Ternyata tulisan Buk Hifni HFD  sangat asyik, lebih detail dan saya suka sekali 
membacanya
Saya rasakan bahwa wanita itu menulis lebih halus  lebih teliti.
Bila dia memasukkan perasaan dalam tulisannya kita akan segera tergugah
semoga Hifni Dan Hanifah  menulis dan menulis lagi   bagus sekali
setiap saat kami di palanta haus akan tulisannya

salam teriring do'a

K Suheimi




________________________________
From: HIFNI HFD <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, October 24, 2008 2:14:30 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: R A U D H A H


Assalamualaikum, wr.wb

Sebagaimana motto Bapak K. Suhaemi yang dianut  beliau: T" ulis apa yang engkau 
kerjakan, Kerjakan apa yang engkau tulis. Wah ... ternyata Bapak adalah seorang 
ISOis....

Oleh karenanya saya turut mengkisahkan  tentang "Roudhah", dimana para jemaah 
wanita pada umumnya berjuang untuk memasuki Roudhah ini - seperti yang saya 
alami.  Kisahnya sangat sangat manusia. Akhirnya perjuangan itu ternyata 
menghasilkan kisah tersendiri bagi saya dan tak akan saya lupakan seumur hidup 
saya. Selamat membaca... Sanak...


ROUDHAH :
Apa yang dimaksud dan bagaimana itu Roudhah ?. 


Roudhah adalah suatu tempat didalam Mesjid Nabawi luasnya kira-kira 144 m2. 
Letaknya ditandai Qubah Hijau, bila dilihat dari luar M esjid serta tiang-tiang 
putih yang berada diantara Makam Nabi (d/h rumah nabi) sampai dengan mimbar 
Nabi.


Tempat ini adalah tempat yang makbul untuk berdoa. Dari Abu Hurairah (termasuk 
5 orang ahli hadis), Rasulullah SAW, bersabda :
“ antara rumahku dan mimbarku adalah Raudhah (taman) diantara taman-taman 
surga”. 


Allah SWT akan menurunkan rahmatnya untuk mencapai suatu maksud dan doanya akan 
dijabah. Ditempat itu dilakukan sholat mutlak disertai dzikir dan doa kepada 
Allah.

Dari para jemaah wanita yang sudah lebih dahulu memasuki roudhah, saya dapat 
mengetahui bahwa terdapat suatu perjuangan untuk mencapai Roudhah. Sedangkan 
bagi jemaah pria tidak terlalu sulit untuk masuk ke Roudhah. Hal ini disebabkan 
lokasi Rhoudah, masih dalam lingkungan shaf pria. Bagi kami para jemaah wanita, 
ditentukan jam berkunjungnya, yaitu ba`da shubuh dan zuhur.

Pada hari kedua di Madinah, semula rombongan kami diantar seorang pemandu 
bangsa Arab, yang membawa kami hinggga dekat kubah Hijau diluar mesjid. Kami 
mengira, kami akan mendapatkan prioritas masuk ke Roudhah. ternyata dugaan 
tersebut keliru, karena kami tetap melakukan antrian panjang di pintu Ali bin 
Abi thalib.

Banyak nian, jemaah wanita yang berhasrat ke Rhoudah disiang hari seusai ba.da 
zhuhur itu. Saya mencoba antri ditengah – tengah desakan wanita-wanita yang 
menanti dengan penuh harap. Hati para jemaah wanita dibuat berdebar-debar. 
Pintu masuk manakah yang akan dibuka lebih dahulu oleh para Asykar putri 
itu....?? 


Ditengah desakan antrian yang padat itu, saya sempat terusik ketika seorang 
wanita “Malaysia” membaca surat Yasin persis ditelingaku. Bacaannya cukup 
memekakkan telingaku. Aku mencoba beristigfar…………Asytagfirullah al adziim…. 
Mungkin saya yang salah. Sesungguhnya iapun tentu juga berharap agar memperoleh 
kemudahan dalam memasuki areal Roudhah itu, sehingga ia berikhtiar dengan 
membaca surah itu. 
Punggung dan dada saya terjepit diantara desakan ratusan wanita yang antri. 
Ketika itu, jarak saya dengan calon pintu masuk tinggal hanya 2 m. Saya 
benar-benar berharap ingin masuk ke Roudhah disiang hari itu. Saya  bertahan. 
Keringat mengucur karena desakan kumpulan wanita yang ingin masuk ke areal 
Rhoudah. Saya mencoba berdoa sebagaimana Nabi Yunus As, berdoa dalam perut ikan.
“Bimillahiladzi laa ilaha illa anta subhanaka ini quntu minazzolimin…….

