Assalammualaikum WR WB buya HMA yth. Semoga buya dalam keadaan sehat walafiat
dan tak kurang satu apapun hendaknya. Amin. Hanifah mohon maaf ka buya karano
baru sempat mambaleh email buya. Si ita kawan main sangkek ketek dan dunsanak
sasuku baminantu. Jadi hanifah jadi sipangka. Tadi takana nak ka mambaleh email
buya, lalu parmisi ka si ita nak pulang sacah. Bangih2 si ita, pingsan menah
aden beko, batinggaan sadang tagalayak. Ndak buliah kato si ita. Kini alek
sadamg makan karano alah salasai nikah. Hanifah pai ka suduk ma mencet2 HP.
Udah dulu buya, hanifah tunggu jawaban buya salanjuikno. Wass. Hanifah
H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Abdul Jabbar wrote:
> Waalaikum salam warahmatullahi wa
> barakatuh, Ananda Iffah di Bengkulen. Beberapa pertanyaan ananda Buya coba
> memilah jawabannya. Setidaknya untuk membuka fikiran kita.
> Amin YRA. Makasih banyak atas doa
> buya. Semoga buya dan keluarga besar buya juga selalu sukses, dan jerih payah
> buya menjadi amal ibadah bagi buya hendaknya. Amin
> Terima kasih juga dari Buya, atas doa Iffah dan anak-anak sekalian Lebih
> lagi, ketika kita telah mengetahui sabda Baginda Rasulullah SAW, bahwa doa
> itu adalah mukhul ibadah artinya otak dari ibadah.
> Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan kita, bahwa doa itu adalah senjata orang
> mukmin, makanya sukalah berdoa, karena Allah senang kepada orang yang mau
> meminta kepada NYA.
> Amat berbeda dengan kita, atau manusia pada umumnya, makin banyak orang
> datang meminta kepadanya makin sempit kalang -nya, serasa rasa takut selalu
> membayangi, seakan yang ada di tangan akan habis tandas Pada hal manakala
> kita sadari lebih dalam, maa 'indakum yanfadu wa maa 'inda Aallahi baaq
> artinya apa yang ada di tangan kamu akan punah dan apa yang ada di sisi Allah
> akan kekal abadi.
> Ananda Iffah tentu belum bertemu atau mendengar ada orang kaya di dunia ini
> yang membikin pengumuman besar-besaran, berisi ajakan agar orang-orang
> meminta kepadanya, kemudian dia menyediakan segala sesuatu yang diminta orang
> banyak sembari menjajikan, datanglah kemari aku akan beri semua yang diminta
> itu.
> Berbeda nyata dengan Allah SWT, Yang Maha Kaya lagi Maha Rahim itu.
> FirmanNya menghimbau kita, mintalah kepada KU, berdoalah kepada KU, aku akan
> kabulkan. Insya Allah doa kita dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Amin.
> Buya, hanifah justru sangat salut ke buya, walau
> usia buya sudah berkepala tujuh, tapi semangat buya masih semangat empat
> lima. Tak
> sampai di rentang waktu 24 jam, buya sudah menulis balasan email ifah, pada
> hal
> saat ini masih suasana lebaran,dimana buya dikeililingi oleh keluarga besar
> buya. Entah bagaimnana cara buya menyuri waktu untuk menulis... ck ck ck luar
> biasa
> untuk orang setua buya. Hanifah dan dunsanak di palanta maya RN ini sangat
> kagum
> membaca tulisan-tulisan buya yang penuh makna dan nasehat
> Tidak perlu terlalu berlebihan ananda. Apresiasi ananda amat buya hargai.
> Moga Allah SWT memberikan kesempatan yang lebih baik kepada kita semua.
> Pada hakikatnya, kita ini sedang malagak jo nan dipinjamkan Allah jua.
> Termasuk umur, ilmu, usia, kesehatan, pangkat, harta, anak-pinak, jabatan ,
> dan apa saja yang ada di sekitar kita, juga nagari, koroang, kampuang,
> taratak dan semua ulayat yang kita punyai kini.
> Makanya, kewajiban kita adalah mensyukuri atau memelihara semua petaruh Allah
> SWT itu dengan baik dan sangak hati-hati. Salah satu caranya adalah
> menghormati waktu dan mengelola waktu dengana baik. Dalam kaitan itu semua,
> selain waktu dipakai untuk berusaha dan bekerja, maka perlu juga disiapkan
> untuk mengeratkan silaturahim itu. Salah satu caranya seperti yang telah buya
> sebutkan, kok dakek silau manyilau , dan tibo di nan jauah jalang manjalang ,
> artinya hidup beradat. Karena adat itu sesungguhnya adalah akhlak mulia yang
> menjadi salah satu isi dari ajaran agama (syarak) itu.
> Maka orang beradat tentulah berarti orang yang mempunyai akhlak yang baik
> dan terpuji. Makanya Nabi Muhammad SAW bersabda untuk membimbing kita
> mempunyai akhlak mulia ini, diantaranya (1). siapa yang sungguh beriman
> kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah dia menghormati tamu-tamunya. (1).
> Siapa yang berimana kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah dia
> menghubungkan silaturahim , (3). Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari
> Akhirat, hendaklah dia berkata yang baik-baik atau (kalau tidak ada lagi
> perbendaharaan kata yang baik itu, maka sebaiknya) diam saja.
> Tiga bimbingan Rasul ini, menjadi dasar di dalam menata adat basandi syarak,
> syarak basandi Kitabullah dan menjadi ciri-ciri watak dalam bergaul, serta
> terpakai di dalam berbagai hbungan. Artinya ketiga anjuran ( syarak mangato )
> itu, -- yakni menghormati tamu (terpakai dalam pariwisata, indak basibagak
> sajo, muluik manih kucindan murah, pandai bagaue samo gadang),
> menghubungkan silaturahim (terpakai untuk kekuatan sinerji, relationship,
> friendship , understanding , dan sebagainya) serta,
> berkata baik (agak-agak nan ka pai, ingek-ingek nan ka tingga, kok gadang
> usah malendo, kok gamuak usah mambuang lamak, kok di ateh usah mahimpik, usah
> malantuang ka naik, usah malendo ka turung, pabanyak rila jo maaf).
> Ada lagi peranan adat istiadat yang sebenarnya adalah akhlak mulia itu,
> yaitu nan singkek di uleh, nan kurang di tukuak, nan condong di tupang,
> tantang nan bagarih nan ba paek. Artinya ada saling membantu, saling
> menolong, saling menyayangi, saling memahami, saling
> mendengarkan, saling bermusyawarah, saling menghormati satu sama lain.
> Kekuatan akhlak ini melahirkan kekuatan budaya di Minangkabau selama ini,
> sekarang dan juga yang akan datang. Jadi sesungguhnya tatanan beradat itu,
> bermakna adalah berperangai baik, terpuji, lurus, benar, amanah , yang pada
> hakikatnya adalah ajaran akhlak karimah.
> Hal itu semua yang mendorong kita semua (menjadi motivasi dari dalam diri)
> untuk berbuat lebih baik, berkarya lebih sempurna, sebab hari esok itu dibuat
> mulai hari ini. Moga Allah menerima amal ibadah kita semua. Amin.
> Buya, kadang karena sesuatu hal, kita tidak dapat hadir di undangan
> tersebut. Kalau dikampung kita, undangan bisa berlaku berhari-hari. Tidak bisa
> hadir hari ini, bisa hadir besoknya atau lusa. Kalau di rantau kami Bengkulu,
> apalagi
> kalau yang pesta orang Bengkulu, jangankan besok apalagi lusa, telat saja dari
> jadwal undangan... pestanya sudah usai ... Akhirnya tak semua undangan
> terpenuhi, apalagi kalau dihari yang sama ada beberepa pesta yang mesti
> dikunjungi di lokasi yang kadang berjauhan.
> Apa kami berdosa kalau tidak hadir buya ???
> Sesungguhnya tidak ada alasan kita untuk tidak hadir, ketika ada undangan di
> zaman serba maju dan serba canggih ini. Coba ananda Iffah bayangkan, kita
> sudah punya mobile phone, wireless, celular, dan bahkan dilengkapi dengan
> voice dan video atau short messege. Jika kita memiliki kesungguhan hati tidak
> ada halangan lagi untuk memberi tahukan bahwa ada atau tidak ada kesempatan
> di dalam memenuhi undangan tersebut.
> Pekerti beradat tentulah mampu mengelola waktu. Di dalam pepatah adat
> disebutkan, hari sahari di parampek, hari sa malam di patigo . Pepatah ini
> mempunyai arti yang dalam. Bahwa hari sehari saja perlu di kelola, dilakukan
> pembagian, minimal kepada empat bagian, di antaranya untuk ;
> ( a). untuk keperluan dalam hubungan dengan kepentingan diri, (b). untuk
> keperluan dalam hubungan berkeluarga, (c). untuk keperluan dalam hubungan
> dengan lingkungan masyarakat, dan (d). untuk keperluah hubungan dengan Khalik
> .
> Dan malam harinya juga dibagi, setidaknya kepada tiga kegiatan, 1. belajar
> menambah ilmu, 2. istirahat tidur, dan 3. mendirikan malam bertahajud
> (beribadah kepada Allah). Begitu indahnya tatanan adat budaya Minangkabau,
> karena pengelolaannya di dasarkan kepada syarak atau bimbingan agama yang
> melahirkan akhlak karimah yang mulia itu.
> Di sini kita rasakan tuntunan adat istiadat (sekali lagi yang dimaksud adat
> istiadat itu adalah perangai atau perilaku yang indah dan baik, bagi
> Masyarakat Adat Minangkabau dituntun oleh syarak atau agama Islam). Di sini
> pula kita merasakan pentingnya kaidah adat tentang ukuran jo jangko serta
> raso jo pareso , yakni patut pantas . Dengan ukuran patut pantas (menurut
> alur dan patut ) inilah dilakukan upaya mengeratkan silaturahim antar sesama
> anggota masyarakat, sehingga lahir saling menghargai dan menyangi tadi itu.
> Di kampung hanifah juga
> begitu buya. Biasanya yang membawa beras dan telor pertanda yang datang punya
> tali kekerabatan secara adat, misalnya keluarga bako, induak bako, keluarga
> istri mamak, dll. Kalau hanya sekampung, cukup membawa beras saja.
> Benar. Hubungan beri memberi juga adalah implementasi dari syarak mangato
> adaik mamakaikan. Kebiasaan beri memberi akan membunuh virus individualis,
> yang kalau dibiarkan virus itu terus berkembang, bisa meruyak menjadi
> materialistis bahkan hedonistik yang semata mendasarkan kepada keinginan
> nafsu badani saja, yang di dalam istilah agama disebut ittiba' hawahu atau
> memperturutkan kehendak hawa nafsu syahwati semata.
> Bila kita mau mendalami dalam bidang filasafat (sosial, ekonomi) akan
> ditemui bahwa ittiba' hawahu ini akan melahirkan pula neokolonial-liberalisme
> yang oleh Hatta telah diupayakan mengantisipasi dengan cooperative itu. Namun
> belakangan idea koperasi yang terdiri dari perkumpulan orang-orang berganti
> bentuk menjadi perhimpunan uang-uang artinya berubah bentok menjadi
> corporation .
> He he he bisa juga buya
> bercanda ya.
> Misalnya buya manfaatkan dalam
> hal apa dan untuk apa ?
> Bagi kami kaum perempuan minang, yang kami rasakan untungnya adalah adanya
> tempat kembali. Tali kasih sesama perempuan rasanya agak beda juga dengan
> saudara laki-laki. Sesama perempuan kadang kita masih mudah saling berbagi ...
> bajupun bisa saling pakai.
> Ananda Iffah, Buya sebenarnya kurang senang bercanda.Tapi kadang-kadang
> hikmah terletak juga pada cara pengungkapannya. Bisa jadi tajam tapi tidak
> melukai, atau mungkin juga keras tapi tidak menyakitkan.
> Hikmah adalah anugerah besar. Hikmah ada pada adat istiadat atau akhlak
> mulia itu ananda. Hikmah beradat budaya di Minangkabau telah menjadikan anak
> kemenakan yang tiap saat bertambah jumlahnya itu, tetap merasa tenteram di
> lahan kian sempit dan selalu berkurang, bisa jadi karena longsor dan gempa,
> atau digerus kikis oleh erosi, bahkan digusur development secara fisik, dan
> mungkin tergadai atau dijual karena berbagai keperluan.
> Namun ulayat tetap ada, tidak semata dalam bentuk fisik saja, tetapi lebih
> dalam bentuk psikis, yaitu basuku, basawah baladang, baparak babintalak,
> bakoroang kampuang, balabuah batapian , dan semuanya itu adalah tata ruang
> yang jelas dari masyarakat adat Minangkabau ini. Tidaklah seorang terbuang
> dari kampung halamannya, walaupun tidak bersawah bermunggu lagi, selama dia
> bersuku dan berdunsanak , yang diikat erat oleh silaturahim atau kekerabatan
> .
> Inilah istimewanya ananda Iffah. Ananda Iffah yang terhormat, Hingga ini
> dahulu jawaban buya. Belum lengkap. Baru seadanya saja. Adapun pertanyaan
> lainnya, seperti di bawah ini lain kesempatan Insyaallah buya jawab. Tinggal
> beberapa pertanyaan Iffah, sungguhpun barangkali secara terpisah-pisah
> sebagiannya sudah ada juga dalam jawab di atas, antara lain ;
> 1. Buya, tuntutan pekerjaaan saat ini, membuat orang sangat susah
> bersilaturrahim buya. Jangankan bersilaturahim dengan orang lain, kadang
> dengan
> anak-anak saja sang bapak bisa nggak ngomong-ngomong di hari kerja. Nah untuk
> itu di hari libur, mereka habiskan untuk berlibur dan bercengkerama dengan
> keluarga. Kehadiran orang lain kadang terasa menggangu acara keluarga.
> Begitulah kehidupan sebagian besar teman teman hanifah di Jakarta buya. Bagi
> orang minang, libur lebaran itulah kesempatan untuk pulkam, dan mengenalkan
> anak-anak atau keluarga kepada saudara-saudara dikampung. Hanya saja tak
> selalu
> berjalan mulus. Adakalanya setelah bertemu kadang ada yang suka kadang ada
> yang
> duka. Beruntung kalau semua bahagia.
> Pernah seorang saudara ngomong " berlibur kita kebali, pulang libur hati
> senang, berlibur kita kekampung, pulangnya pusing ".
> 2. Buya, kok buya minta maaf ??? Bukankah ini dasar dari ABSSBK ??? Oh ya
> buya, apa yang buya
> bahas bersama teman-teman di UNAND tentang ABSSBK beberapa waktu yang lalu ??
> Apa
> ada sesuatu yang baru ???
> 3 . Buya, sekarang yang terjadi adalah cakak banyak
> dimana-mana termasuk di ranah. Yang berarti tidak ada lagi mufakat diranah ???
> Apa yang terjadi di ranah buya ???
> 4 Bagaimana kalau yang berunding sama-sama tidak mau mengalah ??? Tidak ada
> pulang jadi panutan ??? 5. Bagaimana dengan adat yang salingka nagari buya ?
> kan lain nagari lain pula
> adatnya. Bagaimana menyamakan sikap di tingkat yang lebih tinggi ??? Seperti
> buya yang sudah berfikir nasionalis, adat mana
> yang buya pakai ??? Apa dalam karir buya, buya tidak ketemu dengan orang
> dengan
> gaya kepiting ?? Seperti yang dibilang IJP tempo hari,
> sehingga akhirnya tak seorangpun bisa maju. Bagaimana cara buya mengatasi para
> kepiting ini ???
> 6. Buya, kebetulan di daerah kita termasuk daerah yang mengutamakan mufakat.
> Segala sesuatu cendrung di mufakatkan. Untuk daerah yang dari atas turun ke
> bawah bagaimana buya ? atau ada datuk yang bisa menjelaskan ?? lalu bagaimana
> kedua paham bisa seiring dan sejalan di ranah ???
> 7. Bagaimana pula dengan pendengaran kalau saat ini, adatpun sudah goyah di
> ranah ??
> 8. Maaf buya, tulisan buya yang sangat mantap masih ifah sisipi beberapa
> pertanyaan. Buya tidak perlu menjawab sekarang. Semoga Allah masih memberikan
> kesempatan kepada buya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Semoga saja
> ada yang mau menambahkan tulisan buya. Amin
> Terima kasih,
> Wassalam,
> Buya HMA
> di subaliek Ngarai Sianok,
> labieh saketek 73 baru.
> 2008/10/8 hanifah daman < [EMAIL PROTECTED] >
> Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
>
> Waalaikum salam warahmatullahi wa
> barakatuh buya HMA yth di Sumbar
> Ananda Iffah di Bengkulen,
> Salam maaf untuk keluarga dan anak-anak.
> Doa buya selalu menyertai ananda dan keluarga,
> dalam kesuksesan mencari redha Allah. Amin.
> Amin YRA. Makasih banyak atas doa
> buya. Semoga buya dan keluarga besar buya juga selalu sukses, dan jerih payah
> buya menjadi amal ibadah bagi buya hendaknya. Amin
> Talambek
> buya mambaaleh, mohon ananda Iffah memahami,
> tugas buya memang sedang sarat dengan mengunjungi para dunsanak,
> anak cucu jo kamanakan kito nan datang dari rantau.
> Dalam istilah di kampuang awak manyilau rang rantau pulang .
>
> Buya, hanifah justru sangat salut ke buya, walau
> usia buya sudah berkepala tujuh, tapi semangat buya masih semangat empat
> lima. Tak
> sampai di rentang waktu 24 jam, buya sudah menulis balasan email ifah, pada
> hal
> saat ini masih suasana lebaran,dimana buya dikeililingi oleh keluarga besar
> buya. Entah bagaimnana cara buya menyuri waktu untuk menulis... ck ck ck luar
> biasa
> untuk orang setua buya. Hanifah dan dunsanak di palanta maya RN ini sangat
> kagum
> membaca tulisan-tulisan buya yang penuh makna dan nasehat
>
> Sabananyo ado istilah dalam
> perilaku kito banagari, bakoroang bakampuang.
> Yaitu, kok dakek silau manyilau , dan apabila berjarak jangka maka
> tibo di nan jauah jalang manjalang , artinya ada satu kewajiban
> tidak tertulis di dalam adat pergaulan saling datang mendatangi dalam
> mengeratkan silaturahim.
> Saling
> mendatangi ini dapat dilakukan dengan face to face, menghadiri dan mengabulkan
> sebuah undangan, apakah dalam perhelatan atau kenduri kata orang kini.
> Sesungguhnya
> menghadiri dan mengabulkan undangan itu hukumnya wajib dalam
> syarak (agama Islam), demikian sabda Rasulullah SAW.
>
> Buya, kadang karena sesuatu hal, kita tidak dapat hadir di undangan
> tersebut. Kalau dikampung kita, undangan bisa berlaku berhari-hari. Tidak bisa
> hadir hari ini, bisa hadir besoknya atau lusa. Kalau di rantau kami Bengkulu,
> apalagi
> kalau yang pesta orang Bengkulu, jangankan besok apalagi lusa, telat saja dari
> jadwal undangan... pestanya sudah usai ... Akhirnya tak semua undangan
> terpenuhi, apalagi kalau dihari yang sama ada beberepa pesta yang mesti
> dikunjungi di lokasi yang kadang berjauhan.
> Apa kami berdosa kalau tidak hadir buya ???
> Dalam masyarakat adat kita di Minangkabau, umumnya kalau induak-induak (
> induak
> bareh, induak anak, atau bundo kanduang ), akan datang dengan
> mengepit kampie (semacam tas dari anyaman pandan yang diisi
> dengan beras atau telor) sebagai pembawaan ke rumah yang dijelang itu.
> Begitu dalam keadaan senang ( perhelatan ), dan demikian pula dalam
> keadaan susah ( menjenguk ketika kematian )
> Rasanya sangat berat bagi induak-induak untuk datang hanya melenggang tangan,
> walau tidak diwajibkan membawa " pembawaan " itu,
> karena di sini dan dalam situasi ini, yang berlaku hanya hukum rasa, yang
> menjadi ukuran adalah raso jo pareso , yakni patut
> dan pantas .
>
> Di kampung hanifah juga
> begitu buya. Biasanya yang membawa beras dan telor pertanda yang datang punya
> tali kekerabatan secara adat, misalnya keluarga bako, induak bako, keluarga
> istri mamak, dll. Kalau hanya sekampung, cukup membawa beras saja.
> Hubungan ke ibuan memang ukuranya raso jo pareso.
> Jangan terlalu heran kalau orang Minang menyandarkan ke keibuan (motherhood).
> Ternyata
> perbankan dunia sampai saat ini kalau kita mau melengkapi data-data
> peribadi di perbankan, niscaya akan diselipkan sebuah borang (pertanyaan) yang
> mesti diisi, siapa nama ibu kita?? Bukannya ditanya siapa nama bapak kita??
> Lembaga perbankan sebenarnya telah menerapkan matrilineal, apakah mereka
> belajar ke Minangkabau, tak tahulah buya.
> Karena itu tak perlu risih, malah kita harus lebih cerdas menatap sistim
> kekerabatan Minangkabau yang memang berbeda dari sistim yang lain.
> Buya melihatnya dari sisi positif saja, yaitu di tengah perbedaan itu,
> sesungguhnya terdapat keunggulan , jika kita pandai memanfaatkannya.
> ( Ananda Iffah, ini hanya sekedar guyon buya yang faktum, tak perlu ananda
> tanggapi serius ).
>
> He he he bisa juga buya
> bercanda ya.
> Misalnya buya manfaatkan dalam
> hal apa dan untuk apa ?
> Bagi kami kaum perempuan minang, yang kami rasakan untungnya adalah adanya
> tempat kembali. Tali kasih sesama perempuan rasanya agak beda juga dengan
> saudara laki-laki. Sesama perempuan kadang kita masih mudah saling berbagi ...
> bajupun bisa saling pakai.
> Silaturahim (bukan silaturrahmi) adalah satu dari
> ajaran syarak mangato adaik mamakaikan yang akan menjadi salah
> satu kekuatan yang ampuh di dalam menjalin hubungan kekerabatan dan
> sangat bermanfaat untuk mengeratkan tali persahabatan dalam hubungan
> kekeluargaan yang sudah terbina sebelumnya.
> Dalam menerapkan silaturahim, bahasa manajemen modern silaturahim itu artinya
> sinerjis,
> yang menjadi kekuatan ampuh menyusun sebuah tatanan (ekonomi, politik,
> sosial, budaya, struktur, msyarakat) .
> Tanpa sinerji atau silaturahim, rasanya mustahil membangkitkan relationship,
> responsibility atau apa juga namanya yang berkaitan dengan mengikat hubungan
> satu sama lainnya.
> Ada virus berbahaya yang merusak sinerji ini dan berdampak kepada lemahnya
> kinerja dalam berbagai bidang.
> Virus sosial itu bernama individualis (bahaso awak ongeh, gaduak, sombong,
> atau dalam agama atau syarak disebut 'ujub, takabbur, dan bakhil .
>
> Buya, tuntutan pekerjaaan saat ini, membuat orang sangat susah
> bersilaturrahim buya. Jangankan bersilaturahim dengan orang lain, kadang
> dengan
> anak-anak saja sang bapak bisa nggak ngomong-ngomong di hari kerja. Nah untuk
> itu di hari libur, mereka habiskan untuk berlibur dan bercengkerama dengan
> keluarga. Kehadiran orang lain kadang terasa menggangu acara keluarga.
> Begitulah kehidupan sebagian besar teman teman hanifah di Jakarta buya. Bagi
> orang minang, libur lebaran itulah kesempatan untuk pulkam, dan mengenalkan
> anak-anak atau keluarga kepada saudara-saudara dikampung. Hanya saja tak
> selalu
> berjalan mulus. Adakalanya setelah bertemu kadang ada yang suka kadang ada
> yang
> duka. Beruntung kalau semua bahagia.
> Pernah seorang saudara ngomong " berlibur kita kebali, pulang libur hati
> senang, berlibur kita kekampung, pulangnya pusing ".
> Apakah
> mungkin kita membangun tatanan sosial dengan mengabaikan adat budaya? Apakah
> mungkin adat budaya itu hidup subur tanpa keyakinan agama dan didikan
> perilaku ? Kearifan ini
> yang melahirkan adagium adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah .
> Artinya klop menjadi complete civilization
> kato urang di subarang ombak nan badabue itu.
> Eeh...,
> alah kama lo painya rundiang buya ko. Maaf kan buya ananda Iffah.
>
> Buya, kok buya minta maaf ???
> Bukankah ini dasar dari ABSSBK ???
> Oh ya buya, apa yang buya
> bahas bersama teman-teman di UNAND tentang ABSSBK beberapa waktu yang lalu ??
> Apa
> ada sesuatu yang baru ???
> Kito ba baliek ka pangka kaji.
> Datang mandatangi atau jalang manjalan itu, termasuk dalam bagian mufakaik juo
> ananda. Termasuk kedalam jenjang musyawarah.
> Kita disuruh " mendudukkan " masalah.
> Artinya secara harfiyah (leterlijk) rundingkan semua permasalahan sambil
> duduk, artinya secara mantap, mapan, siapkan waktu, dengarkan, bahas dan tidak
> tergesa-gesa, sambil duduk.
> Ditambah lagi dengan baso basi , artinya sopan santun,
> bukan hanya dengan melakukan baa nan lamak dek saalero awak surang
> sen doh atau sikap hedonis, permissivisness, anarkis dan semua
> tindak tidak terpuji lainnya .
> Jika basa basi dan sopan santun telah habis, maka yang
> terjadi tawuran, cakak banyak, atau cakak sakampuang jadinya.
> Selain dari sikap sopan santun atau baso basi tadi, maka dilanjutkan dengan
> bakato
> lapeh arak, yang mempunyai makna lebih dalam , yaitu
> tanggalkan semua yang memberati, duduklah saling berhadapan.
>
> Buya, sekarang yang terjadi adalah cakak banyak
> dimana-mana termasuk di ranah. Yang berarti tidak ada lagi mufakat diranah ???
> Apa yang terjadi di ranah buya ???
> Indahnya lagi dilengkapi dengan barundiang sudah makan .
> Bila tatanan itu berjalan di tengah masyarakat adat Minangkabau, akankah ada
> juga silang sengketa ??? Rasanya tidak ada lagi.
>
> Bagaimana kalau yang berunding sama-sama tidak mau mengalah ??? Tidak ada
> pulang jadi panutan ???
> Pola ini bertemu dalam
> struktur adat Minangkabau,
> walau polanya tidak tertulis.
> Hukum
> adat itu sebenarnya adalah semacam act atau seni hukum
> kebiasaan yang mengikat bagi masyarakat yang beradat itu.
>
> Bagaimana dengan adat yang salingka nagari buya ? kan lain nagari lain pula
> adatnya. Bagaimana menyamakan sikap di tingkat yang lebih tinggi ??? Seperti
> buya yang sudah berfikir nasionalis, adat mana
> yang buya pakai ??? Apa dalam karir buya, buya tidak ketemu dengan orang
> dengan
> gaya kepiting ?? Seperti yang dibilang IJP tempo hari,
> sehingga akhirnya tak seorangpun bisa maju. Bagaimana cara buya mengatasi para
> kepiting ini ???
> Memang ada penjenjangan dalam musyawarah itu, bajanjang naik batanggo
> turun . Kaedah ini merupakan tangga musyawarah di Minangkabau.
> Bahaso awak dikenal babiliek ketek dan babiliek gadang .
> Ada kearifan yang semestinya terpakai ketika persoalan dapat diselesaikan
> berdua, tak perlu dibawa orang ketiga, seperti contohnya musyawarah dalam
> rumah
> tangga.
> Bila tidak selesai dalam lingkungan kecil itu, tak perlu pula disebarkan ke
> tengah nagari dan kampung dahulu. Namanya menabur aib sendiri, atau manapiek
> aie di dulang.
> Cobalah selesaikan di tengah keluarga dekat dan jauh.
> Ini sebenarnya adalah juga bimbingan syarak yang disebut qarib
> (dekat) dan ba'id (jauh).
> Kadang juga disebut karib bait (= bait dengan arti rumah),
> Maknanya adalah selesaikan dahulu oleh keluarga dekat yang serumah, semamak,
> sekaum, sesuku, sejorong, sekampung atau senagari .
> Dengan demikian tidak dapat dimungkiri bahwa masyarakat adat itu, sebenarnya
> masyarakat yang kuat karena tatanan adatnya, struktur kekerabatannya, dan
> kuatnya nilai-nilai adat yang mengikatnya .
> Di sini terletak kuncinya.
>
> Buya, kebetulan di daerah kita termasuk daerah yang mengutamakan mufakat.
> Segala sesuatu cendrung di mufakatkan. Untuk daerah yang dari atas turun ke
> bawah bagaimana buya ? atau ada datuk yang bisa menjelaskan ?? lalu bagaimana
> kedua paham bisa seiring dan sejalan di ranah ???
> Bagaimana pula dengan pendengaran kalau saat ini, adatpun sudah goyah di
> ranah ??
> Ananda Iffah,
> Buya rasa cukup hingga ini dahulu,
> jika Allah mengizinkan, di lain waktu buya sambung pula.
> Moga ini ada manfaatnya bagi ananda,
> tetapi cobalah juga bertanya kepada orang lain,
> yang mungkin punya khazanah pengetahuan atau pengalaman,
> yang mungkin lebih dari buya.
>
> Maaf buya, tulisan buya yang sangat mantap masih ifah sisipi beberapa
> pertanyaan. Buya tidak perlu menjawab sekarang. Semoga Allah masih memberikan
> kesempatan kepada buya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Semoga saja
> ada yang mau menambahkan tulisan buya. Amin
>
> Terima kasih,
> Wassalam,
> Buya HMA
> di subaliek Ngarai Sianok,
> labieh saketek 73 baru.
>
> Terimaksih juga untuk waktu dan ilmu yang telah buya turunkan ke kami di
> palanta ini. Kami tunggu tulisan buya yang lainnya. Mohon maaf kalau buya
> keberatan.
> Wass
> Hanifah Damanhuri --
> Allahumma inna nas-aluka ridhaa-ka wa al-jannah, wa na'uudzu bika min
> sakhati-ka wa an-naar Allahumma ghfir-lana dzunubana, wa li ikhwanina, wa
> sabaquuna bil-imaan,wa laa taj'al fii qulubinaa ghillan lil-ladzina aamanuu
> Rabbana innaka ghafuurun rahiim.
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---