suci itu, mereka
> berusaha menjerat jemaah polos seperti kita dengan cerita sedih begini:
> - Dia datang ke tanah suci dengan niat fisabilillah plus ongkos pas-pasan
> - Dia tinggalkan anak-istrinya di kampung, pergi ke tanah suci berharap
> masuk surga sendirian (inikah toleransi?).
> - Sekarang passportnya expired, terlunta-lunta di tanah suci, ia mau balik
> tapi tak ada ongkos.
> - Ujung-ujungnya ia berharap sedekah dari jemaah dermawan dan polos seperti
> kita dari Indonesia ini. Lebih parah lagi, ia mematok tarif minimum, "fifty
> riyals should be enough, brother!"
>
> Seorang mualaf asal Manado menceritakan kepada saya kejadian yang sama. Ia
> akhirnya memberi uang 100 riyal ke orang itu. Alasannya: jangan-jangan orang
> itu adalah malaikat yang menguji kedermawanannya. Ia tak percaya bahwa di
> depan Ka'bah yang suci itu, orang masih tega berbuat jahat, tipu-menipu dan
> berbohong. Saya cuma kasih tips buat mualaf ini, "begini saja Pak, supaya
> Bapak tahu orang itu malaikat atau manusia biasa, sebaiknya Bapak tempeleng
> dulu kepalanya. Kalau dia kesakitan berarti dia cuma tukang tipu biasa,
> bukan malaikat!"
>
>
>
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke