Betul sekali  Yagng Rudi sinyalir
Untuk itulah sebaiknya kita bneri perlindungan pada anak-anak  jalanan
Dan anak-anak yg sebelum weaktunya sudah  harus menjalankan sesuatu yg tak di 
mengertinya
Tapi waktu itu setelah orang tua saya tahu bahwa saya juga membawa stensilan. 
langsung saya di larang beliau

salam

K Suheimi



----- Original Message ----
From: Rudi Antono <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, October 16, 2008 5:12:00 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: PENJAJA KORAN


Saya kutip ini ya Pak ---- >>>> 'Memang  barang-barang terlarang dan tak boleh 
beredar itu lebih laku dan  sering di  cari dan di minati orang. Saya sebagai 
anak kecil kelas 5  SR tidak mengerti, bahwa sebenarnya membawa berita front 
itu kedalam kota  dilarang dan berbahaya, yang terbayang di otak saya  adalah 
dengan  menjojokan  berita  front akan  menghasikan  uang.  Tidak terbayang  
akan bahaya yang mengancam. Begitulah sebagai  penjaja Koran  dan penjaja 
Berita Front saya dapat mengumpulkan uang dan dapat  membeli  baju dan celana 
serta belanja ke  sekolah'...

Penjaja koran dijalanan pada kebanyakan saat ini adalah anak2 Pak. Mereka 
menjajakan berbagai macam koran atau khusus koran2 tertentu saja. 
Ketidakmengertian mereka tentang pesan dalam koran menyebabkan media2 yang 
kurang banyak pembacanya memanfaatkan keberadaan penjaja koran ini. Beberapa 
media cetak yang harganya murah dan headline beritanya berkonotasi negatif 
(mengarah ke porno text),menggunakan jasa penjaja koran ini. Ironi sekali Pak, 
apalagi pada saat bulan puasa, masih tetap saja berita headline nya 
seputar-seputar 'itu'.


Wassalam

Tan Menan - Batam


--- On Mon, 10/13/08, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [EMAIL PROTECTED] PENJAJA KORAN
> To: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
> PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
> PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
> PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL 
> PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED], 
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
> [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
> [EMAIL PROTECTED]
> Date: Monday, October 13, 2008, 11:37 PM
>  
> PENJAJA KORAN
>  
> Oleh : Dr.H.K.Suheimi
>  
> Sebagai  penjaja  koran, saya harus bangun  pagi-pagi,
>  lalu menunggu  di simpang tembok, menunggu sang  agen
>  membagi-bagikan  koran.  Saya  perlu beradu cepat
> dahulu mendahului,  karena  begitu kita  dapat koran,
> langsung berlari dan berjalan cepat di  sepan­jang
>  jalan, maka koran akan banyak terjual karena kitalah
>  yang pertama bertemu dengan pembeli, dan orang-orang yang
> di  belakang kita,  korannya tidak akan banyak laku lagi
> karena jalan yang  di tempuh  itu telah didahului oleh
> penjaja yang lain.  
>  
> Saya  masih kecil,  baru kelas 5 Sekolah Rakyat, dalam
> berebut  koran  sering kalah,  biasanya saya dapat jatah
> dari tangan kedua, tentu  harga nya sedikit lebih. Kalau
> dari  tangan pertama, saya selalu  kalah berebut  dengan
> penjaja-penjaja koran yang lebih besar dan  lebih
> berpengalaman. 
>  
> Disamping saya dapat dari tangan yang kedua,  juga saya
>  kalah cepat menyelusuri jalan-jalan di B. Tinggi,
>  sehingga saya  sering  kalah bersaing. Saya ingat tahun
> itu  adalah  1958, Sumatera Barat bergolak. B.Tinggi sudah
> diduki oleh tentara pusat APRI.  Suara  letusan masih
> sering terdengar di sana  sini.  
>  
> Kami telah terbiasa mendengar letusan itu, kami telah
> terbiasa menyak­sikan mayat terbujur di jalanan kena
> tembak. Kami pernah  menyak­sikan puluhan mayat di jejal
> di bawah jam gadang (sekarang tempat parkir  mobil), ada
> yang terburai perutnya ada yang pecah  kepala nya dan darah
> terserak disana sini. Peristiwa itu terjadi 23 Juli 1958,
>  saat  Tentara PRRI sempat menduduki B.Tinggi  hampir
>  satu hari. 
>  
> Dari  balik dinding rumah terdengar  tentara
>  berlari-lari memberikan  perintah sambil menembak. Semua
> peristiwa  itu  tidak menyebabkan kami berhenti berusaha,
> tidak, kami terus  menjajakan koran. Koran waktu itu yang
> laris adalah Aman Makmur, Pedoman dan Haluan.  
>  
> Mulai dari simpang tembok saya teriakkanlah  koran-koran
> yang  saya bawa, terus ke pasar atas, simpang kangkung,
>  lapangan kantin  dan  terus ke Tarok. Biasanya sesampai
>  di  tarok,  koran itupun habis terjual. Dan di simpang
> Tarok itu pula biasanya saya di  titipi Bulletin atau
> stensilan "Berita Front".  Berita  Front itu
>  adalah stensilan yang dibuat oleh tentara PRRI,  dan
>  Berita Front  itu cepat lakunya, belum lagi sampai ke
> pasar bawah,  bia­sanya  berita  Front yang saya bawa
> itupun habis.  
>  
> Memang  barang-barang terlarang dan tak boleh beredar itu
> lebih laku dan  sering di  cari dan di minati orang. Saya
> sebagai anak kecil kelas 5  SR tidak mengerti, bahwa
> sebenarnya membawa berita front itu kedalam kota  dilarang
> dan berbahaya, yang terbayang di otak saya  adalah dengan
>  menjojokan  berita  front akan  menghasikan  uang.
>  Tidak terbayang  akan bahaya yang mengancam. Begitulah
> sebagai  penjaja Koran  dan penjaja Berita Front saya
> dapat mengumpulkan uang dan dapat  membeli  baju dan
> celana serta belanja ke  sekolah.  
>  
> Hari-haripun berlalu, pekerjaan menjajakan koran membikin
> saya  asyik, karena berjalan di terik Matahari, kulit
> inipun  tampak  semakin masak hitam. Yang paling saya
> takutkan adalah kalau turun hujan,  kemana akan  menyuruk
>  dan berteduh, karena kertas koran itu  rapuh  dan akan
>  segera layu dan robek bila tertimpa hujan. 
>  
> Agen  tidak  mau menerima  kalau korannya rusak. Kalau
> hari hujan,  biarlah tubuh dan  baju  ini yang basah
> asalkan korannya dapat  di  selamatkan. Dengan berbagai
> cara saya uasahakan agar koran  terlindung  dari siraman
>  hujan, biarpun hujan telah menyirami  tubuh  dan  baju,
> namun koran masih bisa di selamatkan. 
>  
> Hari-hari berlalu dengan cepat, saya tidak mengira
>  sekarang saya  bisa  pula menulis di koran yang dulu
> saya  jojokan,  koran yang dulu saya harus berebut, ber
> sitegang urat leher  menjualnya kesana  sini.  Saya sudah
> naik kelas dari penjaja  koran  menjadi pengisi  rubrik
>  dalam  koran. Dan setiap kali  saya melihat  si
> pengencer  dan si penjaja koran, saya selalu ingat bahawa
>  peker­jaan itu  penuh perjuangan dan penuh  tantangan.
>  
>  
> Berjalan  kaki keliling  kota,  berjemur  diteriknya
> panas  dan  harus  bersaing dengan  penjaja koran yang
> lain yang lebih unggul dan lebih  kuat serta lebih lihai.
>  
> Saya tertegun setiap kali menyaksikan seorang penjaja
>  koran yang  rabun yang selalu berjalan di koridor RSUP
>  Dr.M.Jamil  Padang.  Sering  dia di panggil dengan si
> datuk, matanya  buta  dia sukar melihat, tapi dia kenal
> dengan kita melalui suara. Dia tahu persis  kalau saya
> membeli koran dan membeli majalah Tempo.  "Ini pasti
>  pak Suheimi" katanya sambil memberikan koran  dan
>  majalah kesayangan  saya. Dengan meraba-raba uang yang
> saya berikan,  dia tahu persis, itu uang Rp 10.000,- Rp
> 5.000,- atau uang Rp  1000,- Entah bagaimana caranya, tapi
> hanya dengan meraba dia tahu persis uang  berapa yang di
> tangannya itu. 
> Mungkin karena dia  buta  dia punya  instink dan
> kelebihan yang tak dimiliki oleh  orang  lain. 
>  
> Setiap  saya menerima uang kembali, selalu saya selatkan
> di  saku nya  sedikit uang recehan. Dia senyum dan  dia
>  senang  menerima tambahan  itu. Setiap hari saya ketemu
> dengannya dan setiap  kali pula  saya dapat senyum,
> senyuman dari si buta.  Walaupun  senyu­mannya  tidak
> senyaman senyuman seorang gadis cantik, tapi dari senyuman
>  si Buta itu terpancar satu ke ikhlasan dan ke  tulusan.
>  
> Dalam  hati  saya mengaguminya dan senang  padanya.
>  Dengan  mata butanya  dia berjuang dan mencari nafkah
> untuk  menghidupi  anak istrinya.  Setiap kali saya
> melihatnya, saya teringat bahwa  saya juga pernah seperti
> dia, sebagai penjaja Koran. 
>  
> Saya kira  peker­jaan  itu tak ada hinanya. Hinanya satu
> pekerjaan adalah tergan­tung bagaimana niat si pelaku
> pekerjaan itu. Kalau niatnya nyele­weng,  memakan dan
> mengambil hak orang lain, agaknya  lebih  hina disisi_Nya.
> Atau dalam pekerjaannya dia berdusta dan  berkhianat,
> mungkin  lebih hina lagi. Karena setiap amal atau
>  pekerjaan  itu tergantung pada niat sewaktu akan
> memulainya.
>  
> Tuhan memang selalu memerintah dan menyuruh agar kita
> selalu melakukan pekerjaan  yang baik dan yang halal. Untuk
>  semua  itu saya  teringat akan sebuah Firman suci_Nya
> dalam surat At  Taubah ayat  105  
>  
> :"  Dan katakanlah:"Bekerjalah kamu,  maka
>  Allah  dan rasul_Nya serta orang-orang mukmin akan
> melihat pekerjaanmu  itu, dan  kamu akan di kembalikan
> kepada (Allah) Yang mengetahui  yang gaib  dan yang nyata,
> lalu di beritakan_Nya kepada kamu apa  yang telah kamu
> kerjakan".
>  
> P a d a n g    21 Januari  1993
> 
> 
>      
> 

      



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke