Mak Mantari, alah baliak dari Pakansi ka HK tu? a oleh2 nan dibaok an
untuak kamanakan Mak? :)
Angku Rustan Effendi ko, yo baru kini lo ambo danga baru, manga kok
salamo ko hantok2 sajo para sejarawan tarutamo dikampuang awak? apo
ambo nan kuper masalah iko?

Atau mungkin dek pemikiran baliu?? antahlah....

Mokasi Mak Mantari Sutan, lah manambah wawasan ambo tentang tokoh2
dari ranah.
Basamo iko ambo kopi Biografi Angku Roestam Effendi ko dari
http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman/index.php?info=tokoh&infocmd=show&infoid=50&row=
<-- bisa liat foto baliau.
Apo memang baliau nan dimukasuik??

Salam
====

Roestam Effendi lahir pada tanggal 13 Mei 1903 di Padang, Sumatra
Barat dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1979.
Keberadaannya dalam khasanah sastra Indonesia, sebenarnya, cukup
penting. Ia tidak hanya dianggap sebagai pembaharu penulisan sajak
(dan drama) pada tahun 1920-an (lihat misalnya Teeuw, 1995 dan Junus,
1981), tetapi juga dikenal sebagai salah seorang yang gigih
memperjuangkan nasib bangsanya. “Rustam Effendi, mungkin oleh
sempitnya bergerak di Indonesia kemudian pergi ke negeri Belanda dan
bergerak di lapangan parlementer di sana memperjuangkan nasib
bangsanya,” demikian tulis Jassin (1954). Namun sayang, latar belakang
keluarga Rustam Effendi tidak banyak dibicarakan orang.

Menurut Zuber Usman (1956), Rustam Effendi adalah tamatan Sekolah Raja
(Kweekschool) Bukittinggi. Rustam kemudian melanjutkan sekolahnya di
Hogere Kweekschool voor Inlandse Onderwijzers (HKS) 'Sekolah Guru
Tinggi untuk Guru Bumiputra’ Bandung. Pada tahun 1926. ia meninggalkan
Indonesia, pergi ke negeri Belanda. Konon, ia pergi ke negeri Belanda
untuk melanjutkan pendidikannya. Selama di negeri Belanda Rustam
Effendi berhasil menempuh Hoofdakte. Ia juga menggabungkan dirinya
dalam Communistische Party Nederland, ‘Partai Komunis Belanda’.

Setamat dari HKS Bandung, sebelum berangkat ke negeri Belanda. Rustam
Effendi sempat beberapa lama menjadi guru kepala sekolah Adabiah di
Padang. Padahal, sebelum itu ia pernah diangkat oleh Dep. v. O & E
menjadi Waarnemend hoofd pada HIS Siak, Sri Indrapura. Namun. karena
ia membenci pemerintah Belanda, pengangkatan tersebut ditolaknya. Ia
kemudian mendirikan sekolah partikelir yang diberi nama Adabiah.

Sehagai guru kepala di sekolah partikelir tersebut. Rustam merasa
memiliki kemerdekaan untuk berbuat besar daripada rekan-rekannya yang
bekerja pada pemerintah Belanda. Oleh karena itu, di samping bebas
menulis, ia juga sempat terjun di dunia jurnalistik dan politik.

Keaktifannya di dunia politik. ternyata membuat konsentrasi Rustam
berubah. La tidak puas berjuang hanya melalui sastra. Oleh karena itu,
pada tahun 1926 ia pergi ke negeri Belanda dan bergabung dengan Partai
Komunis Nederland. “Saya meninggalkan lapangan sastra Indonesia karena
ingin memperjuangkan kemerdekaan nasional secara langsung dan aktif di
lapangan politik,” demikian akunya (Rosidi. 1969).

Sejak masih duduk di bangku sekolah. Rustam sudah banyak menaruh minat
pada soal-soal kebudayaan dan pernah bercita-cita hendak memperbaharui
dunia sandiwara, yang saat itu lebih bersifat komedi-stambul (Usman.
1956). Keterikatannya pada soal-soal kebudayaan, khususnya sastra. di
samping dibuktikan melalui kerajinannya membaca hasil-hasil
kesusastraan Melayu, seperti hikayat, syair. pantun, dan talibun juga
melalui kegigihannya mempelajari kesusastraan Belanda dan kesusastraan
asing lainnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika sewaktu
masih muda Rustam sudah mengenal sastra asing, seperti karya Lodewijk
V. Deysel, Helena Swart, Goner, Henriette Rolland Hoist, van der
Schalk, Shakespeare, Dickens, dan Vondel.

Pada masa awal kepengarangannya, dalam menulis Rustam Effendi sering
menggunakan nama samaran Rahasia Emas. Rantai Emas. dan Rangkayo Elok.
Nama-nama samaran itulah yang digunakan Rustam dalam sajak-sajaknya
yang dimuat oleh sebuah majalah di Padang berjudul Asjraq. Konon,
sajak-sajak yang diinuat Asjraq itulah yang menjadi cikal-bakal
Percikan Permenungan.

Berbeda dengan proses lahirnya Percikan Permenungan, konon Babasari
lahir atas dorongan murid-murid sekolah MULO di Padang yang saat itu
akan mengadakan pesta sekolah dengan pementasan drama sebagai salah
satu acaranya. Karena belum ada naskah drama, lahirlah Bebasari
meskipun tidak jadi dipentaskan (karena dilarang).

Karya Rustam Effendi

Barangkali benar kata Ajip (1969) bahwa Rustam tak percaya lagi pada
kekuatan kata-kata belaka. Sejak ia terjun ke dunia politik, Rustam
memang tidak berkarya lagi. Selama masa kepengarangannya, ia hanya
melahirkan dua buah buku yakni

a) Drama

(1) Bebasari (tiga babak), Jakarta: Fasco. 1953.

b) Puisi

(1) Percikan Permenungan (kumpulan), Jakarta: Fasco. 1953.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke