Pencarian Tafsir Sebuah Mimpi
Keseimbangan dan laku-kritis, dua hal ini yang ditawarkan Ayu Utami dalam novelnya 'Bilangan* fu'*. Nuansa spiritual mengeliat pada rangkaian kata yang ditawarkannya. Yin dan Yang sebagai konsep keseimbangan yang dikenal selama ini ternyata belum dapat memadukan tatanan hidup dalam dunia yang cenderung modern, terukur dan matematis. Sementara ranah dunia lainnya masih bersifat metaforis, multi tafsir dan gaib. Karena itu, laku-kritik menjadi bagian yang tidak terpisah dari konsep ini. Pengakuan Ayu atas perbedaan dimensi menarik untuk disimak. Satu sisi, matra dan dimensinya adalah dunia yang kita kenal sekarang, dunia jasad. Sementara di sisi lain adalah dunia roh. Perbedaannya adalah nyata dan tak terbantahkan. Persoalannya, bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan keduanya. Ia menyebutnya spiritualisme kritis, sikap mental yang dapat memadukan antara realisme jasad dan roh. Laku-kirtik yang dicetuskan dalam dialektika bilangan *fu* menjadi penting sebagai landasan dasar dikehidupan postmodern. Laku-kritik tidak hanya diam atas ritme kehidupan, tapi juga merupakan anti tesis atas pemikiran kritis. Artinya, pikiran kiritis-pun perlu dikritisi lewat peri laku. Pikiran kritis tidak bisa berhenti pada pemikirannya saja, namun selayaknya dimanifestokan kedalam tindakan dan perbuatan. Laku-kritik menurut gagasan Ayu adalah perilaku yang tidak mesti menolak keadaan, namun tidak juga mesti bersifat kompromistis. Ayu sepertinya berupaya melabuhkan gagasan tentang kesadaran yang dikemukakan Paulo Freire pada muara tindakan yang sama sekali berbeda. 3 jenis kesadaran (magis, naif dan kritis) yang diperkenalkan Freire menjadi lebih implementatif di tangan Ayu. Kesadaran magis terbungkus dalam ruang mistis yang dirangkai lewat legenda kemunculan Nyi Roro Kidul, dongeng ikan pesut, cerita rakyat Sangkuriang. Sebagain besar karyanya merujuk pada 'Babad Tanah Jawi' yang memuat kisah kerajaan Majapahit. Jejak kesadaran naif berjumpa lewat dialog-dialog tentang monoteisme, militerisme dan modernisme. Pada bagian ini, Ayu menyentil golongan-golongan yang berperilaku dengan landasan aliran tersebut. Tendensinya sangat kuat karena dihubungkan dengan kejadian yang menyatir kejadian sebenarnya. Di ranah lain, lalu- kritis muncul sebagai bentuk perdebatan panjang tentang kebaikan dan kebenaran. Segala sesuatu yang bersifat kebaikan belum tentu menuju kebenaran. Kebaikan barangkali hanya penggalan rahasia atau teka-teki saja, sementara kebenaran bersifat absolut. Namun hal ini tentunya mesti melalui proses dengan deretan pertanyaan dan perdebatan yang cukup panjang. Bahkan, cara pandang 'Madilog' (Materialisme, Dialektika dan Logika) Tan Malaka dihadapkan pada rasionalisme modern serta paradigma purba terhadap pandangan animisme dan dinamisme. Ayu menggiring pembacanya kedalam wilayah yang lebih bersifat kekinian namun juga sarat dengan pesan mistis. Kita sejatinya tentu tidak dapat mensejajaran antara ketiganya. Freire, Tan Malaka dan Ayu Utami, sepakat bahwa sikap kritis adalah penting. Namun ketiganya juga punya perspektif masing-masing atas bentuk nyata dari kesadaran tersebut. Freire membumikannya dalam kerangka pendidikan kritis. Tan Malaka menyeru pada gerakan politik rakyat. Pada titik inilah Ayu menawarkan 'laku-kritik'. Ditengah kancah laku-kritik-nya, Ayu bersentuhan dengan bilangan *Fu*. *Fu*, bilangan antara 0 dan 1. Bilangan begitu mengobsesinya. Ia menukik dengan analisisnya tentang bilangan berbasis 10, yakni bilangan antara 0 sampai dengan 9. Bilangan yang bermakna matematis dan kualitatif terukur. Hipotesis Ayu menyentuh sisi terdalam dari pemaknaan angka dalam lingkaran bilangan berbasis 12 yang kuantitaif yang metaforis. Ia berwacana tentang bilangan jam dan bulan. Pada hitungan ke-tiga