DEKONSTRUKSI PENDIDIKAN SURAU DI MINANGKABAU

September 8, 2008 by Sutrisno Muslimin

Pendahuluan


Gagasan   SSM2007  lahir  dari  13  (tiga  belas)  orang  Anak  Nagari
Minangkabau    yang    telah   bergelimang   dunia   entrepreneurship,
kewirausahaan,  kesaudagaran,  profesional  di berbagai sektor bisnis;
lokal, regional, dan internasional, serta tersebar di setiap tingkatan
pengalaman.   Gagasan  SSM2007  lahir  atas  kesadaran  penuh,  bahwa,
partama,  Globalisasi  perlu  disikapi  positif melalui pemahaman utuh
terhadap   potensi  yang  dimiliki  dan  penggalangan  sinergi  dengan
membangun  dan  mengembangkan  jaringan  dari  kekuatan-kekuatan  yang
dimiliki  untuk  dapat  berdiri  sejajar  dan  bersaing  sehat. Kedua,
Peningkatan  percepatan  pembangunan Sumatera Barat untuk meningkatkan
kesejahteraan  Anak  Nagari  Minangkabau  sangat memerlukan peran Anak
Nagari  yang  bergerak dalam bidang perdagangan dan jasa, Ketiga, Jiwa
dan  karakter  kesaudagaran  adalah  salah  satu  kekuatan Anak Nagari
Minangkabau,  Keempat,  Diperlukan  adanya  kontribusi  para  Saudagar
Minang  dalam  pembangunan  Sumatera  Barat dan Indonesia, dan kelima,
diperlukan  adanya sarana untuk saling kenal dalam upaya mengawali dan
membentuk  sinergi,  kerjasama,  serta  meningkatkan rasa persaudaraan
persatuan  dalam  wadah  Jaringan  Saudagar  Minang.  Keenam, menjalin
Silaturahmi,Membentuk  Jaringan,  dan  ketujuh,  mengembangkan Sinergi
Bisnis Dari Saudagar, Oleh Saudagar,untuk Masyarakat ranah dan rantau.

Dengan  melihat  7  point yang menjadi dasar diadakannya Forum SSM2007
maka  sangat  jelas  bidang  pendidikan  khususnya  para saudagar yang
bergerak  di  dunia  jasa pendidikan mempunyai peran yang sangat besar
dalam  upaya  meng-akselerasi  peningkatan  kesejahteraan  anak nagari
Minangkabau.  Dalam  hal  ini  terkait  dengan bagaimana para saudagar
mampu  mendesign  sebuah lembaga pendidikan yang dapat melahirkan para
saudagar   seperti  mereka.  Karena  berdasarkan  data  empiris  bahwa
lembaga-lembaga pendidikan yang ada sekarang ini tidak lagi melahirkan
dan mencetak para saudagar, tapi justru melahirkan calon-calon pegawai
dan  tukang-tukang  baru.  Padahal kalau kita lihat sejarah, banyaknya
orang  Minangkabau  yang menjadi Sudagar tidak lepas format pendidikan
yang   ada   pada   waktu   yang   sangat  kondusif  untuk  melahirkan
saudagar-saudagar  baru. Oleh sebab itu dalam tulisan ini saya mencoba
mengelaborasi  pendidikan  Minangkabau  yang berbasis pada Surau untuk
kenudian  dianalisis  untuk  mendapatkan  pendidikan  yang cocok untuk
melahirkan   saudagar-saudagar   baru  yang  sangat  dibutuhkan  untuk
memepercepat pembangunan.
 
Format Pendidikan Adat Minangkabau Yang Berbasis Surau

1.  Pendidikan Calon Penghulu

Pendidikan  adat  Minangkabau  tidak  dilaksanakan  pada suatu lembaga
pendidikan  tertentu,  karena  di dalam adat Minangkabau tidak dikenal
adanya  sistem yang demikian. Penghulu adalah suatu jabatan dalam adat
Minangkabau  yang mengepalai suatu kaum atau suatu suku, yang diangkat
oleh  anggota  kaumnya  secara  musyawarah dan mufakat dalam kerapatan
adat  kaum  tersebut.  Oleh  karena  itu,  seorang penghulu diharuskan
mengetahui  tentang  masalah  adat  Minangkabau  dengan  baik,  karena
kepadanya akan diserahkan memegang kekuasaan adat tertinggi dalam kaum
tersebut.  Dialah  yang akan menjaga pelaksanaan adat di dalam kaumnya
itu.  Tanpa  pengetahuan  adat  yang  baik seorang Penghulu tidak akan
dapat  mengatur  kaumnya dengan sempurna. Kedudukan Penghulu merupakan
kedudukan    yang    turun-temurun   melalui   garis   keturunan   ibu
(matrilineal).

Kedudukan  seorang Penghulu tidak dapat diturunkan kepada anak, tetapi
kemenakannya.  Seorang  anak  di  Minangkabau tidak masuk anggota kaum
ayahnya, tetapi masuk ke dalam kaum ibunya.

Dalam  satu  kaum kedudukan Penghulu hanya dapat dipegang oleh seorang
anggota  laki-laki saja, kecuali apabila jumlah anggota kaum itu sudah
besar.  Untuk  itu  dapat  diangkat  seorang Penghulu baru, yang masih
merupakan  cabang  dari kaumnya semula. Hal ini dapat terjadi biasanya
apabila  anggota  suatu  kaum  yang pergi merantau sudah sangat banyak
jumlahnya   di  suatu  tempat.  Untuk  mengatur  anggota  kaumnya  itu
diperlukan   seorang  penghulu  pula  di  sana,  dengan  sepengetahuan
Penghulu  asalnya  mereka  dapat mengangkat seorang Penghulu baru yang
merupakan  pecahan  dari  kaum  asalnya  dan  masih  tunduk kepenghulu
asalnya.

Pendidikan  seorang  calon  Penghulu  sudah  dimulai  semenjak  kecil,
apalagi  apabila  kemenakan yang berhak menggantikan itu hanya seorang
saja. Pendidikan diberikan secara lisan dan melalui praktek adat dalam
kehidupan  sehari-hari.  Biasanya  pendidikan  diberikan  oleh seorang
Penghulu  kepada  kemenakannya pada malam hari. Waktu itu penghulu itu
menjelaskan  segala  sesuatu  tentang adat seperti : kewajiban seorang
Penghulu  terhadap kaumnya atau anak kemenakannya, berapa jumlah harta
pusaka dan di mana saja letaknya, pantangan seorang Penghulu, silsilah
kaum,  bagaimana  cara  melola kaum beserta harta pusakanya, untuk apa
saja harta pusaka itu dapat dipergunakan. Dijelaskan semua seluk beluk
adat  Minangkabau  dan  kaum  mereka  sendiri.  Pengetahuan  adat  itu
diberikan   sedikit   demi   sedikit,   kemenakan  yang  dengan  patuh
mendengarkan  pelajaran  mamaknya  itu  diharuskan  mengetahui (hafal)
seluruh kata-kata adat (pepatah) yang diajarkan itu. Proses pendidikan
seorang  calon  Penghulu  memakan  waktu  yang  lama.  Selama  seorang
penghulu  masih  hidup dia belum boleh digantikan, kecuali apabila dia
sudah uzur betul.

Tempat  melaksanakan  pendidikan  adat  tidak  ditetapkan  pada  suatu
tempat,  tetapi dapat saja dilakukan pada rumah adat kaum tersebut, di
rumah  kemenakannya,  di balai adat, sewaktu istirahat kerja di rumah,
atau  sambil  duduk-duduk  sore. Yang perlu diperhatikan adalah jangan
mengajar  seorang  kemenakan  di  depan umum atau sedang bermain judi.
Waktu  penyelenggaraan  pendidikan adat itu juga tidak ditentukan, dan
mengenai waktu tidak diperhitungkan.

Karena pendidikan adat itu diberikan secara lisan, maka sering terjadi
tanya  jawab antara penghulu dengan kemenakannya, bahkan kadang-kadang
terjadi  perdebatan. Keadaan yang demikian memberikan hasil-hasil yang
positif  dalam  pendidikan  itu,  karena  kemenakan  betul-betul dapat
menguasai masalah adat secara mantap.

Pendidikan  adat  melalui praktek biasanya dilakukan pada upacara adat
seperti  :  upacara  batagak  penghulu (penggantian penghulu), upacara
perkawinan,  upacara  batagak rumah (mendirikan rumah), dan lain-lain.
Dalam   upacara   adat   itu   kemenakan   disuruh  penghulunya  untuk
memperhatikan  jalannya  upacara  adat  dari  awal sampai selesai atau
kemenakan  disuruh  penghulunya  untuk mewakilinya. Kemenakan tersebut
betul-betui  ikut  memegang  peranan  dalam upacara adat itu dan dapat
membandingkan  pengetahuan  adat yang diperolehnya secara lisan dengan
pelaksanaan  yang sesungguhnya. Apabila dia sudah menjadi Penghulu dia
tidak akan canggung lagi menjalankan tugasnya.

Dengan   cara   lisan  dan  praktek  adat  itulah  pada  umumnya  adat
Minangkabau  diwariskan  kepada generasi berikutnya. Walaupun cara ini
memakan  waktu  yang  lama,  tetapi  sebaliknya  pengetahuan adat yang
diperoleh   betul-betul  mantap.  Dengan  demikian  materi  adat  yang
diwariskan kepada generasi berikutnya itu dapat diberikan secara wajar
tanpa adanya unsur paksaan

2. Pendidikan bagi Pemuda Perantau 

Struktur  dan  sistem adat Minangkabau memberikan kekuasaan yang penuh
kepada  ninik  mamak  atau Penghulu sebagai kepala waris, kepala kaum,
atau  kepala  suku sampai dengan meninggalnya. Harta pusaka dikerjakan
dan  diusahakan  untuk  kepentingan wanita dan anak-anaknya yang masih
belum   dewasa.  Para  pemuda  Minangkabau  seolah-olah  merasa  tidak
berkuasa  di  dalam  kaumnya  yang  menyebabkan  mereka  merasa kurang
diperhatikan  dalam  lingkungan  keluarganya.  Perasaan  yang demikian
menyebabkan  banyak  pemuda  Minangkabau  yang  tidak betah diam dalam
lingkungan  keluarganya  dan  di  kampungnya.  Dalam  usaha  mengatasi
perasaan yang demikian atau untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang
yang  diperlukan,  kebanyakan  pemuda  Minangkabau  pergi  merantau ke
tempat  lain  di  luar  kampungnya  di mana mereka dapat lebih leluasa
berbuat  sesuatu  menurut  kemauan  dan  kehendak mereka sendiri tanpa
mendapat halangan atau pengawasan yang terus menerus dari keluarganya.
Kepergian  itu  hanya untuk sementara saja, bukan untuk tetap menetap.
Biasanya  di  tempat  baru  itu ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk
mengumpulkan  kekayaan  dengan  bekerja  keras.  Apabila kekayaan yang
terkumpul  sudah  banyak  mereka  akan  kembali  ke kampung halamannya
dengan  membawa  hasil  usahanya yang sudah terkumpul. Dengan demikian
mereka  menunjukkan  bahwa  mereka  juga  dapat  berbuat seperti orang
tuanya,  bahkan mungkin dapat lebih dari mereka. Pada mulanya merantau
disebabkan oleh masalah yang disebutkan di atas, dan baru kemudian ada
beberapa  motif  yang  menyebabkan  orang  Minangkabau  pergi merantau
seperti sekarang.

Sebelum  para  pemuda  itu  pergi  merantau,  mereka  dibekali  dengan
beberapa  macam  pengetahuan  yang dapat dijadikan modal hidup, supaya
jangan   sampai  hidup  terlunta-lunta  di  rantau.  Pengetahuan  yang
diberikan  meliputi adat Minangkabau, yang diberikan secara lisan oleh
mamaknya,  antara lain : seluk beluk adat, cara hidup, cara berdagang,
memburuh,  dan  sebagainya. Sesudah semua dijelaskan, terakhir dikunci
dengan nasehat, bahwa semua usaha dapat dilakukan. Pertama sekali yang
dilakukan  adalah  mencari  lipatan  dan  sesudah  itu  baru berusaha.
Pemberian  pengetahuan  seperti  itu  sudah  merupakan  kewajiban bagi
seorang   mamak   terhadap   kemenakannya   dengan   tujuan  kepergian
kemenakannya  itu atas pengetahuan mamaknya dan supaya kemenakan tidak
terlantar di rantau orang.

Sebaliknya  seorang  pemuda  tidak akan diizinkan mamaknya untuk pergi
merantau  sebelum  dianggap  sudah  menguasai  adat  secara  umum  dan
memiliki suatu keterampilan khusus. Pemuda yang demikian dianggap akan
terlantar  hidupnya  nanti  di  daerah  rantau  dan kalau hal tersebut
sampai terjadi, maka yang akan dapat malu adalah mamaknya atau seluruh
anggota  keluarganya.  Seorang  pemuda  yang merantau merupakan tenaga
kerja  yang  sudah  siap  dan  sanggup hidup secara mandiri di manapun
mereka   berada,   karena  bekal  untuk  hidup  di  rantau  itu  sudah
dimilikinya,  baik  secara fisik maupun secara psikologis. Itu pulalah
sebabnya  kebanyakan  pemuda Minangkabau jauh lebih berhasil di rantau
dari pada di kampung halamannya sendiri.

 

3. Pendidikan Bela Diri 

Dahulu  kebanyakan  pemuda  Minangkabau  diberi  pendidikan  bela diri
dengan  silat yang dibagi dua macam yaitu galuik yaitu silat bela diri
dan  silat  tari yang dipergunakan untuk pertunjukan pada upacara adat
Minangkabau.  Silat  bela  diri  mengutamakan gerak untuk membela diri
dari  serangan  musuh,  sedangkan silat tari mengutamakan gerakan yang
indah dan berirama.

Silat  bela  diri  dapat  diikuti  oleh setiap pemuda Minangkabau asal
dapat  memenuhi  persyaratan  yang  telah  ditetapkan  oleh  guru atau
perkumpulan.   Biasanya   setiap  nagari  di  Minangkabau  ada  sebuah
perkumpulan  silat bela diri yang diikuti oleh pemuda dari nagari yang
bersangkutan. Perkumpulan silat bela diri dinamakan sesuai dengan nama
gurunya, atau nama tempat di mana perguruan itu didirikan.

Guru  silat bela diri biasanya seorang yang sudah terkenal keahliannya
dan  sudah  sering  dibuktikannya  dalam  menjaga keamanan kampungnya.
Tingkatan  murid  diatur  menurut  keahlian  masing-rnasing  atau lama
mereka  belajar silat, makin lama seorang belajar makin tinggi tingkat
kepandaiannya.  Murid  yang  baru  masuk dilatih oleh murid yang sudah
lama  sedang  guru  silat  jarang turun tangan melatih murid baru ini.
Pelaksanaan pendidikan atau latihan silat sehari-hari diatur oleh Guru
Tuo  (guru  tua)  yaitu murid yang telah dipercayai betul oleh gurunya
dan  sudah  memiliki kepandaian silat yang tinggi. Di samping beberapa
orang   guru  tua  ini  masih  ada  beberapa  orang  murid  lagi  yang
berkepandaian  setingkat  di  bawahnya yang bertindak sebagai pembantu
guru  tua  dan  biasanya  dipilih  dari murid yang pandai dan bersedia
membantu.

Tempat  melakukan  silat  bela diri biasanya di suatu tempat yang agak
jauh   letaknya   dari  kampung  atau  rumah  penduduk  supaya  jangan
mengganggu  ketenteraman. Untuk keperluan itu dibuat sebuah pondok dan
di  depan  pondok  itu  dibuat  sebuah  lapangan kecil tempat latihan.
Latihan  diadakan pada malam hari dan biasanya pada saat terang bulan,
karena  penerangan  lampu  tidak cukup. Mula-mula yang berlatih adalah
murid  baru  masuk  selama  kira-kira  dua  jam  yang  dimulai sesudah
sembahyang  magrib.  Sesudah itu mulai berlatih murid yang agak pandai
kira-kira  dua  jam  pula. Selanjutnya baru dimulai latihan murid yang
sudah  pandai  termasuk  guru-guru  tua. Latihan terakhir ini biasanya
diikuti oleh murid-murid yang menjadi pembantu guru tersebut. Di waktu
inilah guru silat itu ikut melatih dengan memberikan petunjuk terhadap
gerakan-gerakan  murid-muridnya yang masih kurang tepat. Kadang-kadang
guru  hanya memberi petunjuk dari luar tempat latihan yang berlangsung
sampai subuh.

Proses  ujian  adalah guru memberitahukan pada murid yang bersangkutan
bahwa  ilmu  silat  yang dimilikinya dianggap sudah cukup. Murid sudah
merasa  bahwa tidak lama lagi dia akan diuji, tetapi kapan waktu ujian
akan  dilaksanakan tidak mengetahui. Ujian tersebut dimaksudkan supaya
murid  selalu  siap  setiap  waktu,  karena musuh datangnya tidak akan
memberitahukan  terlebih dahulu. Yang tidak boleh dilakukan oleh murid
itu  adalah  mencari musuh dengan sengaja atau mencari gara-gara untuk
menimbulkan  keributan  dengan  tujuan-tujuan tertentu. Tetapi apabila
musuh   itu  datang  sendiri  tidak  boleh  dielakkan,  walaupun  akan
berakibat korban nyawa sekalipun.

Tidak  semua  murid  perkumpulan yang dapat lulus dari ujian akhirnya,
karena  persyaratan sangat berat, disamping harus mempunyai kepandaian
silat  yang tinggi mereka juga harus memiliki mental yang baik. Khusus
mengenai  mental  ini  murid  sudah  diteliti oleh gurunya mulai masuk
belajar.  Kalau  ternyata  watak  si  murid tidak baik, dia tidak akan
diberikan  ujian  atau  sebelum selesai belajar sudah disarankan untuk
keluar  saja  karena  kepandaian  silat  justru  tidak berguna baginya
selain  dari  akan  mendatangkan huru hara saja di kemudian hari. Guru
itulah   yang  akan  menentukan  apakah  seorang  murid  dapat  diberi
pelajaran lanjutan atau tidak atau harus dikeluarkan.

Kalau memang sudah ternyata bahwa seorang murid sudah jelas tidak akan
dapat  belajar  silat  bela  diri  dengan  baik,  maka  kepadanya akan
diberikan  silat  tari  saja. Untuk menetapkan ini seluruhnya terserah
kepada   guru  yang  bersangkutan  dan  tidak  seorangpun  yang  dapat
membantahnya.Pendidikan  silat  tari  biasanya  diberikan kepada murid
yang  tidak  menjadi  ahli  silat  bela  diri  atau  kepada murid yang
dianggap  gurunya  tidak mampu mempelajari silat beladiri dengan baik.
Tetapi  orang  yang  betul-betul  ahli dalam silat tari adalah seorang
ahli  silat  bela  diri  yang sudah mahir dalam gerakan, karena mereka
sudah  terbiasa  dengan gerakan tersebut, bahkan sudah terbiasa dengan
gerakan  yang paling sulit sekalipun. Jarang sekali seorang ahli silat
bela  diri  yang tidak mahir pula dalam silat tari, sebaliknya seorang
yang  hanya  mahir  dalam silat tari saja belum tentu mahir pula dalam
silat bela diri. Bagi ahli silat bela diri dapat dikatakan bahwa silat
tari  itu merupakan selingan saja apabila mereka sudah terlampau letih
berlatih   silat   bela   diri.  Untuk  silat  tari  latihannya  tidak
bersinggungan  satu  sama lain seperti latihan silat bela diri, mereka
hanya  menari-nari  saja  tetapi  dengan memakai gerakan-gerakan silat
bela  diri.  Yang  diutamakan dalam gerakan ini adalah unsur keindahan
gerakannya, bukan gerakan untuk berkelahi.

d.      Pendidikan Pengobatan 

llmu  pengobatan  tradisional Minangkabau biasanya juga merupakan ilmu
yang  turun  temurun. Berbeda dengan pewarisan harta pusaka atau gelar
pusaka,  maka  ilmu pengobatan dapat diwariskan kepada anak di samping
kepada  kemenakan  atau  cucu.  Tidak  semua  orang  tepat untuk dapat
mewarisi  ilmu  pengobatan  yang  sering dipanggil tukang ubek (tukang
obat)   yang   ahli  dalam  hal  pengobatan.  Istilah  dukun  biasanya
dipergunakan  untuk  dukun  beranak,  baru kemudian dipergunakan untuk
panggilan  seorang  yang  punya  keahlian dalam pengobatan tradisional
Cara  mewariskan  pengobatan itu memakan waktu lama, seorang anak yang
dianggap  mampu  mewarisi atau menggantikan seorang dukun, mulai kecil
sudah  dilatih  dengan  bermacam-macam  ilmu  tentang  pengobatan, dan
pengertian  tentang  bermacam  istilah dalam pengobatan. Kemudian anak
disuruh mencari daun-daun ramuan obat sebagai pembantu dukun tersebut.
Anak  sekaligus sudah berkenalan secara baik dengan macam-macam ramuan
obat  yang  harus diketahui apabila sudah menjadi dukun pula. Walaupun
dia  hanya  bertugas  sebagai  pencari  ramuan  dan pembantu si dukun,
tetapi  proses  pendidikan  sudah mulai berjalan dengan agak mendalam,
karena  untuk mengenal macam-macam daun obat-obatan itu yang jumlahnya
tidak  sedikit  memang  merupakan  suatu hal yang agak sulit dilakukan
dalam masa yang singkat.

Ilmu  pengobatan tradisional pada waktu ini dikalahkan oleh pengobatan
modern  dengan  segala  peralatan  yang  modern  pula. Namun demikian,
tidaklah  berarti  bahwa  pendidikan  pengobatan tradisional itu sudah
habis,  tetapi  masih  banyak  terdapat.  Di  luar  ibu kota Kecamatan
pengaruh pengobatan tradisional masih kuat, apalagi di daerah pedesaan
yang  jauh  dari  keramaian.  Sekarang,  orang  Sumatera  Barat  sudah
mengobati   sakit   yang   dideritanya   kepada   dokter,  bahkan  ada
kecenderungan  orang  berobat  dengan dokter spesialis. Puskesmas yang
terdapat  di  kecamatan  dibanjiri oleh masyarakat yang ingin berobat,
demam  sedikit saja mereka sudah pergi ke Puskesmas dari pada pergi ke
dukun.

e.      Pendidikan Tukang. 

Yang  dimaksud tukang adalah orang yang ahli dalam tukang kayu, tukang
batu,  pandai  besi,  dan  tukang  ukir.  Setiap  kepandaian  tersebut
menghendaki  keahlian  khusus  untuk  menguasainya. Tanpa latihan yang
cukup   kepandaian   ini  tidak  mudah  dimiliki  seseorang  dan  cara
mewariskan harus melalui latihan yang cukup.

Kepandaian  seperti  ini  tidak  merupakan  kepandaian  pusaka, tetapi
biasanya  diturunkan  kepada  anak atau kemenakan juga. Kepandaian itu
dapat  diturunkan kepada beberapa orang yang masih merupakan anak atau
kemenakan.  Yang  dapat  mencapai  tingkat  kepandaian tinggi biasanya
hanya  satu  orang dan yang lain hanya akan menjadi pembantu yang satu
orang ini.

Pendidikan  tukang  dilakukan  melalui latihan dalam praktek pekerjaan
yang  sebenarnya  dan  tempat  khusus untuk mendidik tukang tidak ada.
Kalau  seorang  tukang mendapat borongan pekerjaan, maka tempat itulah
yang   dijadikan  tempat  melatih  atau  mendidik  calon  tukang  yang
bertindak  sebagai pembantu dan tukang itu. Pendidikan di mulai dengan
pekerjaan  yang  mudah  lebih dahulu dan kemudian pekerjaan yang halus
dan lebih khusus.

Pendidikan ini memakan waktu lama, baru betul-betul ahli di bidangnya.
Masalah  waktu  tidak begitu menjadi perhatian, yang penting bagaimana
kepandaian  itu  dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya, Dengan demikian
pendidikan memakan waktu yang lama sekali.

  

Dalam  pendidikan  ini  tukang  hanya  memberikan  pola satu kali saja
kepada    pembantunya    dan    selanjutnya   pembantu   itulah   yang
mengembangkannya.   Pola   yang   diberikan  merupakan  patokan  saja,
sedangkan pembantu dapat mengembangkan menjadi beberapa pola baru yang
tergantung  pada  kemampuan  mencipta  dari pekerja itu. Apabila tidak
dapat  menciptakan  pola  baru,  maka  tukang itu tidak akan mengalami
kemajuan  dalam  pertukangan. Tetapi sebaliknya apa bila dapat membuat
bermacam-macam  pola  atau  variasi,  maka dia dapat mencapai keahlian
yang  tinggi  dalam  ilmu pertukangan. Biasanya murid yang begini yang
dibimbing  dengan sungguh- sungguh oleh gurunya, karena dari dia dapat
diharapkan  timbul  pewaris  yang  baik  yang dapat mengembangkan ilmu
pertukangan di kemudian hari.

  

Pendidikan  tukang  tradisional  seperti  ini  sampai  sekarang  masih
terdapat  di  daerah-daerah yang jauh dari pengaruh pendidikan seperti
daerah  yang  terpencil.Tukang  tukang yang beginipun masih banyak dan
masih  berfungsi di daerahnya masing-masing, karena tidak adanya masuk
penambahan tukang yang telah mendapat pendidikan khusus

  

f.        Pendidikan Sastra 

  

Pendidikan sastra tradisional juga diwariskan dengan cara tradisional.
Yang  dimaksudkan  dengan sastra tradisional Minangkabau adalah sastra
lisan  yang  terdiri  dari  bermacam-macam  bentuk  seperti          :
pepatah-petitih, pantun atau pantun adat, dan kaba.

  

Orang  Minangkabau  pada  setiap  pertemuan resmi seperti pada upacara
adat  atau  pertemuan  adat  selalu mengemukakan maksudnya dengan kata
adat  yang  banyak  mengandung  arti  kiasan, karena orang Minangkabau
dahulu  mengemukakan  pendapatnya  dengan  kata  kiasan yang tersimpul
dalam  kata  adat  yang  penuh irama, penerima juga akan menjawab pula
dengan kata-kata adat.

   

h.      Posisi Guru dalam Pendidikan di Minangkabau 

  

Istilah  guru  baru  dikenal  di Minangkabau sesudah masuknya pengaruh
Hindu/Budha dan Islam yang di dalam ajaran mereka telah mengenal tokoh
guru.  Yang  dikenal  adalah  istilah  Penghulu  atau Ninik Mamak yang
merupakan  seorang  Pemimpin,  pendidik,  hakim, cendekiawan dan. alim
ulama yang berlaku terhadap anak kemenakannya. Seorang Penghulu adalah
seorang  guru sejati, karena seluruh fungsi guru sudah dijalankan oleh
mereka.

  

Tokoh  guru  yang  pertama  dan  utama  di  Minangkabau  adalah  Datuk
Ketumanggungan  dan  Datuk  Perpatih  Nan Sabatang, tokoh pendiri adat
Minangkabau.

Tokoh  guru  berikutnya  adalah  seluruh Penghulu karena mereka itulah
langsung  menerima  warisan  kedua  Datuk  pendiri  adat  itu  sebagai
pemegang  dan  pemelihara  adat  di  Minangkabau.  Mereka berkewajiban
mewariskan  kepada  anak  kemenakan  supaya adat itu dapat dilanjutkan
terus-menerus. Seorang Penghulu adalah juga seorang guru yang mendapat
penghormatan  yang  tinggi  dalam masyarakat karena menurut adat tidak
ada  kedudukan  yang lebih tinggi dari seorang Penghulu. Mereka adalah
orang  yang didahulukan selangkah dalam segala hal, orang yang  tinggi
tampak  jauh, dakek jolong basuo, kahujanan tampek bataduah, kepanasan
tampek  balinduang .  (tinggi  tampak  dari jauh, dekat karena bersua,
kehujanan tempat berteduh kepanasan tempat berlindung)

  

Pada  dasarnya  mereka  hanya menyampaikan dan melanjutkan yang mereka
terima  mengenai  adat  itu  kepada  generasi berikutnya. Mereka dapat
melakukan  penyesuian  dengan  tidak  merubah prinsip adat Minangkabau
itu. Untuk penyesuaian itu adat sudah mengaturnya sebagai berikut:

 Sakali  aia  gadang  sakali  tapian baranjak  (sekali air bah, sekali
tepian   beralih).  Karena  derasnya  arus  tidak  dapat  ditahan  dan
dialirkan  oleh  sungai  sehingga  merubah tepinya. Yang berubah hanya
pinggirnya saja menurut keadaan arus yang datang, deras datangnya arus
banyak  perubahan  pinggirnya itu, kecil arus yang datang sedikit pula
perubahannya.  Adat  Minangkabau  tidaklah  merupakan ajaran adat yang
kaku,  karena  berdasarkan  pengalaman  yang  didapat diadakan koreksi
terhadap  sesuatu  ketentuan  yang  telah  ada  dengan tidak melakukan
perubahan terhadap dasar-dasarnya.

Supaya  adat  tetap  segar  dan  aktual, maka fatwa berikut mengatakan
 mancaliak  contoh ka nan sudah mancaliak tuah ka nan manang  (melihat
contoh  kepada  yang  lampau, melihat tuah kepada yang menang). Segala
yang  akan  dilakukan  sebaiknya  meneladani apa-apa yang telah pernah
dilakukan,  yang  baik  diikuti  dan  yang buruknya dibuang. Adat yang
dipakai  itu  selalu  baru  dan  berfungsi dalam kehidupan masyarakat,
harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan zaman.


Tokoh  guru  lainnya  adalah  mamak , saudara laki-laki ibu dalam satu
keluarga  yang diangkat menjadi kepala keluarga. Dia bertindak sebagai
pendidik,   menunjuk   mengajari   kemenakannya   atau   anak  saudara
perempuannya.   Tokoh   mamak   mendapat   tempat  yang  terhormat  di
tengah-tengah masyarakat Minangkabau.

Pendidikan Yang Melahirkan Saudagar-Saudagar Baru

Lembaga  pendidikan  kita  sekarang  ini  - terutama yang mengutamakan
nilai akademis sebagai indikator keberhasilan - cenderung menghasilkan
 tukang-tukang   seperti:   tukang  insinyur, tukang dokter , dan lain
sebagainya.   Tukang-tukang   tersebut hanya pandai mencari pekerjaan,
tetapi bukan menciptakan pekerjaan. Padahal di era otonomi daerah saat
ini,  pendidikan  entrepreneur-ship sanagat dibutuhkan. Karena, dengan
pendidikan    tersebut,    sebenarnya    akan    banyak    menciptakan
pengusaha-pengusaha  baru.  Itu tak bisa ditawar-tawar lagi. Tak hanya
penting,  tapi  sangat  mendesak. Maka sebaiknya, iklim menekuni dunia
usaha harus diciptakan lewat dunia pendidikan

Format Kurikulum Pendidikan Yang Melahirkan Saudagar 
 

Dengan melihat bagaimana saudagar-saudagar Minangkabau dahulu menerima
pendidikan,  maka  saya mengkonstruksi kurikulum pendidikannya menjadi
empat   elemen  dasar,  yaitu:  Islamic  Studies,  Akademik,  Overseas
Program, dan Interpersonal Skill.

 

Islamic  Studies  diajarkan  dalam  rangka memperkuat karakter peserta
didik    untuk    menjadi    pribadi    yang   kuat,   jujur,   tegas,
konsisten(istiqomah)  dan  mempunyai visi hidup yang jauh, tidak hanya
di dunia tapi juga di akhirat. Dengan pengetahuan keagamaan yang luas,
maka  peserta  didik  akan  dapat  hidup  dalam track yang benar dalam
melihat  berbagai  persoalan  hidup.  Akan lebih tenang dalam menagkap
peluang-peluang  hidup,  dan  mempunyai  basis  nilai yang cukup untuk
melangkah yang lebih panjang dalam hidup ini.

 

Untuk  menjadi  saudagar  yang  baik  dan  sukses sekarang ini, bidang
akademik  sangat  diperlukan  untuk  menunjang dan mengembangkan semua
pengetahuan     yang     dibutuhkan     untuk     menjadi    saudagar.
Kalkulasi-kalkulasi  bisnis  yang akurat dibutuhkan kemampuan akademik
yang  baik.  Hanya  saja bidang akademik tidak boleh terlalau dominan,
sehingga  mengabaikan  aspek-aspek  yang  lain  yang  dibutuhkan untuk
menjadi seorang saudagar.

 

Overseas  Program  diberikan agar peserta didik mempunyai wawasan yang
luas  tentang  perkembangan  dan  pembangunan  dalam berbagai aspek di
semua  lapisan  dunia.  Peserta  didik harus banyak bersentuhan dengan
dunia  luar,  sehingga  akan  dapat membangun perspektif peserta didik
yang  luas  dan  akan  menginspirasi  apa  yang terbaik yang harus dia
lakukan  kedepan.  Dengan  melihat  kemajuan  bangsa dan negara-negara
lain,  perkembangan  dunia  usaha  yang  begitu  pesat  akan berdampak
positif untuk menggugah semangat enterpreneurship.

 

Interpersonal  Skill  penting  diajarkan  dan menjadi bagian kurikulum
yang   dapat   melahirkan  saudagar-saudagar  Minangkabau  yang  baru.
Interpersonal Skill baik yang soft skill maupun yang hard skill sangat
dibutuhkan  oleh  semua  peserta  didik  terkait  dengan  pengembangan
dirinya  kedepan.  Dengan  memiliki  kemampuan  komunikasi  yang  baik
peserta  didik  akan mampu membangun jaringan bisnis yang baik, begitu
juga  kemampuan  etika,  estetika  yang  juga  terkait dengan personal
development   akan   semakin   memperkuat   kepribadiannya.  Sedangkan
kemampuan  yang  hard skill sangat dibutuhkan sebagai modal awal untuk
dapat survive dalam kompetisi hidup yang semakin kompetitif.

 

Dengan  melihat  empat  domain  kurikulum  di  atas, maka keberhasilan
peserta  didik  tidak  hanya  dilihat  dari  akademik  saja, tapi juga
dilihat dari tiga domain yang lain. Sehingga outputnya menjadi pribadi
yang  lengkap  yang dibutuhkan untuk menjadi enterpreneur-enterpreneur
baru.

Metodologi Pendidikan 
 

Untuk   melahirkan   saudagar   /enterpreneur   dibutuhkan  metodologi
pendidikan  yang  partisipatif-dialogis-praktis.  Proses  pembelajaran
tidak  lagi  teacher centris, tapi sebaliknya melibatkan peserta didik
untuk  memecahkan persoalan-persoalan akademis dan non akademis. Siswa
diajak  berdialog  untuk  melihat  persoalan  hidup  dan diminta untuk
mengerjakan  dan  memerankan apa yang harus dan penting dilakukan oleh
siswa.  Sehingga siswa tidak hanya tahu secara teoritis tapi juga bisa
mengerjakannya pada tataran praktis.

Sarana Pendidikan
 
Sarana  Pendidikan  yang  baik sangat dibutuhkan untuk pendidikan yang
lebih  berkualitas. Gedung, laboratorium science, laboratorium bisnis,
tools  yang  dibutuhkan  untuk praktek-praktek peserta didik harus ada
untuk  menunjang  Proses  Belajar  Mengajar. Selain itu sarana lainnya
seperti LCD, komputer, dll yang dibutuhkan untuk memberi gambaran yang
lebih  lengkap  tentang  ilmu pengetahun harus ada disetiap kelas. Hal
ini  penting  agar  siswa  tidak terlalu abstrak menangkap pengetahuan
yang diajarkan oleh para pendidik.

 

Guru 
 

Guru  adalah  aktor  terpenting  dalam keberhasilan proses pendidikan.
Walalupun  science  dan  technology sudah sangat maju tapi posisi guru
tidak  bisa  tergantikan.  Guru  yang  baik  adalah  guru  yang  dapat
melakukan  transformasi  dan internalisasi nilai-nilai ilmu pengetahun
baik  yang  teoritis  maupun  praktis dengan metodology yang tepat dan
sarana  serta  alat  pendidikan yang sesuai. Guru tidak hanya dikelas,
tapi  juga  di  masyarakat.  Sehingga guru betul-betul menjadi manusia
yang digugu dan ditiru(ditauladani).

 

Dalam konteks pendidikan yang dapat melahirkan saudagar-saudagar baru,
maka  dibutuhkan  guru-guru  yang  tidak  hanya  mempunyai pengetahuan
teoritis  tapi  juga  mempunyai  kemampuan  praktis. Yang menjadi guru
bukan hanya mereka yang tamatan IKIP/FKIP tapi juga para saudagar yang
telah  sukses di dunia bisnis, ulama yang didengar fatwa-fatwanya oleh
masyarakat, dan para profesional yang menggeluti dunia kerja.

 

Penutup

 

Harus  diakui  bahwa  Forum Silaturahmi Saudagar Minang 2007 mempunyai
peran  yang  sangat  penting  dalam  rangka  mempercepat kesejahteraan
masyarakat  Minangkabau.  Bidang  Pendidikan sebagai bagian dari usaha
jasa, mempunyai 2 implikasi positif untuk terus dikembangkan. Pertama,
bidang  ini  akan  berdampak  langsung  bagi  kesejahteraan masyarakat
karena  turunan  dari  bidang ini akan mampu mendongkrak perekonomian.
Bisnis  buku,  percetakan,  pakaian  seragam, alat tulis dan lain-lain
akan semakin berkembang kalau jasa pendidikan ini semakin maju. Kedua,
Jasa  Pendidikan  akan  mampu  melahirkan  saudagar-saudagar baru yang
lebih  kreatif, atraktif, dan responsif terhadap tantangan dunia usaha
yang cepat. Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua, Amiin.

 sumber
 
http://sutris02.wordpress.com/2008/09/08/dekonstruksi-pendidikan-surau-di-minangkabau




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke