Yunani Kuno dan Minangkabau
Oleh Andrinof A Chaniago
Pengajar di Universitas Indonesia
Antara kehidupan Yunani Kuno dan Minangkabau, terdapat jarak waktu pemisah
lebih dari duapuluh abad lamanya. Melihat pencapaian luar biasa dari bangsa
Yunani Kuno, juga bukan hal yang setara untuk membandingkannya dengan
Minangkabau yang hanyalah sebuah suku bangsa diantara duaratusan suku bangsa di
Indonesia. Tetapi, jika melihat sejarah tokoh-tokoh pemikir terkemuka berikut
warisan karya-karya pemikir dari kedua masyarakat ini, kita akan menemukan
sesuatu yang relevan untuk dibandingkan.
Sama dengan sikap hidup individu orang Minangkabau, masyarakat Yunani Kuno
menyukai kehidupan yang bebas dan merdeka. Selain itu, keduanya dikenal dengan
masyarakat yang haus akan pengetahuan.
Sebagian orang Yunani Kuno juga suka merantau. Namun, di sini mulai tampak
perbedaan mereka dengan orang Minang. Orang-orang Yunani Kuno pergi merantau
karena sebagian besar tanah mereka gersang dan tandus. Dengan demikian, motif
orang-orang Yunani Kuno pergi merantau semata-mata untuk ekonomi. Semenara bagi
orang Minang, merantau bukan semata-mata untuk tujuan ekonomi, melainkan juga
untuk belajar hidup, sebagaimana bisa kita lihat dari beberapa pepatah Minang.
Tanah di wilayah fisik-geografis orang Minang adalah tanah yang subur, karena
memiliki lahan lapisan vulkanik yang luas dan memiliki bukit-bukit yang
ditumbuhi tanaman lebat yang membuat bukit-bukit itu sebagai ”prasarana”
irigasi alami bagi lahan pertanian di dataran rendah. Dari sumber air yang
berasal dari ruas pegunungan Bukit Barisan itu, bukan saja padi dan tanaman
palawija yang tumbuh sehat, tetapi juga bermanfaat untuk membesarkan ternak
hewan dan membudidayakan ikan air tawar. Bahkan, dengan sumber air yang datang
dari pegunungan itu yang kemudian ditampung oleh Danau Maninjau dan Danau
Singkarak, daerah ini menjadi tempat produksi listrik yang biaya produksinya
hanya seperlima dari listrik yang diproduksi oleh sistem pembangkit batu bara
ataupun gas. Selain itu, sejalan dengan watak ekspansionis modal, beberapa
sumber air alami di Sumbar itupun menjadi sumber produksi air kemasan yang
populer dengan nama air mineral.
Di jaman Orde Baru, para penguasa pemerintahan di Sumbar, yang sering sekali
mengklaim bertindak untuk dan atas nama masyarakat penganut kebudayaan
Minangkabau, secara terang-terangan mengingkari kekayaan alam yang
dianugerahkan Tuhan tadi. Mereka dengan tanpa beban mengatakan, ”Daerah kita
miskin. PAD kita kecil. Kita tidak punya minyak seperti Provinsi Riau atau
deposit tambang lain seperti di Kalimantan atau Papua.” Ungkapan seperti ini
tidak lain dimaksudkan untuk mengajak masyarakat mendukung Pemda meminta
”kemurahan hati” Pemerintah Pusat agar mengucurkan dana lebih besar untuk
Sumbar. Karena itu pula, masyarakat Sumbar harus menunjukkan dukungan yang
besar kepada Golkar yang ketika itu merupakan alat hegemoni kekuasaan
Pemerintah Pusat.
Begitulah cara elite-elite politik Sumbar di jaman Orba memandang kekayaan
alam Sumbar. Arti kekayaan alam pun dipersempit menjadi ketersediaan deposit
tambang sambil menutup mata terhadap harta yang luar biasa nilai potensinya,
seperti perbukitan, gunung-gunung, sungai-sungai, danau-danau dan pantai-pantai
yang memberikan akses mudah untuk memanfaatkan sumber-sumber alam di atas dan
di dalamnya. Padahal, pengukuran kekayaan harus dimulai dengan kemudahan
mendapatkan barang-barang dan jasa kebutuhan pokok, mulai dari makanan,
pakaian, pendidikan, dan kesehatan? Kalau di daerah-daerah lain masyarakatnya
membutuhkan usaha yang panjang dan modal lebih besar untuk mendapatkannya,
sementara di Sumbar secara rata-rata lebih mudah, bukankah berarti itu kekayaan
Sumbar?
Merantau yang bukan semata-mata karena dorongan kelangkaan kekayaan lokal
bagi masyarakat Sumbar tadi seharusnya menambah modal untuk membuat masyarakat
yang menetap di Sumbar lebih makmur sejahtera dibanding rata-rata daerah di
Indonesia. Dengan kesejahteraan itu pula Sumbar seharusnya berkembang sebagai
pusat pengembangan ilmu pengetahuan karena bisa menjadi sumber insentif bagi
para tokoh intelektualnya untuk terus berkarya di tanah asalnya sendiri seperti
yang terjadi pada kaum intelektual Yunani Kuno.
Tetapi, di sinilah letak perbedaan lain antara Minangkabau dan Yunani Kuno.
Kaum pemikir Yunani Kuno tidak perlu pergi merantau untuk menghasilkan
karya-karya ilmu pengetahuan mereka. Sementara calon-calon intelektual Minang,
harus merantau untuk menjadi pemikir kelas nasional atau internasional, baik
untuk mendapatkan sumber-sumber pengetahuan baru maupun untuk menjadikan
ilmunya bisa digunakan oleh masyarakat. Akibatnya, di Minangkabau sendiri tidak
pernah lahir temuan-temuan penting atau gagasan-gagasan filosofis yang besar.
Sebaliknya, para pemikir Yunani Kuno cukup menyerap pengetahuan yang berasal
dari Mesir Kuno dan Babylonia, yang dibawa para pedagang dari kedua negeri
tersebut. Pengetahuan dari luar tersebut menjadi bahan untuk diolah dan
dikembangkan lebih lanjut di tanah Yunani Kuno sendiri. Proses seperti itulah
yang dilalui Anaximandros, Anaximenes, Phytagoras, Xenophanes, Anaxagoras,
Gorcias, Socrates, Plato, Aristoteles dan sebagainya. Proses seperti itulah
pula yang membuat lahirnya beberapa pengetahuan baru di Yunani Kuno yang
menjadi dasar pengembangan ilmu dan peradaban Eropa, bahkan dunia.
Para pemikir Yunani Kuno tadi adalah peletak dasar nilai-nilai kearifan dan
ilmu pengetahuan yang mempengaruhi kehidupan nyata masyarakat dunia
berabad-abad hingga kini. Dan, yang juga perlu dicatat, mereka bukan perantau
yang menemukan nilai-nilai peradaban dan hukum-hukum ilmu pengetahuan di luar
negeri leluhurnya, melainkan manusia-manusia yang membangkitkan masyarakat dan
membangun monumen-monumen peradaban di negeri mereka sendiri yang gersang itu,
sebelum karya-karya mereka itu menyebar pengaruhnya ke berbagai negeri luar.
Pertanyaan yang muncul dalam melihat ”proses menjadi” para pemikir Minang
adalah, dengan karakter yang sama-sama suka berpikir dan suka hidup merdeka
serta sama-sama haus pengetahuan dengan masyarakat Yunani Kuno, mengapa
masyarakat Minang tidak melahirkan sebagian tokoh-tokoh intelektualnya di
tanahnya sendiri?
Jawaban valid atas pertanyaan di atas tentu tidak mudah disodorkan
secepatnya. Tetapi, melihat potret saat ini dan kondisi sebelumnya,
jangan-jangan jawaban itu kita temukan bersamaan dengan perbedaan berikutnya
antara masyarakat Yunani Kuno dan Minangkabau. Masyarakat Yunani Kuno
memberikan penghormatan yang tinggi kepada para pemikir dengan menempatkan
mereka hanya sedikit di bawah dewa-dewa mereka. Karya-karya mereka dan
ucapan-ucapan mereka begitu didengar oleh masyarakat. Sementara, di
Minangkabau, bisa jadi para pemikir kurang dihormati dibanding para penguasa,
politisi dan pengusaha, terlebih dengan mereka yang menyandang dua status dari
dari tiga status itu sekaligus. Setidak-tidaknya suasana ini terasa sejak Orde
Baru hingga sekarang, dimana sumber kebenaran lebih banyak dipercayakan kepada
penguasa, politisi dan pengusaha, sebagaimana tampak dalam perlakukan-perlakuan
yang diberikan pada acara seremonial, di media massa maupun di tempat-tempat
umum.
Mudah-mudahan jawaban sementara saya ini keliru. Mohon maaf lahir dan
bathin.***
---------------------------------
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---