belas, bilangan itu akan kembali pada permulaannya, kembali pada musimnya. Pengambaraan Ayu ini mengantarkannya pada sebuah dimensi rumit tentang kehidupan pinggiran di Watugunung. Sebuah tempat dimana kepercayaan magis tentang keberadaan Ratu Pantai Selatan masih membumi. Sebuah dimensi dimana terdapat pergulatan antara kebenaran dan kebaikan. Sebuah tempat yang menyimpan alirah kehidupan dalam nadi kawasan berkapur, karst. Sebuah kawasan yang patut dilindungi mengingat nilai konservasinya yang tinggi. Di daerah ini Ayu bertualang secara fisik dan psikis. Ia merangkainya dalam misteri orang mati yang bangkit dari kubur. Tapi kemudian ia juga mengkritiknya, apakah hal itu memang betul sebuah misteri, atau hanya satu rangkaian dari teka-teki panjang? Atau jangan-jangan hanya sebuah rahasia saja? Yuda, tokoh utama yang muncul sejak bagian awal novel ini adalah seorang pemanjat tebing. Ia hidup dari satu ekspedisi pemanjatan ke ekspedisi pemanjatan berikutnya. Bersama karakter Yuda, Ayu menumpahkan segala apa yang diketahuinya tentang dunia pemanjatan tebing. Berbagai tempat pemanjatan telah dilewati Yuda dengan kepiawaiannya. Pada akhirnya ia harus takluk pada panggilan *fu* di pusat kemegahan tebing Watugunung si batu bernyanyi. Bilangan *fu* mengusik mimpi ketindihan Yuda lewat sabda dari perujudan serigal jantan-betina yang setiap kali datang membawa kenikmatan ejekulasi. Ditempat ini pula akhirnya Yuda mulai melupakan aliran pemanjatan artifiasial untuk beralih pada pemanjatan bersih yang diperkenalkan Parang Jati. Pemikiran skeptis dan cenderung oportunis yang diperankan Yuda berpadu dengan pribadi Parang Jati yang teduh dan penuh makna. Bersama Parang Jati, Yuda mengalami kejadian-kejadian aneh. Kemelut dalam pencarian makna *fu*mulai mendapat titik terang ketika ia mengenal Suhubudi, bapak angkat Parang Jati. Parang Jati, pemuda dua puluh tahunan bermata seperti bidadari. Kepolosan seorang pemuda yang tumbuh dan berkembang dalam ruang hidup yang penuh teka-teki. Ia yang berjari dua belas mengajak kita menyusuri lika-liku pengembaraan bathin yang rumit sekaligus dalam dan menggitit. Baginya, apa yang ia lakukan adalah kebaikan, karena kebenaran adalah sepenuhnya misteri. Dalam pada itu, Marja, kekasih Yuda bergelayut bagai cerminan manusia dengan sifat sosialnya. Manusia yang hidup bersama dengan manusia lain untuk saling membutuhkan dan mendukung. Ia adalah bayang-bayang kisah cinta dan persiteruan bathin antara Yuda dan Parang Jati. Teknik penulisan yang lugas menjadi kekuatan Ayu. Pencirinya yang khusus. Ia sepenuhnya tak hendak bertele-tele, tapi tajam menusuk. Walau kadang lirih dan mengayun sahdu. Secara berlapis, Ayu penuh dengan kiasan dan berburai dengan sejarah. Ia menguapkan segala kemampuannya menutur dinding arkeologi serta memahat pendekatan militer dan budaya dalam melakukan advokasi perlindungan kawasan karst Watugunung. Ia juga mencerca lekuk dalam kehidupan pedesaan yang sarat pesan moral. Dengan pendekatan penulisannya, tak mengherankan bila kadang pembaca dikejutkan oleh kesempatan-kesempatan yang tidak terduga. Berdialog langsung dengan Yuda, misalnya. Atau merasakan perihnya derita bathin karakter lainnya. Bahkan, secara personal Ayu-pun kehilangan akal untuk tidak memasukkan dirinya sebagai salah satu nama yang ia sebut sendiri. Tak jarang Ia membantu pembaca untuk memusatkan imajinasi melalui kliping koran dan gambar-gambar yang ia buat sendiri, plus catatan nyeleneh tentang keduanya. Judul : Bilangan Fu Pengarang : Ayu Utami Tebal : x + 573 hlm; 13,5 x 20 cm Penerbit : KPG (Kepustaan Populer Gramedia), Cetakan 1, Juni 2008 Direct link: http://syafrizaldi.multiply.com/reviews/item/11 or http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=5&dn=20081028180056 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
