The unfinished privatization of Semen Padang : the structure of the
political economy in post-Suharto Indonesia / Wahyu Prasetyawan Author:
Wahyu Prasetyawan In: Indonesia, ISSN 0019-7289
(2006), issue 81 (April), page 51-70 Abstract: This paper analyses the
struggle between the central government of Indonesia and increasingly assertive
stakeholders at the regional and local level. It revolves around the dispute
over Semen Padang, a state-owned cement-producing enterprise in West Sumatra.
The source of conflict was the intended privatization in 1998 of Semen Gresik,
with which Semen Padang had been merged by Soeharto. The government's right to
privatize the company was contested by Ikhdan Nizar, Semen Padang's CEO, and
several prominent provincial politicians. A unilateral takeover statement
('maklumat') was issued, signed by five mass organizations (KNPI, LKAAM, MUI,
ICMI, and Bundo Kandung), claiming control of Semen Padang by the provincial
assembly 'on behalf of the people of West Sumatra'. Only after a complicated
series of political manoeuvres Laksamana Sukardi, the responsible minister,
finally succeeded in reaching a compromise resulting in a
redistribution of shares, a large portion of which had been sold to a foreign
investor. The author argues that in the absence of clearly delineated property
rights, actors are diverted into deliberations about the rights themselves
rather than actions aimed at the exercise of power to achieve the desired
outcomes. He concludes that Indonesia should deal with the contest for power
between the centre and the regions by clearly redefining their respective
rights through negotiation rather than conflict. Subject heading:
decentralization; central government; provincial government; natural resources;
cement; state-owned enterprises; privatization; political power; Sumatera
Barat; Indonesia
Request number: TA 5951 Note: This is an article. Please request
journal!
"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Riri, nan sana tahu
soal Semen Gresik jo Semen Padang ko adolah Sanak Ir Ikhdan Nizar, baliau jadi
Direktur Utama PT Semen Padang sawakatu ambo jadi komisaris utama/
Baliau panah juo jadi direktut di Semen Gresik dan Semen Batu Raja.
Ambo maminta baliau manulih buku. Kini sadang mangumpua-ngumpuakan bahan. TTM
(=tunggu tanggal mainnyo).
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
----- Original Message ----
From: Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, October 11, 2008 8:50:08 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Jadi Privatisasi BUMN Dulu Itu Keliru, Ya?
Pak Saaf dan Mak Darul,
Kalau manuruik ambo, aksi buy back tidak bisa otomatis diterjemahkan sebagai
"privatisasi BUMN yang dulu itu keliru".
Privatisasi dan buy back bisa dipandang sebagai jua bali, cuma kebetulan
"privatisasi" itu menyangkuik perusahaan pemerintah.
Sapangana ambo, privatisasi BUMN nan lah dilakukan aman2 sajo, kecuali duo
kasus - Semen Gresik dan Indosat - nan pak Saaf sabuik kan tadi. Khusus untuak
Semen Gresik, ambo yakin pak Saaf labiah tau apo nan tajadi sabanayo, karano
pak Saaf ado di situ waktu itu.
Dek karano ambo ndak "PD" jo "pangana" ambo, tadi ambo cubo bongka2 catatan2
urang di internet, basuo bbrp wites nan lamak pemaparannyo, a.l
http://paue.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=32&Itemid=2 ;
http://www.freelists.org/archives/ppi/12-2004/msg01477.html ;
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0306/25/finansial/391627.htm .
Wassalam
Riri
2008/10/11 Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
Terimo kasih pak Darul.
Dalam kasus Semen Padang dan Semen Gresik, saham tu dijua ka Cemex sabana
bantiang harago dan dalam suasana super rahasio, sudah tu dijuanyo baliak jo
harago satinggi langik. [Ambo kabatulan tahu, karano ambo jadi komisaris utama
Semen Padang antaro tahun 1999-2003, nan basamo-samo jo kawan-kawan lain
mati-matian memperjuangkan 'spin off', nan kini alah lalok-lalok ayam sajo tu].
Kaadaan sarupo tu juo tajadi dalam kasus privatisasi Indosat dan Telkom ka
Singapura.
Awak alah masak kanai kicuah sajo, sarupo urang kayo andia.
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
----- Original Message ----
From: Darul M <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, October 11, 2008 6:28:40 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Jadi Privatisasi BUMN Dulu Itu Keliru, Ya?
Pak Saaf
Salah benarnya, ya dilihat dari sudut yang mana? Jadi tidak ada yang salah
dan tidak ada yang benar.
Privatisasi adalah penjualan sebagian saham ke public, sehingga pemiliknya
bisa luas. Saat diprivatisasi tersebut, mak perusahaan tersebut akan mendapat
dana segar dari masyarakat, yang dapat digunakan untuk mengembangkan
perusahaan. Sehingga perusahaan tersebut dapat bersaing dengan perusahaan lain.
Jika yang mengambil sahamnya hanya satu orang/perusahaan saja, yah itu yang
dapat mempengaruhi suara keputusan didalam perusahaan itu sendiri. Apalagi
biasanya yang masuk sebagai pemegang saham tersebut adalah orang yang pintar
dalam segala bidang, termasuk pintar dalam bernegosiasi, pintar dalam
menentukan aturan dan pintar dalam membuat perjanjian tertulis, sehingga
walaupun sebenarnya suaranya kurang dari 50%, tapi keputusan dalam perusahaan
tersebut dapat diambila alih dengan baik, oleh mereka dan menurut cara mereka.
Kalau dulu dijual ke publik, disaat saham bertumbangan saat ini, dapat di buy
back dengan harga yang jauh lebih murah, bahkan ada yang hanya tinggal 10%nya
saja. Kalau dilihat dari sudut pandang yang mau mengambil, maka ini adalah
baik. Tapi dilihat dari sudut pandang yang mau menjual, tentu akan sangat tidak
adil.
Salam
Darul
On 10/11/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Memperhatikan bertumbangannya pasar modal dan instruksi Presiden SBY agar
BUMN melakukan buy back, apakah kesimpulannya privatisasi BUMN yang dilakukan
dalam zaman Presiden Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati, yang
dilaksanakan oleh Menneg BUMN Tanri Abeng, Laksamana Sukardi, dan para
penggantinya, keliru, ya ?
Jangan lupakan bahwa Semen Padang -- yang tahun 2010 nanti akan berusia 100
tahun -- diakuisisi decara gratis oleh Semen Gresik (!) pada tahun 1995, dijual
kepada Cemex [masih ingat? ] pada tahun 1998. dijual lagi kepada Rajawali Group
pada tahun 200?.
Apa khabar perjuangan 'spin off' ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Thanks & Best Regards
http://www.indonesianseafarer.com
http://www.dr-net.biz
http://darulmakmur.wordpress.com http://darultda.blogspot.com
http://parapatiah.multiply.com http://candaung.wordpress.com
http://mcvida-construction.blogspot.com
---------------------------------
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---