Didalam regu kami, semula kami mengantri secara berombongan. Akhirnya, satu 
persatu diantara kami meninggalkan antrian. Mungkin mereka sadar, bahwa tidak 
akan mungkin bisa masuk dalam antrian yang sedemikian padat itu. Ditengah hiruk 
pikuknya ratusan wanita yang saling berdesakan, itulah saya masih bertahan. 
Saya kaget karena terdorong dorong, ketika ada seorang wanita gemuk dan 
bertubuh gempal datang membawa rombongan teman-temannya dari KBIH di Jawa 
Timur. Ia berupaya menembus barikade barisan hingga terdepan dari antrian itu. 
Akibat ulahnya itu, rombongan ini sangat menjepit dan memojokan diriku. Dadaku 
sesak karena ditekan. Akhirnya dengan kesabaran, aku bertanya kepadanya.
“Ibu, sabar …… ya Bu… dan apakah baru pertama kali ini Ibu ke Roudhah 
ini?dengan tertawa ia berkata: “ saya sudah dua kali ke Roudhah dan saya belum 
merasa puas” katanya.
“Astagfirullah…………… ucapku dalam hati.
“Ibu beri kami kesempatan untuk antri,karena kami belum pernah kesana…, kata 
saya kepadanya. Dia hanya tertawa dan sama sekali tidak mendengar saran saya 
itu. 
Jumlah rombongan kami yang semula banyak, sekarang tinggal saya dan seorang 
teman .  “Kita bertahan saja ya Bu……”, kata temanku kepadaku. Mana tahu Allah 
berhati kasih kepada kita dan memberi kesempatan kita bisa masuk…… itulah tekad 
kami ketika itu.

Tiba-tiba pintu arah sebelah kiri kami terbuka. Bagaikan suara lebah saya 
mendengar suara wanita berhamburan lari masuk menuju arah makam Rasul itu. Saya 
berdiri terbengong-bengong tidak berdaya dalam posisi terjepit. Padahal setahu 
saya  pintu itu hanya di peruntukan untuk wanita India, Pakistan dan Negara 
sekitarnya.
Entah siapa yang memulai, barisan ditempat kami, (wanita wanita Indonesia ) 
semua berteriak dengan serempak; Allahu Akbar………. Allahu……… Akbar……..
Para Askar menjadi berang kepada kami dan berteriak: “Hajjah……… Haram…… Haram.. 
! Rupanya mereka melarang perbuatan yang mengatas namakan Allah demi suatu 
ketidak sabaran. 

Ketika itu saya masih berfikir lugu “……… Ah …… masa iya sih, pintu kami ini 
tidak dibuka. Bila tidak dibuka tentunya Askar itu akan memberitahu kami.

Tiba-tiba antrian sebelah kananku terbuka lagi dan sekali lagi kudengar gemuruh 
suara wanita yang berlari masuk menuju Roudhah. Barisan kami kembali berteiak 
...Allahu Akbar – Allahu Akbar. 
Betapa kecewanya hati ini, ternyata jam menunjukan pukul 13.00, berarti 
berakhirnya kunjungan jemaah wanita ke Roudhah itu. 


Alhasil dari rombongan kami yang berjumlah k.l 30 orang yang berhasil memasuki 
Roudhah saat itu hanyalah dua orang ibu yang satu berusia 48 tahun dan satu 
usia sudah 68 tahun. Dua perempuan ini ditakdirkan dapat masuk ke Roudhah 
karena beliau berada pada posisi antrian paling belakang yang sebenarnya kecil 
kemungkinan dapat masuk. Namun ternyata berpeluang untuk lari masuk tanpa 
berdesakan diantara dua calon pintu yang akan dibuka. Alhamdulillah……
Keduanya memberikan kiat untukmasuk ke Roudhah kepada saya, dengan strategi 
yang harus diperhatikan, yaitu :
- Berdoalah kepada pemilik masjid ini, yaitu Allah SWT tentang keinginan kita 
mengunjungi makam Rasul.
- Perhatikan pintu yang ada cameranya. Berdirilah diantara 2 pintu tersebut 
pada posisi belakang saja, sehingga lebih aman dan lancar untuk masuk.
- Perhatikan kepadatan pintu yang akan dibuka.
Biasanya, Asykar demi keselamatan para jemaah wanita dari akibat desakan dan 
untuk mengurangi tingkat kepadatan manusia, akan memilih pintu yang sedikit 
antrian dan jumlah kepadatannya. 

Keesokan harinya,pada ba`da dzuhur, saya  mencoba lagi untuk masuk ke Roudhah. 
dan saya mengalami kegagalan lagi masuk, karena hanya satu pintu yang dibuka 
dan akupun terlambat untuk masuk.  Demikian juga pada pagi hari keesokan 
harinya, lagi-lagi, aku sangat kecewa sekali saat itu. Apakah saya  ini 
termasuk orang yang tidak di ridhoi oleh Allah SWT untuk berkunjung ke makam 
Rasul ini. 

” Ada apa dengan diriku ya Allah ?

Ketika hari keempat di Madinah, saya belum juga bisa masuk ke  Roudhah ini.  
Hari itu adalah hari Jum'at dan kami jemaah wanita ikut pula sholat Jum'at. 
Pada waktu sholat jum`at  saya mengalami suatu hal yang menakjubkan hati. 
Kebetulan kami hanya memperoleh tempat dipelataran mesjid Nabawi, mengingat 
begitu padatnya jemaah yang melakukan sholat jum`at.  Cuaca disekeliling kota 
Madinah kelihatan terang dan terik, namun masih ada hembusan angin dingin. Akan 
tetapi saya mengamati bahwa diatas Mesjid Nabawi terdapat awan yang memayungi 
masjid ini. Saya merasa merinding, seakan didekat kami berdiri Rasulullah SAW. 
Saya jadi  teringat bahwa Rasulullah pernah di payungi awan ketika dalam 
perjalan beliau pad masa kanak-kanaknya ke negri Syam(Syiria-sekarang). 
Ternyata ada kenalan kami yang sudah bermukim di Madinah selama 7 tahun, ia 
menjelaskan perihal masjid Nabawi yang berpayung awan itu. Menurut nya -  hal 
seperti ini sering terjadi ketika musim Haji.
 Penduduk Madinah menamakan para penziarah pada musim haji ini disebut haji 
Nabi. Sebetulnya apa arti Haji/Hajjah ? yang sering diucapkan ketika menyapa 
kita di tanah haram itu. Ternyata sebutan haji/hajjah ternyata panggilan kepada 
muslim yang artinya saudara/saudari.

Demikianlah pada hari kelima di Kota Madinah, Pada  dini hari saya 
maelaksanakan sholat Toubah, sholat Hajad, sholat Witir dan berdoa untuk 
bermunajat kepada Allah aku ingin memasuki Roudhah itu

“Dengan izinMu ya Allah, aku mohon Engkau merido`I dan memberiku kesempatan 
agar dapat mengunjungi makan Rasulmu. Namun bila Engkau tak merido`I tak 
mengapa bagiku, demikian isak kesedihan pada Nya.

Sesungguhnya Masjid Nabawi ini - area Roudhah merupakan tempat yang baik untuk 
berdoa. Disinilah ujian kesabaran benar-benar saya  alami. 

Selepas shubuh dengan dada gemuruh berharap cemas, saya mencoba sabar duduk 
menunggu. Kadang saya duduk dan kadang saya berdiri, beristigfar dan segala doa 
dan harapan trerucap dalam hati. Strategi yang dibuat askar,menyebabkan tidak 
ada satupun bisa menduga pintu manakah yang akan dibuka saya perhatikan sesuai 
dengan saran teman teman sebelumnya.
Saya memperhatikan, kadang kala askar membuat pagar/pemisah diantara 3 antrian. 
Ada kecenderungan untuk menghimpun kami para wanita dalam suatu jebakan bahwa 
pintu itu akan dibuka. Padahal tidak. 

Disini saya  membuat ketetapan hati dan pernyataaan sikap, seperti yang saya 
utarakan pada ibu Armida - temanku. Bahwa bila mana sampai jam 10.00 aku masih 
gagal masuk ke Roudhah ini, maka aku sudah berketetapan tidak akan mengikuti 
antrian lagi. Sambil saya bertekad dalam hati, bahwa saya mengunjungi Roudhah 
pada kesempatan umroh/haji berikutnya , inipun bila di izinkan Allah SWT…… (…… 
seketika sadar bahwa semuanya atas izin Allah).

Ketika para jemaah wanita mulai diarahkan para askar menuju pintu tertentu. 
Saya hampir terpengaruh. saya  mengajak teman saya  ke pintu tertentu itu. 
Tiba-tiba didekat  saya berdiri seorang wanita yang berasal dari Rombongan 
jemaaah haji kota Medan. Ia berkata pada saya  :“Ibu,…… tidak perlu 
berpindah-pindah tempat.
" Saya sudah tiga kali ke Roudhah dalam suasana yang longgar dan tidak berdesak 
– desakan, persis suasana seperti ini”, katanya.
Padahal suasana tempat saya berdiri memang mulai sepi, karena ditinggal oleh 
para wanita-wanita yang berpindah tempat untuk antri ketempat yang diarahkan 
askar. 

“Ah masa iya…………, bisikku.
Wanita Medan itu bercerita bahwa ia berserah diripada Allah SWt, agar ia diberi 
kesempatan sholat di Roudhah. “Saya merasa biaya kesini sangat mahal dan tidak 
tidak akan mungkin saya dapat mengunjunginya lagi.”, katanya. Sayasenyum dan 
berkata padanya : “ Bu saya juga telah bermunajat pada Allah, agar saya dapat 
mengunjungi makam Rasul”.

Padahal perjuangan seperti ini, tidak pernah saya anggap penting ketika 
mendapat  pengajaran manasik haji. Begitulah penyesalan saya waktu itu.
Antara keraguan mengikuti nasehat tersebut dan keinginanku untuk berpindah 
tempat ketempat yang diduga akan dibuka pintunya oleh Askar, ketika itulah 
pintu dibelakang kanan kami berdiri terbuka. Aku berteriak histeris dan berlari 
seperti memiliki kaki sempurna masuk ke pintu itu. Teman saya - Ibu Armida - 
mengingatkan saya  agar tidak usah berlari. 

Saya  menangis dan terus menangis menuju makam Rasul itu. Wanita Turki, Iran, 
Pakistan, India, Afrika dan Negara – Negara lainya juga berteriak histeris. 

Ternyata untuk masuk makam Rasul dibatasi lagi oleh sebuah pintu, dengan tujuan 
untuk mengurangi kepadatan areal makam. Disini berbagai cara dan ragam, para 
jemaah menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW. Namun dalam tuntunannya, kami 
mengucapkan : “Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan 
berkah Nya untuk mu, selamat sejahtera atas mu wahai nabiullah …… Dst.

Ketika didepan pintu masuk Roudhah, kembali para wanita berdesakan. Disini saya 
menyaksikan betapa tertibnya wanita Indonesia .  Mereka duduk dengan tertib dan 
menyampaikan salam ke Rasulullah dan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat. Saya 
mengikuti perbuatan yang baik ini.
Didepan pintu masuk Roudhah, kami harus antri lagi untuk memberi kesempatan 
wanita yang masih didalam makam untuk melakukan sholat mutlak dan berdoa. 

Dipintu masuk Roudhah ini, aku bertegur sapa dengan seorang wanita Iran. dan 
wanita Sudan.  Dia menanyakan buku doa apa yang ku baca. Saya menunjukkan buku 
paduan doa kepadanya serta mengajaknya membaca bersama. Kami bertiga, seorang 
wanita Iran yang berfaham Syiah dan seorang wanita Sudan, membaca doa dipintu 
Roudhah tersebut. Subhanallah … , bertapa bersatunya Islam dalam suasana 
seperti ini. Ternyata melalui pertemuan ini dapat menghilangkan perbedaan 
mahzab diantara kita umat islam.
Ketika didalam Roudhah, saya hanya mampu sholat berdiri, terayun – ayun oleh 
desakan manusia. Saya hanya bisa berkonsentrasi dan membayangkan wajah anak- 
anakku, kakak2/ saudara/kerabat dan handai tolan untuk menyampaikan hajat atas 
permintaan mereka kepada Yang Maha Kuasa, yang semuanya tidak mampu aku 
sebutkan satu persatu namanya. 

Pada intinya, saya  memohon ampunan atas diriku, dosa kedua orang tuaku, 
anak-anakku, nenek dan semua kaum kerabatku, kakak2 termasuk guruku serta 
sekalian orang mukmin dan muslim. Saya menyampaikan harapan, agar mereka 
diberikan rezeki. Agar pada suatu saat nanti, mereka juga memperoleh kesempatan 
memenuhi panggilan Allah SWT serta mengunjungi tanah haram ini. Saya 
menyampaikan hajat dari kerabat/handai tolan yang secara khusus menitipkan 
pesan kepadaku. Termasuk menyampaikan salam untuk Rasul, dari orang yang pernah 
berhaji dan pernah mengunjungi makam Rasul ini.

Saya memetik 2 hikmah dari kunjungan ke Masjid Nabawi ini serta ziarah ke Makam 
Nabi. Bahwa pernyataan keislaman kita diucapkan dalam ikrar yang tersebut dalam 
2 kalimah Syahadat, 
- Syahadat pertama, yaitu“Ashadu alla ila ha illallah. adalah kita mengakui 
bahwa tiada Tuhan selain Allah. Pernyataan ini menjadi sempurna ketika kita 
menunaikan ibadah haji serta beribadat di Baitullah – Tanah Haram Makah. 
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang 
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. 
- Sedangkan syahadat yang kedua, yaitu “ Wa Ashadu Anna Muhamma Rasulullah”, 
adalah ikrar kita atas kerasulan Nabi Muhammad Saw. 
Dengan mengunjungi Masjid Nabawi serta menziarahi makam nabi Muhammad SAW, 
merupakan kesempurnaan iman islam kita terhadap pelaksanaan ikrar kita yang 
kedua. 
Bagiku, ini adalah pengalaman batin dan tentunya diantara kita tidak sama 
pemahaman dan pemaknaannya. Mudah – mudahan tidak hanya orang yang melakukan 
perjalanan ini saja, yang menemukan hikmah-hikmah seperti ini. 


Dalam menunaikan ibadah haji ini, kita beribadah dan berwukuf di Arafah. 

Tidak sah haji seseorang, bila mana ia tidak melakukan wukuf di Arafah ini. 
Bila dimaknai lebih mendalam, maka ibadah haji mengandung kemaslahatan bagi 
seluruh umat islam pada sisi agama dan dunianya. Mengapa? Karena aku merasakan 
bahwa ibadah haji ini, menjadi ibadah perjalanan rohani dan persaudaraan muslim 
sedunia.


Demikianlah kepadatan kunjungan jemaah ke Mesjid Nabawi di waktu  pelaksanaan 
ibadah  haji tentu akan berbeda pada umroh sebagaimana yang dikisah oleh Bapak 
K. Suhaemi.

Wassalam, 



 3vy Nizhamul 

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com



 



--- On Thu, 10/23/08, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] R A U D H A H



R A U D H A H
Oleh: K. Suheimi 
 
Raudhah adalah satu taman surga yang diturunkan Allah ke Bumi, kata Guru saya 
ketika memberikan manasik haji, saya terangguk-angguk menyimaknya, dan dalam 
hati saya , saya ingin shalat dan berdo’a di raudhah  itu. Raudhah terletak 
antara kuburuan rasul dan Mihrabnya. Tonggak-tonggaknya berbeda  dari tonggak 
yang ada di Masjid Nabawi. Lebih putih, lebih bagus  bertata emas dengan ukurin 
yang bagus di tonggak-tonggaknya.
 
Ke sanalah saya 29 tahun yang lalu. 

 



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke